Kayu Rakyat Mekar di Kebun Petani
semoga blog ini dapat menjadi media inspirasi informasi berguna dan sebagai obat kegelisahan..
Sudah sebulan aku di negeri hutan ini. Hari-hari kian boyak lantaran terus diawasi oleh si Gogol, abdi Raja Limbu yang taat. Ini pula yang membuat pikiran kian penasaran, seakan ingin mengetahui lebih jauh seluk beluk negeri yang diliputi misteri ini. Tapi itu tak membuatku kehilangan akal. Dengan alasan mempelajari spesies serangga dan tanaman hutan, saya meminta ditemani oleh para ksatria untuk berkeliling di Negeri Koro saban hari.
Aku berjalan menembus embun. Menggunakan parang yang memudahkan untuk memotong ranting-ranting yang menghalangi. Pohon di sini sangat beragam, begitu pula dengan tetumbuhan perdunya. Saat itu saya menggandeng keranjang anyaman bambu, mengumpul aneka dedaunan yang bisa jadi ramuan obat. Sesekali saya memohon bantuan budak Gogol untuk memanjat pohon. Mengambil beberapa helai daun anggrek hitam yang menggantung di batang pohon ek.
Saat kami berada di sisi sungai, tempat bermukim kaum gurun, berlangsung pertengkaran seru. Beberapa penduduk tanpa busana, hanya sebatang koteka yang menempel di kelamin mereka, mendapat perlakuan tak sewajarnya dari warga sungai yang badannya sudah terbungkus kain. Penduduk pribumi itu nampaknya ingin memperotes prilaku sebagian warga sungai yang dengan semena-mena mencemari sungai dengan limbah minyaknya serta menebangi pohon di bawah umur. Protes mereka pun berujung perkelahian.
Pertengkaran mereka terdengar samar karena terhalangi oleh aliran sungai yang riaknya menderu-deru. Seorang yang paling depan berteriak dari seberang sungai.
”Hei warga sungai dari suku gurun. Walaupun kalian mendapat perlindungan Raja Limbu, kalian jangan semena-mena membuang limbah ke sungai. Akibat dari perlakuan kalian, banyak anak-anak kami yang menderita penyakit kulit saat bermain air di sekitar hilir. Tolong, pedulikan kami warga pribumi!!”
Dari pihak warga sungai, yang berteriak adalah pemuda berambut gimbal, serta berjanggut lebat.
”hahaha..., ini bukan urusan kalian, manusia dungu!! Kalian tak tahu apa-apa tentang apa yang kami kerjakan. Pergi sana atau kalian akan kami musnahkan!!” bentak pemuda itu sambil mengacungkan parang di lengannya.
”Kami sekadar memperingati untuk kebaikan kita bersama. Kalau sungai tercemar. Ikan sebagai makanan pokok kalian juga akan teracuni. Bisa jadi kalian akan teracuni pula setelah memakan hewan air itu,” balas si pribumi dengan menurunkan volume suaranya.
”Kami tak akan teracuni. Kami dengan mudah mengenali gejala-gejala ikan yang tercemar. Kalian jangan banyak bacot, atau...”
”Kalian betul-betul keras kepala. Beginikah watak orang yang sering makan ikan itu, yang katanya otak mereka jadi lebih cerdas? Saya kira omong kosong belaka,” tambah si pribumi yang kian meningkatkan emosi warga sungai.
Suasana kian memanas. Tanpa sepengetahuan warga pribumi, suku gurun sudah mempersiapkan busur mereka. Setelah percakapan dingin itu, sontak beberapa pemuda negeri gurun menghujani warga pribumi dengan anak panah. Dalam sekejap, anak panah itu menembus badan beberapa warga pribumi. Insting mereka menyuruhnya untuk melarikan diri. Meski begitu, setelah menyeberangi sungai. Warga gurun mengejar mereka. Membacok leher mereka hingga putus. Membiarkan sungai berwarna merah oleh darah mereka.
Pemandangan itu, sangat memiriskan hati. Aku yang kebetulan berdiri agak jauh, pada sebuah lahan yang agak tinggi cuma dapat melihat. Dan kian penasaran dengan situasi di hutan ini. Setelahnya saya berbalik dengan mengendap-endap. Takut kalau kedengaran mereka. Anak panah akan menancap pula di punggungku.
Aku melihat tubuh orang tua itu mengapung di tengah sungai, mulutnya megap-megap, matanya merah, kotekanya terlepas sehingga kelaminnya yang tergantung-gantung diantara selangkangannya itu tampak menciut. Kulitnya yang hitam pekat tampak pucat dan memutih. Ia mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga, memaksa kedua kakinya tetap bergerak agar tidak tenggelam, meski sebentar lagi akan keram.
Mataku melirik ke atas pohon, Aku khawatir apakah kesatria perak itu masih bercokol di atas sana? Pikiran berkecamuk, apakah aku harus menolong segera orang tua itu dengan resiko otak berhamburan dan jantung menyentuh tanah, atau tetap bersembunyi dan menyaksikan orang tua yang sumber informasi itu lenyap ditelan sungai. Saat kondisi genting seperti ini, pikiranku bekerja keras dan akhirnya aku menemukan ide. Ulir pohon yang bergantungan di dekatku aku potong, kemudian aku lemparkan ke hingga menyentuh tangan orang tua itu. Pribumi itu pun mengerti maksudku dan dengan cepat merebut ujung ulir itu. Aku menariknya pelan-pelan hingga ke tepi sungai. Sesampai di situ, ia tampak kelelahan dan pingsan.
Setelah melirik ke sekeliling, dengan hati-hati aku menggotong tubuh orang tua itu. Membawa dan mendudukkannya di bawah pohon ek. Aku memeriksa denyut nadi di lengan kirinya. Aku pun memprediksi laju jantungnya dengan mendekatkan telingaku ke dadanya. Dada berbulu lebat yang dagingnya hanya secuil, dimana tulangnya menonjol dan dibaluti kulitnya yang legam. Nyawanya sebentar lagi putus, darahnya terus mengalir, anak panah masih tertancap di lengannya, sedalam jari tengahku. Tanpa berpikir panjang, aku mencabutnya dengan segera. Membiarkannya sedikit tersentak siuman dari pinsangnya. Tak tahu bagaimana rasa sakitnya, dan kemeja putihku yang sudah kelabu kubalutkan tepat di lubang luka.
Ulir yang berada di atas batok kepalaku aku tarik hingga putus, air pun mengalir dari akar pohon itu. Air murni yang bergizi itu menyirami wajahnya. Sesekali aku masukkan ke mulutnya sampai ia muntah dan siuman. Aku sepertinya termasuk amatiran menghadapi orang sekarat, menyelamatkan dan membunuh beda tipis. Tapi, aku tak berpikir jauh, yang jelasnya aku melakukan sesuatu dengan cepat. Entah mau mati atau tetap hidup.
Dengan badan gemetar ia tiba-tiba berucap..
”Nak, tolong kabarkan ke Putri Yana, gerakan revolusi bocor. Katakan jangan dulu ada pertemuan, karena kita bisa tumpas semua. Hati-hati terhadap orang baru dan penyusup..”
Darah keluar dari mulutnya, nyawanya pun terbang seperti layang-layang putus. Ia mati dengan tersenyum.
***
Aku balik ke pondok dengan gemuruh khawatir, memotong jalan dengan menumpangi sampan hingga tiba di jalan setapak menuju lapangan dekat rumah panjang. Rumah yang penuh misteri. Aku mengamati jendela-jendela yang tak pernah terbuka. Rumah yang bergetar oleh suara tangis, derap langkah raksasa berdegup dan terasa di atas tanah. Rumah itu dikelilingi para prajurit perak yang bergelantungan di pohon kastanye, dengan peralatan panah dan tombak bambu. Rumah yang tak pernah jauh dari bolak balik orang asing. Orang yang jika keluar dari pintu utama akan tersenyum simpul, atau malah berlinang air mata, atau sudah berputih mata. Itu pula yang membutku kian penasaran.
”Kamu mau kemana?!! gertak prajurit penjaga pintu gerbang.
”Mau menemui Gogol, lelaki yang menemukanku saat tersesat di hutan,” kataku.
”kamu dari negeri mana? Dan buat apa kamu di hutan ini? Tanyanya lagi..
Badanku keder, gagu berhadapan dengan tombaknya. Tiba-tiba gogol datang.
”Eh.. itu silahkan masuk, saya mau memperkenalkannya dengan tuan Limbu..”
”Oh.. iya maaf, silakan masuk tuan..”
”Dari mana saja kamu, hati-hati di sini banyak kesatria perak, kalau kamu diidentifikasi sebagai pemberontak, nyawamu pasti melayang,” tegur Gogol.
”Tadi dari lihat-lihat kebun dan percobaan sawah padi,” jawabku kaku..
”Lain kali bilang ya kalau mau keluar, nanti saya temani..”,
Saya cuma mengangguk, pintu gerbang terbuka, kami langsung disuguhi senyum oleh perempuan berambut merah yang berdiri di pinggir pintu rumah. Menapak tangga setinggi semeter, memandang ke dalam mataku sontak bertemu pandang dengan raja itu. Perawakannya menarik, hidung tinggi, badan berisi dan kekar, dan matanya yang tajam. Gigi-gigi babi bercampur emas melingkar di lehernya, turun ke dada yang tak ditumbuhi bulu.
Mataku kalah oleh sergapan tatapannya, tapi kemudian bibirnya tersungging, jarak antar persona pun itu mulai terbuka.
Kantor sudah sepi, satu persatu staff balik ke kediaman. Mereka terpaksa menerobos hujan, ada yang bilang sudah ngantuk, mau istirahat. Dalam keluasan ini, saya mencari-cari sesuatu, ekstase, luapan, buncah emosi. Tiba-tiba saya merasa ada yang lenyap di kehidupan. Saya sudah bergerak, kesana, kesitu, ketemu teman, ketemu kawan kantor, ketemu adik-adik. Tapi, yang saya cari tak ada di situ.
Mungkinkah itu waktu? Saya tak tahu. Waktu adalah konsep abstrak yang justru membuat kita bingung. Ia hanya dapat dipahami manusia dalam proses tanda menandai. Ada kumis yang tumbuh, ada daun yang menguning, ada gigi yang kropos, dan ada orang yang tumbang. Tapi, apakah yang kita cari, apa yang saya cari? saya merasa tak ada di waktu.
Mungkinkah itu momen? Saya tak tahu. Momen adalah hal terindah, yang selalu membuat kita merasa ada. Sudah banyak hal yang terjadi, sudah terlihat jejak, sudah tampak perkembangan. Momen selalu membuat kita ingin kembali pada sebuah tempat, suasana, mengingat-ingat hal lucu, pahit, atau mungkin sia-sia. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kenangan itu dihapus? Kadang pula kita ingin melupakan beberapa kenangan, yang menghalangi tapak kita ke depan. Tapi, setelah kutelusuri, bukan ini yang kucari-cari.
Mungkinkah sebuah pristiwa? Yang membuat kita dirubungi kesibukan tak jeda. Sibuk dengan urusan yang tidak habis-habis, ekspektasi dunia yang begitu jauh, sementara langkah kita Cuma secuil. Pristiwa mengembalikan diri kita dari masa depan, yang selalu kita impikan. Misteri yang mungkin kita sudah susun dalam secarik kertas, dalam file komputer, dalam strategi taktis yang datar. Kita ingin menang dan mengalahkan. Kita ingin dipuji dengan capaian kita menempuh waktu. Tapi, apakah ini yang kita cari dan saya cari? Saya lagi-lagi tak tahu.
Sudah terlalu panjang tulisan ini, dan aku sudah mulai lelah. Saya teringat, ini hari Minggu, yang artinya Do Minggo (Hari tuhan). Hari biasa orang ke gereja. Para anak-anak liburan sekolah. Para pegawai bersantai ria baca koran di beranda rumah.
Dan saya hanya mencari diriku di hari minggu.. namun tak menemukan sesuatu..
© Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP