Minggu, 22 Februari 2015

Tarian, Batu-Batu dan Apa yang Ada dalam Diri Manusia?

Manusia bergerak, manusia merasa, manusia berfikir, manusia mencipta. Saya kaget saat mencermati hal-hal itu, dan kekagetan saya juga merupakan sebuah keanehan. Adakah yang menyangsikan pikiran dan perasaan seperti itu?

Kemarin, saya menyaksikan sajian Tari Pa'duppa pada perayaan Ulang Tahun Kab. Pinrang, beberapa anak SMA yang mengenakan pakaian adat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, bergerak-gerak, mengalun-alun, dan banyak orang yang memotretnya dengan penuh takjub. Saya memotretnya juga satu dua, tapi, lebih dari itu, jiwa saya juga memotretnya, menyimpan dan mengolahnya. Lagi-lagi, jiwa saya seperti diisi, oleh gerak, oleh keindahan. Saya tak dapat mendefenisikan lebih gamblang tentang sesuatu yang mengisi diri saya itu. Yang saya temukan adalah komposisi, ritme, paduan, bagai angin, bagai nyiur yang melambai-lambai, bagai kabut yang menyelimuti deretan pengunungan kars sehabis hujan.



Lalu, saya mendengar seruling, saya mendengar gendang, mendengar suara-suara dari tenggorokan. Suara itu teratur, pemilik pita suara itu betul-betul pintar mengolah pita suara, hingga suara-suaranya yang menyanyikan lagu Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja itu merasuk dan mengaduk-aduk, apa yang diaduk-aduk saya tak tahu.

Tarian, musik dan nyanyian, adalah sajian bagi jiwa. Varian - varian kesenian itu pun merupakan hasil dari daya jipta jiwa, sesuatu yang kreatif dan lahir dari pesona kebudayaan, ekpresi dan komunikasi jiwa-jiwa. Entah bagaimana kiranya nasib manusia jika hal-hal seperti ini tiba-tiba lenyap? Tapi apakah hal-hal seperti itu dapat lenyap? atau sekadar tergantikan atau dilengkapi oleh sesuatu yang lain, yang ditemukan dalam benda-benda.

Pada HUT Pinrang itu, diadakan pameran untuk memamerkan produk-produk usaha masyarakat Pinrang. Termasuk di dalamnya memamerkan batu-batu, yang lagi trend saat ini. Batu-batu itu nyempil di sudut-sudut stand resmi, ia turut mengambil perhatian pengunjung. Orang ramai tampak asyik masyuk berkumpul, melihat-lihat, memegang-megang, batu-batu yang mirip dengan batu di jari-jari mereka.

Mungkin, batu-batu ini menyihir jiwa mereka, seperti tarian menyihir jiwa saya. Batu-batu ini memperoleh tempat di kedalaman rasa mereka, menjadikannya istimewa dan patut dimiliki. Batu-batu itu menjadi pelengkap, menjadi sajian jiwa, dengan dasar keindahan, dan diselimuti kepercayaan berlatar kisah. Entah kisah itu betul adanya ataukah sekadarnya dibuat-buat. Tapi, manusia memang butuh kisah, mungkinkah manusia modern saat ini, mengalami kehausan kisah, hingga batu-batu berkisah tiba-tiba menghidupkan hasrat purba mereka?

Hasrat-hasrat ini pada dasarnya kita temukan juga ketika kita mendengar suara adzan, mendengar orang mengaji, atau sekalian pada saat kita mendalami spiritualisme pada agama kita masing-masing. Agama menjadi penyejuk, atau istilah yang sudah kita ulang-ulang, sebagai santapan rohani, jika kita yakin apakah rohani itu betul-betul ada? bukan Rohani teman SMA dulu, ya.

Ya, agama, musik, tarian, ekspresi-ekspresi seni lainnya membuat kita hidup lebih hidup. Membuat kita lebih bergairah melanjutkan hidup, sekaligus menemukan diri kita di sana, misalnya dalam tari-tarian itu. Ya, tentu bukan diri yang asal mula, tapi diri kita yang dibentuk oleh budaya.

Dan, saat ini, untuk masyarakat kita yang selalu dihantui nasib buruk, selalu dihantui perasaan tidak aman berkendara di malam hari, rasa takut pada kecelakaan dan kematian, rasa takut akan ketidakpercayaan diri tampil di masyarakat, rasa bingung akan perasaannya sendiri dan tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Mungkin batu menjadi mainan sementara, untuk menjeda sejenak kesibukan-kesibukan berlalu-lintas di bumi. Ya, batu sebagai bahan untuk berbagi kisah, sebab agama, budaya, musik, atau pun tari mulai melempem dan mungkin sudah tak asyik lagi untuk dibicarakan.

Jadi tak bingung kalau ada manusia yang menukar uangnya milyaran rupiah dengan batu-batu. Sebab saya juga menukar mungkin sudah jutaan uang saya untuk buku-buku, apa bedanya. Saya senang melihat buku berjejer di lemari saya, dan orang-orang senang melihat batu-batu di lemari koleksinya. Apalagi buku dan batu sama-sama memiliki kisah, dan manusia adalah mahluk yang rindu kisah, rindu makna, entah kisahnya berasal dari buku atau berasal dari batu, itu terserah Anda.

*Belajar menulis apa adanya dan sudah mulai pikun dengan istilah-istilah keren*
Warkop Terminal, Makassar, 20 Februari 2015.

Read more...

Kamis, 19 Februari 2015

Penggerak Tambak di Kec. Suppa, Kab. Pinrang

Malam ini saya harus memberikan apresiasi pada manusia-manusia di foto ini. Mereka adalah tokoh dan penggerak budidaya udang windu dan vannamei di Kec. Suppa Kab. Pinrang.

                                          Puang Rajai

 1) Puang Parajai, sedang mengelola tambak vannamei dan sedang menunggu udangnya panen, katanya seminggu lagi panen. Puang Raja merelakan beberapa tambaknya sebagai tambak-tambak penelitian probiotik RICA (probiotik lokal yang dikembangkan BPPBAP Maros). Beliau memimpin kelompok Tani Samaturue, yang anggotanya terdiri atas 25 orang. Pada awal-awal kami masuk ke Pinrang, di kolong rumahnya lah kami bersosialisasi kepada 40-an petambak di Suppa. Sekarang beliau aktif memimpin Kelompok Tani Samaturue di Desa Wiringtasi.

                                          Sunarso
2) Sunarso, staff senior DKP Kab. Pinrang, katanya sekarang dia bukan lagi pegawai negeri, tapi sudah aparatur negeri. Saya malah tak tahu apa bedanya antara pegawai dan aparatur, hehe. Beliau mendampingi kami untuk berkenalan dengan petambak-petambak pada awal-awal kami di Pinrang. Sejauh ini, Pak Narso selalu singgah sore hari di tempat kami biasa nongkrong di Desa Tasiwali'e. Biasanya kalau beliau hadir, suana serius dapat menjadi cair, tentu dengan selera humornya yang khas, dan selalu menyerempet ke hal-hal yang beraroma sensual. Beliau pun adalah tipikal manusia pencerita, kalau mau tahu perkembangan tambak udang di Pinrang, ajaklah beliau ngobrol. Obrolannya bisa panjang, mulai dari udang, hingga penjual cakar di Pare-Pare.

                                   Abdul Salam Atjo

3) Abdul Salam Atjo, penyuluh sekaligus wartawan perikanan Kab. Pinrang. Dia adalah penyuluh yang paling rajin ke tambak dampingannya. Subuh-subuh dia sudah di tambak, dan selalu begitu. Dia juga yang paling gercap memberitakan hal-hal yang baik bagi pengembangan udang di Pinrang. Tulisannya selalu dimuat di Website PUSLUH RI, dan dia juga memimpin buletin perikanan Pinrang. Sekarang buletin itu sudah jilid kedua, yang dimana jilid kedua tahu - tahu tulisanku juga terbit. hehe.. Abdul Salam sudah berkali-kali memberitakan kiprah WWF-ID dalam membantu pemerintah dalam mengembangkan udang windu di Kab. Pinrang. Selain itu, Abdul Salam adalah penyuluh yang terpercaya untuk memimpin suatu kegiatan, kesuksesan Pelatihan BMP Budidaya Udang Windu WWF-ID, juga tak lepas dari campur tangan beliau.

                      Ir. Taufik Sabir di tengah-tengah peserta pelatihan.

4) Ir. Taufik Sabir, pengusaha hatchery udang windu di Desa Tasiwalie, Kab. Pinrang. Insinyur inilah yang paling berjasa dalam mendampingi kami mengenali praktek-praktek budidaya udang windu di Kec. Suppa, Kab. Pinrang. Orangnya blak-blakan dan penuh semangat, dia tak kehabisan energi untuk bercerita tentang udang, kadang-kadang kami minta izin istirahat jika sudah lelah berdiskusi dengan beliau. Selama kami di Suppa, di kediamannya lah kami bermukim, pada sebuah rumah kayu kecil menghadap pantai, selat Makassar. Dari beliau kami tahu tentang Phronima suppa, pakan alami yang beliau kembangkan untuk peningkatan produksi udang windu. Dari beliau pula kami sedikit tahu tentang bisnis hatchery, kondisi benur, induk udang, pasar udang, hingga sosial ekonomi petambak. Ir. Taufik telah menjadi pemateri pada tiga pelatihan yang WWF-ID buat, yaitu semuanya tentang pengelolaan benur yang baik.
Semoga ke-empat orang ini selalu diberi keberkahan dan tetap semangat mendampingi petambak-petambak udang di Kec. Suppa, Kab. Pinrang.

Pare-Pare, 19 Februari 2015

Read more...

Rabu, 18 Februari 2015

Orang Banyak

Saya agak terusik dengan kegaduhan yang bertalu-talu, entah di televisi, di perbincangan-perbincangan, di media sosial, tentang belenggu yang sedang merenggut presiden kita, Jokowi. Presiden tumpuan harapan akan terlaksananya program-program yang pro rakyat cilik, pro kelompok-kelompok marginal, pro professionalitas, kejujuran dan kejernihan ini, justru terapung-apung diantara poros-poros kekuatan, yang dengan kuatnya mengendalikan prosesi-prosesi penentuan pejabat publik.
Belenggu ini memang sudah lama dirasa-rasai, difikir-fikir, dan dikhawatirkan. Bahkan barisan oposisi dengan gamblang menyebutnya dengan slogan, "boneka". Saya tak tahu, apalagi di tengah kegaduhan saat ini, apakah beliau betul-betul boneka? Kalau pun boneka, apakah ia seperti boneka doraemon yang manis dan kadang-kadang dapat dijadikan bantal, ataukah boneka Pinokio, yang kadang-kadang membantah dan suka berbohong.
Saya harap beliau bukan lah boneka seperti yang ada dalam kepala banyak orang, saat ini. Beliau adalah manusia yang baik, yang selalu mempertimbangkan setiap keputusannya dengan mendengar banyak orang, dengan mengajak dialog banyak orang, dengan bertemu banyak orang. Hal itu ditunjukkannya belakangan dengan meminta para ahli menilai kepatutan dan akar masalah dalam penunjukan kepala kepolisian RI, ditunjukkan dengan menunda pelantikan kandidat kepala kepolisian yang disinyalir punya rekening gendut.
Namun, Presiden kita yang satu ini sangat berhati-hati dalam bertindak. Saya membayangkan beliau merenung-renung di meja kerjanya, melemaskan otot-ototnya dan mencoret-coret di atas kertas. Kertas itu mungkin berisi strategi, kira-kira esok hari, siapa lagi yang akan diajak ngobrol, siapa lagi diajak berkomunikasi politik, agar kebuntuan ini usai. Namun, politik bukan hanya di atas kertas atau berbisik-bisik dengan tokoh partai, politik adalah berbuat atau bertindak. Bertindak dengan cepat, seperti slogan Jusuf Kalla, Lebih Cepat Lebih Baik.
Apalagi di luar, di jalanan, di kantor KPK, di ruang sidang, orang-orang sudah berteriak, orang - orang sudah memaki, orang banyak sudah tak sabar, orang banyak menginginkan Presiden segera menyelesaikan kisruh "Cicak dan Buaya" yang menghabiskan energi bangsa kita ini. Orang banyak itu menuntut agar KPK dikuatkan dengan slogan "saveKPK'. Dan...‘Orang banyak (la multitudino) lebih arif dan lebih konstan ketimbang Raja’ Kata Machiavelli.
Jokowi sudah bertindak, tapi apa daya, iklim atau lingkungan sekitarnya dan banyak orang lain di sekelilingnya tidak menginginkan perubahan yang signifikan dalam pemberantasan koruptor. KPK dilemahkan, pimpinan-pimpinannya diadukan, dicarikan masalah, dibuka borok-boroknya. Ini dapat dimaklumi, sebab KPK sebagai lembaga anti rasuah memiliki banyak musuh, entah musuh itu di luar selimut atau dalam selimut. Musuh-musuhnya menginginkan lembaga ini sekadar menjadi lembaga boneka, lembaga yang dapat diatur, termasuk diatur siapa saja yang ditangkap dan diadili.
Betul juga kata orang ramai saat ini, 'wahai para koruptor, silahkan korupsi sepuas-puasnya'.

Senin, 17 Februari 2015

Read more...

Minggu, 01 Februari 2015

Apa yang Kau Cari di Kuta Bali?

Pada Kamis, 29 Januari 2015, untuk kedua kalinya saya mengunjungi Kuta Bali. Sebuah perjalanan yang bimbang, dengan sedikit ingatan samar tentang Kuta. Saya mengingat pagar-pagar yang membatasi pantai itu pada kunjungan ringkas pada Agustus 2007, utamanya ukiran-ukirannya yang meliuk-liuk, yang membuat kita tercenung dan mungkin berimajinasi, atau sekadar timbul perasaan damai. Saya mengingat kartu atm saya tertelan dan saya berusaha keras untuk mengeluarkannya dari bibir atm dekat pantai. Pada pagi itu, teman Anto, tidak ikut bergembira di pasir-pasir dan air bersama para turis, katanya, “pantai ini tidak jauh beda dengan pantai yang ada di Sulawesi”.

Itu tujuh tahun yang lalu. Ketika Bali menjadi firdaus dalam bayangan. Dengan pikiran hanya untuk membuktikan bahwa kita pernah ke sana, ke tempat jutaan orang yang mengimpi-impikan pulau Dewata seperti memimpikan sebuah tempat dimana kesusahan menyingkir dan keteduhan mampir.



Perjalanan ke dua adalah kesempatan yang boleh dibilang biasa, sebab akses ke sana lebih gampang karena kantor tempat ku bekerja juga terletak di Bali, tepatnya di Renon, Denpasar. Menuju ke Kuta bukanlah hal sulit untuk saat ini. Pada kamis itu, saya bersama teman kantor bernama David berangkat ke Kuta yang memakan waktu sekitar 40 menit menggunakan sepeda motor. Saya mencoba untuk meresapi nuansa di sepanjang perjalanan, dimana jamak terdapat cafe, restoran, hotel, dan hal-hal yang biasa terdapat di kota lainnya, yaitu bengkel, taman bunga, pertokoan-pertokoan. Saya berpikir selintas, Bali memang diperuntukkan untuk para pencari suaka, pencari ketenangan, para orang kaya yang uangnya tak habis-habis dengan hanya duduk-duduk belasan kali di cafe yang berbeda.       

Kami tiba di Kuta dan saya mengamat-amati pertokoan dan cafe-cafe. Pada cafe-cafe itu saya mencoba mencari-cari apa yang sebelumnya saya rasakan. Yang sebelumnya begitu menggebu-gebu ketika saya berada di Sanur pada Juni 2014 lalu. Saya merasakan kekuatan yang begitu dahsyat dalam diri saya setelah berjalan-jalan di trotoar Sanur, dimana terdapat cafe-cafe di pinggir jalan, tempat ngobrol yang asyik yang di dalamnya ada taman-taman, tempat duduk yang empuk, dan makanan yang enak di lidah. Meski saya pun menyadari bahwa taman-taman itu adalah artifisial, dibuat-buat. Entahlah, kadang-kadang perasaan kita juga senang dengan hal-hal yang dibuat-buat.



Bersama David saya menyusuri sepanjang pantai, melihat anak-anak menerbangkan layang-layang bentuk perahu, melihat bule-bule berpakaian mini berjalan-jalan di pantai, melihat orang-orang duduk termenung memandangi air yang menghentak-hentak, bak pekerjaan usang yang membosankan namun tak henti. Kami pun mengambil gambar ala kadarnya, lagi-lagi perasaan yang girang itu terbesik saat memotret cafe-cafe yang indah, yang memang di desain mirip surga, faradiso dalam bayangan kita.

Memang, perasaan-perasaan seperti itu selalu muncul dan mungkin akan selalu menyertai kita dalam setiap perjalanan ke tempat-tempat baru, lantaran pandangan, imajinasi, dan pikiran kita disuguhi dengan sesuatu yang baru, yang cantik-cantik. Tapi hal-hal seperti itu bukanlah jaminan bahwa kita akan merasakan bahagia yang betul-betul bahagia.

Kemudian saya menggeledah perasaan saya sendiri. Dengan sadar saya mengucapkan maaf untuk perjumpaan ku kala itu dengan Kuta Bali. Saya menemukan bahwa apa yang saya cari itu tidak saya temukan di Kuta Bali. Memang Suasana baru saya peroleh, Saya melihat pura yang dahulu tak sempat saya lihat, saya merasakan gembira saat berfoto dekat patung penyu raksasa, merasa percaya diri saat mencicipi bebek goreng di restoran dimana terdapat bule -bule di sekitar kita, dengan pikiran bahwa kita sebagai pribumi tak boleh kalah dengan para bule itu. saya merasakan euforia ketika berada di kerumunan massa yang menikmati tenggelamnya matahari dengan gurat-gurat merah senja. Disertai emosi-emosi ludus yang singkat melihat pakaian minim para bule, yang akhirnya justru membuat saya kehilangan selera. Heran rasanya, diantara gelimang kemewahan yang ditawarkan oleh Kuta Bali itu malah membuat perasaan saya menjadi hampa dan saya pun terus menerus memikirkan, apa gerangan yang saya cari? 





Saya tidak tahu, apakah ini hanya olah emosi semata, atau ini hanya karena prasangka? Mungkin, suatu ketika saya mengunjungi Kuta Bali kembali, rasa senang itu akan hadir. Barangkali bukan hanya oleh suasana dan riak-riak air laut, atau emosi bahagia yang terpancar di paras para turis yang terlihat senang mengabadikan diri mereka, tapi juga dengan kehadiranmu, dimana kita berdua tanpa sadar menghabiskan waktu mengukur pantai, menyisakan jejak-jejak singkat kita pada pasir, memberi kesempatan pada pelayan cafe untuk sekilas mengingat wajah bahagia kita berdua.

Ya, saya mengingat mu di Kuta Bali, dan itulah sebab utama yang membuat saya gelisah, saya seperti seekor ayam di lumbung padi. Saya tidak tahu mau merasakan apa padahal keindahan itu telah nampak, dan rasa damai itu datang memanggil-manggil. Gelisah itu karena saya mengingat mu di Kuta Bali. Mengingat mu berarti mengenang kebersamaan kita di Makassar, dimana raga ku ada di Kuta Bali, tapi ingatan dalam hal ini emosi ku justru ada di Makassar. 

Ya, tampaknya, ketika hati telah bertaut, kemana pun kita melangkah, seindah apa pun suasana, tanpa kehadiran orang yang kita kasihi, sulit betul untuk merasakan bahagia yang betul-betul. Dan dimana pun kita berada, pada tempat yang sesederhana apa pun itu, ketika bersama orang yang kita kasihi rasanya seolah tak tergambarkan. Rasanya hanya kita yang tahu, yang terekam dalam ingatan, tersimpan di simpul-simpul memori.

Untuk perjumpaan ku dengan Kuta Bali, saya mengucapkan maaf sekali. Tapi jangan khawatir, kelak akan aku sandingkan keindahan suasana mu dengan keindahan dirinya pada mu.



Malam mampir, saya dan David memutuskan kembali ke Renon. Hujan turun, dan ban motor kempes dan kami singgah di bengkel untuk tambal ban. Pada saat itu bahagia datang, ketika suaramu hadir di antara derai hujan.

Ahad, 1 Februari 2015
Renon, Denpasar, Bali

Read more...

Rabu, 28 Januari 2015

Patung, Timur dan Barat

Dua hari ini saya terheran-heran dengan beberapa patung yang saya temui di Renon, Bali. Patung monyet, patung dewi Saraswati, patung Ganesha, dan patung-patung dewa lainnya. Setiap rumah ada patung, setiap kantor ada patung, hingga di hadapan saya menulis saat ini terdapat patung. Patung seorang gadis sedang menuangkan air ke dalam kolam.
Setiap saya melihat patung-patung ini, ada ser-ser dalam diri saya, rasa-rasanya patung-patung ini punya sesuatu di dalam bentuknya. Ketika memandanginya lebih lama lagi, saya pun tiba-tiba menjadi patung. Jantung saya melambat, saya merasa seperti jatuh pada ruang tak terbatas, terus melayang-layang dan tampaknya membuat otak saya mengeluarkan zat-zat kimia, seperti saya memandangi kekasih saya, barangkali.


Ketika saya menyadari bahwa patung ini hanya terbuat dari batu, dan merupakan hasil pahatan manusia, dan biasanya sekitar 2 - 3 menit memandangi patung, saya kembali normal atau normatif. Tiba-tiba suasana batin saya berubah, saya melewati patung itu dengan enteng dan menganggapnya angin lalu. Tapi, ketika bertemu dengan patung baru lagi, saya kembali memandanginya dan timbul lagi perasaan ser-ser itu.
Tampaknya batin saya betul-betul dipermainkan di Pulau Dewata ini, bukan hanya oleh patung, tapi juga oleh kemenyan, oleh bunga-bunga, oleh janur kuning yang melengkung tinggi di atas, dan oleh musik - musik Bali yang membuat saya serupa mengapung - apung di lautan.
Saya mencoba melacak, kira-kira dari mana muncul perasaan-perasaan seperti itu? perasaan gairah, ekstase, kadang-kadang lenyap dari bumi dan mungkin magis. Ya, saya betul-betul merasakan nuansa magis di tempat ini, saya seperti ditemani banyak ruh-ruh, dan hati saya berdialog dengan ruh-ruh itu, entahlah. Mungkin, karena saya juga merupakan bagian dari dunia timur, hanya timur saya adalah timur yang lain, yaitu timur Bugis, yang suasana magisnya lebih pada ritual-ritual Islam, ya, saya merasa ada kesamaan antar timur saya yang bugis dan timur di sini yang Bali.
Lalu, saya pun melacak kenapa saya kadang-kadang tidak acuh lagi pada patung, ketika memendanginya begitu lama dan sadar bahwa ia hanya dari batu dan dipahat oleh manusia. Ya, ternyata pikiran saya ini tidak hanya diproduksi oleh kultur timur, tapi juga kultur barat. Dimana barat, selalu melihat objeknya dengan terma estetika barat, yang cenderung normatif. Tapi, tetap saja, Timur saya lebih kuat dari Barat saya. Karena saya merasa seperti itu. Seandainya saya memikirkan seperti itu, tentu barat saya lah yang lebih kuat.
Ah, saya ini kan orang timur, maka saya pun berfikir untuk menikmati rasa timur saya. Eh, kok berfikir lagi, berfikir kan barat. emm. Ya sudah, timur dan barat itu hanya sudut pandang semata. Saat ini saya cenderung menggunakan atau menerapkan apa-apa yang membuat saya lebih bergairah, lebih nyaman, dan mungkin akan berpengaruh pada produktivitas saya.
Sama halnya dengan Islam, beberapa tahun ini saya merasa jauh dari Islam, dan ternyata itu sangat menyiksa saya yang sejak kecil begitu dekat dengan Islam serta ritual-ritualnya. Dan tiba-tiba saya berfikir untuk kembali lagi mendekati Islam, mencoba lagi merasa-rasainya, memperoleh kenikmatan di dalamnya.
Ya, pagi ini air mancur terdengar damai, bau kemenyan pun begitu menghipnotis. Belum lagi bunyi-bunyi seruling menghantui ruang, ah, Saya merasa dan berfikir, lebih baik kita nikmati saja.

Renon, 28 Januari 2015.

Read more...

Jumat, 02 Januari 2015

Win - Win Solution

Sejak Rabu, 17 Desember hingga 22 Desember hari ini, saya menyewa mobil untuk beragam keperluan kerja. Dalam sehari, waktu saya habis di jalanan cukup banyak, mulai dari jemput teman di bandara, keluar untuk cari tempat makan, dan untuk keperluan lain-lain, seperti tarik uang di atm. Sejak 17 Desember itu, saya agak sensitif terhadap orang yang lalu lalang di jalan raya. Saya tiba-tiba berfikir, kenapa begitu banyak orang berjualan di pinggir jalan, dengan beragam kebutuhan, mulai dari pulsa, pulpen, sikat gigi, atau jual ban. Banyak yang menjual berarti banyak juga yang membeli. Hidup ini seperti diatur oleh aktivitas-aktivitas itu, membeli dan menjual. Saya kemudian berfikir, apa yang telah saya jual? terus, apa yang telah saya beli? Ah, pikiran seperti itu tampak tidak ada gunanya, sebab sejak jaman dahulu orang hidup dengan aktivitas-aktivitas seperti itu.

Lantas, saya melihat anak-anak kurang kerjaan di pinggir jalan, melihat tukang becak, melihat tukang bakso. Saya membayangkan, apa kira-kira kesenangan orang-orang ini? Apa hobby mereka? Hal-hal apakah yang membuat gairah mereka bertambah? dan jika saya bandingkan dengan diri saya, yang mengisi waktu dengan banyak membaca buku, kira-kira bagaimanakah rasa hidup mereka yang kurang baca buku? yang hidup sehari-hari sudah susah begitu? Bagaimana mereka memaknai hidup dengan informasi, impian-impian yang terbatas, lantaran terbatasnya akses pada sastra, pada musik, pada lukisan, pada filsafat, pada ilmu pengetahuan?

Saya tiba-tiba ngeri membayangkan hal itu. Dan saya bersyukur dengan hidup saya yang dilimpahi kebebasan - kebebasan. Dari sini saya berfikir lagi, bagaimana jika setiap orang mampu mengakses informasi dengan gampang, jurang kelas semakin sempit, orang-orang mampu membeli apa yang ia inginkan, bagaimanakah hidup kita jika seperti itu? Saya juga tak mau membayangkannya. Sebab, di satu sisi kita ingin mengangkat harkat martabat manusia agar dapat mengikuti selera dan gaya hidup kelas menengah yang mewah, di sisi lain terdapat juga ketakutan, jika semua orang mampu untuk mengakses dan mengelola alam, bagaimanakah nasib alam itu sendiri? Dimana faktor terbesar kerusakan alam karena gaya hidup manusia yang boros, mewah, membuang-buang energi, atau lain kata adalah jejak ekologisnya kian panjang dan dalam.

Lantas, yang mana lebih kita dahulukan, pertumbuhan ekonomi meningkat hingga bisa mengangkat begitu banyak orang miskin menanjak menjadi kelas menengah? Yang pada akhirnya kelas menengah ini menambah begitu banyak mobil, ac, televisi, jejak perjalanan (pariwisata), sampah, dll, ataukah tetap dengan pertumbuhan rendah, demi resiko jejak ekologis yang juga rendah.

Di sinilah dilemanya, kita selalu ingin manusiawi, dengan standar manusiawi yang lebih tinggi, yaitu dengan mempunyai rumah dengan fasilitas lengkap, punya kendaraan, punya waktu luang yang banyak. Tapi, di sisi lain, kita selalu lupa akan jejak yang ditimbulkan akibat gaya hidup mewah yang menjadi penanda status kita.

Untuk menyelesaikan dilema ini, mengontrol hasrat adalah salah satu langkah, dan semangat volunterisme-sedekah untuk membantu kaum lemah juga harus tetap dikobarkan. Selain itu, prinsip win-win solution juga harus kita pegang, bahwa hidup itu jangan hanya mau menang sendiri, mari kita merancang, agar menang-menang, sama-sama menang, begitu halnya dengan lingkungan dan hewan-hewan yang hidup di bumi. Manusia, hewan, tumbuhan harus didesain sama-sama menang, kerjasama, biosentrisme, ekosentrisme.

Read more...

Kamis, 01 Januari 2015

Kos-Kos-an dan Orang Kaya

Dalam beberapa kali perjalanan, yang singkat dan dekat, seperti mengunjungi laundry di area kos-kos-an dekat kampus, saya sebenarnya beberapa kali memperoleh "insight", tapi tak sempat saya tulis. Hal-hal yang biasa kita lihat, dan berulang - ulang, yaitu pertumbuhan sebuah kawasan, bertambahnya toko-toko, bangunan-bangunan yang bertingkat, manusia-manusia yang lalu lalang. Saya terus terang saja khawatir, tentang pertambahan orang-orang. Entah kenapa saya pesimis terhadap jumlah orang yang semakin banyak membanjiri kota, padahal hal itu sesuatu yang niscaya.

Saya sadar bahwa hal itu tak dapat kita tampik, dengan bertambahnya orang-orang, berarti semakin melimpah orang yang butuh banyak hal, dan semakin meningkat pula pihak yang dapat menyajikan dan memenuhi kebutuhan orang-orang, hingga yang menyajikan itu juga menjadi sentosa hidupnya. Dalam kehidupan kos-kos-an, hal itu kemungkinan menciptakan pola yang baik, karena yang menyalurkan terdiri atas banyak orang. Berarti dapat terjadi apa yang disebut pertumbuhan ekonomi, orang yang belanja semakin banyak, dan uang yang beredar semakin melimpah. Apalagi barang-barang yang diedarkan adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari, bukan barang-barang mewah yang sekali belanja dapat menguras modal untuk konsumsi setengah bulan.

Hal itu berlaku bagi orang yang mengerti pasar, orang yang dapat melihat kemungkinan atau peluang pasar. Kasihan lah bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan itu, dan memang dari awal tidak diberi bekal untuk sensitif pada hal-hal seperti itu, dan akhirnya membuat mereka sekadar menjadi penonton. Selain menjadi penonton, lantaran tuntutan hidup, mereka juga dengan terpaksa menjual tenaga-nya, karena hanya tenaganya saja yang dapat diperjual-belikan. Mungkin, dengan pendidikan yang baik dan meluas, orang-orang yang menjual tenaganya kelak akan menipis. Tapi, saya tidak dapat memastikan kapan itu terjadi, soalnya di negara yang kaya sumberdaya ini, orang-orang kaya yang jumlahnya 20 persen itu, menguasai sekitar 50 persen pendapatan nasional, sementara orang miskin yang jumlahnya 40 persen hanya menguasai 16 persen pendapatan nasional. Dan dalam orang miskin itu, masih banyak dari mereka yang menjual tenaga dengan harga yang sangat murah. Akibat ketimpangan sejati ini, orang miskin bertambah miskin, dan yang kaya semakin kaya.

Seperti kita-kita ini, yang berhasil mencicipi pendidikan, akan dengan mudah menjadi kaya. Tapi, apa yang salah ketika kita menjadi kaya? Menurut saya, tidak salah menjadi kaya, yang salah adalah ketika kita menjadi kaya, tapi kemudian dengan mudah melupakan mereka yang lemah secara ekonomi. Padahal dalam harta seorang yang kaya, terdapat bagian bagi mereka yang miskin. Wajar kiranya jika revolusi terjadi, jika orang-orang kaya semakin pelit dan orang miskin marah lalu meminta hak-haknya melalui tetesan darah. Menurut Islam dan pedoman Nabi Muhammad pun, menganjurkan agar kekayaan tidak boleh ditimbun dan ditumpuk, kekayaan harus diputar, eksploitasi ekonomi dan segala bentuknya harus dihilangkan. Itulah sebabnya, ada konsep zakat, sadaqah, dan infaq, mekanisme itu mengharuskan orang-orang kaya mendistribusikan kekayaannya kepada orang miskin, agar jurang kemiskinan menyempit, dan stabilitas sosial terbangun.

Namun, hal itu hanya ada dalam kisah - kisah perjuangan nabi, yang berupaya menciptakan masyarakat madani di Madinah. Tapi, dalam kenyataan sehari-hari hal itu jarang terjadi.

Semalam, saya menyempatkan diri merayakan jelang tahun baru di salah satu cafe mewah di Jalan Pettarani Makassar, bersama orang yang kasihi. Suasananya menghibur, dengan lantunan musik jazz, cahaya api dengan lilin mungil berwarna hijau, arsitektur bangunan bergaya kolonial Belanda, dan pengunjung yang dominan bermata sipit dan kulit terang. Saya hanya menemukan satu atau dua pengunjung yang berkulit sama dengan saya, yang banyak adalah penyaji dan pelayan.

Tak dapat dipungkiri, bahwa yang menguasai ekonomi makassar adalah mereka yang matanya sedikit sipit, dan raut wajahnya agak mirip dengan artis-artis korea yang sering ditonton oleh anak muda saat ini. Dan saya tak dapat menyangkal hal itu, karena mereka memang memiliki semangat juang dalam bekerja, semangat tolong-menolong antar sesama mereka. Tapi, apakah distribusi kekayaan dapat diharapkan pada mereka? saya tak yakin. Itu harus kita periksa pada cara-cara mereka memperlakukan karyawan, gaji yang diberikan ke karyawannya, apakah sudah layak? Serta pada cara-cara mereka memanfaatkan hasil usahanya, apakah ada cost untuk orang kecil? Ini membutuhkan pengamatan yang jeli. Sebab, banyak juga penguasa berkulit cokelat yang memperlakukan karyawannya dengan semena-mena.

Hal ini saya tanyakan ke kekasih saya, apakah kita sama dengan mereka? apakah hati dan pikiran kita sama? Dia menjawabnya, ya. Pada dasarnya hati dan pikiran kita sama, yang membedakan hanya kulit dan ukuran mata. Nah, kalau begitu, apa yang harus kita lakukan untuk distribusi sosial, agar mereka-mereka yang kaya memperhatikan yang miskin? Saya rasa kita butuh dialog, kita juga butuh pengertian, mereka juga butuh pengertian, kadang-kadang kita harus merendah sedikit dan mengajak orang-orang kaya berdialog, dimana saat ini orang-orang miskin berdialog sesamanya dan orang-orang kaya hanya berdialog sesamanya pula.

Ketika dialog tak mampu membuat mereka melakukan distribusi sosial? Apa gerangan yang harus kita lakukan? saya tak tahu. Mungkin rakyat yang lebih tahu, mungkin rakyat yang ekonominya lemah itu, yang sedari dulu menderita akan melakukan hal-hal yang sebenarnya tak kita inginkan, yaitu meneteskan darah.

Saya keluar dari cafe sejam sebelum pergantian tahun. Saya pun sadar, kalau hanya saya saja yang menggunakan sepeda motor. Tapi, saya juga menyadari, kalau mobil belum menjadi solusi yang baik untuk kota yang sering dihinggapi macet ini. Kota yang dikerumuni mobil-mobil orang kaya, yang kadang-kadang menjengkelkan. Saya pun tak tahu, mungkin kelak saya juga punya mobil dan pada akhirnya juga menjengkelkan.

Makassar, 1 Januari 2015

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP