Jumat, 04 April 2014

Sepijak-pijak, Maluku Tenggara (Bagian 3)



Pada Senin, 24 Maret 2014, adalah hari kedua kami di Pulau Kei Kecil-Maluku Tenggara (Malra). Kami bangun pagi betul, 06.30 WIT, untuk mengantisipasi kunjungan ke pasar Malra untuk melihat arus masuk ikan-ikan. David dan Rustam sudah terlebih dahulu mandi, saya agak terlewat dan terpaksa supir dan Pak Yongki (Staff DKP Malra) yang datang pukul 07.30 WIT harus menunggu barang setengah jam. Alhasil, kami tak berhasil ke pasar, karena harus menjemput lagi Om Yan dan Usy Mien di kantor.

Jadi, kegiatan awal kami yaitu mengunjungi kantor DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Maluku Tenggara. Kami ke sana pukul 10.00 WIT. Lucunya, belum semua staff DKP yang masuk kantor pada saat itu. Padahal, suasana di luar gedung sudah begitu menyengat. Tampaknya pemandangan seperti ini adalah hal lumrah kita dapatkan di daerah. Dimana waktu dan produktivitas belum dapat dipaksakan dengan greget.

Di sana kami terlebih dahulu diskusi dengan Bapak Anton Renjaan, SPi, MSi, Kepala Bidang Budidaya dan Perikanan Tangkap, DKP Malra. Anton orangnya meriah dan akrab, ia mengawali perbincangan dengan mengeluhkan mental para pegawai. “Orang sini susah diatur, buktinya, ke kantor saja datang terlambat,” guyonannya sembari tertawa. Anton yang biasa disapa Toni ini bercerita tentang sulitnya nelayan Kei memberi data tentang jumlah tangkapan perhari. Data-data hanya dapat diperoleh dari SKMI (Surat Keterangan Membawa Ikan) untuk para pengumpul. Menurutnya, nelayan sudah harus memiliki kartu nelayan, dimana nelayan mencatat produksinya minimal dalam dua tahun terakhir. 

Tampaknya pernyataan ini perlu diverifikasi, sebab nelayan yang kami wawancarai pada jam-jam berikutnya, terlihat mudah membeberkan informasi. Dimana letak masalahnya? Apakah terletak pada nelayan atau pada petugas pencari data? Pegawai sebenarnya dapat melakukan penghitungan di tempat-tempat penampungan ikan, yaitu di Keramba Jaring Apung (KJA) Pulo Mas. Pada KJA, nelayan berdatangan untuk menjual ikan geropa (kerapu), biasanya sore hari. Dan kita dapat melihat langsung jenis ikan yang ditangkap dan dapat mengetahui jumlahnya.

“Sebenarnya dulu (Jaman Ordebaru) ada kebijakan penyuluh turun langsung ke nelayan, melakukan pendampingan penuh ke bawah, yang diistilahkan Penyuluh Perikanan Spesial (PPS). Tapi sekarang kebijakannya sudah tidak seperti itu,” tutur Anton. Sekarang, penyuluhan diambil alih oleh Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (P4K). Saat Sosialisasi BMP Ikan Karang, 25 Maret 2014, terdapat 4 orang penyuluh dari P4K yang hadir. Seorang penyuluh perikanan mengatakan bahwa mereka masih butuh bimbingan tentang budidaya rumput laut, “Rumput laut di sini sering terkena hama, kami sangat mengharapkan pelatihan untuk mengatasi persoalan tersebut,” kata seorang penyuluh. Sebenarnya yang dimaksud hama tersebut adalah penyakit ice-ice, yang menurut Dr. Andi Parenrengi, Kepala Balai Riset Budidaya Air Payau (BRPBAP Maros), sebagai penyakit gangguan fungsi atau terjadinya perubahan fisiologis pada tanaman akibat adanya perubahan faktor lingkungan yang ekstrim, misalnya perubahan nutrisi, suhu, salinitas, dan tingkat kecerahan air. Kondisi tersebut biasanya diikuti adanya interaksi dengan mikroorganisme patogen.

Memang, agak sulit memecahkan problem penyakit ice-ice di Malra, karena memang pada musim-musim tertentu terdapat musim teduh (kurang arus/angin), dimana pada daerah-daerah bagian timur akan mengalami masa teduh pada musim barat, yaitu dimulai pada September – Maret Akhir, dan akan membaik pada April – Agustus. Begitu halnya bagian barat akan mengalami musim teduh jika masuk musim timur. Di wilayah-wilayah Sathean, La Betawi, Levidathan, Dullah Utara saat ini mengalami musim teduh. Pembudidaya mensiasatinya dengan mengurangi jumlah tebar (tanam), misalnya pada musim baik menebar hingga 50 tali (50 – 100 meter), pada musim kurang baik menebar hanya 10 tali. Dan ada yang tidak menebar dan menunggu musim baik. Ada pembudidaya yang membiarkan tali dan pelampung berlumut karena menganggap lumut dapat mengurangi cahaya matahari langsung dan tidak terlalu menenggelamkan bibit terlalu dalam, karena pada bagian dalam air tidak bergerak, dan ada yang membersihkan lumut dan menenggelamkannya agak dalam (20 centimeter) karena pada daerahnya tetap berarus pada sepanjang musim (Desa Letvuan).



Perbincangan menyerempet ke program-program DKP Malra untuk peningkatan ekonomi nelayan dan pembudidaya rumput laut. DKP Malra menyodorkan bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) kepada 22 kelompok pembudidaya rumput laut pada tahun lalu (2013) dan pada tiga (3) kelompok pada tahun 2014 ini. Bentuk bantuan berbeda-beda, tergantung permintaan dari kelompok, misalnya kelompok membutuhkan tali atau penjemuran maka pendamping yang memang khusus dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) akan membantu menyediakan. “Bantuan tersebut melalui pendamping, dana masuk ke rekening kelompok, bukan melalui dinas,” tambah Anton.

Terdapat pula bantuan dari partai politik atau biasa disebut ASPIRASI. Bantuan ini dianggap dapat merusak stabilitas hubungan dengan nelayan dan pembudidaya rumput laut. Sebab, dana tersebut tidak ditujukan pada subjek-subjek khusus, misalnya nelayan dan pembudidaya, tapi kepada siapa saja yang dekat dengan partai politik. Nah, problem terjadi ketika nelayan/pembudidaya mengetahui ada bantuan seperti itu, kemudian mereka tidak dapat bantuan, maka hubungan emosional mereka dengan pendamping bisa terjadi klik.

Ibu Babaranda Lily Latelay, Kepala DKP Malra sudah ada di ruang sebelah (ruang Kepala DKP). Kami pun beranjak kesana dan David mulai membuka diskusi dengan Ibu Lily, “WWF berencana melakukan sosialisasi di Desa Ohoidertutu, Selatan Pulau Kei Kecil, kami memohon dukungan dari DKP Malra,” ucap David. Lily menyambut baik dan beliau siap membantu. “Nanti Yongki akan bantu untuk kunjungan ke nelayan-nelayan,” ungkap Lily. Saat itu saya juga minta disediakan data-data produksi rumput laut Malra. Akhirnya Ibu Lily meminjamkan berkas-berkas pelaku usaha rumput laut di masing-masing kecamatan.

Kendala utama dalam budidaya rumput laut menurut Ibu Lily adalah kebun bibit. Keberadaan kebun bibit memang sangat berpengaruh bagi keberlanjutan budidaya rumput laut di Maluku Tenggara. Di Malra, masih kurang pembudidaya yang mengambil inisiatif untuk membuat kebun bibit, dimana pada musim-musim tertentu, misalnya musim penyakit (ice-ice) pada saat laut teduh (kurang arus-angin), aktivitas budidaya berhenti, sehingga dibutuhkan bibit baru lagi untuk memulai dari awal.

Setelah berkunjung ke beberapa spot/lokasi budidaya rumput laut, seperti di Desa Sathean, Letvuan, Fidathan, Dulla Utara. Petani tidak terlalu mengeluhkan bibit rumput laut, mereka dapat memperolehnya dari keluarga-keluarga yang konsisten mengelola bibit rumput laut. Seperti yang dilakoni Achilles Mayakubun, pembudidaya paruh baya ini memang mengkhususkan memelihara bibit pada lokasi yang agak dalam. Bibit dari Achilles biasanya disumbangkan ke pembudidaya lain yang membutuhkan. Achilles juga menjualnya ke pembudidaya di desa lain dengan harga terjangkau. Ini diakui Bapak Constantin dari Sathean, di Sathean sedang menghadapi musim teduh, karena posisi desa ini terletak di wilayah timur pulau Kei, sehingga permukaan lautnya kurang terhembus angin. Constantin memperoleh bibit dari Desa Letvuan. Namun menurutnya terdapat bibit luar yang kurang cocok ditanam di Sathean. “Saya pun hanya mengandalkan sisa-sisa rumput laut yang masih bertahan pada musim barat untuk dijadikan bibit kembali,” ujar Konstantin, ketika ditemui dua hari berikutnya.



Kunjungan ke DKP ini sebagai modal awal kami untuk menelusuri lebih dalam problem lingkungan pada aktivitas nelayan maupun aktivitas budidaya rumput laut. Sekaligus menjadi modal awal dalam menguliti problem sosial dan mental mereka. Tentu, untuk memperoleh jawaban bukan dengan hanya melakukan survey, mengambil data-data, lalu pulang. Kita tidak dapat menyandarkan tindakan kita ke depan hanya dari data-data, tapi juga menyerap pengetahuan yang telah dikelola oleh masyarakat sekitar, untuk menghadapi persoalan-persoalan teknis yang mereka hadapi di lapangan.

Makassar, 3 April 2014 
Idham Malik

Read more...

Rabu, 02 April 2014

Sepijak-Pijak, Maluku Tenggara (Bagian 2)



Kami tiba di Sekretariat WWF Indonesia site Kei pada pukul 14.30 WIT, Minggu, 23 Maret 2014. Jaraknya tak jauh dari pusat kota, di sebuah kawasan kecil yang disebut Pokarina. Di sana kami (Saya, David, dan Rustam) duduk-duduk di halaman belakang, bersama beberapa staff lokal yang sedang bercanda-canda dengan logat Kei/ambon. Di situ kami mencari angin, yang sesekali menyapu wajah, sembari mengomentari apa saja yang tampak di hadapan, yaitu pohon jeruk, kerikil, keringat yang lengket, juga tentang perjalanan sebelumnya yang panjang.

Di dalam kantor, sedang ramai guru-guru dari berbagai sekolah dasar di Kei berkumpul untuk belajar memahami kondisi alam kei dan permasalahan lingkungannya. Sesekali saya menengok ke dalam kantor, melihat-lihat mimik ibu dan nona yang dengan hikmat mendengarkan penjelasan pemateri. Mereka tenang dan jenaka, yang terdengar hanya getar intonasi suara pemateri yang menggelambir turun.

Sehabis makan siang, kami melakukan perjalanan pertama. kala itu kami ke Ngadi, sebuah desa di Kec. Dullah Utara, melewati jembatan yang menjadi penanda batas kota Tual dan Kab. Maluku Tenggara, melewati jalan kota dan juga pasar, dinding-dinding jalan masuk kota berwarna senja, ada seruat magis pada kotak-kotak dinding, pada patung burung yang menghadang kita di puncak. Tual terlihat lebih ramai di banding Maluku Tenggara, kotanya lebih semarak oleh bangunan-bangunan kuno, mungkin saja peninggalan Belanda.

Di Dullah Utara, kami memasuki sebuah kawasan sepi, yaitu Kawasan Minapolitan Terpadu. Suasana dalam kawasan jauh berbeda dengan suasana di luar kawasan. Banyak pohon dan terdapat taman-taman yang tertata rapi. kantor polisi dan kantor tentara mengapit batas-batas wilayah itu, satu dua polisi berjaga di pos-nya, begitu juga dengan tentara. Saya mengira-ngira, apa kelebihan dari kawasan ini? Dimana tak ada aktivitas perikanan, kapal teronggok-onggok di luar kawasan, kantor-kantor berdiri megah namun dingin. Tak ada orang lalu lalang, tak ada mobil yang terparkir, lantas,  dijaga begitu ketat?


Di luar kawasan, Desa Ngadi, kami memandangi laut, kapal nelayan tampak tidur di pinggir pantai. Konon, kapal-kapal itu sudah tidur begitu lama dan karat-karat telah merajalela mengelupas badan-nya. Kami hanya bertanya-tanya, dan Om Yan pun seperti menyimpan banyak rahasia. Tampaknya ia bukan tipe pembeber, lautan informasi masih luas tersimpan, memang tak mudah seseorang mengungkapkan rahasia suatu kampung/kota pada orang-orang yang belum dikenal baik. Tapi dalam perjalanan saya mendengar satu nama, dan nama itu saya jerat baik-baik, Tomi W.

Kami kembali ke kantor dan membawa oleh-oleh gambar, gambar di hari pertama. satu gambar yang terus mengganggu pikiran, yaitu pasir pantai yang terbungkus dalam sak semen, jumlahnya puluhan. Sepertinya pasir-pasir itu sudah siap untuk diangkut dan hinggap entar di halaman rumah siapa. Belakangan saya ketahui, setelah lima hari di Maluku Tenggara (Malra), ketika kembali menelusuri jalan-jalan di Dullah Utara, saya baru sadar bahwa aktivitas menambang pasir menguar di sepanjang pesisir pantai. Gundukan pasir putih hingga jalan yang longsor akibat kerukan - kerukan.


Membahas soal ini memang rumit, dimana perut-perut warga juga diisi dari hasil pertukaran pasir ini. Kita tak dapat dengan mudah menghardik-hardik bahwa aktivitas tersebut merusak lingkungan. Persoalannnya bukan hanya berbicara tentang ekologi, tapi juga tentang ekonomi, tentang kekuatan benteng keluarga dan sekolah anak-anak. Mereka pun melakukannya dengan susah payah, dengan tenaga yang tak sedikit. Kita pun tak dapat dengan mudah menuduh mereka sebagai kolot dan rendahan, walau mereka mungkin tak tamat sekolah, dan tak punya pengalaman banyak di luar pekerjaannya sebagai nelayan. Memang, ini juga ada kaitan dengan sumberdaya manusia dan tentu juga ada hubungan dengan sumberdaya alam. Sumberdaya manusia terkait dengan wawasan, keluasan dan kejauhan daya pikir, sementara sumberdaya alam terkait kondisi alam, syarat-syarat materialnya yang terpenuhi untuk melakoni aktivitas lain yang lebih menguntungkan dan lebih ramah pada alam. Saya tak menemukan rumput laut terpasang di kejauhan laut, sebab angin tak berpihak pada kawasan itu. Kala itu musim barat dan Dullah Utara berada di posisi timur pulau dan lautannya sedang teduh-teduhnya. Jikalau teduh, penyakit rumput laut menjangkiti lalu membuat pembudidaya jengkel. Mungkin, saat itu warga menutupi kurangnya pendapatan akibat berhenti sejenak membudidayakan rumput laut, dengan menambang pasir. Ah, melihat itu, menyeringai itu, kehidupan memang seperti apa yang digambarkan oleh Albert Camus, seperti De Sisyphus.

Di kantor kami melakukan rapat kecil-kecilan, membahas rencana esok dan lusa hari. saat itu kami mendapat banyak sekali wejangan dari Om Yan dan Usy Mien. Usy terlihat terampil memaparkan kondisi budaya dan sosial masyarakat Kei. Menurutnya, Orang Kei itu sangat susah diorganisir. “Ketika kita menyatukan mereka dalam satu kelompok (nelayan), mereka justru akan berkonflik,” ujar Usy. Sehingga jalan keluar yang ditempuh dengan memasukkan pemahaman dan nilai-nilai konservasi ke masing-masing kepala dan membiarkan saja mereka melakoni aktivitasnya secara mandiri. “Itu lebih efektif, sebab mereka justru akan patuh dengan pemahaman barunya. Dan tak usah kita berepot-repot membentuk kelompok,” tambah Usy.

Saya menggadang-gadang pernyataan itu. Kira-kira untuk pembudidaya rumput laut, apakah terjadi hal serupa? Soalnya saya ke Maluku Tenggara lantaran ingin mengamat-amati rumput laut, secara teknis, situasi alam, serta kondisi sosial masyarakatnya. Tentang rumput laut, Usy tidak berkomentar. Dia hanya bilang kalau pada hari Selasa, ada panen raya di Desa Letvuan dan saya harus ikut.   

Tentang indivualisme itu, terdengar menarik, sebab menjadi sebuah paradoks pada kelompok masyarakat yang diklaim sangat menghargai kekerabatan dan komunitas. Satu sisi mereka kuat secara hukum adat, dimana hukum itu bersandar pada mitos dan petuah, tentang cerita telur-telur yang berserakan dan berasal dari ikan yang sama. Satu sisi mereka begitu sulit untuk disatukan dalam satu kelompok, untuk sama-sama berusaha, menemukan solusi terhadap permasalahan bersama.

Saya tidak heran dengan pernyataan tersebut. Sebab mereka adalah nelayan yang punya kapal masing-masing, saling merebut dan mengadu nasib terhadap sumberdaya ikan di laut-laut Maluku Tenggara. Sehingga, tak ada urusan dengan kerjasama. Yang menjadi urusan yaitu bagaimana mereka tidak saja melampaui batas-batas adat. Contoh tindakan melanggar tatakrama terhadap laut, yaitu penangkapan ikan dengan metode bius atau bom.

Dua hari berikutnya saya mendengar dua nelayan berdiskusi, bahwa di kampungnya ditemukan orang luar pulau yang melakukan pengeboman di sekitar laut Kei. Mereka berang, dan menuntut agar pengebom-pengebom ikan itu segera ditangkap. Dari situ saya mulai paham begitu terikatnya para nelayan dengan adat dan nilai-nilai bijak yang terkandung di dalamnya. Sebenarnya mereka sudah jauh lebih mengerti dibandingkan dengan kita-kita yang tergolong orang luar dan bukan nelayan. Mereka pun lebih khawatir bahwa aktivitas pengeboman yang pelakunya selalu bersumber dari luar itu akan merusak sumber-sumber penghidupan ikan, lantaran hanya ingin memperoleh banyak ikan dalam satu waktu. Nelayan Kei tidak berfikir seperti itu, mereka lebih arif dalam memandang sumber-sumber daya ikan. Dimana kelak mereka akan dihadapkan pada persoalan kelangkaan. Sehingga, mereka melakukan adaptasi teknologi penangkapan ikan yang sesuai dengan keberlanjutan masa depan kehidupan ikan-ikan.

Nelayan Kei hanya menggunakan pancing ulur untuk menangkap Geropa (Kerapu). Dengan pancing ini, nelayan menangkap ikan satu demi satu, dengan bersabar menunggui ikan yang bersembunyi di balik batu-batu besar memakan umpan. Kadang nelayan memperoleh 10 – 15 ikan perhari dan kadang nihil. Jika dijual ke pengumpul ikan segar (ikan hidup) di Keramba Jaring Apung, Geropa jenis Tong Seng dapat dihargai Rp.340 ribu perkilonya. Mereka sudah tampak senang dengan penghasilan seperti itu.

Terdengar kabar dari seorang nelayan, bahwa mereka mengambil ikan yang berukuran di atas enam ons, jika berat ikan kurang dari enam ons, maka nelayan akan mengembalikannya ke alam. Secara ilmiah juga diakui bahwa kerapu yang masih berukuran di bawah 6 ons, termasuk ikan yang belum dewasa atau belum memijah. Jadi, secara tidak langsung, nelayan Kei telah memberi keluasan pada para ikan-ikan untuk memijah (bertelur) terlebih dahulu agar laut-laut menetaskan mereka dan menjadi ikan-ikan bebas lagi, sebelum mereka menyempurnakan dirinya di hadapan umpan pancing ulur nelayan.

Setelah rapat, kami berleyeh-leyeh dahulu di depan tivi, kemudian melanjutkan perjalanan malam hari ke Pasir Panjang. Di sana terdapat penginapan yang dihadapannya terhampar jejeran bakau dan laut. kata orang, pasir daerah ini sangat halus dan orang selalu membawa pulang pasir itu (dalam botol aqua) sebagai oleh-oleh. Saya heran dengan prilaku orang kota, yang dengan dalih oleh-oleh, telah mengeksploitasi keindahan pasir itu.

Alangkah indahnya jika hanya alam saja yang merekayasa mereka, tangan-tangan kita yang sok bersih sebenarnya telah membawa duka-duka pada pasir, yang halus dan mungkin saja, nanti akan menjadi kasar.

Tulisan ini sudah terlalu panjang dan hanya bercerita tentang perjalanan sehari. Masih ada hari-hari berikutnya, yang harus pula saya rekam. Okelah kalau begitu, semoga tulisan ini dapat kembali mengingatkan saya kelak tentang keindahan Kei, kelembutan orang-orang Kei, serta segala pesona mulai dari pasir, laut, karang, dan juga matahari.  

Selasa, 01 April 2014
Rumah Kecil, identitas Unhas
Idham Malik

Read more...

Sabtu, 29 Maret 2014

Sepijak-Pijak, Maluku Tenggara (Bagian 1)



Seingatku, September 2011 lalu, untuk pertama kalinya saya menginjak Maluku Tenggara (Malra). Dengan tergesa-gesa dan hanya bermandi seperti ular untuk secepatnya menuju Bandara Pattimura Ambon, tanpa tiket, tanpa kejelasan keberangkatan. Beruntung, supir ojek membawa motor seperti kesetanan, rambut terhempas-hempas, kami tiba beberapa menit sebelum pesawat Trigana Air terbang ke Tual. Saya mondar-mandir, mencari tiket, tiba-tiba saja ada pegawai travel yang menawarkan tiket penumpang lain yang batal terbang, saya menyabetnya, deal. Akhirnya berangkat ke Tual/pulau Kei. Setiba di Kei, lebih aneh lagi, saya tidak punya kerabat seorang pun, hanya saja, semalam sebelumnya saya menghubungi Bung Babra Kamal, yang kebetulan punya kawan dekat di Tual, beliau bernama Gani. Di rumah gani itulah saya berteduh selama lima hari, yang pada pagi harinya saya sering bergurau di ruang tamu bersama Bapak Muslim, bapak dari Gani yang pada 2012 lalu sudah berpulang ke alam baka.      



Itu 2011 lalu, sekarang cerita sudah lain, dahulu Kei tak ada bayangan dan tak ada kesan. Pada pemberangkatan kali ini, Kei sudah menjadi berat dalam kenangan, ia bukan lagi sebuah pulau kecil di peta, yang bisa saja tiba-tiba hilang terhapus tsunami. Untuk itu, pada dini hari minggu (24/03), beberapa jam sebelum berangkat ke Ambon, dalam perjalanan dari Makassar ke Maros, di atas motor saya terus mencoba membuka file-file, kenangan tentang Kei. Kenangan akan keluarga Gani yang bersahaja, kenangan akan jalan-jalan lengang antar kampung, yang samping kiri kanan terhampar tetumbuhan alami berupa semak-semak, pakis-pakisan, pepohonan kerdil dan kurus, yang berupaya tumbuh di atas lapisan tanah berkarang, menonjol memecah pasir dan debu-debu.  

Saya membayangkan reaksi dari Alfred Russel Wallace (1823 - 1913), jika saja ia berhasil mencapai pulau Kei dalam perjalanannya dari Ambon dan Seram, dimana ia hanya mencapai kepulauan Matabello dan Goram, selatan timur Seram, lantaran ombak dan perbedaan arah angin (Perjalanan Oktober 1859 – 1860). Ia barangkali merenung lama sembari mengelap keningnya yang memerah oleh terik matahari, garam-garam dalam tubuhnya yang terus mencuat untuk mengatasi suhu luar tubuh yang hangat. Barangkali ia membayangkan pula pulau berkarang (atol) ini tiba-tiba berojol ke permukaan akibat meletusnya sebuah gunung besar di laut. ia memandangi jenis tetumbuhan yang dapat beradaptasi terhadap tanah karang. Tetumbuhan yang sangat berperan dalam menyediakan air tawar buat penduduk yang mendiami pulau-pulau tersebut. Ia lalu melakukan pencatatan hewan-hewan dan tetumbuhan lokal, jenis-jenis burung yang melintas-lintas. Hingga pencatatan marga dan kategori manusia, manusia Timur, termasuk manusia Kei menurut Wallace lebih ekspresif dan estetik dibanding Melayu. Estetika orang timur pada umumnya terlihat dalam karya patung dan lukisan itu menunjukkan kecerdasan alamiah mereka. Kecerdasan yang noneksploitatif, dimana penghormatan utama ditujukan pada laut sebagai sumber penghidupan. Tentu, sangat berbeda dengan kecerdasan akademik manusia modern, yang ketika terjun ke dunia kerja tumbuh menjadi manusia penjarah, manusia penggerus, manusia perampok alam.

Namun, muncul pula kekhawatiran, jika saja kelak warga Kei, khususnya nelayan, meniru-niru cara berfikir orang modern, dimana segala sesuatu dikalkulasi, segala sesuatu dinilai dengan hitung-hitung, tukar menukar materi. Barangkali saya tak salah untuk memikirkan hal tersebut, dimana yang sahaya lihat hanyalah permukaan, dimana awan bolong-bolong diterpa cahaya, biru langit memantul dalam biru laut. di atasnya hiduplah manusia-manusia yang getir, yang kaya akan pengalaman, dan mungkin ada satu fase pada babakan hidup mereka terjadi suatu peristiwa fantastis, dimana perubahan datang begitu cepat. ‘Pasang’ datang sebentar, lalu surut kemudian. Ketika itu harta mulai menipis, alam pelan-pelan iba dan hanya mensisahkan sedikit.

Pada dini hari, 24 Maret itu, saya tiba di Maros, lalu segera bersiap-siap menuju Bandara pada pukul 03.30 Wita. Penerbangan ke Ambon pada pukul 04.50 WIta. Saya begitu kelelahan, badan saya baringkan di sofa depan tivi, berharap mata istirahat sejenak, barang sejam sahaja. Betul, saya bangun pada jam 3 lewat, mandi dan membangunkan adik untuk mengantar ke Bandara. Degdegan juga rasanya berangkat menjelang subuh hari, kesigapan sangat diperlukan, sedikit saja saya lengah dan lambat bangun, saya pastinya akan ditinggalkan pesawat dan tiket saya menjadi hangus.

Di ruang tunggu Bandara Hasanuddin, saya bertemu dengan David dan Rustam, tim WWF Jakarta yang juga menunggu penerbangan ke Ambon. Mereka tampak sumringah ketika melihatku melangkah di kejauhan. Memang, sudah lama kami tak bertemu. Pun ketika bertemu di Jakarta, hanya sebentar saja, berbicara basa basi sekadar untuk menimbulkan kehangatan. Pada subuh yang menggerutu itu, kami pun masuk ke pesawat dan menuju Ambon.

Suasana bandara Pattimura menjadi lain, atau hanya saya saja yang tidak betul-betul memperhatikan bangunan kota ambon, yang merah dan kekuningan. Kami meninggalkan bandara menuju Kota Ambon, ke rumah Rustam, teman kami yang masa kecilnya terpuaskan di lorong-lorong kota Ambon. Kenangan-kenangan kembali bergelanyut, jalan-jalan poros bandara – kota Ambon sudah lebar dan mulus, tapi bangunan-bangunan masih seperti 2011 lalu, dengan pepohonan kelapa, semak-semak, dan satu dua gereja cantik yang tampak relegius.

Di perjalanan saya mencari-cari, letak nyata dimana kenangan itu aku simpan. Dan kutemukan akhirnya posisi ketika pagi itu dia berjalan, dengan jilbab hitamnya, dengan keningnya yang mengkilat. Di antara batu-batu krikil ia tak acuh dan terlihat keheranan. Singkapan itu kemudian bersembunyi lagi dalam lubuk, mobil melaju ke kota.

Kami singgah sejenak di Rumah Rustam, di pinggiran atas kota Ambon. Di sana kami berleyeh-leyeh, melepas kaos kaki dan menghirup udara segar. di belakang rumahnya terdapat sungai kecil, teronggok batang pohon sagu memotong jalur air sungai. Di tepi-tepi sungai juga tumbuh liar pepohonan sagu. Saya pikir masyarakat harus mempertahankan pola konsumsi karbohidrat berbahan lokal, semisal sagu. Upaya berasisasi yang dipaksakan oleh pemerintah orde baru tak lain adalah pemaksaan atas kebebasan memilih makanan. Yang justru menimbulkan krisis dimana beras semakin berkurang dan mulut yang hendak makan bertambak banyak.

Itu satu hal. Pada sisa waktu yang singkat itu, kami dipersilahkan menyantap hidangan buatan orang tua Rustam. Berupa ikan baubara/kue yang dimasak dan yang digoreng. Dua-duanya luar biasa nikmatnya. Ditambah sambal ambon yang tak kalah dengan sambal di Makassar. David saat itu memilih menu ubi jalar sebagai pengganti nasi. Saya memilih nasi hanya karena tidak terbiasa dengan ubi jalar. Hehehe.. sehabis makan, kami ditawarkan lagi buah durian. Yang amboii rasanya. Luar biasa, aroma buah ini menembusi dinding-dindingkeras berduri, masuk menusuk hidung. Jika kita tak pernah menyantapnya, mungkin kita akan berpikiran bahwa aroma durian serupa aroma comberan atau nasi basi.

Jam menunjukkan pukul 10.00 WIT, kami harus bergegas ke Bandara, penerbangan ke Tual sekitar jam 12.30 WIT. Di perjalanan, saya minta singgah di Waeheru, Balai Budidaya Laut (BBL) Ambon, untuk bertemu Kak Umar. Kak Umar merupakan kenalan baik Bapak Hironimus, pengusaha rumput laut Ambon. Namun saya tak menemukan Kak Umar, tapi memperoleh nomor kontaknya. Kembali di perjalanan, saya mengontak beliau, “Kak, ada nomornya Pak Hiron?” beliau menjawab, saya tak punya dek. Saya menerka-nerka, apa gerangan penyebab Kak Umar terdengar bingung dengan nama Hiron? Hironimus adalah orang yang pernah saya wawancarai terkait sejarah rumput laut di Maluku Tenggara yang pada 2011 lalu telah memproduksi rumput laut olahan berupa chip kertas. Memang, Pak Hiron ketika itu tampak jumawa dan meyakinkan. Itulah kenapa kementerian rela memberi bantuan ke Bapak Hiron. Dan setelah diskusi dengan pihak-pihak pengembang rumput laut di Malra, industri Bapak Hiron sudah tenggelam dan tak ada kabar. Saya pun bertanya-tanya, sebegitu rumit kah gesekan-gesekan itu? Sebegitu besarkah bualan, kepergian dan mungkin kematian?

Kami tiba di Bandara Pattimura dan duduk-duduk di ruang tunggu. Rustam sudah menyumbat kupingnya dan tampak asyik dengan lagu-lagu, David juga demikian, duduk dengan kepala tertunduk lemas. Saya dengan terang menghirup suasana, melihat-lihat orang bermalas-malas di sofa merah. tak lama juga kami menunggu, 10 menit sebelum jam 1 siang kami sudah di atas pesawat wing air yang gerah, keringat keluar-keluar saja dan aroma asin meruap-ruap di ruang bagan pesawat. Penumpang mengipas-ngipas, berebut angin. Pesawat seperti berada ditungku perhitungan. Pramugari senyum-senyum saja, berceloteh bahwa penumpang harap bersabar, kalau pesawat sudah berangkat, ac akan berfungsi baik.

Lepas landas, keringat masih menetes satu dua. Di samping saya seorang ibu-ibu Tionghoa. Ia masih gelisah dengan suhu ruangan yang tinggi. Diambilnya koran di jok kursi lalu dikipaskannya wajah hingga rambutnya terurai-urai. Saya pun asyik sendiri melihat pulau Ambon dari atas, melintasinya hingga pulau itu tak tampak. Yang tampak berikutnya hanya awan-awan yang semakin lama semakin membosankan. Perjalanan menempuh satu jam lebih, saya memanfaatkan waktu itu untuk mengunyah novel “orang asing” karya Albert Camus. Bercerita tentang seorang lelaki yang melihat kenyataan dengan apa adanya, dan mencoba melepaskan diri dari kegelisahan orang-orang sekitarnya. Orang yang terlihat asing itu punya gaya berfikir sendiri, dimana kehadirannya di dunia menjadi sandaran. Kemudian menepis hal-hal yang tak nyata dan tak masuk akal. Yang tak bisa ia nikmati seperti seperti berduaan dengan pacarnya, ataukah bermandikan matahari di pantai. Kehidupan pun menurutnya merupakan sesuatu yang absurd, sesuatu yang tak berangkat dari hal-hal yang jelas dan terang. Ketika dia menjadi terang orang lain pun menganggapnya sebagai sosok aneh-asing, yang ketika jiwanya dicari kita hanya menemukan kekosongan.



Pesawat landing, langit begitu cerah, kaki menapak-napak di landasan lalu mata tertumbuk oleh bangunan baru, bandara baru di Ibra, bukan di Bandara Angkatan Laut Dumatubun, yang pada 2011 saya pertama kali menginjakkan kaki di Malra. Bandara Ibra ini agak jauh dari kota, sekitar 1 jam perjalanan. Kami pun disambut oleh “Panglima” WWF Indonesia untuk Maluku Tenggara, yaitu Om Yan Manuputi. Dia datang bersama Taufik, staff WWF - ID juga.

Dalam perjalanan, kami melewati jalan yang di sisi-sisinya mirip dengan suasana perjalanan di film-film amerika, ketika hendak memasuki sebuah kelompok manusia yang belum teridentifikasi dan dalam bayangan menyeramkan. Dan, ketika itu, saya hanya mengingat-ingat, dan tertawa-tawa.

Idham Malik,
28 Maret 2014, Kota Tual

Read more...

Selasa, 25 Maret 2014

BMP Udang Windu Disambut Hangat Petambak Pinrang



Pada Selasa, 18 Maret 2014, kolong rumah panggung Puang Raja, yang terletak di Desa Wiring Tasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, tiba-tiba menjadi ramai. Sekitar 60-an orang duduk-duduk di kursi plastik, dengan santai melihat-lihat layar proyektor yang dipantulkan pada kain seprai berwarna putih yang menutupi dinding kayu. Tak jauh dari kain putih terdapat meja yang di atasnya berjejeran bosara, berupa nampan berisi kue-kue tradisional Bugis. Di belakang meja menghadap ke penonton, dua tiga pemateri tampak berbisik-bisik. 



Suasana pertemuan itu begitu amboi, angin terkadang mengelus-elus wajah peserta yang dengan lapang berhembus ke kolong rumah. Kopi-kopi diedar, jikalau orang yang duduk-duduk itu, tak lain para petambak Kec. Suppa, yang berjumlah 40-an beserta penyuluh dan staff Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) yang berjumlah 15 orang itu kelelahan otak menyerap jejalan informasi yang muncul di layar serta yang terungkap oleh suara pemateri. Materi yang sebenarnya tak asing, bukan hal baru, berupa pengembangan dan perbandingan. Sebab, seharian di kolong rumah itu, berlangsung sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu WWF Indonesia. Nah, berbicara udang windu, saya berpikir, udang windu bukan hal baru di Kec. Suppa.

Meski budidaya udang windu telah mendarah daging bagi warga sekitar pesisir Pinrang, kebutuhan akan informasi perbaikan-perbaikan budidaya udang tidak terbatas, kebutuhan untuk belajar dari sejarah budidaya di pinrang yang dahulunya pernah berjaya, (80 – 90-an), yang dengan pelan-pelan merosot akibat massifnya serangan penyakit yang terlebih dahulu dipicu oleh menurunnya kualitas lingkungan, berupa lahan dengan bahan organik sisa pakan yang terendap, kualitas air yang tercemar penyakit. akibatnya, hatchery-hacthery tinggal seberapa yang bertahan, saat ini bertahan 10 hatchery windu di Pinrang, tambak-tambak intensif berguguran, dan yang bertahan hanya tambak tradisional. Fenomen lain, karena faktor ekonomi (harga udang), masyarakat pada 1999 – 2007 makin bersandar pada usaha budidaya udang windu dan bandeng, dimana masih terjadi konversi lahan-lahan sawah tadah hujan menjadi lahan tambak. Dimana dari tahun 1991 hingga 2002 tambahan luasan tambak yang diperoleh dari konversi sawah yaitu sebanyak 97,37%, sedangkan yang 2,63% berasal dari lahan lainnya (Utojo, dkk, 2008).

WWF Indonesia sengaja melirik Kab. Pinrang untuk diajak melakukan perbaikan perikanan budidaya, setelah melihat potensi tambak Pinrang yang besar. Pada tahun 2012, produksi udang windu mencapai 2.931 ton, yang berasal dari 15.675 ha lahan tambak, yang terbagi di lima kecamatan, yaitu Suppa (2.203 ha), Lasinrang (1.560 ha), Mattirosompe (4.131 ha), Cempa (2.341 ha), Duampanua (5.101 ha), dan Lembang (339 ha) (Anonim, 2007). Meski Duampanua yang terluas lahannya, produksi udang windu terbesar berdasarkan luas lahan berada di Kec. Suppa, dimana dalam setiap hektar rata-rata memproduksi 088 ton/hektar/tahun, Sedangkan duampanua hanya memproduksi 0,15 ton perhektar/tahun.

Selain itu, Potensi besar Kecamatan Suppa diiringi dengan daya kreatifitas pengusaha dan petambaknya dalam memecahkan permasalahan dalam pemeliharaan udang windu. salah satu solusi yang dicetuskan yaitu aplikasi wereng (Pronima suppa) sebagai pakan alami untuk meningkatkan pertumbuhan dan sintasan udang windu di daerah Wiring tasi dan Tasiwali’e, Kec. Suppa, Kab. Pinrang. Serta aplikasi probiotik lokal (RICA) untuk perbaikan kualitas air tambak dan meningkatkan pertumbuhan pakan alami di tambak. Aplikasi probiotik RICA, petambak Suppa mendapat arahan langsung dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros, yang salah satu penelitinya konsentrasi pada probiotik RICA, yaitu Dr. Ir. Muharijadi Atmomarsono, MSc.

Untuk itu, penyaji seharian itu dalam sosialisasi, melibatkan tokoh-tokoh lokal, yang selama ini sudah lama melakukan pendampingan terhadap petambak di Suppa, yaitu Ir. Taufik (Pengusaha hatchery Windu yang melakukan banyak ujicoba Pronima suppa). Taufik juga sejak tahun 2001 melakukan pendampingan kepada para petambak yang membeli benur di hatchery-nya. Taufik menginginkan benur yang ia produksi bisa selamat hidup hingga panen. Taufik juga tahu banyak tentang permasalahan-permasalahan budidaya udang windu di Pinrang, mulai dari persoalan produksi benur udang Pinrang yang tak banyak dan tak cukup untuk memenuhi kebutuhan benur udang windu Pinrang yang terdiri atas 15.000 ha, dimana dalam satu hektar rata-rata benur ditebar sebanyak 10,000 - 20.000 ekor. Makanya banyak petambak yang membeli benur dari luar Pinrang, yang kualitasnya kurang baik dan sangat berpengaruh terhadap menurunnya produksi udang.   

Pemateri lokal berikutnya adalah Ir. Nurdin, (Kabid Budidaya DKP Pinrang), Beliau mempertegas kembali maksud dan tujuan CBIB, sebagai upaya sertifikasi lahan budidaya untuk mewujudkan jaminan mutu dan keamanan pangan. Sertifikasi sendiri adalah kegiatan penerbitan dan pengendalian tambak melalui penilaian kesesuaian yang dipersyarakatkan dalam cara budidaya yang baik. Dengan mengacu pada prinsip biosecurity (Keamanan pangan), yaitu mencegah dan pengurangi peluang masuknya suatu penyakit; 2. Food safety yaitu keamanan pangan; 3. Ramah lingkungan.    

Prof. Hatta Fattah (Akademisi dari UMI yang secara berkesinambungan meneliti Pronima suppa), yang tiba-tiba hadir juga turut membawa materi. Akademisi asal Suppa ini banyak berbicara tentang integrasi program di Suppa, dimana masing-masing pihak harus menetapkan posisi dan mengambil peran masing-masing di Suppa, untuk sama-sama memperbaiki kualitas udang windu Kec. Suppa. Penjelasan lainnya tentang perkembangan penelitian terkait pakan alami Pronima suppa, serta kemungkinan Pronima suppa untuk dikembangkan menjadi pakan benur di hatchery.

Beruntung, karena selain materi, sosialisasi juga dihadiri Ir. Andi Budaya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Pinrang, yang turut memberi wejangan dan apresiasi terhadap kegiatan ini.    

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu dimulai oleh sambutan dari Candhika Yusuf, Koordinator Akuakultur WWF Indonesia. Candhika banyak berbicara tentang WWF Indonesia, program-program akuakultur, dan rencana—rencana perbaikan terhadap persoalan-persoalan yang biasanya turut ketika terlaksana kegiatan budidaya perairan. Seperti penebangan mangrove, pencemaran perairan, penggunaan bahan-bahan berbahaya, biosecurity, pencemaran genetik, dan persoalan sosial/konflik.  

Di hadapan para petambak yang masih bingung tentang WWF dan lambang pandanya, Candhika menjelaskan, “Pada tahun 1960 dan 1961, populasi panda mulai punah di China akibat penangkapan. muncullah upaya penyelamatan Panda di China, tutur Candhika. Ia melebarkan penjelasan tentang WWF di Indonesia, “Pertama kali berkegiatan pada tahun 1962, dengan misi pertama penyelamatan badak cula 1 di Ujung Kulon. Tahun 1960 populasi badak mulai punah, sejak tahun 1961 WWF bekerjasama dengan balai taman nasional, kementerian kehutanan. Berkat kerjasama tersebut, populasi badak mulai pulih, populasi badak meningkat, perburuan badak mulai dihentikan dan badak dapat normal kembali beranak pinak,” tambah Candhika.

Kemudian Candhika mulai meluruskan kerangka perbaikan lingkungan, yang dimulai dengan pembuatan panduan (Better Management Practice) yang melibatkan banyak pihak, di berberapa daerah di Indonesia, agar lebih meng-Indonesia. Panduan tersebut juga mengacu pada standar berskala internasional Aquaculture Stewardship Council (ASC), yang mempunyai misi untuk mendorong tersedianya produk perikanan budidaya yang bertanggungjawab melalui mekanisme sertifikasi pihak ketiga. Standar ASC diperoleh dari hasil Aquaculture Dialogue yang diprakarsai oleh jejaring kerja WWF, melibatkan ribuan kalangan pembudidaya industri, LSM, pemerintah, pasar, dan akademisi dari seluruh dunia. Makanya panduan budidaya perikanan WWF Indonesia, yang sudah ada beberapa, Udang Windu, Ikan Nila, Penyakit Udang, Ikan Kakap, tidak hanya menekankan pada aspek teknis, tapi juga memberi ruang pada aspek lingkungan dan aspek sosial, dua aspek yang biasanya menghambat proses produksi dan perbaikan kualitas produk. “Karena di Pinrang potensial udang windu, maka sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu Sulawesi Selatan, diselenggarakan di Pinrang,” ujar Candhika.

Pemapar sosialisasi perwakilan WWF Indonesia berikutnya adalah Wahju Subachri. Wahju lebih banyak berbicara tentang budidaya udang windu yang baik, menurut panduan (Better Management Practices/BMP Budidaya Udang Windu. Pemaparan dimulai dengan aspek-aspek penting dalam budidaya udang, yaitu Persiapan lahan dan air, pemilihan benur, pemilahan kualitas air, pengendalian penyakit, dan panen. Namun, hal krusial yang diungkapkan oleh Wahju yaitu terkait pemanfaatan lahan baru. “WWF Indonesia tidak merekomendasikan petambak membuka lahan baru. Sebab, hampir seluruh lahan di Indonesia sudah terbuka, khususnya hutan mangrove. Namun, jika kondisi mendesak dan mengharuskan lahan dibuka, petambak harus berkonsultasi dengan dinas terkait untuk mengidentifikasi lahan mana yang bisa dan tidak bisa dibuka,” ungkap Wahju. Hal berikutnya yang menjadi perhatian wahju yaitu tentang kesepakatan Ramsar, yang mengatakan bahwa lahan yang dibuka sebelum Mei 1999 wajib mengembalikan kawasan mangrove sebesar 50 persen dari kawasan tambak.

Sejak awal pelatihan, panitia telah membagikan tiga jenis BMP yang telah dipunyai WWF Indonesia. Buku tersebut sedikit memudahkan peserta untuk memahami penjelasan Wahju Subachri tentang metode budidaya udang yang baik, yang dimulai dengan persiapan yang baik, pemeliharaan air yang baik, pemilihan benur yang baik, pengelolaan pakan yang baik, pemeliharaan udang yang baik, serta metode panen dan pasca panen yang baik. Selain itu, peserta memahami beberapa prinsip utama menyangkut aspek sosial dan lingkungan. Aspek sosial berupa penguatan kelembagaan kelompok tani, penguatan catatan dalam kelompok tani, serta pemecahan masalah secara bersama dalam kelompok tani. Serta aspek lingkungan, seperti pengelolaan limbah, penanganan penyakit dan penanaman mangrove pada kawasan tambak dan saluran air.

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu ditutup dengan kata penutup Ir. Taufik pada sore 18 Maret itu. Sosialisasi yang berhasil mempertemukan beragam pihak dan beragam kepentingan. Dimana pihak-pihak yang telah lama terlibat dalam perbaikan budidaya udang windu di Pinrang, dapat tetap berbesar hati untuk terus berkomitmen melanjutkan program, sekaligus kedepannya dapat bekerjasama dengan pihak-pihak lain yang turut ingin membantu masyarakat petambak di Kec. Suppa, Kab. Pinrang. 

“Marilah kita sama-sama duduk untuk membuat komitmen, tidak lagi saling menyalahkan,” Ujar Taufik. Acara pun ditutup. Peserta, pemateri, serta panitia bergerak keluar kolong rumah dan berjejer di dekat papan nama kelompok tani Simaturu’, berfoto bersama.

Idham Malik

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP