Kamis, 21 Januari 2016

"Teknikalisasi Permasalahan"

Kata ini pertama kali saya peroleh ketika membaca buku Will to Improve, karya Tania Murrai Li, sekian tahun lampau. Maksud dari kata ini bahwa banyak dari kita lebih memprioritaskan pendekatan teknik, sebagai satu-satunya cara untuk memecahkan persoalan sosial, ekonomi dan lingkungan.
Memang, dengan teknik, tingkat kepentingan tertinggi dapat diraih di dunia. Dengan mempelajari transistor, dioda, silicon, hingga perputaran atom dalam mesin sirkuit, seorang Steve Wozniak dapat menjadi maniak, hingga ketika berkawan dengan Steve Jobs, mereka dapat membuat komputer Apple I. Dengan kecakapan teknik, seorang Habibie dapat membuat pesawat dengan mudah melesat di udara. Dan dengan pengetahuan teknik, seorang Dani Pomanto dapat mendesain anjungan Pantai Losari dengan tertata rapi dan kelihatan lebih indah.
Namun, apakah semua akan terasa pas komposisinya dengan hanya mengandalkan teknik? Misalnya kebijakan tentang kluster-penyingkiran pedagang kaki lima dari tempatnya semula pada kawasan-kawasan tertentu. Apalagi saya dengar, mereka akan mengamankan pedagang kaki lima dengan menggunakan satpol PP berwajah sangar. Apakah dengan berkumpulnya pedagang kaki lima pada kawasan yang lebih tertata, ekonomi mereka dapat lebih baik? Apakah perlu kita mendata lebih detail alasan-alasan mereka membuka lapak-lapak di pinggir jalan? Terus, bagaimana persepsi masyarakat sendiri tentang pedagang kaki lima? Apakah mereka memang tidak senang dengan pedagang kaki lima, apakah mereka terganggu, atau mereka merasa tertolong dengan pedagang kaki lima yang tersebar merata di sekian banyak titik di kota Makassar. Atau hanya segelintir orang saja yang merasa terganggu pandangannya dengan pedagang kaki lima. Mereka yang terbiasa belanja di Alfamart, atau setiap minggu berkunjung ke Mall untuk memenuhi kebutuhan dapurnya.
Lantas, bagaimana dengan ruko-ruko, perumahan dan hotel, yang tumbuh bak jamur di musim hujan? Ruko-ruko merangsek masuk ke pinggir-pinggir kota, memperlebar daya jangkaunya hingga memangkas dengan dahsyat persawahan yang masih tersisa di Makassar. Apakah Pemkot punya inisiatif juga untuk mengatur tumbuhnya ruko-ruko, agar tetap memberi ruang pada adanya ruang public, berupa taman-taman, sarana olahraga, dan fasilitas publik yang dapat menyehatkan jiwa dan raganya.

Bagaimana pula dengan status tanah-tanah di Makassar. Apakah masih ada sisa bagi perumahan rakyat? Apakah rakyat kecil yang jumlahnya bejibun ini, dengan kondisi keuangan yang lemah, dapat pula menikmati sepetak lahan yang nilainya murah? Apakah tanah-tanah di Makassar hanya diperuntukkan bagi mereka yang punya uang atau daya beli tinggi? Apakah kita sebagai manusia sudah tidak lagi mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, dan hanya menekankan nilai-nilai laba?

Lalu, tentang pete-pete, mobil rakyat yang tampak kumuh dan dahulu identik dengan recehan ini katanya akan direformasi menjadi pete-pete smart. Pete-pete lama akan disingkirkan dan digantikan dengan pete-pete yang orang berdiri di dalamnya, dengan hembusan udara dingin dengan atap yang tinggi, berkapasitas 13 orang, dan ada wifi, sehingga orang dapat berselancar di dalamnya. Dani mengusahakan tetap menggunakan pengusaha transportasi yang lama dan juga supir pete-pete yang lama, tapi harus yang telah teregistrasi. Selain itu, smart pete-pete ini nanti akan bergerak berantai, dan tidak lama-lama menunggu penumpang. Pemerintah akan hitung ritme waktu masing-masing smart pete-pete.
Kedengarannya, pete-pete smart menjadi reformasi transportasi paling tepat di Makassar. Saya membayangkan, jika dengan pete-pete smart, jalanan bak orkestra yang rapi, sistematik, dan tidak awut-awutan. Warga Makassar berangkat ke kantornya masing-masing dengan cepat, segar, dan dapat santai memainkan smartphone-nya.
Namun, apakah itu mungkin? Pertama, Pemkot harus mengusung penggantian semua pete-pete lama dengan pete-pete smart, yang saya baca berjumlah 3000 unit. Biaya mengganti pete-pete sungguh besar dan akan menguras anggaran, dan apakah pengusaha siap untuk bertanspormasi demi mewujudkan cita-cita Dani? Lantas, pete-pete lama diungsikan kemana? dibuang begitu saja? Bukankah hal itu menambah jumlah sampah yang hendak kita ingin kurangi. Pun kalau pete-petenya masih bagus, kenapa kita harus mengganti dengan yang baru? Kedua, apakah dengan smart pete-pete dapat mengatasi problem utama transportasi, yaitu kemacetan. Dimana fungsi smart pete-pete hanya menyajikan kenyamanan di dalam pete-pete, bukan kenyamanan perasaan terhadap lamanya waktu yang terbuang di jalan raya akibat macet. Belum lagi kalau penumpang berdiri, apakah kakinya tidak tambah pegal gara-gara lama menggelantung di dalam smart pete-pete. Kemacetan terjadi lantaran bertambah banyaknya mobil pribadi bersileweran di jalan. Buntut dari semakin meningkatkan jumlah kelas menengah Makassar yang membeli mobil pribadi dan keengganan mereka menggunakan angkutan umum-pete-pete.
Mereka tidak menggunakan pete-pete karena pete-pete kumal dan bau, ataukah karena merasa bangga menggunakan mobil untuk memperlihatkan status sosial mereka, dan kemampuan mereka untuk adaptif terhadap kecendrungan sosial yang menganggap orang yang punya mobil itu orang yang sudah berhasil menjadi manusia.
Mestinya pemerintah keras dalam hal ini. Tidak apa-apa masyarakat misalnya memiliki mobil, jika memang mampu membeli mobil. Tapi, untuk kebaikan bersama, sebaiknya para pengguna jalan juga memanfaatkan angkutan umum, yang dalam hal ini pete-pete. Saya percaya pete-pete tidak buruk-buruk amat keadaannya. Masih banyak pete-pete yang bersih dan nyaman. Para pejabat pun dapat mencontohkan tingkah laku ini, misalnya para pejabat daerah pergi ke kantornya masing-masing dengan menggunakan kendaraan umum? Jika kita mampu mengendalikan diri kita terhadap penggunaan kendaraan pribadi dan sertamerta menggunakan kendaraan umum, saya kira persoalan kemacetan akan teratasi dengan sendirinya.
Kemudian tentang pemanfaatan drone untuk pengawasan kota. Drone ini bertugas melakukan pemantauan situasi di jalan-jalan, mengawasi tindak kriminalitas, misalnya tindak para begal motor. Teknologi tinggi berupa drone dan CCTV yang dapat mendeteksi wajah hingga tulisan sms dengan ketepatan tinggi itu pun belum tentu menjadi solusi untuk mengatasi prilaku begal. Sebab, penyebab utama kriminalitas yang dilakoni oleh para remaja ini karena kekeringan batin mereka akibat faktor-faktor psikologi keluarga, kurangnya perhatian orang tua, dan merenggangnya peranan guru untuk menjadi suritauladan. Kecendrungan berontak anak remaja (Remaja memang punya kecendrungan melawan sistem social yang berlaku) yang tidak mendapat kanalisasi melalui aktivitas pengembangan ilmu pengetahuan, olah raga, dan organisasi. Selain itu, dorongan untuk memperagakan gaya hidup modern, misalnya nongkrong di cafee, karauke, memiliki barang-barang elektronik dan pakaian mewah. Terdapat juga kecurigaan bahwa prilaku begal ini dimanfaatkan atau disengaja oleh pihak berwenang untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
**
Visi teknik sebaiknya harus dibarengi dengan visi sosial dan budaya. Sebab, tak semua permasalahan dapat selesai dengan solusi teknik. Urusan perkotaan adalah urusan tentang pengelolaan manusia. Einstein saja kapok jika berurusan dengan manusia, sebab dia lebih banyak memikirkan tentang benda-benda mati.
Misalnya tentang strategi dalam menanggulangi kesenjangan sosial warga Makassar. Apakah Pemkot punya iktikad baik dalam distribusi kekayaan dengan adil dan mengangkat derajat kaum miskin Makassar? Apakah Pemkot telah melakukan identifikasi jumlah orang kurang mampu, dengan indicator menghitung pendapatan warga Makassar (Koefisien Gini) dengan tepat dan dilakukan secara partisipatoris? Apakah telah dilakukan riset faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya pendapatan sebagian warga Makassar? Apakah kurangnya pendapatan ini disebabkan oleh semangat mengumpulkan uang yang memang minim ataukah karena struktur sosial yang tidak mengharuskan mereka untuk naik kelas?
Tentang visi budaya, apakah warga Makassar ini layak disebut warga kota (yang dalam defenisi sebenarnya : warga yang memiliki kemampuan rasio dalam mengatur dirinya)? Ataukah warga yang masih membawa kebiasaan kampungnya masing-masing ke dalam kota? Apakah hal tersebut merupakan masalah ataukah bukan masalah, justru memberi kesan unik karena identitas tradisional dan komunal masih memberi ruang untuk kerjasama dan kerukunan, tidak melulu individualistik.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya dapat membantu Pemkot dalam menyusun strategi untuk peningkatan kesejahteraan sosial, pembagian kekayaan secara adil. Pembagian kekayaan yang diperoleh dalam bentuk pajak ini pun tidak hanya memerhatikan kepentingan kelas menengah saja, misalnya persoalan kemacetan dan estetika kota, tapi juga memerhatikan kepentingan kelas bawah, bagaimana mereka dapat meningkatkan pendapatan mereka sehingga dapat hidup lebih layak dari sebelumnya

Read more...

Sampah

Sangat banyak manusia yang berkomentar tentang sampah. Mulai dari buanglah sampah pada tempatnya, kantongi sampahmu sendiri, lihat sampah ambil, hingga komunitas sampah dan kata-kata sampah.
                            Sampah di Pantai dekat Losari (oleh : Idham)

Namun, sampah tidak menghilang dari dunia ini, sampah hanya pindah tempat. Diasingkan, ditimbun, tak diharapkan, tapi terus menerus ada. Sampah menjadi objek penderita kebencian warga kota, di antara kebencian-kebencian mereka pada kenyataan-kenyataan yang tampak sehari-hari, kurangnya pohon di jalan, debu beterbangan, hari semakin menghangat, ributnya kendaraan, para peminta-minta di jalan, dan lalat-lalat yang mengganggu.
Kita selalu berbincang hanya pada penanganan sampah, namun kurang tajam melihat penyebab timbulnya sampah itu sendiri. Dimana sampah semakin banyak seiring semakin banyak produk yang dihasilkan dan semakin banyaknya kita berbelanja.
Jadinya, kita menyalahkan orang yang membuang sampah sembarangan (entah karena tabiat ataukah karena kurang tempat sampah). Kita geram melihat sampah bertaburan di jalan. Namun kita tidak pusing dengan banyaknya barang calon sampah yang tersedia di kios-kios dan di mall-mall.
Seakan-akan beban terberat ada pada konsumen, yang sebenarnya hanya membeli air dalam botol plastik, bukan plastiknya. Membeli krupuk dalam bungkus krupuk, bukan plastik krupuknya. Meski bentuk pertanggungjawabannya pun sangat sepele, hanya membuang sampah pada tempatnya.
Di sisi lain, pihak produsen yang terus menerus memproduksi sampah (plastik), bahan sintesis yang tak dapat diurai, jarang mendapat sorotan. Mereka bebas memproduksi sebanyak-banyaknya plastik, yang pada akhirnya menjadi sampah, merepotkan para pembeli, membuat pusing manusia modern yang mencintai kebersihan, menambah beban pemerintah kota, yang program utamanya melulu mengurusi sampah. Seakan-akan, sampah sebagai musuh utama yang harus dibereskan segera.
Mestinya produsen juga turut bertanggungjawab terhadap lahirnya sampah yang telah dibeli oleh konsumen, misalnya mengolah sampah hasil produk mereka menjadi produk yang juga bermutu.
Musuh kita pun mengkrucut pada plastik, karet, besi, kaca dll (bahan-bahan yang sulit diurai), soalnya sampah lain seperti daun-daun dan kotoran manusia masih bisa diurai oleh bakteri. Alam punya mekanisme sendiri untuk mengatasi sampah yang dihasilkan oleh mahluk hidup, yaitu sampah mahluk lain menjadi makanan mahluk lainnya. Namun, sayangnya alam tidak menyangka ada sampah yang bernama plastik, karet, limbah kimia (pestisida, DDT, sabun dll). Dahulu, di desa-desa juga orang tidak mengenal kata sampah. Sebab mereka tidak punya tempat sampah khusus, karena bekas produk manusia semuanya bisa diolah kembali oleh alam, misalnya limbah sayuran, limbah konsumsi.
Dengar-dengar ke depan kantong plastik akan semakin mahal dan berbayar ketika kita belanja di supermarket. Lagi-lagi konsumen yang ditekan melalui pendekatan pasar. Konsumen diasumsikan akan mengurangi penggunaan plastik karena tak ingin mengeluarkan uang lebih untuk plastik belanjaan.
Lagi - lagi, soalnya bukan membuang sampah pada tempatnya atau lihat sampah ambil. Tapi, bagaimana kita bisa secara bersama-sama memikirkan strategi sosial budaya untuk mengurangi laju penciptaan sampah. Dengan menghasilkan produk yang bisa diurai oleh alam, menerapkan pola hidup sederhana dengan konsumsi cukup (sesuai kebutuhan saja).
Namun, kita pun harus sadar bahwa sampah adalah bagian utuh dari modernitas yang dibangun oleh teknologi dan pengetahuan, untuk akumulasi modal dan efisiensi hidup manusia. Kata teman Asra Tillah, sampah adalah anak haram modernitas. Tak diinginkan tapi selalu saja ada dan mengganggu penglihatan kita.

Read more...

Sabtu, 02 Januari 2016

Sulhan Yusuf : Tradisi dan Gerakan Literasi

Catatan Mammiri Table, komunitas diskusi yang dilakukan pada 2012. 



Pada bulan ramadhan tahun ini (2012), komunitas mammiri table cukup intens mendiskusikan tema-tema ke-Islaman, mulai dari Ekologi Islam, ekonomi islam, pemikiran islam, filsafat islam, hingga budaya islam yang lebih difokuskan pada aspek literasi. Nah, pada salah satu kesempatan, kami mengundang Sulhan Yusuf untuk mengisi perbincangan dengan tema perkembangan literasi khususnya di Sulsel, tepatnya di Kabupaten Bantaeng. Sulhan dianggap cukup paham mengenai literasi sebab beliau memang berkecimpung dalam dunia perbukuan. Sejak lama beliau merintis toko buku Papirus dan paradigma, toko buku ini tidak sekadar menjual buku, tapi juga membuat kegiatan-kegiatan diskusi dan menjadi tempat nongkrong aktivis-aktivis dari beragam universitas. Saat ini Sulhan fokus pada pengembangan literasi dan budaya di Bantaeng, dengan menggiatkan diskusi-diskusi buku, perpustakaan sekolah, serta menerbitkan buku. Komunitas yang beliau bina bernama “Butta Ilmu”.

Diskusi dipimpin oleh Rahmat Zainal, mahasiswa Universitas Islam Negeri Makassar. Rahmat membuka dengan ungkapan bahwa literasi yang ingin kita bangun adalah literasi yang berkaitan pada yang bersifat advokatif. Ia mencurigai bahwa literasi yang terbangun saat ini bersifat kamuflase dan terkadang saru. Literasi melahirkan peradaban, namun menurut Rahmat peradaban saat ini hanyalah bersifat simtomatik atau sekadar mengangkat permukaan dan tidak menyentuh kedalaman. Sehingga tidak menyisahkan ruang refleksi pada kita untuk menggali makna yang dikorek dari keseharian. Nah, literasi yang mengadvokasi ini tampak pada perjuangan Sulhan sebagai penggiat literasi di beberapa daerah ini.     

Tradisi dan gerakan
Sulham membagi kategori dalam menggiatkan literasi untuk kemajuan peradaban. Pertama ia berbicara tradisi dan kedua ia berbicara gerakan. Kedua hal itu merupakan aspek-aspek praktis dari literasi, yang dapat dikonversi ke sejarah masa silam baik itu peradaban muslim ataupun nonmuslim. Pembahasan ini rencananya akan dikonkretkan dalam bentuk buku, Sulhan sudah menyiapkan hal itu dimana bukunya berjudul, “Buku, Ilmu dan Peradaban”. Ia memaparkan kaitan antara buku, ilmu dan peradaban. Pada peradaban mana pun di dunia ini, tak dapat dipisahkan dari lterasi (buku), anasir-anasir itu selalu ada. 

Sulhan memulai dulu aspek paling mendasar, yaitu apa itu literasi? Sulhan sering memplesetkan bahwa kita bisa salah mengartikan literasi ini menjadi lemotarasi. Lemotarasi juga dibutuhkan dalam kehidupan dalam hal menunjang aspek jasmani kita. Sementara literasi lebih mengurus aspek-aspek yang berbau kerohanian. Literasi sering dimaknai secara sederhana sebagai keberaksaraan, tidak lagi dimaknai sebagai konvensional seperti baca tulis, tapi cakupannya sudah meluas pada pergerakan dan kemajuan peradaban.

Bagaimana literasi menjadi sesuatu yang amat penting dalam masyarakat, kemudian memancing kita menjadi sebuah gerakan sosial? Sulhan memulai bicara sebagai tahapan dengan memetakan persoalan. Kita masing-masing bertanya, pada level tahapan mana yang sudah kita tapaki?

Tradisi literasi dibagi menjadi tiga tahapan, pertama adalah pemberantasan buta aksara. Ketika sebuah kelompok ataupun bangsa membangun komitmen kebangsaannya untuk tidak buta huruf. Sehingga menimbulkan gerakan-gerakan pada skala individual, kelompok atau berbangsa untuk menuntaskan kebutahurufan dan kebutatulisan.

Lalu meningkat pada gelombang ke dua, yaitu ketika orang membaca dan menulis lantaran kepentingan atau kebutuhan profesionalitasnya. Misalnya mahasiswa, kenapa membaca buku dan menulis makalah lebih karena adanya tugas-tugas kemahasiswaannya.

Pada gelombang berikutnya telah melewati batasan-batasan profesionalitas, tapi lebih mengarah pada proses memaknai dan menjawab kebutuhan-kebutuhan rohani kita. Sehingga sebuah karya/tulisan biasa disebut sebagai ‘anak kandung rohani’. Nah, sekarang mari kita bidik masyarakat, kelompok, dan diri kita sendiri, sudah berada pada tahapan manakah kita?

Ini kita bisa lihat dan perbandingkan, kemajuan sebuah bangsa, kelompok atau tingginya dimensi kerohanian seseorang dari produk-produk ini. Dengan memakai model ini tentu bisa diarahkan secara strategis, mungkinkah terjadi perubahan kalau tahapan literasi kita masih pada tahap pertama atau kedua? Sulhan masih sangat percaya kalau peradaban-peradaban besar selalu dimulai ketika tradisi literasi itu sudah berada pada tahapan ketiga.

Kita tinjau ke belakang, baik itu peradaban muslim atau non muslim selalu ada kesadaran bahwa gerakan literasi merupakan mozaik dari kerja-kerja kerohanian. Peradaban apapun yang lahir selalu dimulai dengan diskusi intelektual. Perbincangan yang berlangsung begitu intens kemudian dituliskan dan direproduksi kembali dalam bentuk artikel, pamflet, manipesto, buku yang menjadi panduan peradaban. Kita mungkin mengenal beberapa buku yang merubah dunia, seperti Das Kapital, Alquran, dan Injil. Buku yang Anda baca tentu mempengaruhi pikiran Anda. Sulhan amat percaya bahwa pada tahapan ketigalah kita bisa berbincang tentang perubahan. Kalau mahasiswa berkarya masih atas keperluan tugas (profesional), perubahan nonsens terjadi.

Poin berikutnya menyangkut aspek gerakan, bagaimana gerakan literasi berkembang? Tahapan pertama dari gerakan literasi bisa kita lihat pada institusi yang kita klaim sebagai gerakan literasi, seperti perpustakaan. Fungsi paling dasar dari perpustakaan yaitu meminjam dan mengembalikan buku. Aktifitas institusionalnya masih seperti itu dan bersifat sangat konvensional. Yang kita harapkan sebenarnya adalah ketika institusi literasi ini dapat meningkatkan fungsinya atau mengambil peran dalam menggiatkan diskursus wacana, memperbanyak aktivitas intelektual seperti launching buku, bedah buku sehingga menyadarkan para pembaca dan warga mengenai kondisi dan perubahan sosial yang akan terjadi.

Poin yang ketiga yaitu bagaimana gerakan literasi ini dicoba disandingkan dengan icon budaya pop. Misalnya nonton bareng, bergerak dalam komunitas pejalan kaki, penggila harry potter, komunitas yang tidak punya hubungan langsung dengan dunia baca tulis. Nah di situ kita mencoba menumpangkan kepentingan literasi kita ke dalam komunitas-komunitas itu. Icon-icon budaya pop inilah yang menjadi ujung tombak gerakan literasi yang paling mutakhir. Ini bertolak belakang dengan anggapan sebelumnya bahwa budaya pop itu selalu berarti tindakan sepele.

Seperti menciptakan diskusi terbatas pada secuil minat kita pada sesuatu hobi dan aktivitas. Misalnya bola, Sulhan termasuk pecinta liga Inggris sehingga dia mencontohkan komunitas pecinta liga inggris. Menurutnya, kita bisa memanfaatkan fanatisme penggila bola ini untuk membuat ajang kumpul-kumpul, misalnya nontong bareng. Kemudian setelah itu kita sengaja memancing diskusi yang agak dalam. Misalnya tentang sejarah bola, makna yang terkandung dari setiap formasi, hingga gerakan sosial yang terbangun dari sekadar mencintai bola. “Kita coba bangun diskursusnya, disitu bisa diskusi tentang anarkisme, ketaatan, fanatik. mereka kan tidak punya bahan. Sehingga memancing mereka untuk membaca,” ujar Sulhan. Sulhan pun meyakini bahwa tahapan – tahapan menggunakan budaya pop sebagai pintu masuk budaya dan gerakan literasi jika bertemu di titik puncak masing-masing akan terjadi perubahan sosial. Pada puncak budaya dan gerakan literasi ini peradaban akan lahir dengan sendirinya.

.......

Memasuki sesi tanya jawab, Rahmat memberi respon dengan memaparkan sejarah literasi itu sendiri. Menurutnya literasi awalnya atau sebelum merebaknya teknologi percetakan ala Guttenberg dimulai dari aktivitas menyalin. Hasil salinan ini sampai sekarang masih tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan pribadi para kolektor ulung. Lantas, kenapa masih tersimpan hingga saat ini? apakah terdapat memori yang memuat dinamika sosial di dalamnya? Yang kemudian menjadi collectable memmory? Nah inilah yang menyebabkan perkembangan perawatan, arsipatoris, filology, yang kemudian kadang juga difungsikan sebagai ajang perebutan makna oleh sebuah rezim sehingga terjadi monopoli tafsir? Lalu dengan perkembangan teknologi cetak makna atau tafsir menjadi tersebar. Pada awalnya literasi merupakan tipikal kerja halus, ketika teknologi berkembang tiba-tiba literasi menjadi semacam pekerjaan kasar. Bagaimana Kak Sulhan melihat hal ini?

Sulhan menanggapi bahwa literasi menjadi pekerjaan kasar karena telah direkayasa sedemikian rupa dan itu hanyalah sebuah artikulasi saja. Literasi merupakan pekerjaan rohani yang ketika direkayasa menjadi tampak kasar, tapi bagaimana kita bisa menggesernya menjadi lebih halus lagi. Sekarang medium sudah berubah, yang dulunya kertas atau buku, sekarang kita sudah bisa menikmati membaca di layar kaca, yaitu lewat media internet, laptop, ipod, dan adanya jejaring sosial seperti facebook. Sulham ingin mencoba membuktikan kerja kerohanian ini masuk ke kerja kasar kemudian bertransformasi lagi menjadi kerja halus.

Di ‘Butta Ilmu’ beliau menerbitkan buku, “cinta dan kemanusiaan”. Buku ini adalah kumpulan tulisan seorang anak muda di Bantaeng yang juga menjadi anggota komunitas Butta Ilmu. Tulisan-tulisan anak muda ini awalnya tak begitu dilirik oleh para pengguna fb, dan hanya menjadi angin lalu saja. kemudian Sulhan berinisiatif untuk mengedit dan menerbitkan kumpulan tulisan tersebut. Saat itulah produk rohani itu ditransformasi atau ditingkatkan nilainya sehingga bisa dikonsumsi dengan elegan oleh masyarakat. “Apa yang kita katakan sebagai sebuah sampah, kemudian terjadi pendangkalan pada media maya, ketika kita olah dan diangkat dengan pendekatan budaya pop dengan menjadikannya sebuah buku, lalu kita rayakan (launching), alhamdulillah kami rasakan atmosfir masyarakat bantaeng untuk minta dibukukan tulisannya,” ucap Sulhan.

Perjuangan menerbitkan buku itu membuahkan hasil, sejak saat itu banyak anak muda yang minta karyanya diterbitkan. Ini akhirnya menjadi semacam bola salju yang membesar dan berefek ganda.  Pemuda bantaeng mulai menata kata, dengan harap-harap cemas supaya ada yang memerhatikan anak rohaninya. “Anak ini tiga tahun dia menulis dan tidak ada yang memperhatikan, kemudian menjadi buku. Bupati datang juga dan membeli 37 eksemplar. Kerja-kerja kultural ketika disajikan dengan kerja struktural bisa mendapatkan pola yang sama. Sama dengan di desa, mendorong perpustakaan desa, desa labo menjadi juara dua perpustakaan se sulsel,” tambah Sulhan.

Pada ramadhan kemarin Sulhan ditelpon oleh karang taruna untuk mendiskusikan lomba menulis. Ia mencoba agar para pemuda Bantaeng tertarik untuk menggeluti dunia menulis, hasil lomba itulah yang akan dia terbitkan lagi. Sama halnya ketika dia mengisi pelatihan menulis di sebuah pesantren, hasil tulisan para siswa itu kemudian diterbitkan. “buku tersebut selalu saya tenteng-tenteng ketika mengisi pelatihan menulis di tempat lain,” ujar Sulhan. Cuma rekayasa semacam ini agak sulit ditetapkan masa depannya atau dikuantifikasi, sebab berbicara peradaban adalah berbicara generasi. Bagaimana mungkin anak-anak mengikuti kita kalau di rumah tidak ada perpustakaan?

Nah generasi kita mungkin mediumnya sudah berbeda. Tapi sudah lah, sekarang dalam pelatihan membaca dan menulis kita tidak perlu lagi mengarahkan pada membaca buku, tapi membaca apa saja dengan medium apa saja. Sulhan sangat berharap dengan langkah-langkah ‘Butta Ilmu’, peradaban di Bantaeng bisa meningkat entah beberapa tahun ke depan.


Ke depannya, Sulhan berobsesi untuk mengimplementasikan gagasan geoliterasi pada daerah Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai. Dan beliau memulainya di Bantaeng. Sudah tiga tahun beliau di sana, awalnya ‘Butta Ilmu memilik tagline “hadir untuk pencerahan” dan sekarang sudah berubah, “bantaeng menuju masyarakat literasi”. Dan saya bersama teman-teman sudah menyusun roadmapnya selama dua tahun, dan tiap tahun kami evaluasi. 


Read more...

Selasa, 08 Desember 2015

Rame-rame tentang Hijau Hitam

Pernah ada seloroh, siapa yang benar-benar berkuasa di Indonesia (sitkhus : situasi khusus orde bau)? yaitu empat hijau : hijau loreng (tentara), hijau islam, hijau Marshal Green (Duta Besar Amarika di Indonesia pada 1965), dan hijau para mahasiswa baru yang disebut greenhorn di Amerika Serikat.
--------
Anak - anak muda hijau Islam tampaknya identik dengan HMI (hijau hitam), yang waktu itu tergabung dalam aksi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) untuk merongrong kekuasaan Soekarno dan menuntut pembubaran PKI. Memang, sebelumnya HMI hampir dibubarkan oleh pemerintah Orla, karena tekanan kuat mahasiswa kiri (CGMI dan afiliasinya), namun gagal, dukungan AD (Angkatan Darat) ada dibelakang si hijau hitam, AD menginginkan kolega dari kalangan sipil untuk menolak kuminisme di Indonesia dan mempertahankan pancasilah. Dan lebih-lebih lagi, di belakang AD ada America-rica, yang bencinya pada Kuminisme sudah sampai di ubun-ubun. America diduga banyak memberi sokongan nasi bungkus (dana) kepada aksi demonstrasi mahasiswa.
AD menginginkan ada kelompok masyarakat yang memberi tekanan massa (show of force) melalui aksi-aksi massa di jalanan untuk menunjukkan kuatnya dukungan sipil terhadap tindak pemimpin (Soeharto), sebagai strategi penunjang aksi diplomasi, infiltrasi politik dan militer, penggembosan dari dalam dengan mengikis pengaruh dan orang-orang Bung Karno di pemerintahan. Aksi massa ini berhasil menimbulkan efek psikologis dan menjustifikasi ketidakberesan rezim Bung Karno, yang dalam hal ini, tentang kebekuan demokrasi terpimpin, dengan alasan kemandekan ekonomi, inflasi melunjak, dan dugaan upaya kudeta PKI (yang tak pernah terbukti secara legal hukum dan perasaan keadilan), saat itu Bung Karno tetap tidak mau membubarkan PKI, meski telah dibujuk berulang kali oleh Soeharto dan kawan-kawan militernya.
Alhasil, Soeharto berhasil merebut kepemimpinan dengan kudeta merangkaknya, dengan mengibuli Bung Karno dengan SUPERSEMAR dan sekali mendayung tiga pulau terlampaui, Supersemar juga digunakan sebagai dalih membubarkan PKI. Mahasiswa bersorak gembira. Mahasiswa berkumpul di kostrad untuk memberi selamat kepada Soeharto.
Jadi, hijau hitam punya sejarah awal yang menyenangkan tentang perebutan kekuasaan. Dan keberhasilan itu membuat organisasi ini di atas angin, tanpa ada penyaing lagi (CGMI dan GMNI ambruk), tokoh-tokoh mahasiswa hijau hitam pun akhirnya dengan mudah berselancar dalam dunia politik, melalui kendaraan partai Golkar.
Meski begitu, dalam perkembangannya kader-kader HMI juga yang banyak menentang kebijakan orde bau, dan membuat intel uring-uringan mencari mereka. Aksi-aksi besar, termasuk aksi menentang Soeharto pada tahun-tahun dekadensinya juga banyak dilakoni kader hijau hitam. Ini juga yang menyebabkan sebagian kader tetap semangat ber-HMI karena ada semangat perlawanan di dalamnya (dalam HMI juga banyak tipikal senior, ada senior politikus, ada senior cendekiawan, ada senior agamawan, dan ada senior baraccung). Bahkan, pada tahun-tahun belakangan, hijau hitam berperan sebagai penangkal terhadap pemikiran-pemikiran islam radikal dan ekstrim (jumud). Dimana masih banyak kader hijau hitam yang berfikir, Sami'na wa analisis. Setiap tindakan dan pernyataan harus dianalisa terlebih dahulu. Sehingga, teman-teman HMI enak tetap asyik diajak ngobrol karena pikirannya yang terbuka dan progresif.
Situasi saat ini jangan melihat HMI dengan kacamata kuda. HMI punya sejarah berliku dalam bergerak dalam setiap zaman. Tapi, mungkin saja hijau hitam kesulitan menentukan arah dan posisi, dimana penentu kebijakan saat ini banyak yang bukan kader-kader HMI. Meski masih terdapat kader pentolan HMI di pemerintahan, salah duanya adalah Pak JK dan Pak Anis.
------
Mendengar kisah anak HMI ngambek karena nasi bungkus di Kongres HMI Riau, saya tiba-tiba berfikir, apakah hijau islam masih berkuasa? dan tiba-tiba mengingat istilah yang belum terasa lama.
"Oenak jamanku tokh" grin emotikon.
Sumber pemikiran :
1. Jhon Roosa, "Dalih Pembunuhan Massal".
2. Jusuf Wanandy, "Menyibak Tabir Orde Baru, memoar politik Indonesia, 1965 - 1998".

Read more...

Kamis, 05 November 2015

Cakrawala Aku Sadar Ishak Ngeljaratan

Selasa lalu, 3 November 2015, saya kembali dirasuki oleh suara-suara yang demikian hidup di ruang Mattulada, Unhas. Suara itu datang dari seorang Ishak Ngeljaratan, guru yang masih tampak muda dan datang dari sebuah zaman di masa lalu. Ishak berbicara cergas tentang ruang sadar dan membuat saya tiba-tiba merasa bahwa selama ini masih setengah sadar atau bahkan seperlima sadar.

                                                                
                                 Foto milik Fajar

Pikiran saya pun melintang-lintang, sebegitu penting-kah ‘sadar’ itu? Hingga para pemikir sibuk dengan concience. Kenapa si Descartes repot-repot menulis buku tentang Distinct and Clearly, lalu memusingkan kita dengan kata-kata ‘Cogito ergo sum – Saya Sadar maka saya ada’? Kenapa Plato dengan uletnya membagi ruang ephisteme (teori) dan ruang opinion (pendapat-doksa)? Kenapa Paulo Preire mendengungkan pada kita apa itu kesadaran kritis dan kesadara palsu? Kenapa Budha meminta kita untuk ‘hadir’ dalam setiap tindakan? Lantas kenapa Alwy Rachman banyak mengisi kita tentang Ruang Sadar tak Berpagar? Untuk apa kita duduk-duduk di Mattulada, mendengar ocehan Ishak yang menukik tentang Aku Sadar?

Ishak memulainya dengan menggambarkan ruang, luasnya ruang tergantung pada apa yang terkandung dalam ruang itu sendiri. Seperti dunia, luasnya dunia diukur dengan seberapa luas material menjangkau, dengan memaksakan pikiran bahwa luar dunia sama dengan kekosongan. Inilah yang menurut para filsuf disebut sebagai cakrawala atau horizon. Begitu halnya dengan seseorang, seseorang diukur dari luasnya cakrawala yang dia punyai, serta seberapa dalam pemahaman seseorang tentang sesuatu hal. 

Adanya ruang mengharuskan adanya waktu, sebagai titi mangsa, sebagai awal mula untuk mengukur perkembangan dunia, perjalanan suatu dunia, tumbuh, menanjak, puncak, dekaden, hingga matinya sebuah dunia. Ruang dan waktu adalah sebuah konsep yang bersifat abstrak untuk menjelaskan hal-hal yang kasat mata dan berkembang di sekeliling panca indera kita.

Ishak melanjutkan dengan apa yang disebut abstraksi, dia sempat menyebut-nyebut seorang filsuf yang mengusung abstraksi ini, yaitu Aristoteles. Abstraksi merupakan cara kerja Akusadar-akal untuk mendefinisikan esensi masing-masing mahluk atau entitas yang memiliki ciri-ciri yang sama, yang akan diterima oleh semua orang yang sadar atau dikenal dengan sebuatan universal. Ishak memisalkan kuda, hewan yang memiliki karakteristik esensial, yang membedakannya dengan entitas yang lain, seperti meringkik. Namun kuda itu baru dapat kita mengerti setelah membacanya dengan suara, dengan melibatkan pendengaran. Kuda bukan sekadar deretan kata K+U+D+A, tapi sebuah pengertian dalam bentuk gambaran citra (imajiner) pada saat kita membacanya. Kita melakukan abstraksi saat membaca kuda. Namun, ketika kita menyebutkan pula beberapa entitas selain kuda, misalnya terdapat dua ekor kuda, seekor kambing dan 3 ekor sapi, kita pun mendapat pengertian lebih abstrak dan tentu lebih universial, bahwa semua entitas itu tidak dapat lagi disebut kuda, tapi tergolong dalam kategori binatang, atau memiliki sifat-sifat kebinatangan, yang kalau dispesifikkan lagi adalah entitas-entitas kategori binatang mamalia (menyusui) dan bersifat herbivora (memakan tumbuhan).

Permainan abstraksi ini adalah kekuatan manusia, yang tercermin melalui bahasa yang digunakannya. Akan sangat berbeda dengan binatang, yang kemampuan bahasanya hanya pada koordinasi prilaku antar binatang, bersifat intrinsik dan dibatasi oleh paket insting, hingga tidak memiliki kemampuan untuk melakukan abstraksi, memikirkan pengertian-pengertian, penalaran, mendefinisikan, generalisasi, analisis, yang akhirnya tidak ada pembelajaran yang berkesinambungan, yang konsekuensinya tidak ada perkembangan atau evolusi.

Menurut Ishak, bahasa dapat menciptakan realitas dan membantu untuk melihat alam nyata dengan lebih bijak. Hal ini ditunjukkan dengan istilah Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi sekalian alam. “kalimat ini sangat dahsyat, bahkan saya sebagai orang Kristen dapat masuk ke dalamnya”. Konsep islam sebagai rahmatan lil Alamin memberi rasa baru bahwa orang dapat menjadi Islam ketika dia dapat menjadi rahmat bagi orang lain dan bagi alam. Orang yang merusak alam berarti dia tidak rahmatan lil alamin, yang juga berarti tidak islami.

Bahasa manusia yang berkelindan dan berkembang itu menurut Ishak tidak dapat dibatasi oleh istilah yang justru mereduksi makna sebuah bahasa. Seperti kaidah Objek penderita yang terdapat dalam bahasa Indonesia. Sebab, tidak semua akan menderita ketika diposisikan dalam proposisi tersebut. “Bunda Maria mengasihi ummatnya”, apakah Bunda Maria membuat derita ummatnya dengan kasihnya?

Ishak melanjutkannya dengan mengelaborasi komposisi bahasa dari judul kumpulan tulisan Alwy Rachman, “Ruang Sadar tak Berpagar”. Penggunaan kata Tak pada judul tersebut merupakan tekanan yang sangat kuat, yang akan berbeda jika kita menggunakan komposisi lain, misalnya “Tak ada pagar pada ruang sadar” yang terkesan datar-datar saja. Rasa tekanan judul tersebut sama dengan “Tiada Tuhan selain Allah”, yang akan menjadi jinak dan tidak bertenaga jika diputar “Selain Allah tiada tuhan”.

Melampaui bahasa, Ishak mulai mengurai tentang ‘sadar’ itu, yang dilihatnya secara subjektif sebagai “Aku Sadar”, upaya untuk melibatkan subjek yang sadar. Aku Sadar merupakan mengganti kata jiwa, yang menurut Ishak tidak kuat menggambarkan subjektifitas sang Aku dan lebih menunjukkan subjek sebagai kata benda. Terdapat sang Aku yang melampaui koordinasi antar struktur biologis, misalnya otak, jantung, serta organ-organ lainnya. Sang Aku ada pada setiap organ, Aku Sadar inilah yang berkehendak, berfikir, merasa, dan bahkan menderita. Bahkan ketika kita melihat, yang melihat adalah sang Aku Sadar, ketika kita mendengar, yang mengaktifkan pendengaran adalah Aku Sadar, ketika kita mencium, yang mendorong kita membaui sesuatu adalah Aku Sadar. Aku Sadar ada sebagai pengendali setiap tindak laku kita.

Hal ini berlaku juga dengan kemampuan belajar kita, kemampuan kita memahami sesuatu, kemampuan kita berinteraksi, bercakap, menulis, sangat ditentukan oleh Aku Sadar. Ketika Aku Sadar mengarahkan dirinya untuk mempelajari sesuatu (intensi), maka percayalah, hal-hal yang dipelajari itu akan dengan mudah untuk kita serap dan kita gunakan sebagaimana mestinya. Hal-hal yang menghalangi kita untuk maju dan mengerti sesuatu, misalnya karena beban psikologi atau blok mental dan menyebabkan Aku Sadar menjadi lemah, lantas membuat Aku Sadar menyerah dan memvonis diri bahwa diri tidak mampu dan tidak pantas. Aku Sadar selalu berupaya untuk memperluas ruang sadarnya, semakin luas ruang sadar maka semakin berisi-lah ia, semakin bermanfaatlah ia, dan semakin berbedalah ia dengan orang lain. Ishak mengistilahkannya dengan Bio Sphere di samping biospace (ruang fisik), dalam hidup ini kita dibedakan berdasarkan biosphere kita masing-masing. Mendengar hal tersebut, seluas apa gerangan cakrawala (biosphere) Ishak Ngeljaratan dan Alwy Rachman?

                                        Foto : Imhe Mawar

***

Bincang-bincang kumpulan 61 esai “Ruang Sadar tak Berpagar” pada Rabu itu begitu merasuk dalam alam sadar saya. Mendorong saya untuk selalu waspada terhadap segala kondisi yang dapat menyebabkan tidaksadaran atau lebih pada hanya untuk memuaskan nafsu akan harta, tahta dan kepuasan seks.

Saya mengucapkan penghormatan tertinggi dan terimakasih kepada Ishak Ngeljaratan dan Alwy Rachman, yang telah membantu membuka cakrawala kita tentang ruang sadar, juga terhadap teladan mereka berdua yang selalu sadar dalam perkataan dan perbuatan.   

Saya berdoa semoga dua mahluk Indah ini dapat bersama-sama kembali di alam lain, siapa tahu mereka dapat membuka cakrawala penghuni dunia lain tersebut.  

Planet Coffee-Tamalanrea, 5 November 2015


Idham Malik

Read more...

Rabu, 07 Oktober 2015

Setengah Tiang

Tadi pagi, saya berjalan-jalan di sekitar Kota Benteng, Kab. Selayar. Saya melihat pada halaman beberapa rumah, terpasang bendera Merah Putih setengah tiang. Saya tercenung, pikiran saya terhantar ke peristiwa sehari sebelumnya, 30 September. Saking seriusnya mendata petambak vannamei di Negeri Tanadoang, saya lupa bahwa kemarin merupakan hari paling bersejarah di Indonesiah.
Kenapa setengah tiang? Apakah Indonesia masih menyatakan duka terhadap 6 Jendral? sampai kapan kiranya duka ini hilang? Indonesia meratapi kematian 6 jendral yang dianggap loyalis Soekarno itu, sementara kematian Soekarno sendiri kita sudah lupa dan tidak ada setengah tiang.
Rakyat kita, di pelosok-pelosok, di pulau-pulau, masih menaruh hormat pada Pancasila yang sakti pada 1 Oktober, yang berhasil dipertahankan dari ancaman Kuminis, yang hendak menggantikan Pancasila dengan sosialisme-kominisme. Padahal, dalam pancasila itu, cita-cita sosialisme lah yang paling kuat. Sila pertama mengharap rahmat Tuhan Yang Maha Esa atas segala perjuangan ke depan, Sila kedua melandaskan perjuangan rakyat Indonesia pada Kemanusiaan yang adil dan beradab (humanity), Sila ketiga, perjuangan rakyat Indonesia harus dalam koridor persatuan (nasionalisme), Sila keempat, kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (Demokrasi-mengingat tabiat rakyat Indonesia yang sangat mengutamakan musyawarah dan semangat kolektif), dan kelima adalah tujuan dari perjuangan Indonesia itu sendiri, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Keadilan sosial (sosialisme) inilah yang menjadi tujuan negara ini dibangun, tujuan dari perjuangan rakyat untuk merdeka dari kolonialisme negara asing, yang maunya hanya menghisap tenaga rakyat dan sumberdaya alam.
Lantas, apa yang dapat kita peroleh dari kesaktian pancasila ini? nilai-nilai apa yang memperbaharui jiwa kita, yang atas nama kesaktian pancasila terjadi pembunuhan besar-besaran di negara yang rakyatnya terkenal penuh toleransi dan murah senyum ini? Dengan nama kesaktian pancasila, pancasila pun akhirnya menjadi slogan sejak saat itu. Pancasila diletakkan di atas, di dinding yang jauh dari kepala kita, menjadi pajangan, menjadi lambang yang tak terjelaskan untuk membantu kita memahami persoalan-persoalan kebangsaan.
Persoalan kebangsaan dan pengelolaan negara dalam perjalanannya justru berjalan membelakangi prinsip-prinsip pancasila. Kaidah-kaidah moral, yang diwakili oleh Ketuhanan Yang Maha Esa dilabrak begitu saja, pejabat-pejabat negara melakukan korupsi, menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang, tanpa lagi merasa ada Tuhan di hatinya. Rasa kemanusiaan, penghargaan antar sesama manusia, saling memanusiakan, menjadi tidak bermakna lagi, yang timbul adalah rasa saling curiga antar sesama manusia, masing-masing individu memikirkan dirinya sendiri dengan melandaskan pada kebebasan dan kemerdekaan, ketika kepentingan dirinya terancam, manusia tak segan melakukan pembunuhan terhadap manusia lainnya. Persatuan atau nasionalisme menjadi slogan kosong, nasionalisme tidak lagi menjadi jiwa yang membakar, yang di dalamnya kita merasakan damai oleh keberadaan roh nasion, masing-masing dari kita mementingkan kelompok sendiri (misalnya dalam Pilkada), dan bertengkar di antara kita saat perebutan kekuasaan, menonjolkan ideologi masing-masing dan saling meniadakan, tanpa mencoba untuk menghargai eksistensi masing-masing golongan dalam bentuk penerimaan yang jujur (eksaptansi). Kerakyatan kita yang sejak dahulu mengandalkan semangat kolektif, semangat membangun bersama, saling bantu membantu, gotongroyong, mulai dirasuki oleh pemujaan terhadap kehebatan diri sendiri, diiming-imingi kekayaan harta, terjadi pergeseran konsep tentang manusia unggul, manusia unggul adalah mereka yang punya mobil, punya pagar tinggi, punya tanah banyak. Dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ada hanya kesenjangan yang semakin lebar, rasa keadilan dinistakan oleh jurang yang demikian jauh, dimana terdapat orang yang menikmati kemewahan yang luas, sedangkan masih banyak orang yang dari hari ke hari mengais rezeki dengan susah payah. Orang kaya semakin kaya, yang miskin semakin terpuruk.
Lantas, apa makna dari setengah tiang? Apa yang sakti dari Pancasila saat ini?

Kamis, 1 Oktober 2015

Read more...

Gondrong

Sepekan terakhir, kawan-kawan di media sosial ramai membincangkan tentang rambut gondrong. Berawal dari postingan seorang teman tentang adanya pelarangan mahasiswa gondrong untuk masuk ke perpustakaan salah satu fakultas di Unhas.
Kita pun tertawa, ada yang lucu mengenai asosiasi antara rambut gondrong dengan indikasi negatif yang biasa dilekatkan ke manusia yang berambut gondrong, seperti susah diatur, suka melawan, kotor, dll. Kita pun lalu menawar-nawarkan bahwa para ilmuwan, sastrawan, negarawan, yang dapat kita ringkas sebagai orang besar, banyak yang berambut panjang.
Saya tiba-tiba berfikir, pada dasarnya, apa syarat seseorang mampu mengoptimalkan bakatnya hingga menjadi orang besar? Orang menjadi bernilai di mata masyarakat, berguna bagi bangsa adalah mereka yang tekun dalam mengasah kemampuan, pantang menyerah, rasa ingin tahu yang tinggi, yang harus didukung oleh semangat bebas yang dalam hal ini kemerdakaan dalam berfikir dan bertindak. Nah, rambut gondrong identik dengan kemerdekaan itu, gondrong menandakan kebebasan mengekspresikan diri untuk menjadi sesuatu yang sesuai dengan nilai-nilai ideal yang mereka anut.
Lantas, ketika manusia tidak bebas lagi mengekspresikan tubuhnya, rambutnya, tubuh terperangkap dengan aturan-aturan, pikiran pun akhirnya ikut-ikutan, manut pada norma-norma moral yang pada dasarnya hanya berpihak pada kelompok-kelompok penguasa.
Nah, apa jadinya ketika mahasiswa menjadi tidak bebas? Mahasiswa tidak menjadi apa-apa, selain menjadi pekerja. Jadi, jangan membayangkan muncul bibit-bibit Einstein di Unhas, jangan terlalu berimajinasi ada Newton muda dari kampus Ayam ini. Yang ada hanya gerombolan anak muda yang siap diserap oleh pasar kerja. Mereka adalah bibit pekerja yang patuh, disiplin, dan siap diperbudak oleh pemilik modal, dengan menjual jasanya ke pasar kerja asalkan mereka dapat turut menikmati gaya hidup kelas menengah. Toh, mereka sudah susah-susah membayar kampus untuk menggembleng mereka menjadi pekerja yang sesuai dengan keinginan pasar kerja.
**
Kita barangkali masih ingat bagaimana perlakukan militer mendikte tingkah laku anak muda, yang dengan kasar menerobos urusan-urusan anak muda yang bersifat sangat pribadi, yaitu penataan rambut. Operasi intimidasi tidak menggunakan senjata api, tapi menggunakan gunting, tentara mencoba menerapkan nilai-nilai kedisiplinan pada anak muda tahun 1970-an. Dokumen yang dengan detail menjelaskan pristiwa sejarah tersebut secara sosiologis ada pada buku "Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Order Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an" yang ditulis Aira Wiratma Yudhistira.
Apa yang dilakukan oleh pengambil kebijakan tersebut tak lain meneruskan logika para penguasa militer dahulu dalam memperlakukan gaya anak muda untuk tampak mirip prajurit (Penguasa selalu ingin memaksakan nilai-nilainya ke masyarakat umum). Beruntung karena pihak kampus belum menggunakan gunting, tapi hanya berupa larangan terhadap mahasiswa gondrong untuk menggunakan fasilitas kampus (perpustakaan). Tapi hal tersebut sudah menunjukkan kekerasan simbolik terhadap para ngondrongers.
Selain itu, jika kita menelusuri tradisi-tradisi masa lalu, rambut gondrong merupakan tradisi para bangsawan di Nusantara, baik di Sulawesi maupun di Jawa dan Sumatera. Makanya Sultan Hasanuddin juga gondrong. Berarti, orang gondrong turut melestarikan tradisi para bangsawan, dan saya yakin, orang-orang gondrong yang dalam hal ini mahasiswa, juga mewarisi sifat-sifat kebangsawanan. Pelarangan gondrong, merupakan upaya sistematis untuk menggerus nilai-nilai kebangsawanan, seperti keberanian, kejujuran, tanggungjawab, kepemimpinan.
Pelarangan gondrong merupakan tindak pemaksaan kehendak untuk mendisiplinkan, mengatur, mengendalikan alam bawah sadar, agar segala keputusan-keputusan penting penguasa, misalnya kebijakan keuangan, tidak mendapat perlawanan-kritik, dari mahasiswa yang bebas-yang gondrong.
Hidup Gondrong.

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP