Rabu, 27 April 2016

Hariadi Adnan : Perintis Rumput Laut Indonesia

Hariadi bersentuhan dengan dunia rumput laut tanpa rencana dan kesengajaan. Bermula dari ajakan Soerdjo Dinoto, pegawai Lembaga Oseanografi Indonesia (LON) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Direktorat Hidrografi, yang juga kakak iparnya, untuk melakukan penelitian rumput laut jenis spinosum di Pulau TIkus, Gusus Pulau Pari, Kepulauan Seribu pada 1967. Waktu itu Hariadi baru saja lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan belum punya pekerjaan, ajakan Soerdjo baginya merupakan peluang untuk mencari pengalaman di dunia kerja.

Meski tak ada pengalaman sama sekali, Hariadi menekuni budidaya rumput laut spinosum, yang bibitnya diperoleh dari alam setempat atau bibit lokal. Menurutnya, perkembangan spinosum di Pulau Seribu cukup bagus, waktu itu kendala penyakit belum terlihat dan rumput laut tumbuh sesuai dengan yang kita impikan. Namun penelitian ini sempat tersendat pada 1969, tidak adanya anggaran lantaran kurangnya perhatian dari pemerintah. Meski begitu, penelitian tetap berlanjut hingga kakak ipar Hariadi meninggal pada 1970 yang berbuntut pada bubarnya proyek penelitian ini. Dari pengalaman Pulau Seribu, Hariadi menyimpulkan bahwa rumput laut dapat dikembangkan di Indonesia, meski dengan fasilitas yang sederhana, seperti penggunaan tali ijuk untuk bentangan, yang mesti harus diganti setiap bulan.


                         Sumber : foto facebook Hariadi Adnan   

Pada tahun 1974 hasil kerja Hariadi dkk di Kepulauan Seribu dilirik oleh perusahaan dari Denmark, yaitu Kopenhagen Pactin, perusahaan Amerika Martina Koloid, dan Perusahaan Francis, AUB SA. Ketiga-tiganya melakukan survey di Pulau Samaringga, Selat Banggai, Sulawesi Tengah. Tapi, yang melanjutkan ketertarikannya hingga ke tahap pemberian bantuan untuk pelaksanaan proyek adalah Kopenhagen Pactin. Penelitian rumput laut di Kepulauan Seribu direkonstruksi ulang, juga dengan peralatan seadanya. Saat itu, Hariadi dibantu dua sahabatnya, yaitu Bambang Tjipto Rahadi dan Bambang Basuki.

Hariadi dan rekannya mengembangkan rumput laut spinosum dari bibit hingga pembesaran, aktivitas budidaya rumput laut ini ternyata diperhatikan oleh masyarakat setempat. Mereka tertarik untuk turut membudidayakan rumput laut. Hariadi menanganinya dengan memberikan ke mereka bibit dengan harapan ketika rumput laut mereka berkembang, bibit yang diberikan dahulu dapat dikembalikan. Saking dekatnya Hariadi dkk dengan masyarakat, seorang kawan penelitinya, menikah dan memperistrikan warga setempat.

Pada 1978, Hariadi dan timnya meninggalkan Samaringga dan membawa bibit spinosum 6 kilogram basah ke Bali, tepatnya di Tenure, Benoa.  Ujicoba di Bali terbilang berhasil, selain karena kualitas air yang baik, juga karena diterapkan metode pembibitan khusus dan pembesaran yang sudah maju. Pada 1981, mereka untuk pertama kalinya melakukan pengiriman ekspor ke Kopenhagen-Denmark dengan jumlah fantastis waktu itu, yaitu 81 ton. Pada tahun-tahun itu juga permintaan terhadap rumput laut cotoni meningkat, untuk itu Hariadi dan kawannya berkunjung ke Filipina untuk memperoleh bibit langsung dari Filipina. “Bibit dari Filipina inilah yang digunakan hingga sekarang,” terang Hariadi.

Penelitian dan pengembangan rumput laut di Bali berlangsung hingga tahun 2008. Pada tahun itu, Hariadi mengaku jenuh dan ingin mengerjakan hal lain. Makanya dia meninggalkan Bali dan memilih menjadi freelance setelah mengurus rumput laut selama lebih dari 40 tahun. Bapak yang lahir pada 4 November 1943 ini beberapa tahun terakhir berjuang sebagai Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI). Melalui ARLI, Hariadi turut memberi sumbangan pemikiran dan advokasi kepada pengembangan rumput laut masyarakat kecil. Menurutnya, kelemahan kita hingga saat ini, yaitu lemahnya pendataan, sehingga pemerintah kesulitan mengukur jumlah rumput laut yang dapat diekspor dan jumlah rumput laut yang diserap oleh industri nasional. Untuk itu, salah hal yang harus dibenahi segera adalah pendataan tersebut, agar pemerintah dapat mengambil dasar yang kuat untuk kebijakan perdagangan rumput laut serta pembangunan infrastruktur industry rumput laut, demi pensejahteraan pembudidaya rumput laut.

Sampai saat ini, Hariadi masih malang melintang di dunia rumput laut, melakukan pembinaan dan pemberian arahan pada para pelaku rumput laut Indonesia. Beliau menetap di Jogjakarta, kota yang lekat dengan kata rindu, pulang dan angkringan, menyempatkan mengajar di Universitas PN Veteran Yogyakarta. Beliau memang sudah berumur 73 tahun, tapi semangatnya untuk memajukan rumput laut tidak pernah surut.

Idham Malik

Read more...

Kamis, 21 April 2016

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Sekelumit Pertanyaan?

MEA sudah berlaku, dengan malu-malu kucing. Karena saking licinnya, kita sebagai warga Indonesia banyak yang tidak menyadari peristiwa genting ini, jika banyak yang setuju dikatakan genting. Kita tak merasakan perubahan apa pun dengan berlakunya MEA ini, atau mungkin belum begitu terlihat dalam jangka waktu singkat, entahlah.
Memang, tingkat kesenjangan mengalami penurunan (menurut survei kompas yang terbit kemarin, 19 April 2016), tapi apakah karena MEA, tentu bukan. Ekonomi lagi merosot-rosotnya, sebab pondasi ekonomi kita lebih bersandar pada ekspor bahan baku, yang ketika ekonomi dunia, apalagi ekonomi Cina guncang, kita pun ikut bergoyang. Sedotan row material yang rendah membuat kita berubah fikir, untuk kembali membangun infrastruktur untuk mendukung industri untuk peningkatan nilai bahan baku. Agar kita tidak perlu terlalu bergantung pada pasar ekspor. Lagian, pasar dalam negeri kita cukup besar serapannya, domestik menyumbang 50 persen (Data prediksi ekonomi kompas 2016).
Lantas, dari mana ide MEA ini berasal? Dari buku Abad Bapak Saya, karya Greet Mak, dijelaskan tentang asal mula terbentuknya Masyarakat Ekonomi Eropa yang disingkat Uni Eropa pada 1957. Tahun 50-an di Eropa merupakan tahun rekonsiliasi, penyembuhan terhadap bunuh diri Eropa dalam Perang Dunia ke-2. Perubahan kebudayaan didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, serta perataan ekonomi akibat kehancuran bersama saat perang. Negara-negara Eropa yang semuanya punya kecendrungan nasionalis, akhirnya sepakat untuk melebur dalam satu komunitas, yang sebelumnya tidak terbayangkan sama sekali, yaitu Masyarakat Ekonomi Eropa.
Dalam MEE ini, terjadi arus tenaga kerja antar negara Eropa, begitu halnya dengan arus barang, yang ujungnya adalah penggunaan mata uang bersama. Namun, kata Greet, bendera Merah Putih Biru (Belanda) pun akhirnya harus selalu bersanding bersama dengan bendera negara eropa yang lainnya. Nasionalisme pun tidak lagi meledak-ledak seperti perasaan nasion sebelum perang dunia 1 dan 2, justru yang hadir adalah perasaan takut pada sesuatu yang lain, yang berada di seberang, yang tak lain bagian mereka juga, yaitu eropa timur, khususnya Uni Soviet. Meski sesama eropa, Eropa Timur punya karakteristik yang terasa lain, hal ini disebabkan dikotomi yang dibangun sejak dahulu kala, yaitu pembagian kristen barat yang diwakili Romawi, dan Kristen Timur pada Konstantinopel dan negara timur lainnya.
MEE menyebabkan kemakmuran meningkat, gaji pegawai meningkat berkali-kali lipat, orang dapat menikmati waktu luang lebih banyak, negara rendah dapat bantuan dari negara tinggi, jaminan sosial pun diterapkan hingga penduduk-penduduk yang kurang mampu pun dapat hidup layak. Tapi, faktor yang lebih besar sebenarnya adalah adanya trauma perang dunia dan kecemasan akan timbulnya semangat nasionalisme baru dari negara-negara eropa. MEE sebagai sarana untuk bekerjasama dalam pengembangan negara masing-masing. Selain itu, sebagai wadah untuk saling menguatkan untuk menangkal pengaruh komunisme dari Eropa Timur.
Kembali ke Masyarakat Ekonomi Asean, seperti apakah latar belakang MEA ini? Apakah hanya demi kepentingan ekonomi bersama atau adakah sesuatu yang lebih subtil, seperti perasaan senasib negara-negara di Eropa? Jika perasaan senasib, apakah karena kita pernah sama-sama dijajah oleh orang Eropa? Indonesia oleh Belanda, Malaysia-Singapura oleh Inggris, Vietnam oleh Prancis, Filipina oleh Amerika Serikat. Ataukah karena kita sama-sama mengalami agresi Jepang yang saat itu begitu fasis?
Mungkin kita perlu tanyakan ke diri kita masing-masing, seberapa kenalkah kita dengan Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam? Sudah terbangunkah rasa persaudaraan bersama antar kita, sesama warga Asean? Apakah kita perlu dulu berlama-lama membangun keakraban sebelum ekonomi kita sharing secara bersama untuk kemakmuran bersama? Atau, jangan-jangan kita sekadar meniru-niru pada model kerjasama para penjajah bangsa kita dahulu.

Read more...

Senin, 11 April 2016

Regenerasi Kader LSM

Barangkali agak basi, wacana tentang regenerasi aktivis LSM sudah saatnya kita pikirkan lagi secara bersama dan mendalam. Saya baru menyadari hal ini setelah mengamati dan mengalami begitu sulitnya menemukan anak muda yang punya ketertarikan pada dunia LSM, yang mau mendedikasikan hidupnya untuk bersusah-senang bersama masyarakat. Ada pun yang senang atau setengah senang pada kerja LSM, ketika akhirnya terlibat dalam hidup-nya LSM, tampak kesulitan untuk menemukan rasa dan denyut getar dengan masyarakat. Hingga ujungnya tiba pada kebosanan hidup, dan tenggelam dalam rutinitas yang lebih bersifat administratif.
Bukan hanya pada tataran individual, tapi juga ranah institusi/lembaga. Memang masih banyak LSM, khususnya lembaga yang lebih mengurusi wacana-wacana sosial yang umum, seperti kemiskinan, kelompok marginal, atau persoalan hukum. Tapi, LSM yang bergerak pada isu-isu spesifik, seperti isu perikanan dan konservasi lingkungan boleh dikata masih kurang. Itu pun jika ada, hidupnya kembang kempis, dan sangat tergantung pada asupan susu dari luar.
Saya mencoba untuk menganalisa lebih dalam faktor yang melatar belakangi kondisi tersebut. Kali ini saya mencoba melirik kampus sebagai sumber utama dalam pengkaderan aktivis LSM.
Pertama, kampus, sebagai benteng intelektual dan intelegensi, tidak memiliki skema yang penuh dan jelas untuk menyiapkan mahasiswa terjun ke pengembangan masyarakat kecil, dalam artian yang sebenarnya. Apalagi pada jurusan ilmu eksakta, yang memang tidak mendalami ilmu-ilmu humaniora serta ilmu sosial. Kampus justru menerapkan metode untuk menghasilkan pekerja skala perusahaan dan abdi negara. Mereka diberi kompetensi untuk mengatasi persoalan teknis pada perusahaan-perusahaan yang padat modal. Namun kurang diperkenalkan metodelogi untuk mengatasi persoalan-persoalan pada unit usaha kecil, yang kurang modal, apalagi ekonomi kecil seperti yang dimiliki petani, nelayan, dan petambak ikan.
Kedua, khusus pada jurusan eksakta, kampus tidak melatih mahasiswa untuk mengorganisir masyarakat. Yang dilakoni kampus adalah skema untuk meningkatkan kemampuan individual mahasiswa, bukan berupa kemampuan untuk meningkatkan kecerdasan bersama, atau berkembang bersama dalam sebuah komunitas. Kemampuan individual ini digodok dalam bentuk tugas-tugas ilmiah di kelas ataupun di laboratorium. Sedangkan kemampuan sosial kurang terasa karena memang mahasiswa kurang terlibat dalam kehidupan masyarakat, selain kurang membaca kajian-kajian sosial. Misalnya, mahasiswa perikanan, mereka hanya sekali-sekali mendatangi komunitas nelayan atau pun petambak tradisional. Sehingga, orientasinya tertuju pada perusahaan yang akan mempekerjakannya dengan gaji tinggi, bukan terlibat dalam masyarakat nelayan atau petambak yang minim ekonomi.
Ketiga, karena jarangnya mereka hidup bersama masyarakat, kecintaan murni terhadap warga desa atau kampung sangat sulit hadir di jiwa mereka. Hal ini berefek pada penelitian-penelitian yang dikembangkan. Rata-rata penelitian mahasiswa berkutat pada persoalan teknis yang dialami oleh perusahaan padat modal. Sedangkan persoalan masyarakat kecil, seperti petambak-petambak tradisional kurang mendapat perhatian.
Keempat, kampus seakan-akan mengendurkan semangat mahasiswa untuk berlembaga. Kampus serentak menganggap aktivitas dalam lembaga itu dapat menghambat kegiatan keilmuan yang bersifat resmi. Fatalnya, niat buruk ini sudah ditampakkan dalam bentuk ancaman sangsi akademik pada beberapa aktivis kampus yang melanggar aturan yang sengaja dibuat untuk menghalang-halangi munculnya pikiran-pikiran-gerakan-gerakan kritis mahasiswa.
Padahal, dalam kehidupan berlembaga, mahasiswa menemukan ruang untuk berdialektika, sehingga mahasiswa terbiasa menghadapi tekanan dalam komunitas, serta mampu bekerjasama dalam komunitas untuk mengembangkan komunitas. Kompetensi pun diperoleh berupa kecerdasan emosional (seni mempengaruhi dan bekerjasama) dan kognitif (seperti strategi pengelolaan lembaga). Integrasi kecerdasan tersebut, memampukan alumni mahasiswa untuk menyusun konsep yang tepat, berbasis ilmiah dan sesuai rasionalitas untuk pengembangan masyarakat.
Keadaan hidup bersama dalam susah dan senang, dapat menimbulkan kesadaran akan penderitaan yang dialami oleh orang lain, yang nantinya akan diteransformasi berupa kesadaran akan penderitaan rakyat dan adanya upaya untuk pendampingan masyarakat.
Kelima, skema KKN yang dimiliki kampus, belum betul-betul strategis dalam mengatasi persoalan di masyarakat. Mahasiswa kurang dibekali secara serius tentang strategi untuk hidup bersama dengan masyarakat dan belajar menggali persoalan masyarakat secara mendalam, serta strategi pengembangan ekonomi masyarakat. Mahasiswa banyak yang sekadar menjalankan program, yang kadang-kadang bersifat seremonial dan tidak melekat secara kuat di benak masyarakat. Sehingga, pra dan pasca kegiatan KKN, kehidupan warga tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Buntut dari akumulasi faktor-faktor yang saya susun secara sederhana seperti di atas adalah kurangnya minat mahasiswa untuk terlibat dalam dunia LSM. Mereka rata-rata kebingungan dengan kerja-kerja LSM di masyarakat, yang terlihat lamban dan tampak tidak menghasilkan apa-apa. Selain itu, kurangnya minat ini diperkuat oleh persepsi bahwa jika kita terjun di dunia LSM maka kita akan susah kaya. Mahasiswa kebanyakan mencari pekerjaan yang bergaji tinggi, yang biasanya diperoleh pada perusahaan atau lembaga negara. Sedangkan kerja LSM di masyarakat sekadar cukup dari segi pendapatan, tapi melimpah dari segi makna hidup. Pegiat LSM pada dasarnya hidup dari nilai-nilai yang mereka pegang, atau biasa yang kita sebut sebagai ideologi. Jika ada pegiat LSM bekerja hanya karena ingin mendapat gaji, yakin saja pegiat LSM itu tidak akan bertahan lama untuk mendampingi masyarakat.
***
Untuk itu, marilah kita bersama-sama memikirkan strategi untuk regenerasi kader LSM di dalam kampus. Jika kita terlambat dalam mengantisipasi persoalan ini, ke depan, akan susah diharapkan para alumni kampus untuk terlibat dalam dunia LSM. Ataupun mereka terlibat, dalam pikiran dan hati mereka, bukan sebagai aktivis LSM, tapi sekadar pekerja dalam organisasi swadaya masyarakat.

Tamalanrea, 11 April 2016

Read more...

Sabtu, 09 April 2016

Menulis untuk Anak-Cucu

Tiga hari ini saya berkutat dengan sebuah buku, yang menurut pembaca sejarah yang masih awam seperti saya ini sunggu bagus, dengan perngertian sebenarnya. Dengan berani Geert Mak, memberi judul buku setebal 753 halaman itu "Abad Bapak Saya", ditambah gambar sampul sebuah suasana kota kuno di Deli tahun 30-an.


Geert mengisahkan tentang rona hidup keluarga besarnya, dimulai dari sebuah sudut kota pelabuhan Netherland, Schiedam, tahun 1890-an. Kota yang malam hari temaram lantaran belum tersentuh listrik, penduduk yang giat bekerja di perusahaan bir, tumpahan bir di jalan kadang-kadang dinikmati oleh anjing dan hewan-hewan ternak, membuat sapi-sapi berjalan sempoyongan.
Bapaknya lahir dengan darah religius kental dari kedua orang tuanya. Khususnya nenek, yang mengimani dengan taat konten injil dalam pengertian yang harfiah. Sedangkan bapak, meski rajin ke gereja, cenderung berfikir bebas dan tidak terlalu ngotot dengan formalisme kitab. Lanjut cerita, pada perkembangan berikutnya terjadi abad pemisahan yang begitu rumit dan meresahkan di kota dan desa Netherland, antara kaum kristen hervormd yang lebih bebas menafsirkan kitab, dan gereformeerd yang agak kaku dalam penafsiran kitab.
Pada awal abad 20, dengan perkembangan jaringan kereta api, kapal layar, listrik, dan majunya industri, serta melajunya bisnis percetakan, membuat jarak dan waktu terpangkas demikian rupa. surat kabar yang berbasis aliran ideologi agama disebar dengan cepat, dan para penganut pun dengan khidmat melahap pikiran-pikiran para pastor-pendeta dalam setiap nomor edisi. Perdebatan pun terjadi dimana-mana, bahkan dalam keluarga-keluarga.
Pada Zaman yang Indah, kata lain dari awal abad 20 itu, terjadi luapan semangat yang luar biasa pada segenap pemuda seluruh negeri di Eropa. Di sudut-sudut, di dalam gudang, pinggir-pinggir jalan, cafee-cafee, para pemuda dengan riang mendiskusikan tema nasionalisme. Mereka terhanyut dalam gelombang cinta tanah air, yang dibesar-besarkan oleh mars-mars, yang mereka dengar hampir setiap hari. Ledakan ekonomi akibat majunya industri yang digodok sekitar 40 - 50 tahun, surplus pemuda, optimisme yang melunjak, berkembangnya industri senjata, kelimpahan itu meledak dengan sengaja dalam bentuk perang dunia 1. Pemuda-pemuda diantar oleh kereta menuju medan pertempuran, sambil bercanda, "haduh, bahagianya kamu, bisa langsung ke perbatasan verdun". Mereka berangkat seakan-akan hendak ke pesta.
Keinginan pihak-pihak tertentu untuk memperluas wilayah jajahan, ekspansi industri dan pasar, desakan modal yang kian membuncit, perang pada akhirnya memakan jutaan korban. Betul, imperium runtuh, kerajaan diambil alih, dan rasionalisasi mengisi cela-cela pemerintahan pasca perang, tapi Eropa pada umumnya dirugikan, dengan separuh laki-lakinya (negara yang terlibat perang) mati di perbatasan. Ekonomi merosot hingga batas-batas terjauh. Tapi, pelan-pelan, tumbuh lagi optimisme, bentuk sastra baru muncul, aliran musik hadir dalam bentuk yang tidak dikenali sebelumnya. Para pemuda mulai mengenal pemikiran-pemikiran baru. Kehidupan baru. Eksistensi memang lahir dari tekanan tinggi pada batas-batas kesanggupan.
Dalam Abad Bapak Saya, dijelaskan Belanda merupakan negara yang terhindar dari serangan Jerman, sehingga secara kejiwaan sedikit berjarak dengan warga negara lain yang lebur hancur. Warga Belanda masih terhubung dengan tradisi-tradisi sebelumnya, namun mereka tertinggal dari bangsa-bangsa yang ikut berperang, lantaran semangat hidup serta kreatifitas mereka justru lebih menggeliat.
Menariknya, dalam buku ini dikisahkan kondisi tanah air saat Catrinus Mak, sang bapak melancong ke Hindia belanda, khususnya medan, untuk memimpin ummat kristen gereformeerd yang jumlahnya ribuan. Catatan ayahnya meninggalkan pengetahuan mendalam tentang suasana kota, perkebunan karet dan tembakau yang sedang tumbuh-tumbuhnya. Para pegawai, pekerja kebun, serta para pemberontak yang menimbulkan kegelisahan pada warga kulit putih, yang jumlahnya hanya 100.000 dibanding jutaan penduduk Hindia Belanda.

Dikisahkan bentuk kontrol operasi yang ketat perusahaan perkebunan pada para buruhnya, yaitu ordonansi kuli. Ribuan buruh dari dataran Jawa didatangkan ke Deli, mereka menandatangani kontrak kerja, dengan perjanjian-perjanjian di luar batas nalar. Salah satunya, adanya aturan pidana bagi pekerja yang lari dari kebun. Selain itu, mereka diharuskan untuk menciptakan makanan sendiri dengan menanam di perkebunan. Menurut salah seorang guru Indonesia di perkebunan, Tan Malaka, para buruh kontrak tinggal "seperti kambing dalam kandangnya", "Mereka adalah golongan yang setiap saat dipukuli atau menerima umpatan godverdomme".

Bla-bla-bla, halaman terakhir saya baca yaitu halaman 195, sehingga tak dapat lagi saya lanjutkan kisah buku yang telah saya coba untuk merangkumnya dengan cukup padat dan melompat-lompat.
***
Hikmah apa kiranya yang dapat kita peroleh dari buku "Abad Bapak Saya" ini? Satu hal yang cukup dalam terproses dalam pikiran saya, yaitu awetnya sebuah kenangan lewat catatan orang tua kepada generasi pelanjutnya, anak atau cucunya.
Generasi kita, pasti sangat ingin mengetahui kiprah kita beredar di muka bumi. Apa yang kita lakukan, apa yang kita pikirkan, apa yang kita hendak capai, bagaimana prosesnya, dalam kondisi apa kita berjuang hidup?
Mereka rindu dan menikmati kisah-kisah yang berasal dari orang tua mereka. Dan mungkin akan berpengaruh terhadap persepsinya kepada dunia. Itulah sebabnya, coretan-coretan seseorang akan sangat berharga, bukan hanya saat ini, jika terdapat korelasi di zaman ini. Tapi, lebih pada di masa depan. Dimana pembacanya adalah darah daging kita sendiri. Yang mungkin akan melanjutkan kisah kita kepada generasi berikutnya lagi.
Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak mencatat, membuat ulasan tentang peristiwa saat ini. Apa yang kita pikirkan terhadap kasus-kasus yang muncul saat ini. Bukan hanya untuk legacy-warisan kita kepada pembaca di zaman ini, tapi juga bagi generasi kita, yang rindu kisah pendahulu-pendahulunya.

Sekretariat identitas, 9 April 2016

Read more...

Rabu, 06 April 2016

Hari Nelayan

Hari Nelayan
Di hari nelayan ini, saya mengaku bingung, refleksi apa yang hendak saya tawarkan. Kita telah mengeluarkan jurus begitu rupa, untuk mengajak para nelayan berprilaku santun terhadap jeratannya. Kita seperti kehabisan tenaga untuk mengarahkan mereka pada pengetahuan yang benar, yang sesuai dengan kepentingan alam, kepentingan masa depan, kepentingan pasar jangka panjang. Lantas, perubahan apa yang telah terjadi? Pengertian apa yang telah kita peroleh?
Barangkali kita tak beranjak kemana-mana, kita hanya bermain kucing kucingan, kita berbicara seperti para monolog yang suaranya memantul dan berdengung di telinga kita sendiri. Kita pun seperti ideolog tua berparas suram, lelah menggandeng kaum yang tak patuh. Namun, kita pun terus maju, begitu saja, tanpa kepastian. Kita seperti pemeluk kepercayaan yang bertahan dengan selemah-lemahnya iman.
Untuk itu, di hari nelayan ini, di hari yang nelayan pun tak mengerti kenapa mereka jadi penting di tanggal 6 April ini, kita perlu melihat ulang proses-proses yang telah dilalui untuk mengkoreksi cara-cara nelayan dalam menangkap ikan. Kita mulai menggali sejak kapan kita berfikir bahwa nelayan itu merusak? Apakah sejak kita kuliah di perikanan-kelautan, sejak kita mengikuti forum-forum ilmiah di kampus? sejak kita membaca surat kabar - majalah tentang kerusakan laut? Lalu, apakah pernah kita mempunyai pengetahuan dasar sebelum pemahaman itu hadir dan melingkupi kita? Apakah pengetahuan kita terberi ataukah berdasar pada dialektika kita dengan alam dan masyarakat nelayan?
Kita pun mengamini pengetahuan tersebut dengan alasan lebih ilmiah. Lalu menganggap semua entitas yang menolak ide-ide tersebut tidak benar, perlu diluruskan, dihancurkan. Maka gencarlah kita kampanye - sosialisasi, dengan menafikan nilai-nilai pihak seberang. Lupa, bahwa mereka juga membutuhkan proses untuk mencerna pengetahuan dan nilai-nilai yang sedang mereka genggam. Kita tak pernah mencari tahu, kenapa mereka memegang pengetahuan dan nilai tersebut dengan begitu kuat, hingga mereka mau berdarah-darah untuk mempertahankan nilainya itu? Dengan pengetahuannya yang sudah tertancap dalam itu, mereka dapat hidup dan akhirnya bergantung. Tentu, ada pihak-pihak yang menikmati pola-pola kerja para nelayan tersebut. Lantaran lebih efisien, lebih menghasilkan, lebih santai.
Apakah perlu kita mencoba untuk hidup bersama mereka, merasakan penderitaan batin mereka, meresapi nilai-nilai mereka, hingga kita mengerti landasan mereka melakukan penangkapan yang tidak pantas menurut kita itu. Agar kita dapat lebih adil terhadap objek yang kita ingin ubah sikap dan metodeloginya itu. Melihat mereka sebagai subjek, yang Mungkinkah kita, setelah hidup bersama dengan cara mereka dengan sabar, menjadi bagian dari keluarga mereka, mengajak mereka berefleksi lebih dalam, mungkin setiap mereka pulang mengebom atau membius ikan, untuk melihat prakteknya dengan pandangan yang lebih luas, menjangkau masa lalu dan menerobos masa depan.
Dari refleksi kritis, pelan-pelan, barangkali ada jalan keluar dari pemahaman mereka sendiri. Setelah mereka juga berproses, berdialektika, bahwa mereka tak pantas bekerja dengan terus menerus begini dan begitu. Dengan pemahaman baru itu, yang diperolehnya secara bolak-balik, saya yakin akan ada perubahan. Minimal mereka mulai mendengar kita dengan benar-benar mendengar.

**

Satu hal yang perlu kita indahkan, bahwa pengetahuan baru tidak akan membantu mereka untuk merubah metodelogi mereka. Pengetahuan mereka Mungkin bertambah, tapi etika mereka begitu-begitu saja.

Read more...

Kamis, 24 Maret 2016

Supir Taksi

Taksi sejak mulanya dicitrakan sebagai tumpangan berkelas, wangi, sejuk, dan privat. Taksi muncul di kota-kota besar, tempat uang mengalir deras, sehingga gelembung kelas tengah - atas meluap-luap. Tampaknya, bos-bos perusahaan taksi melihat ceruk ekonomi untuk memanjakan kaum berduit itu. Semakin melimpah borjuisnya, maka semakin meruaklah tumpangan excellence seperti itu.
Memang penumpang membayar cukup banyak, hingga ratusan rupiah hanya satu kali jalan. Berbeda dengan naik angkot yang tidak sampai mengeluarkan uang biru dan kadang-kadang recehan sudah cukup. Namun, ongkos sebesar itu tidak besar bagi seorang supir taksi. Supir harus membagi pendapatan dalam sehari dengan perusahaan taksi, yang akhirnya hanya memperoleh sebagian dari keseluruhan.
Saya merasakan penderitaan Sang Supir, sebab beberapa kali ngobrol dengan mereka jika sedang di Jakarta, dalam beberapa tahun terakhir. Biasanya, dalam sehari mereka memperoleh Rp. 100.000 - Rp. 300.000, itupun dengan bekerja satu harian penuh, bolak balik mengantar penumpang. Dalam seminggu mereka bekerja 3 - 4 hari, bekerja selang - seling, setiap bekerja dalam sehari, mereka harus istirahat sehari berikutnya, lalu bekerja lagi. . Ada pula yang memilih bekerja malam hari, dari magrib hingga subuh. Mereka menembus malam untuk mencari penumpang. Memang, pekerjaan ini hanya duduk-duduk di depan kemudi, tapi sebenarnya cukup menguras energi. Bayangkan Anda seharian berada dalam mobil di tengah kota Jakarta? Bayangkan lagi, jika Anda berada di jalanan setiap hari di Jakarta? Jadi, energi dan tidur cukup begitu penting bagi pekerjaan mereka.
Rata-rata supir taksi sudah lama bekerja sebagai supir, ada yang lebih dari sepuluh tahun. Mereka bisa bertahan hidup, itupun dengan tertatih-tatih dengan mengandalkan pemasukan yang cukup. Hingga bisa menghidupi anak dan istri, yang banyak juga tidak berada di Jakarta, tapi berada di pedalaman Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak diantara para supir yang merantau jauh-jauh untuk menghidupi keluarga. Mereka mensiasatinya dengan pulang bertemu anak dan istri sekali atau dua kali dalam sebulan.
Anggaplah mereka memperoleh Rp. 200.000 perhari, dikalikan 15 berarti Rp. 3 juta dalam sebulan. Dana itu mereka distribusikan untuk membeli barang-barang pokok untuk konsumsi, menyekolahkan anak, dan juga jajan rokok dan kopi. Saya pikir, para supir ini mampu mengelola dana sebesar itu, dengan cara berhemat. Tapi, saya tidak habis pikir, jika pendapatan mereka berkurang hingga 30-50%, sejak adanya transportasi onlen. Jadi pendapatannya hanya Rp. 1.5 - 2 juta perbulan. Tampaknya, dengan penghasilan seperti itu, hidup di Jakarta lagi, benar-benar malapetaka.
Maka wajarlah, para supir yang merasa senasib, melakukan protes di jalan-jalan Kota Jakarta. Protes terhadap kedatangan transportasi onlen, yang lebih progressif, lebih murah, lebih memanjakan kaum menengah atas. Tau lah, menengah atas juga cari yang murah, apalagi dengan pelayanan nyaman.
Tampaknya, kemajuan selalu berpihak pada mereka yang lebih adaptif terhadap kehendak kelas berpunya, dan tahu keinginan-keinginan mereka. Yang jadi korban adalah mereka yang hanya mengandalkan tenaganya, untuk dijual pada perusahaan taksi. Kelas menengah untung, perusahaan taksi tidak rugi-rugi amat.

Read more...

Minggu, 20 Maret 2016

Jam Malam

Saat-saat ini, kita tak tahu, apakah situasi kampus sudah begitu genting, sudah begitu mencekam, hingga berlaku jam malam? Mahasiswa hanya berada di antara tembok-tembok kelam, rerumputan, pohon-pohon, angin sepi, bercanda ria memandang ikan-ikan di atas bara. Kita pun linglung, jam malam ini faktanya menjadi aturan yang bergigi, dengan mengadili mahasiswa dengan skorsing. Justru, semakin bergigi aturan seperti ini menjadi kian lucuh.
Bayangkan, mahasiswa yang sedang mekar-mekarnya, sedang asyik-asyiknya, berdiskusi tentang banyak hal. Barangkali tentang matakuliah yang sulit ia mengerti, tentang dosen-dosen yang baik hatinya, tentang gadis-gadis yang menawan, tentang kawahcandradimuka yang sedang ia buka pintunya, ia masuki dengan pelan-pelan. Terpaksa harus berurusan dengan waktu luang 6 bulan (1 semester) tanpa ada ativitas belajar dan mengajar dalam kampus, gara-gara bakar-bakar ikan di malam hari dalam kampus. Memang, waktu luang itu mereka bisa manfaatkan untuk mengerjakan banyak hal, tapi waktu luang itu juga sangat penting untuk menggali lebih dalam ilmunya, tentang spesies-spesies laut, topografi, pengelolaan kawasan laut, atau tentang masyarakat pesisir. Begitu bernilainya waktu, bagi anak muda yang masa depan yang rasa-rasanya makin sulit, jika tidak ditempa dan diarahkan dengan baik di masa sekarang.
Sulitnya lagi, adalah rasa prustasi mereka, terhadap hukuman yang tidak sepadan dengan pelanggaran. Adik-adik ini mungkin terbiasa hidup bijak di masa sekolah dahulu, terbiasa tepat waktu dan rajin mengerjakan tugas sekolah. Barangkali di antara mereka ada anggota OSIS, Pramuka, PMR, dan pengurus mushallah, yang punya impian tinggi tentang bagaimana berkiprah di masa depan. Dengan hukuman itu, rasa percaya mereka terhadap institusi tempat orang tua mereka titipkan untuk mendidik mereka, melatihnya menjadi sosok professional, berguna bagi orang banyak, melempem. Yang timbul adalah perasaan-perasaan kesal, terhakimi, teracuhkan, yang buntutnya dapat merusak mental dan moral mereka. Mestinya, Bapak-Bapak Pengurus Fakultas dan Kampus dapat sedikit memikirkan dan merasakan dampak-dampak psikologis seperti itu.
Sebaiknya, kebijakan jam malam ini perlu dikaji ulang, demi menjaga ketentraman dunia pendidikan di kampus kita. Sebab, tak dapat dipungkiri, jika aturan seperti ini diberlakukan, mungkin ke depan sudah ada ratusan orang harus berhenti kuliah hanya karena jam malam. Bayangkan, berapa banyak mahasiswa di UKM-UKM, di senat-senat, di sekretariat-sekretariat BEM lainnya. Aturan fakultas juga berarti aturan kampus, tidak boleh setengah-setengah dalam menerapkan aturan. Baiknya, buatlah aturan yang mendukung kultur akademik, yang tidak menyusahkan gairah belajar mahasiswa.
Sebab, perlu dipikirkan bahwa mahasiswa itu adalah mahluk pembelajar, yang siang dan malamnya digunakan untuk belajar. Sedangkan tempat yang paling nikmat, suasananya mendukung untuk belajar adalah di kampus, dimana mereka dapat bertemu dengan teman-teman kuliahnya, hingga suasana dialog dan perdebatan dapat terbangun. Lagian, otak semakin malam semakin encer kan?
Jadi, Pimpinan fakultas jangan baper deh, ingat, mereka ini adik-adik yang butuh bimbingan Prof, bukan skorsing dari Prof.
STOP KEKERASAN AKADEMIK

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP