Selasa, 16 September 2014

Kita ke Rammang – Rammang Wahai Mata Air Gunung Jiwa

Saya tak dapat menahan gembira mendengar suara mu pagi itu, Sabtu, 13 September 2014. Mata Air Gunung Jiwa bersedia untuk diajak melihat-lihat gerak dan kokoh alam di Rammang-Rammang, Kab. Maros. Dengan semangat saya berjalan kembali ke sekretariat identitas setelah menelponmu, lalu bersih-bersih tubuh di mesjid kampus, kemudian dengan degub di dada menunggu mu di depan Asrama Mahasiswa. Dua kali saya menelponmu, tapi selalu nada tak terjawab. Saya berfikir mata air sedang beres-beres, maka saya berteduh di kerindangan, menantimu muncul di jalan kecil, dengan tapakmu yang ringan, pundakmu yang maju, lalu dengan kepercayaan diri mu yang memancar dan memenuhi ku.

Kamu tersenyum, kita berangkat dengan kelegaan. Matahari begitu terik dan kamu hanya tersenyum. Saya suka dengan pertahanan dirimu terhadap matahari yang bukan lagi hangat, tapi sudah berada pada tingkat panas itu. Matahari yang membuat kita dengan cepat lelah, dikeluhi dahaga, dan membuat saya tentunya sebentar-sebentar menarik nafas untuk menstabilkan energi. Kamu, tegar terhadap hal itu dan kamu hanya menjawabnya dengan senyum. Senyummu adalah hal terindah yang saya selalu saya cari saban hari, ketika melihatmu lalu lalang tanpa kita komunikasi. Senyummu yang berangkat dari hati itu membuat hari-hari menjadi lebih bahagia, lebih damai. Bahkan pada matahari yang jelas-jelas ruwet itu kamu tersenyum.

Kita melupakan dahaga, melupakan terik dan panas, kita melaju melintasi dunia dengan santai, dengan gembira, kita melihat-lihat di sepanjang jalan rumah-rumah, keramaian pasar, kegaduhan kendaraan, kita melihat aktivitas orang banyak. Kita menempuhnya dalam jangka waktu cukup lama dengan jarak cukup jauh, tapi kita bahagia. Kita senang bahwa pada akhirnya kita tiba di sungai, dengan batu-batu karang yang tertancap, dengan mangrove di sisi-nya yang akarnya menggurat kokoh pada lumpur. Begitu halnya kisah kita ke depan, saya harap demikian, yang cukup panjang hingga kita betul-betul dapat bersatu dan saling meresapi. Kita akan lalui dengan begitu banyak permainan, jalan-jalan, begitu banyak degub dan getar, mungkin terdapat gesekan-gesekan dan perbedaan pendapat, mungkin kita akan tiba-tiba saling menjauhi dan mendiami, mungkin, tapi saya tidak tahu kapan itu. Dan dalam perjalanan itu saya harap kita selalu merapat dan menerima kembali. Menerima perbedaan dan kekurangan masing-masing. Di situlah letak keindahan seutuhnya, dimana yang lebih dan kurang sudah menyatu, kita tak lagi dapat mendefenisikan tentang apa itu kekurangan, apa itu kelemahan? karena dalam semua itu yang tampak hanyalah keindahan.

Saya berada di belakangmu pada perahu kecil itu, melihat gunung jiwa ku yang juga sedang melihat gunung tegar di sepanjang sungai. Saya pun menghayal-hayal pada ikan di bawah air, pada dunia yang belum sempat kita selami, dunia yang masih membatasi kita, lantaran kita tak punya insang dan tubuh kita tak terbungkus oleh sisik. Kita tak tahu apa dalam benak dan hati ikan-ikan, bebek, belibis ketika melihat kita melintas, melihat wajahmu yang berseri-seri, dan merah oleh terik. Memandangi punggungmu itu, saya pun merasakan dunia yang luas di dalamnya, yang mungkin tak akan habis-habis saya selami kelak. Dunia manusia yang luas, seluas imajinasinya yang tak terjangkau, yang bahkan mampu menembusi sudut-sudut terjauh dari dunia, dan memahami hal-hal abstrak di balik kata-kata. Memahami yang tidak ada tapi ada, Ada yang melingkupi kita, yang muncul kadang-kadang ketika kita merenung sepi, berada di tubir jurang, kita masih merasakan misterium itu, terpesona oleh rasa takut dan kecam. Kita pun sadar bahwa ada itu ada, di sana, di sini, ia memantul dalam diri kita dan menjadi personal. Kita merasakannya, serupa kita merasakan air di tangan kita, lalu menjilati rasa asinnya.

Kita lalu berjalan, melihat-lihat, mendengar-dengar, kita menyentuh daun dan batu, dalam diri kita pun keluar air asin, bukti bahwa tubuh bekerja dengan baik, dengan stimulan-stimulan. Darah kita mengalir lebih deras, jantung berdetak lebih cepat, dan kamu tersenyum. Senyummu juga pada gunung, pada jalan-jalan batu, pada air dalam tambak itu, pada ikan bandeng yang menggelinjat, pada udang-udang yang merayap-rayap. Juga pada keringat yang mengalir pada tubuhmu. Pada langkah mu yang sesekali goyah ketika menuruni bukit.

Kita tiba di telaga dan memandangi orang dengan ceria berendam di dalamnya. Air pada telaga itu merupakan air hasil resapan gunung, tebing, bukit yang mengitari kita. Bukit-bukit yang tampak gersang dan tetap dijalari akar-akar tumbuhan kayu. Saya sempat bertanya kepadamu, kenapa masih ada tumbuhan di dinding bukit yang berbatu itu? Dan kita pun hanya menyangka-sangka, bahwa pada dinding itu terdapat air, batu-batu itu pada akhirnya sebagian akan lapuk dan menjadi tanah ketika lama ditindis oleh akar.

Lalu kita kembali ke perahu dan kembali menyentuh air dengan jemari kita. Air sedang surut dan bergerak ke laut. Perahu kita berupaya keras untuk mengarungi air yang surut ke belakang itu sebelum tiba di desa “berua” damai itu, sang kemudi pun berkali kali memaksa-nya dengan dayung, mencari ruang-ruang di sungai yang agak dalam agar mesin dapat berputar dan mendorong perahu melaju. Perahu kita pelan-pelan, sembari kita melihat kawanan bebek bermain-main di tepi rimbun nipah dan kamu tersenyum. Kamu pun bertanya kepada ku, apakah buah nipah itu seperti buah kelapa? Apakah bisa dimakan? Saya menjawab tak tahu. Begitu bodohnya saya yang mengaku-ngaku sebagai pecinta lingkungan, orang yang konsentrasi di lingkungan tak tahu hal-hal kecil seperti itu. Hahaha.. Kamu lebih tahu dek, dan tampaknya akan lebih tahu dari saya kelak, tentang rahasia alam, tabir-tabir alam akan membuka diri pada mu Dik.

Akhirnya perahu kita tiba setelah melewati lorong-lorong batu yang tampak seperti sudah dipahat, dinding dan atap-nyanya bak balok dan batu dengan sudut lancip dan tumpul yang didesain sehingga tampak elok, tampak bermotif, motifnya kotak, bundar, setengah bundar dimana tidak teratur tapi terlihat teratur, chaos tapi order, order tapi chaos. Akhirnya kita tiba di dermaga, di batas antara air dan darat. Saya naik terlebih dahulu, kemudian kamu menapakkan kakimu pada ban di ujung dermaga, dan dari atas saya menyentuh tanganmu, menarikmu ke atas sayang ku. Kita tiba di tempat itu, kita berjalan berdampingan di dermaga, menyentuh tanah baru (berua) dan memulai percakapan baru, hidup baru. Kita duduk di bale-bale (tempat istirahat), menetap lama di sana, berbincang-bincang banyak hal, bale-bale kita diterpa angin, tapi kita tidak goyah, kita hanya mengeluh sedikit tentang debu yang masuk di mata kita. Dan kamu pun berkata, “seandainya angin tenang pasti bagus”. Kita melihat orang lalu lalang, turis-turis asing dan lokal. Kita melihat orang asing dari Uruguay dan juga dari negara lain di barat sana. Dan sempat bercakap tentang apakah buah yang jatuh itu merupakan buah kapuk atau pisang? Orang Uruguay itu mengira kapuk yang jelas-jelas keras kulitnya itu sebagai pisang, dan kita tertawa berdua setelah tahu bahwa nenek itu tidak tahu pisang.

Di bale-bale yang kuat itu, kita melihat gunung, melihat tambak yang sedang istirahat, kita melihat petak-petak sawah yang juga menanti musim, kita melihat petak sawah berdampingan dengan petak tambak ikan. Begitu mesra. Kita melihat orang-orang memotret-motret di pematang yang memisahkan keduanya. Lalu, kita pun meninggalkan rumah itu, dan orang lain mulai duduk-duduk di bale-bale itu. Kita kembali ke perahu, pulang bersama dengan bahagia. Kamu turun terlebih dahulu ke perahu, kemudian saya mengikutimu dari belakang. Kita kembali ke air, melaju jauh, dan kita melupakan tanah. Mungkin saat itulah kita akan menyatu dengan ikan-ikan, dimana kita juga punya insang, juga sisik.

Tamalanrea, Senin, 15 September 2014
Pada pagi menjelang siang, dimana kamu berlalu lalang di hadapanku

Read more...

Kamis, 04 September 2014

Peran Penyuluh dalam Perbaikan Budidaya Udang Windu

Materi Prof. Hattah Fattah-pada Pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk Penyuluh Perikanan di Pare_Pare, 2 - 3 Juni 2014 - WWF-INDONESIA.

Pada pelatihan tersebut Prof Hattah menggunakan pendekatan “bermain peran” atau simulasi untuk melihat bagaimana peran penyuluh dalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pembudidaya dalam satu klaster pertambakan.



Hattah membagi penyuluh dalam berbagai peran, yaitu sebagai kelompok tani sejahtera 4 orang, kelompok tani mandiri 4 orang, kelompok tani berkelanjutan 4 orang, pembudidaya yang tidak tergabung dalam kelompok 3 orang, penyuluh 3 orang, Dinas Kabupaten 1 orang, Dinas Provinsi 1 orang, penyedia saprodi, cold storage (buyer), lembaga perkreditan, dan lembaga penelitian dan pengembangan, masing-masing 1 orang.

Setelah kelompok terbagi, Hattah menjelaskan kasus yang dihadapi suatu wilayah pertambakan. 1) seluruh petakan sedang dalam proses pemeliharaan, namun terdapat tambak yang tersebar di kawasan yang terjangkit penyakit. 2) Beberapa pembudidaya belum bergabung dalam kelompok tani manapun, 3) Seluruh petakan diperkirakan panen dari Juli hingga September 2014, 4) Pada pertemuan secara terpisah pada tanggal 28 Mei 2014 para anggota Kelompoktani Sejahtera dan Kelompoktani  Mandiri  sepakat  penebaran pada musim tanam berikutnya pada bulan Oktober serta bulan November pada Kelompoktani Berkelanjutan, 5) Benur berkualitas diperkirakan akan mengalami kelangkaan  pada  bulan Oktober  dan November.



Terdapat beberapa poin yang dapat diperoleh pada saat game ini berlangsung :
-        
     Pembentukan kelompok harus berdasarkan hamparan, berguna untuk koordinasi saluran air sehingga penyebaran penyakit dapat segera dicegah. Namun dalam pelaksanaan game, para pengurus kelompok merekrut petambak yang belum bergabung untuk masuk dalam kelompok, namun petambak tersebut tambaknya berjauhan dan tidak sehamparan. Hal ini terjadi karena penyuluh hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan penataan keanggotaan kelompok. Absen-nya penyuluh dapat menyebabkan kelompok tani menjadi tidak dinamis, sehingga dapat mengancam keutuhan kelompok.
-      
      Setelah petambak telah tergabung dalam kelompok dan kelompok telah dibuatkan Surat Keputusan (SK). Hal berikutnya yaitu menangani tambak yang terserang penyakit, dengan cara para penyuluh masing-masing kelompok mendiskusikan upaya penanganan penyakit dan meyakinkan pemilik tambak untuk segera mengisolasi tambaknya. Beberapa metode untuk meyakinkan pemilik tambak, seperti membantu obat-obatan serta memberikan tambahan uang untuk kebutuhan isolasi tambak.

-   Ketika ada undangan mengikuti pelatihan, ketua kelompok memilih salah satu anggotanya dan memintanya mempresentasikan hasil pelatihan setelah kembali ke kelompok.
-   
    Setelah panen, sebaiknya petambak melakukan pencatatan produksi dan aktivitas budidayanya, sehingga dapat diterima oleh buyer (prinsip tracebility). Kelompok simulai menjual hasil panen tanpa disertai catatan operasional. Sebaiknya penyuluh turut mengoordinir para pembudidaya untuk melaksanakan panen bersama, jika kapasitas panen sudah 8 ton, pembeli lah yang mendatangi pembudidaya.
-    
    Ketika kelompok tani ingin melakukan penebaran kembali, mereka harus berkoordinasi antar kelompok dan mencari waktu untuk penebaran bersama untuk tambak-tambak yang ada dalam satu kawasan atau satu sistem hidrologi yang dikelola dalam satu sistem.



Dalam penjelasan pasca game, Hatta memberikan masukan dan motivasi kepada para penyuluh dengan membagi uraiannya dalam empat (4) prinsip dan empat (4) peran.
-      
       Prinsip 1. Sistematika Pendekatan pada Penanggulan Permasalahan Budidaya Udang  Windu Berbasis Kawasan.
Terlebih dahulu dilakuan penetapan konteks dan status permasalahan serta identifikasi sistem dalam kawasan. Ada baiknya kelompok membicarakan solusi untuk mencegah sedimentasi saluran air, salah satu solusinya yaitu dengan bergotongroyong melakukan pengerukan saluran. Identifikasi masalah secara umum pada kawasan tambak yaitu, pembinaan petani tidak sesuai dengan program, tidak berfungsinya saluran tambak dengan baik, manajerial petambak yang sangat buruk. Setelah dilakukan pemetaan masalah, dilanjutkan dengan pengajuan soslusi, pengujian efisiensi dan efektivitas solusi, setelah itu segera implementasikan teknologi penanggulangan permasalahan serta menyebarkan pengetahuan tentang teknologi tersebut.
-        
           Prinsip 2. Berkelanjutan
Pada poin ini prinsip ekologi, ekonomi dan sosial saling beririsan dan saling membangun. Mempertahankan eksistensi ekologi, biodiversiti dan daya dukung lingkungan tentunya dapat disinergikan dengan pengembangan identitas kultur masyarakat, keseimbangan, akses dan stabilitas sosial, yang juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
-        
           Prinsip 3. Sasaran konkrit
Sasaran penyuluhan yaitu bagaimana meningkatkan kapasitas pembudidaya agar dapat sejahtera, mandiri dan berkelanjutan.
-        
           Prinsip 4. Berkarakter
Dibutuhkan kerjakeras penyuluh untuk mendampingi kelompok. Integitas dan dedikasi penyuluh serta kehadirannya pada saat pembudidaya mengalami kondisi-kondisi sulit sangat membantu dan memotivasi pembudidaya untuk berbuat lebih baik lagi. Sebaiknya penyuluh menyatu dengan pembudidaya, jangan mengambil jarak dengan pembudidaya dan membuat penyuluh menjadi ekslusif.

-        Peran 1. Memberdayakan.
Penyuluh sebagai pelaku utama pemberdaya, mengajak masyarakat, mempengaruhi mereka kepraktek-praktek yang lebih baik dengan metode partisipatif.
-        
          Peran 2. Pengembangan SDM dan Modal Sosial
Peran penyuluh untuk mencerdaskan dan mengembangkan SDA dibutuhkan inovasi, networking dan penguasaan teknologi dari para penyuluh serta modal sosial yang kuat. Penyuluh yang baik yaitu penyuluh yang dapat dipercaya, memiliki jaringan sosial, hubungan emosional dengan pembudidaya dan norma yang kuat.
-        
           Peran 3. Dinamisasi Peran Masyarakat Secara Harmonis dan Berkelanjutan
Penyuluh sangat berperan dalam mendinamisasi kelompok dalam bentuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan rutin, pelatihan-pelatihan dan akvitas pengelolaan tambak bersama. Walaupun kelompok tersebut sudah berjalan baik, tapi berhenti dibina maka menurut Prof Hattah kelompok tersebut akan kembali menurun dan bisa jadi bubar.
-        
          Peran 4. Bagian Integral dari Penanggulangan Permasalahan Industri Udang Nasional
Industri udang nasional saat ini menghadapi tiga masalah besar, yaitu penyakit WSSV, daya saing produk yang rendah, ancaman embargo produk perikanan Indonesia oleh Negara Uni Eropa. Misalnya perbedaan harga udang yang mencolok antara Negara Thailand dan Indonesia, di Thailand harga udang hanya Rp. 20.000 sementara di Indonesia sebesar Rp. 40.000, sebaiknya perlu dipikirkan langkah-langkah untuk memangkas ongkos produksi sehingga udang kita dapat bersaing di tingkat global.

Indonesia saat ini beruntung tidak diserang oleh penyakit EMS (Early Mortality Syndromme), penyakit ini menyerang beberapa negara produsen udang, seperti Cina, India, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Tapi kita harus tetap hati-hati terhadap ancaman EMS, dengan menyeleksi induk udang yang masuk lewat prosedur balai karantina, menyeleksi probiotik, obat-obatan yang masuk ke Indonesia. Di tingkat petani pun harus lebih baik lagi manajemennya, menerapkan prosedur pencatatan asal-usul. Menurut Prof. Hattah kunci keberhasilan yaitu meningkatkan kinerja lingkungan, meningkatkan keunggulan kompetitif, meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, minimalisir biaya operasional, meningkatkan kepercayaan konsumen, meningkatkan akses pada sumber pembiayaan, meningkatkan inovasi, teknologi dan kemitraan.

Penguatan kelompok menurut Prof. Hattah berpengaruh terhadap pencegahan penyakit. Dia sudah mencoba-nya di Kab. Barru, Kab. Pinrang, Kab. Polewali Mandar, dan Kab. Takalar. Menurutnya produksi naik hingga lima kali lipat jika kelompok dikelola secara baik, dimana kelompok yang kuat hanya terserang 10% sedangkan tambak lain atau kawasan terserang hingga 80%. Begitu halnya di Kab. Barru, kelompok yang dikelola dengan baik terserang dari 10 – 60%, sedangkan kawasan terserang 70%.


Read more...

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Kec. Suppa, Kab. Pinrang (Bagian II)

Ir. Taufik Sabir (Pengusaha Hatchery Desa Tasiwali’e, Kec. Suppa)

Tufik merupakan salah seorang pengusaha perbenihan yang berdedikasi di Kec. Suppa. Beliau tidak sekedar menjual benurnya, tapi juga melakukan pendampingan terhadap petani dan kelompok tani, mengajak petani berdiskusi di kolong rumahnya untuk membincangkan permasalahan-permasalahan dalam budidaya udang windu. Dengan gudang pengalamannya sebagai teknisi akuakultur, Taufik merasa yakin dapat memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi petambak. Taufik juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah, pengusaha dan kalangan akademik, lalu mengajak mereka untuk turut berkontribusi dalam penelitian, pelatihan dan pemberian bantuan kepada pembudidaya-pembudiaya di Kec. Suppa, Kab. Pinrang.

Taufik membawakan materi budidaya udang windu dengan menggunakan pakan alami. Sebelumnya Taufik bersama Prof. Hatta Fattah telah melakukan penelitian pemanfaatan Phronima suppa sebagai pakan alami untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh udang.



Beliau mengantarnya dengan mengatakan bahwa produktivitas budidaya udang windu Kab. Pinrang ditentukan oleh kemampuannya untuk memproduksi benih. Luasan tambak sekitar 15.000 Ha, namun produksi benur di Pinrang tidak mencukupi kebutuhan benur pada setiap tambak yang memerlukan rata-rata 10.000 – 20.000 benur persiklus. Hal ini menyebabkan banyak lahan tidak produktif karena tidak memperoleh benur. Selain itu, kualitas benur juga terkadang memprihatinkan, karena masih ada hatchery yang menjual benurnya pada umur PL 7 – 8, yang jika ditinjau daya tahan tubuhnya masih rentan. Jika PL sudah di atas 10 maka secara morfologi alat-alat tubuh sudah lengkap, dan benur sudah mampu beradaptasi di habitat baru.

Setelah membahas tentang perbenihan, Taufik melangkah untuk menjelaskan tentang Phronima suppa sebagai pakan alami udang. Pemeliharaan udang dengan Phronima suppa tidak berbeda jauh dengan pemeliharaan udang windu pada umumnya, hanya ditambah satu fase setelah penebaran pupuk, yaitu penebaran benih Phronima suppa sebanyak 4 – 5 liter, baru setelah itu dilakukan penebaran benur.

Sebelum penebaran Phronima suppa di tambak pemeliharaan, terlebih dahulu dilakukan kultur Phronima suppa di tambak terpisah. Tahapan-tahapannya, yaitu : (1) Persiapan lahan, (2) Pengapuran, (3) Pupuk dasar > urea, tsp, za, dedak fermentasi, (4) Pengisian air setengah, (5) Saphonin, (6) Pengisian air full, (7) Pupuk susulan > urea, za, tsp, ursal, fores, dedak fermentasi, (8) Penebaran benih phronima suppa 4 – 5 liter, (9) Pupuk susulan, (10) Panen phronima suppa.

Phronima suppa tersebut dapat digunakan secara bersama atau berkelompok. Menurut pengalaman Taufik, dengan pemberian Phronima suppa, petambak dapat panen dengan umur pemeliharaan hanya 1,5 bulan. Kandungan gizi Phronima suppa belum diteliti lebih jauh, tapi menurut Prof. Hattah, pakan ini dapat pula menggantikan posisi artemia sebagai pakan utama dalam pemeliharaan benur di hatchery.

Tampak hasilnya sekitar 107  - 291 kilogram pada tambak 1 ha, terdapat pula hasil 141 – 163 pada lahan 0,5 Ha. Mulanya pakan ini hanya dimanfaatkan oleh satu dua petambak saja, yang kebetulan di tambaknya tiba-tiba berkembang crustacea baru yang belum dikenal, tapi dapat menyebabkan udang cepat tumbuh dan sehat. Kemudian informasi tentang crustacea yang mirip artemia itu bocor dan diketahui oleh petambak-petambak lainnya. Kemudian, Taufik bersama Abdul Salam Atjo yang merupakan penyuluh perikanan di desa tersebut membantu menyebarkan informasi tersebut ke pemerintah setempat serta ke publik pada umumnya melalui reportasi di majalah dan koran.

Selain itu, hasil analisa usaha penggunaan Phronima suppa juga tetap menghasilkan keuntungan sebesar Rp.10.237.850/siklus untuk satu hektar tambak. Walau terdapat biaya untuk kultur Phronima sebesar Rp.2.710.300. Dimana kultur Phronima juga membutuhkan bahan-bahan yang sama dengan pemeliharaan udang windu, tapi dengan kadar yang sedikit berbeda, seperti penggunaan saponin 500 kg, dolomit 50 kg, dedak halus 300 kg, pupuk urea 150 kg, pupuk SP36 : 150 kg, pupuk Za 150 kg, pupuk cair ursal 5 botol, pupuk cair fores 5 botol, ragi sebanyak 68 biji.

Diharapkan dengan penjelasan kembali tentang Phronima suppa ini, petambak yang belum menerapkan metode ini dapat belajar dengan cepat dan turut menerapkan pemanfaatan pakan alami tersebut, agar produksi tambak meningkat dan terjadi peningkatan ekonomi masyarakat petambak.


Prof. Hattah Fattah, MSi (Akademisi Universitas Muslim Indonesia)

Prof. Hatta Fattah sejak 2006 aktif melakukan penelitian dan koordinasi untuk pemberdayaan masyarakat petambak di Kab. Pinrang, khususnya pada kawasan minapolitan Perikanan Lowita (Lotangsalo, Wiringtasi, dan Tasiwali’e). Prof Hattah membantu Pemda Kab. Pinrang untuk merumuskan kebijakan yang terkait perbaikan kawasan perikanan di Pinrang. Bentuk keterlibatannya yaitu dengan menjadi tim perumus Badan Koordinasi Pengelolaan Kawasan Minapolitan Perikanan, koordinator KIMBIS (Klinik Iptek Mina Bisnis) yang telah berkontribusi dalam membantu para petambak untuk mengembangkan minat bisnis di Suppa. Selain itu, Prof. Hatta mengembangkan penelitian terkait morfologi Phronima suppa dan peran Phronima suppa terhadap pertumbuhan dan daya tahan tubuh udang windu.



Pada sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu itu Prof. Hatta membawakan presentasi tentang “Penerapan Kluster Udang Windu Berskala Industri di Kab. Pinrang”. Menurutnya, pembudidaya dalam satu kawasan harus diorganisir dengan baik, baik dari segi bantuan sarana prasarana, bantuan bibit, pakan, dan perlengkapan, maupun sektor pendidikan, kependudukan, dan sosial. Kawasan perikanan budidaya di Pinrang tersebut merupakan sentral produksi udang terbesar, memberi kontribusik ke Kab. Pinrang, dimana Pinrang merupakan salah satu daerah produksi udang terbesar di Indonesia.

Namun, potensi produksi dan sumberdaya di Pinrang yang besar masih belum didukung oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dimana Angka Putus Sekolah pada jenjang Sekolah Dasar (SD) pada wilayah pesisir sebesar 22,89% dan mayoritas usia sekolah SD sebesar 51.292 jiwa. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk ini berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan jangkauan pemecahan masalah yang mereka hadapi, serta kemungkinan untuk penerimaan gagasan dan ide baru.
Selain itu, menurut Prof. Hatta, persoalan kawasan budidaya antara lain, (1) usaha budidaya udang windu masih dikelola dalam skala kecil atau subsisten tradisional dan parsial. (2) Pola pengembangan berbasis sentra belum berhasil meningkatkan kinerja dan produktivitas kawasan. Ini masih menjadi pertanyaan sulit bagi Prof. Hatta, kira-kira apa yang menyebabkan produktivitas kawasan belum bisa dipacu? Sehingga menurutnya pendekatan yang harus dilakukan pada kawasan budidaya yaitu pendekatan klusterisasi an pendekatan partisipatif. Salah satu hal yang bisa dikembangkan di Suppa yaitu Phronima suppa, terdapat pula cacing laut untuk pakan induk, pakan buatan, kemudian induk lokal di Bianga Karaeng. Kita pun dapat melakukan pengembangan Desa Binaan yang dapat dilakukan oleh universitas, lalu integarsi program-program pemerintah, sepert program KIMBIS dan PNPM.

Prof. Hatta telah merancang kluster pengembangan budidaya udang windu di Suppa, dimana pembenihan hatchery difokuskan di Desa Wiringtasi, usaha pentokolan udang windu ditempatkan di Desa Tasiwali’e, kemudian pembesaran di Wiringtasi dan Tasiwali’e, kemudian akan dilakukan pengembangan pasar baik di dalam Kab. Pinrang, maupun di luar Pinrang.

Target keluaran pada tabel di atas dilakukan secara bertahap, dan dikuatkan dengan pembentukan badan koordinasi dengan berbagai stakeholder yang terkait untuk pengembangan kawasan Minapolitan LOWITA (Lotangsalo, Wiringtasi, Tasiwali’e). Target-target di atas akan dibincangkan secara komprehensif untuk pembagian peran sesuai dengan kemampuan dan kepentingan masing-masing. Pemda Pinrang atas inisiasi Prof. Hattah Fattah telah melakukan pertemuan dengan para stakeholder untuk membincangkan posisi dan peran masing-masing.


Wahju Subachri (Aquaculture Staff WWF-INDONESIA)

Wahju merupakan staff akuakultur yang bertugas di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Wahju telah melakukan beberapa kali pelatihan kepada penyuluh dan petambak di daerah Aceh, serta pendampingan pada kelompok ikan nila di Danau Toba. Beliau datang ke Sulawesi Selatan, khususnya Kab. Pinrang untuk mensosialisasikan BMP Budidaya Udang Windu WWF-INDONESIA.
Pemaparan Wahju berangkat dari aspek-aspek penting dalam budidaya udang, yaitu (1) lingkaran teknis operasional dalam budidaya udang windu : persiapan lahan dan air, pemilihan benur, pemilaharaan kualitas air, pengendalian penyakit dan panen. (2) Pembukaan lahan tambak baru harus berkonsultasi dengan instansi terkait (DKP, Badan Pembangunan dan Perencanaan Daerah, Dinas Lingkungan Hidup). Contoh kasus di Kalimantan Timur, sebagian wilayah tambak berada dalam kawasan hutan produksi atau Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). (3) Memiliki kepemilikan tanah yang jelas (tertulis) serta ijin usaha yang sesuai aturan. (4) Padat tebar rendah, yaitu 3 – 4 ekor/m2 dengan luasan tambak maksimal 1 ha. Bibit berasal dari hatchery atau pendederan yang dikelola dengan baik. (4) Berdasarkan RAMSAR bila lahan di buka sebelum Mei 1999, diwajibkan mengembalikan kawasan mangrove. Sedangkan pembukaan lahandi atas tahun tersebut tidak dapat disertifikasi.



Menurut Wahju, sebagai produk ekspor unggulan, udang Indonesia harus mengikuti persyaratan-persyaratan yang sudah dibangun di tingkat internasional. Diantaranya bahwa produk udang Indonesia harus peduli terhadap lingkungan. Dahulu sempat ada isu larangan untuk mengkonsumsi udang yang berasal dari Indonesia, karena petambak di Indonesia telah menghancurkan mangrove. Dengan mengembalikan mangrove sebesar 50 persen, hal itu sudah menjadi jaminan bahwa petambak Indonesia masih peduli terhadap lingkungan.

BMP Budidaya Udang Windu juga sangat menekankan pembentukan kelompok dalam satu kawasan, dimana berasal dari satu aliran sungai yang sama. Kemudian dalam kelompok tersebut terdapat pertemuan rutin untuk mendiskusikan kegiatan tambak, masalah dan solusinya. Kelompok tersebut juga berguna perencanaan budidaya dan dalam koordinasi penebaran serentak untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang akut.

Wahju kemudian menjelaskan tahapan-tahapan budidaya udang windu yang baik. Tahapan pertama yaitu persiapan tambak, dimana petambak harus memperhatikan konstruksi tambak, bagian pematang dan pintu air, diperbaiki dan ditinggikan serta dijaga agar tidak bocor. Selain itu, kedalaman caren kurang lebih 1 m dan pelataran 0,7 m. Terlalu dangkal akan menyulitkan udang karena meningkatnya suhu, sehingga perlu penggalian untuk penyesuaian kedalaman.  Lalu sebaiknya terdapat saluran inlet dan outlet yang terpisah, untuk mengantisipasi kontaminasi dan penyebaran pencemaran.

Tahap berikutnya, pengeringan tambak. Memastikan dasar tambak tidak tergenang air, sinar matahari langsung dapat mengurangi/mematikan bakteri/virus yang ada di dasar tambak. Menghindari penggunaan tanah sulfat masam. Kemudian, pengapuran dilakukan sesuai dengan prosedur dan nilai pH tanah, sebaiknya menggunakan kapur dolomit, karena dolomit juga dapat menumbuhkan pakan alami. Kemudian dilanjutkan dengan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik. Pemupukan organik pada tanah dengan dosis 500 kg/ha dapat memperbaiki tekstur tanah dan membantu dalam proses penyediaan pakan alami dalam tambak. sedangkan pupuk anorganik dengan dosis 20 kg/ha, SP-36 dengan dosis 10 – 15 kg/ha, NPK dengan dosis 15 kg/ha dapat menumbuhkan pakan alami.

Pengisian air melalui pintu air, terdapat saringan air sebanyak dua buah untuk mencegah masuknya ikan-ikan liar. Pemberian saponin pada saat hari cerah untuk memberantas ikan yang masih terdapat dalam tanah. Tidak menggunakan pestida dalam memberantas hama, pestisida dapat membunuh pakan alami udang pada dasar dan kolom air, membunuh mikroba tanah sehingga kualitas tanah memburuk, udang kesulitan tumbuh dan keracunan.



Setelah itu, Wahju menjelaskan tentang asal usul dan ciri-ciri benur yang baik. Benur diperoleh dari hatchery atau gelondongan yang dikelola dengan baik, kemudian memilih benur yang memenuhi kriteria, dan lakukan pencatatan pembelian benur dan dokumen asal-usul induk. Petambak pun harus mengetahui ciri-ciri benur yang baik, yaitu ukuran benur seragam, aktif berenang-bergerak, sensitif terhadap rangsangan, benur berukuran >PL 11/gelondongan, kemudian memastikan hatchery tersebut menerapkan monitoring benur, sehingga benur yang dihasilkan bebas dari virus.  

Dalam melakukan pemanenan benur, sebaiknya dilakukan pagi hari dengan harapan suhu tidak berubah secara signifikan. Kemudian memastikan bahwa jumlah bibit udang dalam kantong sesuai dengan ukuran dan jumlah oksigen untuk menghindari udang stress dalam perjalanan. Lalu usahakan menurunkan suhu air dalam kantong menjadi 24oC jika jarak tempuh bibit lebih dari 3 jam, agar benur tidak aktif. Ketika mengangkut benur, sebaiknya petambak memastikan bahwa alat transportasi bersih dan bebas dari bahan kimia berbahaya, kemudian setelah tiba langsung dilakukan aklimatisasi terhadap benur tersebut. Aklimatisasi dalam penebaran dilakukan dengan hati-hati karena udang mudah stress pada lingkungan baru, kemudian perlu diperhatikan bahwa air tambak sudah ditumbuhi plankton, yang ditandai dengan warna hijau cerah di tambak. benur ditebar di pagi atau sore hari, ketika suhu udara masih dingin. Dan yang terakhir yang penting juga, yaitu dalam setiap proses diharapkan selalu ada catatan, seperti tempat pembelian benur, jumlah benur, umur PL, kadar salinitas, dll.      

Pada sosialisasi tersebut, peserta yang hadir rata-rata adalah petambak tradisional, yang dalam penggunaan pakannya tidak terlalu banyak, dan dikondisikan dengan jumlah benur yang ditebar. Meski demikian, Wahju ikut menjelaskan tentang pakan dan tata cara penggunaannya, agar petambak bertambah pemahamannya tentang pakan. Menurut BMP Budidaya Udang Windu, benur sebaiknya diberi pakan sejak sehari setelah penebaran pakan, sebagai adaptasi dan kelanjutan pemberian pakan sejak di hatchery. Kemudian pakan yang digunakan adalah pakan yang kandungan gizi lengkap, dan sumber proteinnya berasal dari perikanan yang ramah lingkungan.  

Wahju menganjurkan bahwa bila pakan alami cukup dan udang tidak mengkonsumsi pakan di anco, maka pemberian pakan dapat dihentikan atau diberi perhari hanya 1 kg, dengan tetap memantau kondisi ususnya. Bila usus mulai terlihat putus-putus, segera diberi pakan tambahan dengan memperhitungkan biomas dan dikalikan dengan %FR 3-8 persen. Selain itu, petambak tetap memperhatikan kondisi dan warna air, ketika ari telah berubah menjadi kuning, segeralah untuk mengganti air atau diberi pupuk untuk mengembalikan warna air menjadi warna hijau.

Setelah pakan, Wahju menjelaskan isi BMP terkait pengelolaan air selama pemeliharaan. Dalam penggantian air, sebaiknya dilakukan pada saat pasang tertinggi (purnama). Kemudian pada 2 – 3 minggu pertama setelah penebaran, pergantian air dilakukan dalam jumlah kecil, yaitu 10%. Setelah itu, penggantian sudah lebih banyak, dapat 30 – 80% dan disesuaikan dengan periode air pasang tinggi. Pada kawasan yang rawan penyakit, sebaiknya tidak telalu sering menambah air untuk antisipasi tidak tersebarnya penyakit ke perairan tambak. Sedangkan air yang sudah terserang penyakit, dilarang untuk membuang sembarangan, sebaiknya dilakukan perendaman dan strelisasi air untuk membunuh sumber-sumber penyakit. untuk itu, sebaiknya petambak selalu melakukan pengecekan dan pentatan kondisi air secara berkala, serta melibatkan pihak-pihak tertentu, seperti penyuluh untuk membantu uji kualitas air di lapangan maupun di laboratorium. Jika ditemukan permasalahan segera mengambil tindakan, baik dengan membuang air di permukaan, pemberian probiotik, atau pemupukan, selain itu, memastikan ketinggian air tambak minimal 1 m.  

Hal yang penting dalam pemeliharaan tambak yaitu pengendalian penyakit, dimana tidak memasukkan air ke dalam kolam apabila air di pengairan terserang penyakit. begitu halnya ketika udang yang dipelihara terkena virus, petambak dilarang untuk membuang air tambaknya ke perairan terbuka. Air dibiarkan dalam tambak selama sebulan untuk menentralisir air dari penyakit dan pemanenan dilakukan dengan menggunakan jala.   

Bagian terakhir dalam penjelasan Wahju Subachri yaitu panen dan pascapanen. Dimana panen dilakukan pada pagi hingga selasai, baik dilakukan pada saat kondisi hari yang teduh. Mempersiapkan tenaga (tim panen), peralatan dan bahan seperti air dan es yang cukup. Melakukan pemanenan dengan hati-hati, agar tidak tidak ada udang yang lepas, dapat menggunakan jala untuk menjaring udang dalam tambak dan memasang jaring di pintu air untuk menampung udang yang terbawa air. Setelah panen, dilakukan pencucian dan pemberian es untuk mempertahankan kualitas udang dan langsung dibawa ke pengepul atau pengepul yang mengambil langsung ke petambak dengan membawa kontainer atau mobil truk yang bersih dan terdapat cool box di dalamnya.

Hal berikutnya yang harus petambak perhatikan yaitu pencatatan dan pemeliharaan lingkungan. Pencatatan dilakukan sebagai bukti dan bahan pembelajaran (lesson learning) petambak untuk melakukan perbaikan pada siklus-siklus berikutnya. Sedangkan pemeliharaan lingkungan, dilakukan dengan memelihara ekosistem mangrove yang masih ada di lokasi sekitar tambak serta pinggiran sungai dan pantai. Petambak juga diharapkan untuk memastikan bahwa hutan mangrove di pantai memiliki lebar minimal 150 meter dan di sepanjang sungai minimal 50 meter dari lokasi tambak. kemudian ada upaya petambak untuk menanam mangrove di pematang dan saluran iar tambak.

Pembelajaran
Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Desa Wiringtasi, Kec. Suppa tersebut tak dapat terlaksana dengan baik jika WWF-ID tidak memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh dan masyarakat lokal, serta keterlibatan aktif penyuluh dan staff DKP Kab. Pinrang. Selain itu, melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan ternyata cukup efektif untuk meningkatkan semangat mereka untuk terlibat pada saat pelatihan.   



Penutup
Sosialisasi pun berakhir pada pukul 16.30 Wita, setelah Wahju Subachri memaparkan penjelasan tentang isi dari BMP Budidaya Udang Windu. Semoga sosialisasi ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman petambak dan penyuluh perikanan tentang cara budidaya udang windu yang baik. Setelah sosialisasi ini akan dilanjutkan dengan pelatihan budidaya udang windu dengan melibatkan beberapa petambak terpilih, yang diharapkan para peserta pelatihan tersebut dapat menerapkan BMP Budidaya Udang Windu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Seafood Saver Officer for Aquaculture
WWF-INDONESIA
Idham Malik

Read more...

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Kec. Suppa, Kab. Pinrang (Bagian I)

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu pada tanggal 18 Maret 2014 berjalan lancar. Dengan dihadiri sekitar 60 peserta yang terdiri atas 40-an petambak dan 15 staff DKP Pinrang. Daftar Hadir : 43 (Petambak), 12 Penyuluh Perikanan, 3 Staff DKP, 1 akademisi (Prof Hatta Fattah), 1 (Pengusaha hatchery). Total sebesar 60 orang. Kegiatan dilaksanakan di halaman rumah Puang Raja (Ketua Kelompok Tani) yang dapat menampung peserta hingga 60 orang lebih.

Besar harapan bahwa materi-materi yang disajikan oleh para pemateri dapat dipahami oleh para peserta. Pemateri terdiri dari WWF-INDONESIA, perwakilan pemerintah, perwakilan pengusaha dan pemberdaya masyarakat, serta perwakilan akademisi. Materi-materi dipaparkan dengan bahasa sederhana dan ada pemateri yang menggunakan istilah-istilah lokal. Sedangkan materi dari dari WWF-INDONESIA banyak berangkat dari pengalaman-pengalaman WWF-INDONESIA di wilayah dampingan di Tarakan, Kalimantan Timur dan Blangmangat, Lhokseumawe, Prov. NAD (Nangroeh Aceh Darussalam).    


Candhika Yusuf (Koordinator Aquaculture WWF-INDONESIA)

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu dimulai dengan sambutan Candhika Yusuf, Koordinator Akuakultur WWF-INDONESIA. Candhika menjelaskan tentang sejarah WWF di Indonesia, program dan strategi Bidang Akuakultur WWF-INDONESIA untuk budidaya perairan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Aktivitas budidaya perairan itu sendiri masih menyisahkan beragam persoalan, diantaranya penebangan mangrove, pencemaran perairan, penggunaan bahan-bahan berbahaya, biosecurity, pencemaran genetik, dan persoalan sosial/konflik. 



Candhika menjelaskan bahwa pada tahun 1960 dan 1961, WWF Internasional memulai program konservasinya untuk penyelamatan Panda di China, yang jumlahnya semakin berkurang akibat penangkapan. Kemudian pada 1961, WWF mulai masuk ke Indonesia dengan bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk misi penyelamatan badak cula 1 di Ujung Kulon, Provinsi Banten. Berkat kerjasama tersebut, populasi badak meningkat, perburuan badak mulai dihentikan dan badak dapat normal kembali beranak pinak.

Candhika menguraikan kerangka perbaikan lingkungan, yang dimulai dengan pembuatan panduan BMP(Better Management Practice) yang melibatkan banyak pihak di berberapa daerah di Indonesia. Panduan tersebut mengacu pada standar operasional budidaya berskala internasional, yaitu Aquaculture Stewardship Council (ASC), yang mempunyai misi untuk mendorong tersedianya produk perikanan budidaya yang bertanggungjawab melalui mekanisme sertifikasi pihak ketiga. ASC mengakomodir empat aspek dalam pengelolaan perikanan, yaitu aspek legalitas dan rancangan tata wilayah, pengelolaan lingkungan, teknis, dan sosial. Standar ASC diperoleh dari hasil Aquaculture Dialogue yang diprakarsai oleh jejaring kerja WWF, melibatkan ribuan kalangan, baik dari kalangan pembudidaya, industri, LSM, pemerintah, pasar, dan akademisi dari seluruh dunia. Pada saat ini telah ada panduan BMP WWF Indonesia untuk budidaya Udang Windu Sistem Tradisional, Penyakit Udang, budidaya Ikan Nila, Budidaya Ikan Kerapu, serta yang akan dicetak yaitu BMP Budidaya Udang Vannamei, Budidaya Ikan Bandeng, Budidaya Rumput laut Cottoni dan Gracillaria, BMP Budidaya Kakap Putih, dan Budidaya Kerang Hijau.

BMP menjadi alat atau panduan pembudidaya dalam perbaikan tambaknya, sehingga memenuhi kriteria legalitas, pengelolaan lingkungan, teknis dan sosial tersebut. Pemenuhan poin-poin dalam BMP tersebut akan dapat tercapai jika setiap stakeholder mengambil peran di dalamnya, DKP mengambil peran dalam perbaikan sarana-sarana irigasi dan pemantauan, penyuluh memberikan masukan-masukan dan mengajak pembudidaya untuk mendiskusikan bersama permasalahan dan memecahkannya secara bersama pula melalui mekanisme kelompok. Perusahaan dan industri membantu untuk menyediakan bibit udang yang berkualitas, pakan, pupuk, kapur, pestisida alami, serta segala kebutuhan petambak dengan mempertimbangkan kualitas barang tersebut. Sedangkan LSM dan kelompok masyarakat membantu untuk pendampingan, konsultasi dan menghubungkan para pembudidaya dengan pihak-pihak yang dapat membantu pembenahan usaha perikanannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk mencapai budidaya perairan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan tersebut, dibutuhkan kerjasama dengan semua stakeholder yang terkait.


Ir. Nurdin (Kepala Bidang Budidaya DKP Kab. Pinrang)

Ir. Nurdin dalam sosialisasi BMP membawakan materi tentang CBIB. Sengaja kita ajak DKP dalam hal ini Ir. Nurdin untuk mengulang kembali materi CBIB kepada petambak, agar petambak lebih paham tentang poin-poin yang harus dipenuhi untuk memperoleh sertifikat CBIB, yang sebenarnya bertujuan untuk perbaikan usaha budidaya perairan pada tambak tersebut. Program Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk di dalamnya pengembangan CBIB dan CPIB sudah berjalan selama empat (4) tahun. Saat ini sudah 190 tambak yang telah memperoleh status CBIB.    

Nurdin memulai dengan menurunnya produksi udang windu Kab. Pinrang dalam beberapa tahun terakhir, dimana usaha budidaya udang windu berkembang pada 1980-an dan maju pada 1990-an. Sehingga CBIB bertujuan membantu untuk mengembalikan kejayaan udang windu serta mewujudkan jaminan mutu dan keamanan pangan. Sertifikasi CBIB hendak melakukan pengendalian kegiatan budidaya sejak dari persiapan, pengelolaan air, proses produksi hingga pasca panen. Hal ini pada dasarnya sudah diketahui oleh para petambak, namun petambak perlu didampingi, untuk itu CBIB sebagai panduan strategis para penyuluh untuk mendampingi, memantau, dan mengevaluasi proses budidaya yang diterapkan para petambak.


Ir. Nurdin memaparkan prinsip-prinsip yang mendasari sertifikasi CBIB. (1) Biosecurity (keamanan biologi), yaitu mengurangi peluang masuknya sumber penyakit ke sistem budidaya serta mencegah penyebarannya dari satu tempat ke tempat lain. Tentang penyebaran penyakit, Ir. Nurdin masih menyesalkan karena petambak masih sulit mengkomunikasikan ke petambak lain bahwa tambak miliknya terserang penyakit. Sehingga upaya pencegahan penyakit untuk masuk ke sistem budidaya biasanya terlambat ditangani. (2) Food Safety (Keamanan pangan), lebih pada adanya jaminan bahwa produk pangan aman dikonsumsi. (3) Ramah terhadap lingkungan, pengelolaan lingkungan sekitar dan antisipasi terhadap pencemaran.

Pembudidaya pun diharuskan melindungi produk budidaya dari bahan-bahan pencemar, dalam aktivitas budidaya, pemanenan, dan pengangkutan. Diantara kontaminan yang membahayakan keamanan pangan, yaitu logam berat (Hg, Cd, Pb), organochlorin (pestisida), antibiotika (Chlorampenicol, Nitrofuran, dll), biologi-mikroorganisme berupa Salmonella, Cholera, dll. Dan fisik seperti serpihan kayu, logam dan rambut.

Beberapa poin-poin yang ditetapkan dalam CBIB, seperti lokasi yang bebas dari pencemaran air dan udara, suplai air tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan pangan. Upaya untuk membenahi sistem irigasi pernah digagas Pemda Pinrang pada 1990-an, namun karena tidak adanya kemauan dari petambak untuk menyisihkan sebahagian tanahnya untuk pembuatan irigasi pembuangan, sehingga rencana kawasan tambak yang terdiri atas atas dua saluran air (irigasi) tidak terwujud. Kemudian tentang tempat penyimpanan pakan, obat-obatan dan perlengkapan budidaya ditempatkan pada lokasi yang bersih dan tidak tercemar. Persiapan tambak dilakukan untuk menjamin keamanan pangan dari organisme-organisme penyebar penyakit dan bahan-bahan yang membayakan. Persiapan wadah yang baik akan meminimalisir penggunaan obat-obatan dan efisiensi biaya. Pengelolaan air dilakukan untuk menjamin kualitas air yang baik untuk pertumbuhan organisme budidaya. Sebaiknya juga dalam pemasukan air menggunakan sistem dua saringan untuk mencegah masuknya organisme pembawa patogen.

Benih terbebas dari penggunaan obat kimia yang membahayakan konsumen. Sedangkan obat antibakteri pada saat dewasa harus diminimalisir, CBIB menekankan pada tindakan preventif dengan memperbaiki kualitas lahan dan air pada saat persiapan dan pengelolaan air. Begitu halnya dengan pakan, bahan bakunya tidak menggunakan pestisida, bahan kimia, logam berat dan kontaminan lain yang dilarang.  

Pada saat panen, menggunakan air bersih untuk membersihkan udang. begitu halnya dalam penggunaan es saat panen. Es berasal dari pabrik yang diakui sebagai penyalur es dan memenuhi tandar seperti air minum. Pada saat panen juga diupayakan dengan memerhatikan suhu, sebab kenaikan suhu dapat menyebabkan penurunan suhu produk. Serta memperhatikan teknik panen untuk mencegah terjadinya luka pada tubuh udang. Luka dapat menyebabkan kontaminasi yang dapat menurunkan kualitas udang. peralatan yang digunakan dalam panen juga harus bebas dari kontaminasi bakteri dan mudah dibersihkan. Kegiatan setelan panen, seperti sortasi, penimbangan, pencucian, pengeringan, harus dilakukan dengan cepat, higienis dan tanpa merusak produk. Demikian juga dalam pengangkutan produk, diusahakan agar segala peralatan terjaga kebersihannya, seperti boks dan wadah. Limbah setelah panen sebaiknya dibersihkan, udang yang mati dikubur dan tidak ada tumpahan minyak, dll.

Hal utama dalam poin CBIB yaitu mekanisme pencatatan, sehingga petani diharapkan dapat mencatat proses produksi sejak persiapan lahan, pemasukan air, pengukuran kualitas air, penebaran benih, pemberian pakan, panen dan pasca panen. Hal ini bertujuan untuk melacak titik-titik kelemahan saat proses produksi dan juga sebagai bahan pelajaran untuk memperbaiki kualitas lahan dan budidaya pada siklus berikutnya.


Untuk para pekerja, dalam CBIB, para pekerja menerima pelatihan tentang sanitasi dan keamanan pangan serta mengajak pekerja dan pembudidaya untuk memperhatikan kebersihan dan kesehatan pembudidaya, untuk mencegah penularan penyakit pada udang.Prosedur penerbitan: Unit usaha pembesaran ikan mengajukan permohonan sertifikat CBIB ke Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dengan rekomendasi DKP Provinsi dan dilengkapi dokumen: (1) Foto Copy izin usaha perikanan (IUP) bagi unit usaha berbadan hukum atau surat keterangan budidaya bagi  kelompok pembudidaya ikan. (2) Data umum unit usaha pembesaran ikan. (3) Daftar fasilitas dan standar prosedur operasional unit pembesaran ikan. (4) Jumlah dan pendidikan tenaga kerja  unit pembesaran ikan. (5) Pencatatan/rekaman unit pembesaran ikan. (6) Struktur organisasi dan uraian tugas. (7) Gambar layout bangunan dan petakan unit pembesaran ikan. Berdasarkan pengalaman Ir. Nurdin, prosedur di atas biasanya tidak dijalankan. Hal tersebut medorong pihak dinas untuk berinisiatif mendatangi pembudidaya yang sudah memenuhi syarat-syarat sertifikasi, kemudian diusulkan ke provinsi hingga ke kementerian. Kementerian nantinya yang akan menurunkan tim ahli untuk melakukan pengujian.

Read more...

Selasa, 26 Agustus 2014

Ke Rammang – Rammang

Tebing dan deretan bukit itu, dengan hamparan sawah menghijau itu, sebenarnya sudah lama terdengar kemahsyurannya. Ya, Rammang – rammang pun merupakan tempat suaka yang cukup diminati oleh kawan-kawan saya, kawan yang saya kenal berwatak bebas, tak senang otoritas, sukanya hal baru dan jalan-jalan. Informasi dan bisik-bisik tentang Rammang-rammang seperti berlalu lintas, beberapa kali saya diajak, tapi saya tidak sempat dan kadang juga saya tidak mau. Saya berfikir, Rammang-Rammang sama saja dengan pemandangan yang hampir tiap hari saya lihat di Maros, yaitu bukit-bukit, deretean tebing.

Pada Sabtu, 23 Agustus 2014, saya kembali diajak oleh junior-junior di koran kampus-identitas Unhas untuk mengunjungi Rammang-Rammang. Pada hari itu, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya kerjakan atau ingin saya pelajari, tapi karena seliweran informasi sebelumnya yang menggiur, maka saya pun dengan sedikit enggan mengiyakan. Tapi, motivasi mendasar saya adalah untuk memperlebar penghayatan saya terhadap alam, yang sebelumnya telah saya pupuk pelan-pelan ketika berjalan-jalan di kampus Unhas, saban pagi.

Berangkatlah kami bertujuh, saya, Ria, Fadli, Heri, Latif, Diana, dan menyusul Eca yang berangkat dari rumahnya di Sudiang. Kami menempuh sekitar lebih dari 30 kilometer dari Tamalanrea ke Maros Utara, tepatnya pada jalur masuk ke lokasi eksplorasi Semen Bosowa. Tak jauh dari jalur masuk Bosowa, kami berhenti di dekat jembatan dan melihat sungai dangkal yang terdapat batu besar. Batu itu bukanlah batu sungai, tapi merupakan bagian dari batu tebing, yang mungkin dahulu terlempar oleh letusan gunung, ataukah terderet arus kencang pada saat sebagian besar daratan Maros terendam air pada masa pencairan es (glasial), ataukah batu-batu itu telah terkikis oleh masa dan air, dan yang tersisa hanya potongan-potongan kecil, yang jika dibandingkan dengan tebing-tebing kars itu.



Kami bertujuh sepakat untuk menyewa perahu jolloro, untuk mengantar kami menuju lebih dekat ke deretan tebing. Kami pun dengan girang masuk dan duduk di atas perahu, ponsel kami lebih sibuk dibandingkan kami-nya sendiri, hahaha.. Latif mengabadikan-merekam perjalanan dari depan, ria sibuk meminta Heri untuk memotret dirinya yang lagi duduk manis di pangkal perahu, Eca yang badannya agak bongsor itu bergerak-gerak sesuai arah kameranya dan membuat perahu bergoyang, pada perjalanan itu, saya pun sesekali berdiri di atas perahu, melihat lebih tinggi pada tebing-tebing itu, gua-gua yang hitam dan misterius, serta deretan nipa dan bakau di sisi kiri-kanan sungai.



Saya membayangkan sungai itu, bagaimanakah dahulu sungai ini, sejak kapan sungai ini terbentuk? Dari yang saya dengar dari pakar kars, mengatakan bahwa gunung kars yang strukturnya berupa batu kapur itu punya kemampuan untuk menyimpan air. Sehingga, saat hujan turun di atas pegunungan kars, bulir-bulir airnya meresap masuk melalui pori-pori gunung, entah itu telah dilapisi tanah atau masih berupa padatan batu keras nan berlubang. Air bergerak melalui cela-cela dalam gunung, hingga tiba di telaga ataukah tertampung pada suatu tempat di dalam gunung itu sendiri, yang mungkin kita akan temukan ketika kita mencoba menelusuri gua-guanya. Saya yakin, sungai ini, yang airnya tampak abadi ini, juga bersumber dari mata air yang keluar dari gunung.

Air yang kami lalui itu, eh, kumpulan H­2O yang kami melaju di atasnya itu, saya jilati dan terasa asin. Tingkat keasinannya sedang atau payau. Berarti cukup kuat air laut masuk ke sungai kecil itu, dan saat itu air sedang surut, jika air pasang dapat dipastikan bahwa kadar garam akan meninggi seiring bertambahnya NaCl yang bergumul dari laut. tapi, orang-orang kimia yang tiba-tiba mereduksi air menjadi H2O itu apakah memikirkan bagaimana kaitan antara struktur dasar air itu, warnanya yang hijau, airnya yang asin, ikan-ikan yang menangkap oksigen atau kita yang awam sebut sebagai udara itu di dalam air? Terus bagaimana perahu kita dapat begitu gampang mengapung dan kita berdelapan dapat dengan aman duduk-duduk di atasnya?

Pertautan-pertautan itu menimbulkan ‘tremendum et fascinosum’, yaitu rasa getar pada misteri, menakutkan dan memesona. Tapi saya tak yakin, kita manusia modern terlalu sibuk mengurus-urusi hal-hal yang partikular. Kita mulai melakukan penyelidikan hingga ke dasar dan misteri itupun tersingkap. Kita pun akhirnya kagum dan puas, setelah itu rasa pesona memudar. Kita tak lagi menaruh rasa hormat pada air sebagai sesuatu yang suci. Kita sejak kecil mulai diperkenalkan oleh guru-guru kimia kita, bahwa air itu adalah H2O.



Dengan jiwa anak-anak saya, dengan jiwa hewaniah saya, mulai mengamat-amati tanah-tanah basah di antara pepohonan nipah (Nypa), mulai melihat-lihat tumbuhan bakau (Rhizophora sp) yang beradaptasi dengan air dan lumpur, dengan akar yang melengkung dan seperti mengangkat tumit, akarnya yang naik itu memiliki kemampuan untuk mengeluarkan garam. Nipa dan bakau, serta sesekali saya melihat pohon api-api (Avicennia) merupakan tumbuhan mangrove sejati, yang relatif terisolasi secara taksonomi dari komunitas daratan. Keberadaan mangrove di sisi-sisi sungai itu, tentunya berperan penting untuk keberlangsungan ekosistem di kawasan estuari tersebut, mangrove menjadi salah satu bagian yang menghidup-hidupi keseluruhan sistem. Pada mangrove-lah hewan-hewan biasa berteduh dan mencari makan, di sini siklus hidup berlangsung, ikan besar memakan ikan kecil, kepiting mencari ikan dan udang, udang mencari plankton, tiram-tiram mencari unsur hara, zooplankton mencari phitoplankton. Dan akar-akar mangrove menstabilkan kualitas air, menetralisir atau menstabilkan bahan-bahan yang berlebihan seperti nitrogen dan phospat, menghasilkan udara yang segar karena mangrove juga bernafas dan mengeluarkan oksigen, menahan lumpur agar tak jauh ke dalam.

Ah, saya tampaknya telah membahas terlalu jauh, tapi saya senang melihat buah bakau yang panjang dan mirip kacang panjang itu bergelantungan di ranting-ranting bakau. Saya pun senang menikmati dan memikirkan kompleksitas ini, kompelksitas antara bebatuan, air, tumbuhan dan hewan-hewan, yang diramu oleh kesadaran manusia yang melihatnya. Manusia yang dalam paradigma ilmu pengetahuan empirik dianggap juga sebagai hewan, hewan yang berfikir, Homo rationale. Tapi bagaimana kah kaitan antar ini semua? Kaitan antar entitas-entitas yang berbeda tingkatan, kualitas atau eksistensinya.

Batu, air, tanah, serta unsur-unsur di dalamnya adalah benda mati atau pelikan, ia sepenuhnya dipengaruhi oleh dunia luar-eksternal. Sehingga sangat determinan atau sesuai dengan hukum kausalitas ilmiah. Batu tak punya daya untuk berkembang, air tak punya daya untuk tumbuh, bergerak sesuai keinginan dari dalam, serta tanah hanyalah kumpulan dan rangkaian unsur-unsur yang saling bertaut, tempat nutrien tempat tumbuhan memperoleh makanan. Sementara tumbuhan, dari dalam dirinya terdapat potensi untuk tumbuh, hingga berbuah, dan buah itu kembali menebar benih baru. Pada tumbuhan terhadap unsur hidup yang tak terjelaskan. Reaksi-reaksi kimia dan fisika tak cukup menjelaskan fenomena pergerakan dan pertambahan ukuran pada tumbuhan. Dimana tumbuhan selalu bergerak mengikuti matahari, walau pergerakannya sangat perlahan dan tentu, metabolisme dalam tubuhnya sangat perlahan.

Bagaimana pula dengan hewan, umur hewan tak selama tumbuhan-tumbuhan kayu itu. Sebab proses-proses dalam tubuh hewan (metabolisme) bergerak demikian cepat. Tapi, pada diri hewan, telah dikaruniai kemampuan untuk bergerak sesuai kehendak dan selera, tapi masih dibatasi oleh naluri memangsa atau menghindari pemangsa. Hewan telah memiliki kesadaran atau kognisi, tapi masih demikian kabur. Mereka sadar bahwa ada organisme atau entitas lain di sekitarnya, melalui persepsinya, perasaan, intuisi dan panca indranya. Namun, hanya sebatas itu saja kesadarannya. Hewan tak pernah berfikir untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan-kebuntuan dan mengatasi problem-problem alam dengan lebih kreatif. Mereka seperti dikaruniai alam untuk mengambil apa saja yang ada di alam. Nah, ketika makanannya sudah tidak ada di alam, atau mereka kesulitan mengikuti tradisi atau kesadaran nalurinya, mereka pun tersingkir dan punah.

Lantas, manusia, menurut E. F. Schumacher, filsuf kontemporer Inggris, manusia adalah kesatuan antara itu semua, di dalam diri manusia, terdapat unsur mati (fisika, kimia-eter), sifat tumbuhan (astral-biologi), sifat hewan (jiwa-cognition), dan kesadaran (ruh-conciousness). Pada manusia terdapat kesadaran akan dirinya, akan potensi dirinya, akan kecemasan-ketakutannya, akan rasa, gairah dan bahagianya. Kesadaran akan sejarah (makna), masa kini (nilai), dan masa depan (maksud). Betul, manusia menempati posisi yang tinggi diantara susunan hirarkit, pelikan, tumbuhan, hewan, manusia. tapi justru karena itulah, maka manusia harus menghormati entitas-entitas lainnya. Manusia harus bersyukur diberkahi oleh sesuatu yang paling halus dari entitas-entitas yang lain (kekuatan di dalam-batin), dan manusia memiliki kemampuan untuk memperkuat potensi batin itu melalui proses belajar (pendidikan), melalui tradisi, budaya, ajaran moral dan agama. Dengan kesadarannya itu, semestinya manusia dapat lebih sadar terhadap lingkungan, sadar bahwa pada masing-masing spesies dan alam memiliki nilai intrinsik dalam dirinya dan diperlakukan dengan sebaik mungkin. Dalam kelembutan manusia, mampu melihat dan menghayati hal-hal yang abstrak dan kasar pada mahluk lain. Sementara mahluk lain hanya dapat mengetahui, tapi tak mampu menghayalkan kita sejauh kita menghayalkan mereka.  

Tampaknya sudah terlalu jauh, pada perjalanan itu, kami singgah dan mendaki - menurun hingga tiba di telaga bidadari. Air jernih dan segar terkumpul pada telaga itu. Peluh kami pun terlepas dan teroksidasi oleh angin. Ada rasa bebas yang kami rasakan. Begitu halnya ketika kami tiba di Desa Berue’, kami dikelilingi bukit, dengan hamparan sawah yang telah panen, dan kolam-kolam yang sedang istirahat memelihara ikan. Tak lama kami di sana, hanya berjalan-jalan di pematang, menghirup udara segar, mengambil gambar dan foto bareng, lalu kami kembali ke perahu.



Di perahu kami berdiam diri, kami tampak merenung-renung, menghayal, sebagian teman tertidur. Dan dalam benak saya terlintas senyumannya. Dan membayangkan dia ada di sampingku, menemaniku ke desa itu, ke telaga itu.

Poncol, Jakarta Selatan
26 Agustus 2014

Idham Malik 

Read more...

Jumat, 22 Agustus 2014

Kampus dan Jalan Pagi

Saya membicarakan kampus kali ini bukan sebagai tempat belajar, tapi sebagai tempat berjalan. Melangkahkan kaki di permukaan tanah, menyapu debu, menginjak rumput-rumput. Kaki melangkah pada jalur-jalur yang mungkin sudah ratusan hingga ribuan kali saya lewati, dahulu. Jalur-jalur itu pun sedikit menyimpan kenangan, akan ketergesaan, akan keinginan untuk segera tiba di tujuan. Tapi, pada jalan-jalan belakangan ini, saya tidak ingin cepat-cepat sampai, saya justru ingin sampai pada setiap langkah, pada ketika mata terpesona pada objek daun, bunga, batang pohon, rerumputan, dan ketika telinga sedang asyik mendengar desir-desir, gemericik-gemericik, kicau-kicau burung, dan mungkin, kepakan-kepakan sayap kupu-kupu.   

Saya memulainya bukan pada pagi betul, tapi ketika matahari menghangatkan bumi dengan sudutnya yang lancip. Udara saya hirup dalam dan menghembusnya perlahan, ku lihat juga beberapa manusia kampus dengan baju seragam orange, yang semenjak awal pagi menata dan merapikan tumbuhan, mengangkut-angkut sampah, menggeser-geser daun-daun yang lepas dan terjatuh dari pohon. Saya mengamati mereka dan mereka seakan-akan tak mengamati saya. Mereka mungkin mengamati orang lewat, orang yang sebentar lagi akan berlalu lalang, begitu banyak.

Saya pun terus melangkahkan kaki, mengaktifkan kamera dan mengambil beberapa gambar, gambar rumput, gambar taman dan kebun, gambar pohon-pohon, gambar deretan pohon, gambar bunga, daun-daun merambat. Sehari saja saya konsentrasi mengambil gambar, hari-hari berikutnya, gambar-gambar itu hanya saya rekam di dalam ingatan, dimana ketika saya menghirup nafas, gambar-gambar itu hadir dan menghiasi mata. Sayangnya, pada hari-hariku yang telah lewat itu, saya belum sempat menanyakan pada orang yang tahu, apa nama-nama pohon itu. Saya pun hanya tahu beberapa nama saja, seperti pohon asam, ki hujan, palem, ketapang, beringin, jati, dan mahoni. Tentang hewan, yang saya amati adalah burung-burung di sekitar pepohonan beringin di lapangan dekat fakultas pertanian, jalur-jalur hutan antara kehutanan menuju farmasi, serta di rerumputan dan danau buatan di belakang Asrama Mahasiswa (Ramsis) dan dekat jalan sahabat, di situ saya melihat burung belibis melompat, dan di danau saya melihat ikan gabus dengan tenang berdiam dalam air.



Lalu, apa yang saya peroleh? Pada langkah-langkah itu saya mendapatkan kebahagiaan. Itu jawaban final dan subjektif. Kebahagiaan itu diantar oleh suasana lingkungan-alam yang bebas, membuat pikiran kita pun menjadi bebas. Bersama ayunan tangan dan gerak ritmik kaki dan hirupan udara di alam, kita sebenarnya mencoba untuk menjelajah keluar dari kebisingan, sejenak menghindari dari kotak-kotak tembok persegi, batu-batu yang telah remuk dan dibentuk, kemudian dipoles agar tampak indah. Sisi manusiawi kita telah berususah payah memanusiakan tembok, dengan memberi ornamen, memberi warna agar tampak meriah atau kalem, namun tembok tetaplah benda mati dan kaku, semakin kita amati tembok itu, sisi kemanusiaan kita pun kian guyah. 

Apalagi, kemanusiaan kita secara sengaja maupun tidak sengaja terbatu-kan dan termesin-kan, seiring dengan interaksi kita yang intens dengan jalanan, tembok-tembok, mesin-mesin dan teknologi komunikasi. Sehari-hari mata kita diguyur oleh benda-benda mati, mulai dari kamar tidur, kita bangun melihat tembok-tembok dan mesin handphone, lalu ruang-ruang rumah, kemudian jalanan yang sibuk dan ribut, lalu kantor kerja yang bagai sel-sel tahanan. Telinga kita bergaung-gaung suara mesin kendaraan, suara televisi, suara musik, yang semuanya dari teknologi yang demikian canggih. Kita pun mulai berdiskusi via chatting facebook, teknologi merubungi kita, bahkan mempengaruhi cara berkomunikasi kita. Akibat dari itu semua, tak pelak lagi kita mengalami kemorosotan sensitifitas terhadap riak-riak alam, suar-suar angin, hingga kita tidak lagi merasakan sesuatu yang sublim ketika memandangi pohon, antara melihat pohon dan melihat mesin kita merasakan hal yang sama. Padahal, yang hidup dan yang mati tentulah jauh berbeda. 

   

Dalam sehari-hari ketika jalan pagi, saya baru sadar bahwa hidup kita harus diperbaharui setiap saat. Hidup kita butuh pandangan dan perspektif yang berbeda untuk lebih memahami apa itu hidup? Perjalanan hidup? Apa yang kita ingin capai? Serta bagaimana kita manusia dapat saling memahami, dapat lebih paham habitat kita, spesies lain, bumi tempat kita bernafas. Kita akan kesulitan untuk berinteraksi, kesukaran untuk memahami lingkungan, jikalau kita sehari-hari hanya berkutat dengan perangkat keras, serta pada buku-buku yang mengajarkan kita mencintai pakaian, mencintai benda-benda, mencintai materi dan kekayaan.

Dan dalam hari-hari belakangan ini, dalam pengalaman mengamat-amati  sekitar, saya merasa lebih damai dan lebih dekat dengan alam. Hal itu tiba-tiba menimbulkan rasa cinta, bukan hanya pada alam, pada pepohonan, pada kicau burung, tapi juga pada hal-hal lain yang menyentuh, seperti simpati dan kasih sayang manusia.

Pada jalan-jalan itu, tanpa saya sadari indra saya, baik itu mata, telinga, kulit atau pandangan, pendengaran, perabaan, serta perasaan, kian terasah. Saya tiba-tiba dilatih oleh alam untuk meresapi, untuk menghayati, untuk menggunakan indra sebaik-baiknya. Saya tak tahu, bagaimana membahasakan rasa dan sensitifitas itu. Tampaknya sedikit bersinggungan dengan aspek psikologi- mental, dan mungkin metodogis. Mental yang bebas akan memudahkan kita untuk mencerapi apa-apa yang tampak, gejala-gejala yang muncul atau sensasi-sensasi. Pada Mata dalam kedalaman pengamatannya, menghadirkan gambaran-gambaran baru pada diri kita. Pohon-pohon bukan lagi sekadar pohon yang tumbuh begitu saja atau karena dirawat, tapi pohon telah menjadi mahluk hidup, mahluk yang bernafas dan mengalami perkembangan. Pohon dalam pandangan baru kita adalah sesuatu yang berdegup, sesuatu yang hidup dan punya nilai. Dan akhirnya akan melahirkan kesadaran bahwa pohon pun harus dihargai, harus diperlakukan dengan patut. Pohon itu, saya tak tahu, tapi saya merasa bahwa dia juga merasa, dia juga merasakan kehadiran kita.

Tampaknya, dengan merendah dan mencoba mendengar, mencoba untuk membebaskan diri dari egoisme spesies kita (Homo sapiens-red), maka kita telah masuk ke zona baru, zona kesalinghubungan, zona interaksi dan persahabatan dengan alam, dengan spesies lain. Kita pun kembali ke asal, kembali menjadi manusia abad lalu dimana nenek-nenek kita dengan rutinnya melatih diri meresapi alam. Saya membayangkan nenek kita bangun pagi-pagi, berjalan pagi untuk ke sawah ataukah ke tambak, dengan gesit mengalirkan air ke sawah-sawahnya, ataukah nenek yang lebih jauh yang belajar keras memahami cuaca, untuk menentukan hari baik untuk berburu, belajar keras untuk memahami bebauan daun, untuk mengetahui mana daun yang dapat dimakan dan mana daun yang dapat merobek sel dan meracuni.



Tentunya, dari pengalaman berkenalan dan bersentuhan dengan alam ini, kita dan alam sama-sama membuka diri hingga kita sedemikian sadar akan makna hidup. Bahwa dalam menjalani hidup, yang utama adalah kualitas hidup, kualitas saling menghargai, menghormati antar sesama mahluk hidup. Kita pun merongrong alam hanya untuk kebutuhan vital saja, agar alam tetap dapat meregenerasi diri, menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terlanjur kita sebabkan. Setidaknya, suara Mahatma Gandhi kembali bergaung di sini, bahwa bumi hanya dapat menampung kebutuhan ummat manusia, dan tak sanggup menanggung keserakahan manusia. Juga suara Arne Naess, yang mengatakan bahwa yang kita inginkan dalam hidup adalah kualitas yang bersumber dari nilai-nilai, agama, moralitas, bukan standar hidup yang ditopang oleh kepemilikan materi. Setidaknya Arne Naess menunjukkan bahwa, akar persoalan lingkungan itu pada tingkah laku-etika manusia, pada gaya hidup manusia yang tinggi dan keinginan-keinginan yang absurb dan membosankan.


Idham Malik

                                                                                                                                                               Tamalanrea, 22 Agustus 2014

Read more...

Senin, 18 Agustus 2014

Leang-Gua

Kadang, sesekali kita butuh ke leang, kata lain dari gua. Jauh sebelum kita, para moyang telah bermukim di gua, yang difungsikannya sebagai rumah, tempat berlindung dari para hewan liar, tempat istirahat tanpa diganggu oleh rasa was-was. Gua cukup hangat dan nyaman, tempat moyang kita dengan bebas dan mungkin sedikit malu-malu bersenggama dalam ceruk-ceruk atau relung gua. Mereka berharap, dengan persenggamaan itu, akan lahir manusia-manusia yang tangguh, manusia yang dapat selamat dari berjuta tantangan ketika lahir ke dunia. Tantangan terhadap penyakit, terhadap makanan yang makin sulit dicari, tantangan terhadap semakin kencangnya saingan antar manusia.   



Saya membayangkan moyang kita itu, moyang yang warisannya tersisa tapak tangan dan lukisan babi rusa. Tapak tangan yang agak besar, melebihi tangan normal manusia zaman kita. Ini tampaknya membuktikan bahwa manusia memang mengalami evolusi, tapi terbatas pada evolusi ukuran. Sedangkan evolusi spesies, saya juga belum yakin betul, antara percaya dan tidak percaya. Saya berada di antaranya, yaitu masih tahap ragu-ragu. Saya juga tidak mau menerima mentah-mentah jawaban final kitab-kitab, yang langsung menjelaskan bahwa nenek kita adalah adam dan keturunan-keturunannya. Jika Adam, apakah betul Adam muncul begitu saja, tanpa sejarah, tanpa proses yang jumud, yang tak teratur, yang kacau, yang mungkin atau kebetulan menghasilkan yang teratur itu, yang kompleks itu, yang tiba-tiba hidup, berdegup, bernafas, dan tumbuh.

Adam menurut pemahmanku saat ini dan dapat saja berubah kelak, adalah penjelmaan manusia yang beradab dan telah lengkap piranti-piranti akalnya untuk dapat mencerna, membangun hipotesa dari informasi-informasi yang masuk melalui indra, kemudian diolah dengan mudah pada ranah nalar yang bersifat apriori, adekuat, dan universal. Ini adalah perkembangan paling mutahir dari perjalanan gen-gen kita. Adam pun adalah manusia yang punya kemampuan untuk berternak dan bercocok tanam, itu ditampakkan oleh keturunannya, Habil dan Kabil yang merupakan gembala dan tukang kebun. Kemampuan itu sudah cukup spektakuler, karena secara rasional hanya dapat diperoleh dalam kondisi – kondisi tertentu, misalnya lokasi mereka tinggal terdapat spesies-spesies yang dapat dikultur dan dipelihara, dibiakkan, dibudidayakan, yang penemuan dahsyat itu tanpa diduga, dan berawal dari usaha trial and error. Dalam kisah-kisah pun kita tidak dijelaskan bagaimana sang kambing itu tiba-tiba dapat digembala? Bagaimana pengetahuan itu muncul? Saya rasa kita harus mencermati betul pertanyaan ini.     

Yah, kita hanya percaya tidak percaya pada keduanya, pada kisah simpanse yang gelisah, yang karena persaingan ketat antara monyet, berinisiatif turun dari pohon. Moyet yang cemas itu mencoba mencari makanan di darat dan kemudian melakukan perjalanan jauh. Iya dengan was-was keluar dari habitatnya, melewati padang-padang dan terus waspada terhadap terjangan hewan-hewan buas yang lain. Dari tantangan demi tantangan itu, pikirannya terus terasah hingga generasi ke generasi, dari keturunan moyet ke keturunan monyet yang sedemikian menjauhi sifat-sifat moyangnya. Kemudian, dalam perjalanan antar generasi itu, moyet yang semakin menyerupai manusia tiba-tiba mampu berdiri tegak, walau sedikit membungkuk. Mereka pun sudah bisa mencari makan dengan cara-cara yang lebih cerdas, yaitu dengan memanfaatkan batu-batu yang diruncingkan, dengan menggunakan pentungan. Dan pada akhirnya monyet yang sedemikian cerdas itu melakukan migrasi, mencoba-coba melintasi daratan yang jauh, melintasi lautan pada masa glasial, ataukah menggunakan perahu pada masa es mencair hingga tiba di pulau-pulau lainnya.

Dan akhirnya tiba di Leang, tiba di gua dan bersembunyi. Kemarin, 17 Agustus 2014, bersama seorang wanita yang saya cintai, kami melakukan napak tilas ke Taman Purbakala – Leang-Leang, di Bantimurung, Kab. Maros. Kami melalui batu-batu karang yang dengan cantik bertebaran di hamparan, batu-batu itu tertancap dengan multibentuk, letaknya acak dan mengesankan. Kita bisa bermain-main atau menciptakan banyak permainan di area itu, tempat main pinball (tembak-tembakan), main petak umpet, main sepeda-sepeda, main kejar-kejaran. Kami menduga dan sesuai dengan pernyataan seorang professor di Unhas, bahwa batu-batuan kars itu, sama dengan himpunan tebing kars yang berdempet-dempet, berjejer-jejer itu sebenarnya merupakan batu karang, yang ditandai dengan pori-pori tempat air laut dahulu dapat menyelusup. Kalau seperti itu, dahulu, entah beberapa ribu tahun yang lalu itu, laut begitu tinggi dan menutupi sebagian besar daratan, ketika bumi memasuki fase pasca glasial, ketika air-air dari kutub mencair. Pada masa itu, manusia dan hewan yang bertahan di Nusantara,  wilayah yang merupakan bagian tenggara bumi itu, hanyalah manusia dan hewan yang berada di tebing-tebing, puncak-puncak bukit dan dataran tinggi. Mungkin, manusia dan hewan yang berada di tengah-tengah bumi lah (Asia Tengah dan Afrika) yang cukup lapang wilayah jelajahnya, dan tidak dipengaruhi oleh lalu lintas air laut dan zaman glasial.



Kemudian kami mencoba mendaki, menapak-napaki tangga yang telah dibuat oleh manusia, hingga ke tebing, ke relung yang terdapat lukisan tangan itu. Saya melihat dan mengamat-amatinya dari jauh, dan tak menemukan hal baru di sana secara materil. Tapi secara pemahaman telah lahir hal-hal baru. Bahwa manusia itu selalu mencari akar, hingga penjelasan-penjelasan yang dianggap muskil dan mustahil. Segala hal yang merupakan peninggalan manusia atau menuju manusia harus dihargai, walaupun mungkin hal itu kelak akan terbantah oleh bukti-bukti baru yang lebih ilmiah. Hal itu kita lakukan agar kita sebagai manusia dapat lebih menghargai hidup kita saat ini. Bahwa dahulu, nenek moyang itu mampu bertahan hidup dalam kesulitan-kesulitan alam, dan kita pun harus hidup dalam kesulitan-kesulitan. Bedanya, dahulu manusia dan menuju manusia itu dipusingkan oleh alam, dikendalikan oleh samudera oleh cuaca dan hanya dapat bertahan dalam gua, sementara saat ini alam lebih banyak dikendalikan oleh manusia, manusia merekayasa alam, mengeksploitasi alam, alamlah yang dikendalikan, alam diatur, alam dipaksa untuk memenuhi kerakusan dan hasrat liar manusia. meski kadangkala alam juga turut membuat kaget, dengan gempa-gempa, dengan letusan-letusan gunung, dengan rob dan banjir.

Dan dalam gua itu, moyang kita memperoleh kedamaian, dalam gua nabi-nabi juga memperoleh hikmah. Gua memungkinkan hal-hal abstrak dapat ditangkap dan diresapi. Dalam tempat yang sepi itu, nabi menemukan dirinya dan sabda, berdialog dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Pada gua, Plato berhayal-hayal tentang adanya dunia ide, gambar-gambar yang terbayang pada dinding. Mungkin, gambar babi rusa itu hanyalah replikasi dari bayangan yang terpantul ke dinding gua, yang muasalnya dari luar gua, seperti paham Plato, bahwa dalam gua kita hanya melihat bayangan dari lingkungan sebenarnya di luar gua. Tapi, mungkin saja itu terpikir oleh nabi, bahwa bayangan juga seperti cermin. Ia melihat bayangan dirinya dalam kegelapan gua. Melihat dosa-dosanya, melihat masa lalunya dan kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Untuk itu, mari ke gua, mari bersemedi, mari napak tilas, mari selamatkan gua, mari mempelajari sejarah kita, sejarah manusia gua. Dan keluarlah dari gua dengan pandangan baru, bahwa kita telah terlahir kembali ke realitas, dunia yang penuh tantangan.

Kampus Unhas, 18 Agustus 2014

Idham Malik

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP