Selasa, 24 Juni 2014

Percakapan di Petang Hari



Percakapan di sela-sela waktu itu cukup mengganggu, walau mungkin ada benarnya juga. Yah, tiga hari lalu, ketika petang melingsut jatuh di Sanur, wisatawan melangkah-langkah kecil di tepi jalan, seorang bapak yang saya kenal baik itu membuka pertanyaan, yang aneh dan menghunjam. “Idham mau berapa lama bekerja di sini?” saya menjawab, “tidak lama juga Pak, ada apa Pak?”

Bapak itu menjawab, “Ah, tidak, jangan diambil hati yah, saya melihat Idham itu tidak cocok kerja di sini, tempat tersebut membutuhkan orang yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan mampu melakukan inovasi-inovasi,” tukasnya.

Lalu saya menanyakan sama beliau, “terus saya cocoknya jadi apa Pak?”, kemudian beliau menjawab, “Idham cocoknya itu kerja di pemerintahan dan bagian aplikasi. Kalau jadi dosen juga tidak cocok”. Saya hanya menjawab, saya cocoknya itu pak di ilmu sosial dan masyarakat. Teman datang dan perbincangan tersebut terhenti dan kami berangkat bersama ke Denpasar.

Sepanjang perjalanan saya tidak memikirkan hal tersebut, sibuk saja ketawa-ketiwi dengan candaan-candaan kawan-kawan. Tapi kadang-kadang saya kembali teringat dengan pernyataan yang terdengar jujur itu. Untuk menjawab hal tersebut saya mencoba menjelaskannya melalui tulisan ini, walau tidak langsung di hadapan beliau.

Memang, dalam beberapa kali bertemu dengan beliau, saya tidak banyak kata dan tidak hebat dalam percakapan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan teknis saya dalam bidang yang kami bicarakan masih kurang, dan saya menerima semua masukan-masukan beliau. Saya terlihat lemah dalam berargumen karena saya merasa masih kurang tahu terhadap topik, sehingga saya mendengar dan mengiya-kan saja. Tentu, untuk memahami topik tersebut butuh waktu lama, pengalaman di lapangan dan konsentrasi tinggi, sehingga saya mengunyahnya pelan-pelan, learning by doing, tidak gegabah bicara ini itu tapi hanya asal bunyi. Tentu, jika beliau bersabar, saya lama kelamaan akan bisa mengikuti ritme beliau.

Tentang kemampuan komunikatif, saya agak berbeda dengan yang lainnya. Saya lebih pada mencoba untuk bertahan dalam medan komunikasi. Beradaptasi pelan-pelan dan membangun relasi yang harmonis, tidak dengan tiba-tiba akrab dan banyak ngomong. Dalam hal diskusi saya terbuka pada diskusi apa saja. Namun, sayangnya saya kadang terlalu terburu-buru membaca peta lawan bicara. Saya tidak mau menjatuhkan teman bicara dengan komentar-komentar saya. Sehingga, saya selalu terlihat bodoh dan kurang dapat memberikan argumen yang baik. Di sinilah memang letak kelemahan saya, apalagi dengan nada suara yang pelan dan tak bertenaga. Tapi sebenarnya saya memikirkan apa yang dibicarakan, walau tidak bisa langsung pada saat itu.

Nah, jika berbicara tentang konteks lapangan dan teknis operasional, saya biasanya tidak banyak bicara, karena saya merasa belum punya banyak pengalaman dalam bidang itu. Saya selalu ragu atas perkataan yang tidak memiliki dasar, selalu menunda untuk berbicara hingga saya punya gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang sebuah teknik ataupun permasalahan. 

Tapi, permasalahan dalam dunia perikanan bukan sekadar persoalan teknis, tapi juga persoalan sosial, persoalan politik, persoalan etika. Hal-hal tersebut harus disinergikan dan disinambungkan, sehingga kita tidak mencari solusi secara setengah-setengah, tapi langsung memberantas hingga akar-akarnya, yang justru aroma politiknya sangat terasa.

Untunglah saya sedikit terobati dengan kata-kata Sokrates, yang mengatakan bahwa kita harus sadar bahwa kita itu tidak tahu terhadap permasalahan yang kita hadapi. Dari ketidaktahuan itulah sebagai dasar dan modal untuk bertanya dan mencari jawabannya. Dari proses itu filsafat merambah wilayah-wilayah yang belum terjangkau, kemudian dengan mengulang – ulang dan mencoba-coba terus, terbentuklah suatu keyakinan tertentu akan fakta dan relasi antar fakta, yang kemudian kita sebut sebagai ilmu.

Dan saat ini saya baru melakukan upaya perambahan dengan mata, telinga dan langkah kaki saya, dengan catatan-catatan kecil saya yang terus saya tumpuk dan kembangkan. Saya mengaku saya lemah dalam hal teknis, tapi saya yakin itu bisa saya pelajari, sembari mempelajari hal-hal lain, seperti strategi mendekati pemerintah, pengusaha, dan pihak-pihak lain yang kemungkinan dapat membantu kita dalam perbaikan lingkungan.

Saya tidak berharap akan menjadi sesuatu, misalnya menjadi doktor atau memperoleh jabatan penting. Saya hanya berharap bahwa terjadi perubahan untuk lingkungan, dan manusia menjadi lebih bersahabat dengan alam. Kalau pun saya akan dilupakan dan tidak memperoleh tempat, itu bukan hal yang patut dipikirkan. Saya pun berfikir bagaimana mengajak orang-orang untuk lebih cinta pada lingkungan, lebih arif terhadap bumi, lebih dapat menjaga lingkungan sekitarnya. Dengan menampilkan hidup sederhana, tidak boros, berbuat baik, dan menunjukkan contoh kepada generasi muda yang lain. Dan, saya tidak menganggap kerja di tempat tersebut sebagai pekerjaan, tapi sebagai panggilan hati untuk turut berkontribusi dalam perbaikan dunia.

Jika ada pihak yang menganggap saya tidak kompeten pada bidang ini, mungkin perlu dijelaskan lebih detail apa-apa yang saya harus lakukan untuk memperbaiki diri saya. Bukan dengan menanyakan berapa lama saya akan keluar? Yah, secara pribadi, saya tidak masalah. Saya keluar dan banyak hal-hal penting yang dapat saya lakukan. Misalnya dengan membaca ulang buku-buku yang tertumpuk di rumah. Membuat-buat tulisan, berkeliling Indonesia dan dunia untuk menambah khasanah makna dan pengetahuan. Berkenalan dengan orang baik dan membantu tugas orang-orang baik tersebut. Walau dengan ganjaran hidup miskin.   

Saya mungkin salah dan tidak tepat bekerja di tempat tersebut, yang berisi orang-orang cerdas dan komunikatif. Tapi, dalam dunia kerja realitasnya tidak seperti itu, kita yang tiba-tiba terpilih dan pihak yang memilih secara bersama saling membangun, mengisi kekurangan masing-masing, sembari belajar bersama untuk bangkit.

Yah, sepertinya bapak itu terlalu sering berspekulasi, terlalu merasa mampu untuk melihat masa depan orang. Untuk pernyataannya saya ucapkan terimakasih. Dan tentang berapa lama saya di tempat tersebut, saya akan jawab saya tidak tahu. Saya hanya berusaha dan terus berusaha, toh kalau-kalau besok saya dipecat atau dikeluarkan itu adalah keinginan lembaga tersebut. Saya hanya mau bilang bahwa saya yang hari ini tentu berbeda dengan saya pada tahun depan. Dan waktulah yang akan menentukan kapan saya tidak di tempat tersebut. Toh, kalau pun di luar saya tetap mencintai lingkungan, dan juga perikanan.

Salihara, Jakarta Selatan
24 Juni 2014
Idham Malik

Read more...

Kamis, 05 Juni 2014

Budidaya Perairan, Alternatif Pemenuhan Pangan dan Tantangannya



Tulisan ini terbit di Koran Kampus 'identitas' Unhas, 3 Juni 2014

Pada 2010 penduduk dunia telah berjumlah tujuh miliar. Pada 2030 diprediksi menjadi 9,8 miliar, yang berarti penduduk dunia bertambah dua miliar untuk diberi makan. Ketersediaan sumber protein sangat menentukan kemajuan ummat manusia, walaupun sejauh ini terlihat ketimpangan konsumsi pangan di belahan-belahan dunia lain, dimana terdapat belahan dunia yang tingkat konsumsi pangannya sangat tinggi dan terdapat belahan dunia yang konsumsi pangannya sangat rendah, walaupun pada dasarnya memiliki potensi sumberdaya yang tinggi.

Sumber protein sejauh ini diperoleh dari sektor peternakan dan perikanan. National Geografic menunjukkan bahwa saat ini dunia menghasilkan lebih banyak ikan hasil budidaya daripada daging sapi. Pada 2012, produksi ikan global mencapai lebih dari 70 juta ton, melampaui produksi sapi untuk pertama kalinya. Salah satu penyebabnya karena nilai gizi ikan yang tinggi dan memiliki kandungan protein dan lemak yang baik bagi jantung. Diperkirakan permintaan terus meningkat hingga 35 persen dalam 20 tahun ke depan.   

Dalam situasi tersebut, Sekitar 43,5 juta penduduk saat ini menggantungkan hidupnya pada usaha-usaha perikanan dalam pemenuhan asupan protein. Tercatat ada sekitar 170 juta orang yang bekerja pada produksi inti perikanan. Namun sekitar 85 persen stok ikan di dunia dieksploitasi dan ditangkap secara tidak berkelanjutan. Penangkapan yang tidak beretika dan tidak menghargai alam itu terus berlangsung pada setiap bentang pesisir dunia. Bahkan, pelaku eksploitasi yang banyak berasal dari negara maju itu semakin merangsek ke negara-negara menengah dan negara yang pemerintahannya lemah yang memiliki sumberdaya alam melimpah. Mereka menguras ikannya dengan menggunakan teknologi penangkapan yang semakin canggih. Dan sayangnya aktivitas melibatkan pasar global, langsung mengekspor sumber laut utama ke negara-negara maju (Negara Eropa, Amerika Serikat dan Israel). Sedangkan penduduk lokal selalu saja hanya mencicipi sisa-sisa tangkapan yang kandungan proteinnya rendah.      



Itulah sebabnya kegiatan akuakultur perlu didorong sebagai sumber protein alternatif. Saat ini produksi akuakultur telah mencapai 47 persen dari produksi perikanan dunia (FAO, 2012). peningkatan yang hampir 50 persen tersebut kian tumbuh di atas 10% pertahun. Sebagian besar tumbuh di Asia, data menunjukkan bahwa 87 persen produk akuakultur untuk komoditas udang, Indonesia menempati urutan ke empat, setelah Cina, India dan Vietnam. Meski pada 2013 - 2014, produksi udang vannamei di Cina, Thailand, Vietnam dan Malaysia menurun drastis akibat serangan penyakit EMS (Early Mortality Syndrom). Bencana bagi negara-negara tersebut merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk meraup keuntungan di pasaran dunia. Walau secara global telah mengancam ketahanan pangan dan ketersediaan protein berkualitas prima.   

Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi dengan produksi akuakultur terbesar pertama di Indonesia Timur. Dimana produksi budidaya mencapai 2.235.654,8 ton pada tahun 2012 dengan melibatkan 283.915 petani budidaya (udang, rumput laut, bandeng, nila, dll) dan nilai ekonomi sebesar Rp. 5,78 triliun (Data DKP Sulsel, 2012). Namun dalam perjalanannya, aktivitas akuakultur di Sulsel mengalami beragam hambatan, yang paling umum yaitu serangan penyakit pada komoditas unggulan seperti udang windu, udang vaname, dan rumput laut. Gejala kerusakan ini tidak hanya di satu atau dua lokasi, tapi menyebar di hampir setiap lokasi di Sulsel dan menurunkan pendapatan masyarakat. Berlangsung pula konversi ekosistem mangrove yang dimulai sejak 1980-an hingga 2000-an, kemudian dilanjutkan pada dekade belakangan ini sebagai upaya ekstensifikasi pertambakan dimana para petambak terus memperluas lahan budidayanya (mencari lahan baru di daerah-daerah baru, Luwu Timur, Luwu hingga ke Kolaka Sulawesi Tenggara).  

Gejala lain yaitu upaya intensifikasi yang mengerucut pada produksi super tinggi pada lahan sempit untuk komoditas udang. Namun produksi tinggi yang mensyaratkan penggunaan pakan optimal tersebut tidak didukung oleh ketersediaan Instalasi Pengelolaan Limbah (IPAL), yang membuat limbah organik yang berasal dari sisa pakan dan feses udang itu dibuang saja ke laut dan berpotensi menyebabkan kesuburan perairan (eutrofikasi), berefek pada berkurangnya oksigen, munculnya organisme-organisme yang justru merugikan pengguna air untuk tambak lainnya. Di sisi lain, 93% aktivitas budidaya perairan mengandalkan air pasang surut dari muara sungai dan laut lepas, yang tentu saja akan terkena dampak meningkatnya bakteri negatif di laut berupa rusaknya kualitas air dan menurunkan jumlah produksi. 

Penyebab munculnya penyakit dan berbagai permasalahan di atas dideteksi bukan karena lemahnya faktor teknis dan metodis, tapi juga terkait dukungan politik dan legal formal (hukum), pengelolaan kelembagaan sosial, dukungan sarana prasarana dan pendampingan penyuluh, dukungan pasar, serta dukungan politik yang memberikan kewenangan pada masyarakat untuk mengeksplorasi metode-nya sendiri dalam perbaikan perikanan, yang biasa disebut dengan istilah Community Based Management.

Melihat hal tersebut, Pemerintah harus memikirkan perbaikan kualitas penyedia bahan baku, baik itu nelayan, pembudidaya, dan petani secara umum. Bukan lagi dimotivasi oleh kepentingan jangka pendek, yang selalu berbau putaran ekonomi cepat dan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, seperti eksportir. Sebab sungguh ironi bagi petambak kita yang telah bertahun-tahun berproduksi, namun tetap mengalami kendala terkait kualitas produksi dan pemenuhan standar hidup layak. Memang, perlu ada metode pembelajaran dan pendampingan khusus agar mereka dapat memetakan persoalan dan mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.

Lebih dalam dari itu, kerusakan lingkungan akibat aktivitas eksploitatif tersebut lebih berurusan dengan cara berfikir kita terkait sumberdaya alam itu sendiri. Cara pandang yang semena-mena, memandang laut sebagai sumber yang bebas untuk dipreteli, lautdan pesisir sebagai objek pemuasan nafsu manusia, hanya mementingkan spesiesnya sendiri dan telah memusnahkan serta mengurangi jumlah spesies-spesies lain.

Sebelum kita terlalu jauh melangkah. Lebih baik kita bersama-sama memupuk kesadaran bahwa spesies lain itu juga mempunyai hak untuk hidup, hak untuk berkembang dan meneruskan generasi. Itu dapat dimulai dengan cara mengurangi prilaku boros kita dalam mengonsumsi pangan. Mulailah hidup hemat dan penuhi hidup dengan makna, bukan dengan materi yang pada akhirnya akan membuat hidup menjadi membosankan.

Akhir paragraf, kita pun menghimbau kepada pasar-pasar luar untuk tidak selalu memprovokasi nelayan kita untuk menguras ikan-ikan di laut. Apalagi mengeksploitasi dengan cara yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom dan racun, serta penangkapan spesies yang rentan. Mulailah fokus untuk membeli ikan-ikan yang ditangkap secara ramah lingkungan, serta pada usaha-usaha alternatif pemenuhan pangan, yang berasal dari budidaya perairan. Kemudian, distribusi protein tinggi itu diharapkan bisa lebih merata, penduduk Indonesia yang jumlahnya 250 juta ini apat dengan mudah menikmati sumberdaya protein tinggi, ikan-ikan karang, udang, ikan-ikan sungai, agar lebih bervariasi dari yang sebelumnya hanya tempe, tahu dan sebutir telur ayam.  


Read more...

Sabtu, 17 Mei 2014

Sekadar Menjahit Informasi tentang Pengelolaan Tambak di Suppa, Pinrang



Minggu, 4 Mei 2014, dini hari, saya bersama Ervandi (24) dan Mustafa (24) melaju dari Makassar dengan rencana menuju Pare-Pare. Kami akan istirahat di sana sambil menunggu pagi dan mengerjakan poin-poin yang belum terselesaikan. Tujuan keberangkatan adalah bertemu dengan Ir. Taufik untuk ngobrol-ngobrol kondisi pertambakan udang windu di Suppa, mengunjungi kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pinrang untuk diskusi rencana kegiatan Training BMP Budidaya Udang Windu (WWF Indonesia) untuk penyuluh perikanan budidaya Pinrang, Maros, dan penyuluh provinsi, serta melakukan pengambilan foto untuk kebutuhan gambar BMP Budidaya Udang Vannamei, yang sedang saya kutui dan belum juga kelar-kelar, hingga membuat pikiran berdengung-dengung.

Lantaran baru mengingat kamera dan GPS ketika sudah kenyang di sebuah warung di Kota Pangkep, terpaksa mobil dibelokkan kembali ke rumah di Kota Maros pada pukul 02.00 Wita dan memaksa orang tua bangun dari tidurnya. Oh my God. Kami pun start kembali dari Kota Maros pukul 02.20, dengan harapan Mustafa tidak tertidur di jalan sambil menyetir mobil. Kami semua sudah terlihat lelah dan memaksa kepala untuk terang melihat jalan, mustafa tidak dapat lagi menahan kantuk, kami pun memutuskan untuk istirahat di sebuah penginapan sederhana di tengah kota Barru, di Balla si Bae. Terdapat kenangan di tempat itu, di sepotong masa SMA, bersama 6 orang teman sekolah kami bertarung di sana untuk menjadi juara Pidato tingkat SMA se Sulsel, kegiatan itu diadakan oleh Organisasi Pelajar Islam Indonesia.

Tidur yang cukup panjang, kami bangun pada pukul 11.00 siang, dan melanjutkan perjalanan lagi ke Kota Pare, singgah sejenak di caffee The Carlos untuk mengisi perut di tengah hari dan mempelajari beberapa bahan untuk diskusi dengan Ir. Taufik. Setelah itu mobil kami berkelok-kelok di Kota Pare-Pare, mencari jalan keluar menuju Pinrang. Akhirnya pada pukul 15.20 Wita, kami tiba di depan rumah Ir. Taufik, di Dusun Tasiwali’e, Kec. Suppa, Pinrang.

Waktu itu Taufik baru saja datang dari acara tetangga-nya yang sedang merayakan Acara Sederhana lamaran anak Gadis. Ia mengenakan stelan jas hitam, sarung sutra dan peci. Kami pun diajak duduk-duduk di kolong rumahnya. Kemudian kami ngobrol ngolor ngidul, dengan begitu banyak tema dan jika tak disela akan terus menerus meluap. Tapi saya juga lupa sebagian besar yang diomongkan. Hahaha..

Mulanya saya memancing pertanyaan tentang kawasan tambak Pak Mangku, letaknya sekitar 3 kilometer dari jalan raya dan lorong menuju kawasan tambak Suppa. Saya melihat sekilas kawasan tambak itu, dengan kincir-kincirnya yang dengan semangat menyuplay oksigen pada tubuh udang. “Pak Mangku itu orang Cina, tapi dia mempunyai jiwa sosial, dengan cara membantu masyarakat di sekitar tambaknya untuk menanam rumput laut. Pak Mangku itu Cina Bolong,” ungkap Taufik. Saya hanya tertawa, mendengar istilah Cina Bolong, dimana-mana orang Cina itu berkulit putih, bukan hitam (bolong), tapi mungkin yang dimaksud adalah orang Cina yang memedulikan orang lokal.

                                          Tambak Pak Mangku.

Sebenarnya rumput laut tersebut justru menolong usaha pertambakan 20 hektar milik Pak Mangku. Dimana ketika air tambak tersebut dibuang ke laut, rumput laut dengan segera menyerap sisa-sisa pakan udang yang telah bercampur dengan air dan menjadi suspensi bahan organik berkandungan nitrogen dan posfat yang cukup tinggi. Makanya, menurut Amir, teknisi Kawasan Tambak Pak Mangku, ketika musim panen dan air tambak ramai-ramai dibuang ke laut, rumput laut yang rata-rata dipanen umur 20 hari menjadi dapat dipanen pada umur 15 hari. sehingga hubungan yang dibangun adalah hubungan simbiosis mutualisme, walaupun pada dasarnya Kawasan tambak lah yang lebih diuntungkan, karena dengan serapan bahan organik oleh rumput laut, kualitas air di sekitar teluk tersebut lebih terjaga dan dapat digunakan untuk pemeliharaan udang menjadi lebih optimal.

Walaupun barangkali, masih banyak juga limbah bahan organik yang tidak sempat diserap rumput laut dan melayang-layang lalu hinggap di substrat atau mengikuti arus gelombang, masuk di sungai, dan mencemari beberapa daerah. Jika sudah berlebihan, bahan organik tersebut akan memicu kesuburan perairan atau biasa diistilahkan eutrofikasi dan menyebabkan blooming alga, melimpahnya alga – lumut dan akan merusak perairan sekitar, membunuh organisme di perairan akibat sesak nafas dan keracunan karena alga-alga tersebut menyerap oksigen begitu banyak.

Dari membincangkan tambak Pak Mangku, kami menuju perbincangan tentang tambak plastik yang merupakan output dari program industrialisasi perikanan KKP 2013. Industrialisasi didaku berbasis blue ekonomy dan dilaksanakan di kawasan minapolitan, yang diintegrasikan dengan program PNPM Mandiri, PUMP, PUGAR ataupun KIMBIS (Klinik Iptek Mina Bisnis) untuk beberapa komoditas terpilih, yaitu udang, bandeng, dan rumput laut. Yang tujuannya yaitu untuk memenuhi target produksi serta meningkatkan ekonomi masyarakat. Untuk Sulsel, diharapkan dapat meningkatkan produksi udang hingga 33.200 ton.

Untuk itulah KKP melalui DKP Provinsi menginisiasi implementasi tambak plastik sistem intensif di Kecamatan Suppa, yang luasannya hingga 30 hektar. Namun, hingga saaat ini tambak-tambak tersebut masih terkulai dan mulai boyak. Plastik-plastik yang membungkus tambak terlilit-lilit. Maklum, kawasan tambak tersebut sudah teronggok selama 8 bulan, dengar-dengar lantaran dana bantuan KKP untuk industrialisasi kawasan tambak tersebut belum turun. Dana tersebut banyak terserap di kawasan tambak di Pantai Utara Jawa. “operasionalisasi tambak plastik tersebut masih menunggu kepastian dari pemerintah daerah, katanya akan dicarikan dari sumber dana lain,” ungkap Taufik.


                                          Tambak Pelastik di Kec. Suppa.

Pada 14 Mei kemarin, digelar pertemuan Sinkronisasi Stakeholder untuk Pemberdayaan Kawasan Minapolitan Wilota (Wiringatasi, Lotang Salo, Tasiwali’e), akhirnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) – Mandiri, bersedia untuk memberi kredit kepada Pengembangan tambak plastik tersebut. Untuk menjamin kelangsungan program tersebut, BPR menyediakan teknisi dari Japfa Comfeed, yang akan membantu petambak untuk mengatasi problem-problem yang selalu muncul di tambak. pada hari itu terjadi penandatanganan kerjasama antara BPR dan Pemerintah Daerah Kab. Pinrang. Sehingga tak lama lagi tambak plastik seluas 20 hektar akan beroperasi. Sisa yang 10 hektar itu akan dicarikan sumber dana lainnya.

Setelah tambak plastik, Taufik juga mempermasalahkan terbatasnya benur udang windu dalam memenuhi kebutuhan seluruh petambak udang di Pinrang. Jika dikalkulasi, dengan luasan tambak di Pinrang saat ini 15.000 hektar dan setiap hektar pembudidaya membutuhkan rata-rata 15.000 benur, maka kebutuhan benur mencapai  225 juta ekor benur untuk satu siklus, yang dimana rata-rata petambak melakukan usaha tambak sebanyak dua kali setahun, berarti 450 juta benur. Sementara jumlah hatchery di Pinrang berjumlah 9 buah, dengan kapasitas produksi 220 juta benur pertahun. Sehingga kebutuhan benur itu terpaksa ditutupi dengan membeli benur dari daerah lain. Selain itu, banyak hatchery yang menjual benurnya ke daerah lain, seperti Luwu, Sulawesi Tenggara. Alasan penjualan ke daerah tersebut, karena pembelinya orang Pinrang juga.

Hatchery udang saat ini sangat bergantung dengan ketersediaan artemia, sebagai pakan benih. Sedangkan harga artemia sudah cukup tinggi, dimana satu kaleng artemia dihargai Rp. 600.000. dekade lalu harga artemia tidak semahal sekarang, ditambah harga benur yang normal-normal saja, yaitu Rp. 35 – Rp. 40 perekor. Makanya banyak pengusaha hatchery yang menginisiasi produksi benur dengan mengurangi pemakaian artemia. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap kualitas benur dan akan mempengaruhi daya tahan udang nantinya di tambak.

Hal ini tampaknya sulit dibendung, mengingat pemilik hatchery juga mencari untung dengan caranya masing-masing, dan tentang keputusannya untuk menjual benur ke luar daerah itu merupakan hak pemilik hatchery. Yang diperlukan adalah, bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas benur, dengan pakan yang baik, kualitas air yang baik, serta pemeliharaan yang baik. Sementara sekarang ini, kualitas benur susah diukur karena banyak faktor yang dapat menjadi penghambat, seperti kualitas induk yang terkadang terinfeksi WSSV (White Spot Sindrom Virus) dan insang merah. Induk udang windu itu diperoleh dari perairan di beberapa tempat di Sulawesi Selatan, mulai dari perairan sekitar Pinrang dan Barru, juga perairan sekitar Teluk Bone, hingga perairan di wilayah Sulawesi Tenggara. Makanya Ir. Taufik bersama Dr. Ir. Hilal Anshari (dosen Unhas) berinisiatif untuk mencari induk lokal yang bebas virus, dengan menyeleksi satu persatu induk dari beberapa daerah tersebut, untuk mengidentifikasi bahwa induk pada daerah ini lebih rentan atau lebih bebas dari virus. Selain itu, Ir. Taufik juga sedang melakukan penelitian tentang aplikasi Phronima suppa yang selama ini dipraktekkan sebagai pakan alami untuk udang windu di tambak pembesaran, akan diteliti pula apakah dapat dimanfaatkan untuk benur sebagai pengganti artemia.

Phronima suppa juga menjadi persoalan tersendiri, karena pemanfaatan pakan alami dari salah satu jenis crustacea ini masih dianggap awam bagi sebagian warga. Ir. Taufik sudah melakukan ujicoba pada 10 petak tambak dengan padat tebar 10.000 ekor, dengan hasil panen pada size 40 sebanyak 107 kg – 291 kg. Phronima suppa diambil di laut kemudian dikultur di petak tambak selama 21 satu hari sebelum ditebar sebanyak 4 – 5 liter di tambak pembesaran. Bahan yang digunakan untuk mengkultur Phronima pun tidak jauh berbeda dengan bahan yang digunakan dalam persiapan tambak udang, yaitu juga menggunakan kapur dolomit, saponin, dedak halus, urea, SP 36, pupuk Za,  pupuk cair ursal, pupuk cair fores dan ragi.  



Persoalan benur ini juga diperparah oleh tingkah para penggelondong udang, yang terkadang menurunkan kualitas benur yang berasal dari hatchery ke petambak. Sebagai perantara, penggelondong harus mengoptimalkan pemeliharaan dalam kolam gelondong dan mengangkut udang dengan baik agar udang tidak stress dalam perjalanan. Untuk itu, perlu ada pengamatan terhadap metode penanganan benur oleh penggelondong yang dimulai dari pembelian di hatchery hingga penjualan benur gelondongan ke petambak.

Selain benur, hal yang berpengaruh juga yaitu kualitas air. Dimana tampaknya sebagian petambak masih kesulitan untuk memperoleh air yang baik, yang berasal dari teluk dan dari perairan di selat Makassar. Kesulitan itu disebabkan oleh kuatnya sedimentasi di muara-muara sungai di Pinrang, yang menyebabkan pendangkalan sungai-sungai dan saluran air. Langkah yang ditempuh oleh Pemda Pinrang yaitu dengan mengangkat lumpur-lumpur (endapan) yang menghalangi arus pasang surut air ke tambak. beberapa saluran telah dilakukan revitalisasi dengan bantuan ekskapator. Menurut Dr. Ir. Muharijadi Atmomarsono, MSc, tindakan yang harus dilakukan sebenarnya adalah tindakan pencegahan, dengan memasang pemecah ombak pada masing – masing pintu muara. Pemecah ombak tersebut berguna untuk mencegah masuknya lumpur ke dalam saluran air, yang nantinya dapat menumpuk dan akan menghalangi lagi keluar masuk air. Sehingga menyulitkan petambak dalam memperoleh air yang berkualitas baik. “Walau saya orang penyakit, saya tetap berfikir pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Dengan alat pemecah ombak tersebut, kita tidak usah mengangkat endapan menggunakan eskapator tiap tahun,” ungkap Muharijadi.

Persoalan kualitas air ini menjadi pelik jika kita mencermati pencemaran-pencemaran buatan manusia, yang juga ekses dari pengelolaan tambak udang, yang agak besar seperti tambak supraintensif. Selama ini banyak yang mengeluhkan dampak negatif dari aktivitas tambak supraintensif, dimana metode ini dapat menghasilkan limbah hingga berton-ton dalam satu siklus. Apalagi limbah tersebut belum diolah dengan baik dengan mekanisme IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah), yang tentunya akan mengancam perairan di sekitarnya. Perairan Kec. Suppa tidak jauh dari perairan tempat tambak supraintensif beroperasi. Memang, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa limbah tersebut mempengaruhi kualitas air di Kec. Suppa, tapi secara teoritis limbah tersebut sudah merusak lingkungan, entah lingkungan Kab. Barru ataupun Kab. Pinrang. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa limbah itu tidak bergerak ke perairan Kec. Suppa?



Hari itu, setelah hari mulai larut dan kopi sudah habis di cangkir, kami berinisiatif mengunjungi kediaman Abdul Salam Atjo, penyuluh Udang Kab. Pinrang untuk menginformasikan rencana Training BMP Budidaya Udang Windu untuk penyuluh. Dalam perjalanan menuju rumah Salam Atjo, Ir. Taufik terus mengungkapkan isi kepalanya, hal menarik yang sempat terlontar yaitu keberadaan alga dalam tambak dapat membantu untuk meminimalisir keberadaan bakteri vibrio dalam tambak. Alga tampaknya menimbulkan keseimbangan lingkungan dalam perairan tambak, sehingga membatasi perkembangan vibrio dalam tambak. logika keseimbangan ini akan sama jika yang menjadi objek yaitu tetumbuhan mangrove. Dimana keberadaan mangrove dapat meminimalisir munculnya bakteri-bakteri negatif yang dapat menghambat pertumbuhan dan dapat mematikan udang. Menurut Muharijadi  dalam akar mangrove terdapat zat-zat antibakteri yang dapat membantu menstabilkan air tambak dari bakteri-bakteri negatif.

Tampaknya, setelah kita membahas panjang lebar tentang induk, benur, bakteri, virus, kualitas air, alga, dan mangrove. Kita seperti diperlihatkan bahwa persoalan pertambakan ini secara teknis lebih pada persoalan dua aspek, yaitu internal dan eksternal. Internal dalam hal ini yaitu persoalan fisiologi udang, yang di dalamnya terkait dengan genetika dan kemampuan tubuh udang dalam berhadapan dengan virus dan bakteri. Kedua persoalan eksternal, yaitu tentang kualitas air dan keberadaan mangrove yang dapat meminimalisir bakteri penyebab penyakit. selain itu ada pada usaha manusia untuk mengoptimalkan kualitas lahan dan media hidup udang, dengan input-input tambahan seperti kapur, pupuk, dedak, dan pakan, serta menjaga kualitas air agar tetap segar dan sehat bagi udang. Kadar input-input itu disesuaikan dengan standar fisika dan kimiawi untuk kehidupan udang. dimana input diberikan ketika kualitas media hidup berada di bawah standar, yang disebabkan oleh macam hal, pertama bisa disebabkan karena memang lahan tersebut miskin unsur hara dan merupakan lahan berbahaya (kandungan asam tinggi), atau karena faktor cuaca dan iklim, misalnya kondisi sehabis hujan deras.

Masalah berikutnya dan juga penting, yaitu masalah budaya masyarakat (kultur) dalam berinteraksi dengan alam dan manusia lainnya. Terkadang kegagalan panen bukan karena benur dan kualitas air, tapi pada sikap dan manajemen petambak. Sikap dan manajemen itu ditentukan oleh lompatan-jangkauan pikiran serta sikap ilmiah petambak, dan juga dipengaruhi secara tak sadar oleh kebudayaan yang membentuk cara berfikirnya selama ini. Kebudayaan itu sendiri diperoleh dari penilaian-penilaian melalui mata dan telinga sendiri, serta diperoleh melalui cerita-cerita yang bergulir di antara mereka. Dan tentu, aspek-aspek inilah yang terkadang luput. Kita pun baru menyadari setelah kita bersusah payah mengurusi hal teknis, melakukan perbaikan-perbaikan, dan kita pun bertanya-tanya, kenapa perubahan ke arah yang lebih benar sangat lambat?

Dan tentu, kita pun harus memeriksa kembali, apakah ada faktor lain yang menyebabkan peroses perbaikan lebih lambat? Bagaimana dengan proses penguasaan alat-alat produksi dan pengetahuan? Kemudian kenapa proses transformasi pengetahuan itu terlihat lambat, padahal akumulasi pengetahuan itu telah dipupuk sejak berpuluh-puluh tahun oleh petambak. Apakah ada pengaruh akumulasi modal terhadap akumulasi pengetahuan? Apakah ada pengaruh jangkauan pergaulan dengan penguasaan teknis. Hal inilah yang harus kita pelajari bersama-sama.

Idham Malik
Rumah Kecil identitas Unhas, 
17 Mei 2014

Read more...

Senin, 12 Mei 2014

Manusia Sekrup (Terbit di Literasi Koran Tempo, Sabtu, 10 Mei 2014)



Saat-saat ini, rasa-rasanya kita sulit menghindar, keluar dari apa yang kita kenal sebagai sesuatu yang rutin. Liyan itu selalu saja menerobos ke dalam dan mengacak-acak jiwa, membuat kita merasa aneh sendiri pada diri kita. Kita pun mencari-cari apa yang telah kita peroleh, apa yang kita temukan, semakin kita sibuk dan berlari, sesuatu yang kita cari itu justru kian tak berbentuk dan mungkin kosong.    

Pada tempat yang lain, kita dilumuri permukaan rasa nikmat, dengan gelimang materi. Yang secara biologis sangat perlu dan digunakan untuk meneruskan regenerasi sel dan membantu alat pencernaan untuk terus menggesek. Kadang-kadang juga untuk meluap-luapkan perasaan dengan memesan menu yang enak, berkunjung ke tempat yang sengaja dikesan-kesankan sebagai indah.

Itulah sisi-sisi dimana kita terkurung, sesekali lepas namun hanya untuk meregang-regangkan syaraf. Zaman ini, barangkali banyak orang yang mengisi hidup sepenuhnya hanya untuk menjadi bagian dari sekrup sirkuit. Orang menghadapi dunianya pada “close-up”, pada situasi yang khusus, dimana ia bergelut lincah di dalamnya, semisal dunia politis, dunia swasta, dunia pecinta-cinta, yang mungkin hanya mencintai uang. Nilai-nilai kuno, yang dahulu telah dipetakan oleh leluhur, menjadi sesuatu yang tak penting dan bisa dinegosiasi. Etika tidak lagi dilihat dengan menggunakan jarak dan harus dipatuhi, etika dalam artian itu merangsek ke dalam daging, ia dengan liar menggelinjat pada suatu situasi yang serba tegang, pada persimpangan jalur-jalur politis, sosial dan manajerial. Etika pun kadang dapat terganti, dengan nilai-nilai yang bertujuan kongkrit.

C. A Van Peursen dalam Buku Strategi Kebudayaan mendefenisikan pola tingkah laku tersebut sebagai manusia fungsionil. Muncul sebagai keharusan dalam menanggapi perkembangan dunia modal dan pertumbuhan ekonomi. Manusia kemudian beradaptasi dan mengatur dirinya untuk terlibat pada jejaring dunia ‘sekrup’. Manusia tidak lagi berpusing-pusing menafsirkan dunia yang barangkali dianggap menghabis-habiskan waktu, tapi langsung terjun ke dalam daya-daya kekuatan di sekitarnya. 

Ciri fungsionil itu dapat diamati melalui ekspresi kesenian manusia. Lukisan dengan gaya fungsionil itu selalu terus terang, namun tidak begitu luhur. Lukisan menggunakan beragam warna yang campur aduk tentang sepotong bagian alat yang tujuannya lebih pada memperkuat daya ekspresi. Seni fungsionil juga tak segan memilih barang-barang yang telah dibuang, seperti besi berkarat, blek-blek bekas, kayu, cat, lalu disusun menjadi karya yang mewakili bentuk tertentu. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa manusia fungsionil selalu ingin melibatkan diri dalam alam dan sejarah.

Manusia fungsionil pun memandang pekerjaannya bukan lagi sebagai sebuah substansi, tapi lebih pada relasi, yang akan membuatnya eksis. Dia ada dengan menjadi bagian dalam keseluruhan dan tunduk pada keseluruhan. Celakanya, pandangan fungsionil ini tidak sekadar membuat manusia eksis belaka, tapi justru mengajaknya ke dalam absurditas/kekosongan. Sebab fungsi keberadaannya hanyalah menjadi bagian dari sebuah fungsi besar suatu mesin, entah birokrasi atau teknokrasi, yaitu mencari keuntungan. Tiba-tiba kehidupan selalu dinilai dengan materi, sementara jika kehidupan bersandar pada materi, lama kelamaan hidup menjadi membosankan. 

Manusia fungsionil mematuhi kaidah-kaidah susunan yang dibuat-buat oleh manusia itu sendiri. Ini disebut jebakan operasionalisme. Segala sesuatu dioperasionalkan, manusia menurut pandangan ini tak lain adalah hasil test-test psikologi. Tuhan pun dianggap hanyalah hasrat dan pikiran-pikiran manusia yang bersembunyi dan menyembul-nyembul. Begitu halnya dengan pengambilan keputusan, dimana ditentukan berdasarkan denah-alur koordinasi. Maka masa depan manusia kita serahkan dan kita rendahkan dalam sebuah rumus dan denah. Segala sesuatu dikembalikan pada angka-angka, nomor, hitung-hitungan. Kita pun hanya menjadi bagian kecil dari jejaring birokrasi, teknokrasi, dan manipulasi. Kita terlempar dari kenyataan, terlempar dari orisinalitas. 

Jadi wajarlah kiranya jika kita menyaksikan paradoks-paradoks di keseharian, dimana tetangga menjadi orang lain, dengan pagar-pagar tinggi, manusia membentengi privasi-nya. Kita tak saling menyapa walau hanya berdua di lift gedung, kita melihat pelayan hotel sebagai alat yang dapat kita perintah dan mereka dengan terpaksa tersenyum manis. Kita pun mulai merendah-rendahkan orang, melihat orang lain itu hanyalah satu setelan alat yang bekerja, dibayar, direduksi. Kita semuanya tiba-tiba menjadi anonim, tanpa nama. 

Begitu halnya dalam kehidupan percintaan. Operasionalisme membuat rasa cinta itu menjadi hambar, sebab cinta telah diredusir menjadi skema teknik permainan asmara semata. Identitas dua individu yang tiba-tiba membangun relasi operasi itu pun menjadi kehilangan identitas.     

Bagaimanakah identitas itu ditegakkan kembali di dunia serba operasional ini. Jalan yang harus ditempuh sangat rumit. Untuk sementara, tampaknya kita harus kembali menengok petuah-petuah kuno, nilai-nilai yang dahulu eksis. Menghirup kembali rasa spritualitas dengan nalar yang matang. Atau kita pun harus sering-sering membaca essai kebudayaan, sastra serta roman. Seperti yang diungkapkan Asrul Sani dalam essai-nya, “Membaca sebuah buku roman setidaknya mengembalikan kita kepada rasa kemanusiaan itu sendiri”. 

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP