Kamis, 13 Agustus 2015

Makan

Siang ini saya lapar dan belum tahu dengan cara apa menuntaskan rasa lapar.

Tiba-tiba saya terpikir tentang lapar. Apa kiranya pikiran orang yang dilanda lapar? Apakah dalam imajinasinya hanya tentang bagaimana caranya menuntaskan rasa lapar? bahan-bahan apa yang harus dimakan agar lapar terbayar? Serta bagaimana mengatasi rasa lapar di kemudian waktu?

Karena sifatnya yang repetitif dan rutin, makan bukan lagi sekadar urusan kenyang, tapi meningkat kadarnya secara kualitatif sesuai dengan kemampuan modal. Orang yang memiliki kelebihan modal, akan selalu mencari variasi makanan dengan standar-standar tinggi. Hari ke hari, insting untuk eksperimen rasa selalu memanggil, jadilah parade pemuasan hasrat pada makanan yang lezat, dengan tempat yang nyaman dan privat.

Namun, saking seringnya berganti-ganti jenis makanan, membuatnya cepat jengah. Selain itu, lantaran sudah tenggelam dalam hasrat akan rasa-selera, yang bersifat individual-partikular, membuat seseorang merelatifkan segala yang lain dari dirinya, misalnya terhadap komunitasnya yang kebanyakan masih kelaparan dan makan makanan yang tidak bergizi. Hasrat individual yang orientasi perut dan bawah perut (epithumia) itu, membutakan penglihatannya akan pencarian kebaikan bersama. Setiap orang mencari kebaikan untuk dirinya sendiri-sendiri, dengan mengandaikan bahwa orang lain adalah saingan dalam pemuasan nafsu makan dan nafsu lain-lainnya.

Lantas, bagaimana menanggung selera itu? Jawaban yang paling mungkin dan diterapkan banyak orang, yaitu dengan mencari uang sebanyak-banyaknya. Bagaimana caranya memperbanyak uang? Banyak jalannya, karena Uang sudah jadi Panglima. Hingga keterarahan hidup ini selalu mengarah ke uang, entah telah menjadi politikus, pejabat, dosen, polisi, menjadi makelar-makelar.

Sayangnya, hasrat akan uang, yang diandaikan uang dapat menyelesaikan segalanya, baik itu urusan makan, urusan harga diri, urusan jabatan, dan urusan sepele-sepele lainnya, menjadi titik fokus utama. Dan titik fokus itulah yang diserap oleh anak didik kita, sejak kecil mereka diajarkan bahwa orang yang paling baik dalam hidup adalah orang yang punya banyak uang. Dan orang dewasa memang mengarahkan ke sana, bahkan juga menjadi model, dengan memaksakan pada anak didik materi-materi pendidikan teknis yang kiranya ke depan dapat berguna untuk mendapat banyak uang. Pendidikan bukan lagi urusan tentang pengarahan anak didik pada yang baik, yang elok, yang membebaskan. Citra-citra yang baik demi kepentingan bersama diputarbalikkan menjadi citra-citra yang baik demi kepentingan individu, yaitu agar anak-anak ke depan mampu mencari uang yang banyak. Agar ia dapat memuaskan nafsunya. Memuaskan seleranya terhadap makanan, terhadap kenikmatan-kenikmatan lainnya yang tidak ada batasnya.

Untuk itu, sebaiknya pendidikan merupakan agenda pembebasan jiwa manusia yang diarahkan pada yang kebaikan sejati. Menurut Platon dalam Buku Mendidik Pemimpin dan Negarawan karya A. Setyo Wibowo-Haryanto Cahyadi, jiwa diumpamakan seperti ruang terbuka dalam diri manusia, yang berkatnya manusia mengidentifikasikan dirinya dengan sesuatu di luar dirinya, sehingga nantinya mirip dunia inderawi atau mirip idea, menyerupai binantang atau yang ilahi. Pendidikan adalah upaya conversio atau pembalikan arah pada mata jiwa ke arah yang baik, yang sejatinya jiwa bersifat plastis dan tergantung pada intensitas dan orientasi yang ia berikan pada dirinya.

*Proses mengakhiri tulisan ini, tiba-tiba lapar saya hilang, namun jadi lemas. Meski begitu, jiwa saya serasa bebas setelah menulis cuap-cuap ini.

Read more...

Kamis, 23 Juli 2015

Manfaatkan Phronima untuk Perbaikan Budidaya Udang Windu

Profil Kelompok Phronima, Kawasan Minapolitan Lowita, Kec. Suppa, Kab. Pinrang.

Kelompok ini didampingi oleh Ir. Taufik (Pengusaha hatchery dan tokoh perikanan Suppa)  dan Prof. Hattah Fattah, MSc (Akademisi dari Universitas Muslim Indonesia) sejak tahun 2000. Kelompok Phronima terbagi menjadi dua berdasarkan kawasan, yaitu phronima 1 yang berada di bagian selatan, sedangkan kelompok pronhima 2 berada di bagian utara. Kedua kawasan itu dianugerahi dengan kehadiran pakan alami berupa makro bentos sejenis krustacea bernama Phronima suppa, bahasa lokalnya disebut were yang artinya berkah. Pakan alami inilah yang membedakan kawasan ini dengan kawasan budidaya udang yang lainnya di Sulawesi Selatan.

                                          
            Ir. Taufik mengenakan baju putih (FGD Kelompok Phronima)

Pada 2013, Ir. Taufik bersama Prof. Hattah menggandeng 10 petambak di kawasan Phronima (saat ini masuk dalam kawasan Minapolitan Lowita Kab. Pinrang) untuk melakukan penelitian (demplot) pemeliharaan udang windu menggunakan phronima dengan metode kultur pronhima di petakan khusus. Petambak yang digandeng tersebut mengelola lahan seluas 15 hektar, 10 hektar untuk tambak dan 5 hektar untuk petak pembesaran (kultur) Phronima suppa (sejenis were). Masing-masing petambak menebar benur sebanyak 10.000 perhektar. Pemeliharaan dilakukan selama 2 bulan setelah penggelondongan sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Hasil panen rata-rata pada siklus pertama yaitu 200 – 300 kilogram atau diperkirakan sintasan (daya hidup) 80 – 90 persen. Saat itu, Ir. Taufik juga menghitung biaya produksi dan untung rata-rata yang diperoleh petambak dengan harga udang standar.


Prof. Hattah membawa materi dalam pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk Penyuluh Perikanan Kab. Pinrang


Untuk meningkatkan produksi dan tetap menjaga kualitas lingkungan, para petambak yang didampingi Ir. Taufik dan Prof. Hattah Fattah terus melakukan inovasi. Sejak bulan Agustus 2014, telah ditemukan format baru untuk melakukan penghematan dan peningkatan produksi udang windu untuk kawasan yang menggunakan Phronima suppa. Dengan cara pengurangan jumlah tebaran, yang sebelumnya 15.000 – 20.000 diturunkan menjadi 10.000 – 7.000 perhektar, dengan pertimbangan daya dukung lingkungan dan ketersediaan Phronima suppa di tambak. Dengan jumlah 10.000 - 7000, berarti sebanyak 10 - 7 ekor udang menempati ukuran 1 m2. Dengan cara seperti ini, jumlah pronhima yang tersedia dalam tambak cukup hingga ukuran yang diinginkan pasar dan tidak habis di tengah jalan, misalnya habis pada ukuran 60 ekor/kg, yang menyebabkan kematian udang pada ukuran tersebut.

Peliputan Aktivitas Kelompok Phronima oleh Net. TV Makassar, yang difasilitasi oleh WWF-Indonesia.


Penurunan jumlah dapat mempersingkat  waktu panen, masa pemeliharaan yaitu selama 21 hari di tambak tokolan dan  40 – 45 hari di tambak pembesaran. Masa pemeliharaan dan masa panen yang singkat juga berpengaruh terhadap jumlah siklus pertahun, yang sebelumnya jumlah siklus hanya 2 – 3 siklus, dengan metode baru dapat menambah jumlah siklus, yaitu 5 – 6 siklus pertahun. Metode seperti ini telah dipraktekkan oleh beberapa petambak di kawasan pronhima 1 dan akan menyebar ke seluruh kawasan phronima.  

Syarat lain yang harus dipenuhi yaitu, tersedianya dua atau tiga petak tambak minimal. Yang terdiri atas tambak tokolan atau gelondongan (20 – 30 are) dengan tambak pembesaran (8000 – 10000 m2), ditambah sebuah kolam untuk persediaan pronhima (10 – 20 are). Sehingga udang dari hatchery terlebih dahulu ditokolkan di tambak tokolan, lalu setelah berumur 21 hari, udang dipindahkan ke tambak pembesaran yang sebelumnya telah dilakukan juga kultur phronima. Pada saat udang berukuran 60 – 40 ekor/kg, udang dapat dipindahkan ke tambak phronima atau dilakukan panen parsial. Udang yang telah dipindahkan tersebut dapat dipanen hingga ukuran 30 – 20 ekor/kg. Pemindahan tersebut akan memungkinkan phronima kembali berkembang pada tambak pembesaran. Pada saat bersamaan, tambak tokolan sudah terisi lagi oleh benur dan tambak pembesaran dilakukan persiapan dan kultur pronhima, sehingga budidaya udang dapat dilakukan secara modular.

Hewan Phronima suppa, crustacea kecil yang dimanfaatkan oleh petambak Suppa sebagai pakan alami budidaya udang windu.
                         

Metode budidaya seperti ini dapat meningkatkan produksi udang windu, sebab dalam setahun produksi udang dapat mencapai hingga 1 ton dengan kemungkinan hidup mendekati 100 persen. Metode sebelumnya, dengan padat tebar 15.000 – 20.000 hanya dapat melakukan panen dua - 3 kali atau dua siklus, dengan hasil produksi pertahun, yaitu 400 kilogram.

Pemanenan dilakukan pada saat ukuran udang sudah masuk ukuran pasar, dan untuk kasus Suppa yaitu dengan menunggu jadwal pembelian dari PT. ATINA, dimana PT. ATINA membeli udang pada saat kondisi pasang, yaitu masa bonang. Sebab pada saat pasang, udang dalam kondisi prima, udang tidak kropos dan moulting. Namun, jika kondisi tambak tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkannya pemeliharaan udang, lantaran pakan alami Pronhima Suppa sudah berkurang di tanbak pembesaran, maka panen harus segera dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka udang akan mati karena kelaparan.

Hal lain yang perlu diapresiasi dari kelompok ini yaitu para petambak tidak lagi menggunakan pestisida dalam mengatasi hama dan penyakit, senantiasa berkoordinasi saat pemasukan air, perbaikan air, panen, dan mengatasi persoalan lingkungan, sosial dan ekonomi petambak.Kelompok ini didampingi oleh Ir. Taufik (Pengusaha hatchery dan tokoh perikanan Suppa)  dan Prof. Hattah Fattah, MSc (Akademisi dari Universitas Muslim Indonesia) sejak tahun 2000. Kelompok Phronima terbagi menjadi dua berdasarkan kawasan, yaitu phronima 1 yang berada di bagian selatan, sedangkan kelompok pronhima 2 berada di bagian utara. Kedua kawasan itu dianugerahi dengan kehadiran pakan alami berupa makro bentos sejenis krustacea bernama Phronima suppa, bahasa lokalnya disebut were yang artinya berkah. Pakan alami inilah yang membedakan kawasan ini dengan kawasan budidaya udang yang lainnya di Sulawesi Selatan.

Pada 2013, Ir. Taufik bersama Prof. Hattah menggandeng 10 petambak di kawasan Phronima (saat ini masuk dalam kawasan Minapolitan Lowita Kab. Pinrang) untuk melakukan penelitian (demplot) pemeliharaan udang windu menggunakan phronima dengan metode kultur pronhima di petakan khusus. Petambak yang digandeng tersebut mengelola lahan seluas 15 hektar, 10 hektar untuk tambak dan 5 hektar untuk petak pembesaran (kultur) Phronima suppa (sejenis were). Masing-masing petambak menebar benur sebanyak 10.000 perhektar. Pemeliharaan dilakukan selama 2 bulan setelah penggelondongan sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Hasil panen rata-rata pada siklus pertama yaitu 200 – 300 kilogram atau diperkirakan sintasan (daya hidup) 80 – 90 persen. Saat itu, Ir. Taufik juga menghitung biaya produksi dan untung rata-rata yang diperoleh petambak dengan harga udang standar.

Untuk meningkatkan produksi dan tetap menjaga kualitas lingkungan, para petambak yang didampingi Ir. Taufik dan Prof. Hattah Fattah terus melakukan inovasi. Sejak bulan Agustus 2014, telah ditemukan format baru untuk melakukan penghematan dan peningkatan produksi udang windu untuk kawasan yang menggunakan Phronima suppa. Dengan cara pengurangan jumlah tebaran, yang sebelumnya 15.000 – 20.000 diturunkan menjadi 10.000 – 7.000 perhektar, dengan pertimbangan daya dukung lingkungan dan ketersediaan Phronima suppa di tambak. Dengan jumlah 10.000 - 7000, berarti sebanyak 10 - 7 ekor udang menempati ukuran 1 m2. Dengan cara seperti ini, jumlah pronhima yang tersedia dalam tambak cukup hingga ukuran yang diinginkan pasar dan tidak habis di tengah jalan, misalnya habis pada ukuran 60 ekor/kg, yang menyebabkan kematian udang pada ukuran tersebut.

Penurunan jumlah dapat mempersingkat  waktu panen, masa pemeliharaan yaitu selama 21 hari di tambak tokolan dan  40 – 45 hari di tambak pembesaran. Masa pemeliharaan dan masa panen yang singkat juga berpengaruh terhadap jumlah siklus pertahun, yang sebelumnya jumlah siklus hanya 2 – 3 siklus, dengan metode baru dapat menambah jumlah siklus, yaitu 5 – 6 siklus pertahun. Metode seperti ini telah dipraktekkan oleh beberapa petambak di kawasan pronhima 1 dan akan menyebar ke seluruh kawasan phronima.  

Syarat lain yang harus dipenuhi yaitu, tersedianya dua atau tiga petak tambak minimal. Yang terdiri atas tambak tokolan atau gelondongan (20 – 30 are) dengan tambak pembesaran (8000 – 10000 m2), ditambah sebuah kolam untuk persediaan pronhima (10 – 20 are). Sehingga udang dari hatchery terlebih dahulu ditokolkan di tambak tokolan, lalu setelah berumur 21 hari, udang dipindahkan ke tambak pembesaran yang sebelumnya telah dilakukan juga kultur phronima. Pada saat udang berukuran 60 – 40 ekor/kg, udang dapat dipindahkan ke tambak phronima atau dilakukan panen parsial. Udang yang telah dipindahkan tersebut dapat dipanen hingga ukuran 30 – 20 ekor/kg. Pemindahan tersebut akan memungkinkan phronima kembali berkembang pada tambak pembesaran. Pada saat bersamaan, tambak tokolan sudah terisi lagi oleh benur dan tambak pembesaran dilakukan persiapan dan kultur pronhima, sehingga budidaya udang dapat dilakukan secara modular.

Metode budidaya seperti ini dapat meningkatkan produksi udang windu, sebab dalam setahun produksi udang dapat mencapai hingga 1 ton dengan kemungkinan hidup mendekati 100 persen. Metode sebelumnya, dengan padat tebar 15.000 – 20.000 hanya dapat melakukan panen dua - 3 kali atau dua siklus, dengan hasil produksi pertahun, yaitu 400 kilogram.

Pemanenan dilakukan pada saat ukuran udang sudah masuk ukuran pasar, dan untuk kasus Suppa yaitu dengan menunggu jadwal pembelian dari PT. ATINA, dimana PT. ATINA membeli udang pada saat kondisi pasang, yaitu masa bonang. Sebab pada saat pasang, udang dalam kondisi prima, udang tidak kropos dan moulting. Namun, jika kondisi tambak tidak lagi memungkinkan untuk dilanjutkannya pemeliharaan udang, lantaran pakan alami Pronhima Suppa sudah berkurang di tanbak pembesaran, maka panen harus segera dilakukan. Jika tidak dilakukan, maka udang akan mati karena kelaparan.

Hal lain yang perlu diapresiasi dari kelompok ini yaitu para petambak tidak lagi menggunakan pestisida dalam mengatasi hama dan penyakit, senantiasa berkoordinasi saat pemasukan air, perbaikan air, panen, dan mengatasi persoalan lingkungan, sosial dan ekonomi petambak.

Idham Malik

Read more...

Rabu, 17 Juni 2015

Bincang - Bincang

Saya tak dapat membayangkan keadaan manusia tanpa di selimuti perbincangan. Manusia menjadi tidak tahu dan tidak mau tahu tentang apa saja, ia tak dapat lagi dibedakan dan membedakan, apakah ia manusia ataukah alam. Barangkali, manusia tanpa bahasa ibarat pohon yang tumbuh, hidup dari matahari dan unsur-unsur di bumi. Tapi, manusia bukan pohon, ia membutuhkan banyak hal, bukan hanya panas surya dan hara tanah.
Manusia hadir, pelan-pelan mengolah alam sekitarnya dan menciptakan bahasa. Bahasa digunakannya untuk saling koordinasi, saling pengertian, saling mengungkapkan pikiran dan perasaan. Bahasa pun adalah cerminan eksternal manusia, yang diinternalisasi. Bahasa dipertukarkan, diperkaya oleh percakapan, baik dengan kawan, maupun melalui dialog dengan bacaan. Makanya seorang filsuf bernama Ernst Cassirer mendaku bahwa esensi dari manusia adalah simbol atau homo simbolik, yang akhirnya menegaskan bahwa manusia adalah mahluk sosial.
Dengan bahasa kita berbincang, dengan nada-nada gembira dan juga gelisah. Kita mengeluarkan material abstrak menggunakan lidah, dengan getar yang berbeda pada setiap orang. Getar yang sebabkan oleh mekanika di balik lapisan daging di leher kita, dan getar yang berangkat dari tekad kita, yang juga sangat dipengaruhi oleh kemarahan, emosi, dan juga ketakutan.
Bincang-bincang menghidupkan kita, membuat kita berfikir, menalar, memancing kita bekerja. Sebagaimana bekerja, kita memperoleh sesuatu darinya. Ada sesuatu yang keluar dari diri kita pada saat bicara, yang esensial, yang eksistensial, pengetahuan kita, gelisah kita, hasrat kita, yang menentukan harga dan nilai kita.
Kita pun menyimak kata-kata teman bicara, ada yang kita afirmasi dan ada yang kita bantah, kita sepakat dan tidak sepakat, tapi kita mengakui perbedaan. Sebagaimana bekerja, kita puas dengan itu. Sebab, kata-kata, kalimat, dan paragraf, yang meluncur dari kita adalah hasil usaha, hasil tekad kita untuk berbagi. Dalam bekerja pun kita biasanya puas dengan hasilnya, ibarat pelukis puas dengan hasil lukisannya, koki puas dengan masakannya, penulis puas dengan tulisannya, pemain sepak bola puas dengan gol-golnya.



Bincang-bincang yang kita lakukan dimana-mana itu, ketika kita menyesuaikan frekuensi, melonggarkan otot-otot, memusatkan perhatian pada kata-kata, pikiran dan gagasan. Di situ kita saling memberi energi, serupa vitamin, kita menyerap unsur-unsur dalam kata-kata untuk kesehatan pikiran dan jiwa kita. Dari situ juga, kita makin yakin akan langkah-langkah yang telah kita rancang di pikiran, yang terus hadir, sedikit demi sedikit, bagai potongan mozaik dari gambaran besar kenyataan di masa depan. Meski masa depan itu tidak cerah. Tapi murung. Justru dari kemurungan masa depan itu, banyak dari kita yang malah menjadi cerah.
Bincang-bincang itu merawat pikiran kita, ia seperti air yang terus kita minum sepanjang jantung kita berdetak, bekerja mengedarkan air kental bernama darah. Andai apa yang terjadi ketika bincang-bincang itu dikerdilkan? dikendalikan? dan direndahkan? Atau bincang-bincang hanya berputar soal terik matahari yang membuat kita cepat lelah, tentang perempuan baru di kantor, tentang makanan di sudut jalan yang kurang gurih, tentang keluaran mobil terbaru, tentang remah-remah roti di atas kasur?
Kita lupa atau tidak punya keiinginan untuk membicangkan nasib kita, nasib negara kita, nasib agama kita, nasib masa depan alam kita. Kita raib dalam membincangkan semakin sulitnya hidup dan penyebab kesulitan-kesulitan hidup itu. Kita malas membincangkan skenario-skenario para penindas yang merampas harta dan kekayaan alam dan bangsa kita. Kita tutup mata terhadap fenomena-fenomena yang dari ke hari menghampiri kita, semisal beras impor, garam impor, ikan impor, terigu impor (gandum), kedelai impor, buah impor, mobil impor, pikiran impor, teknologi impor dan impor-impor yang sangat banyak jenisnya itu.
Kita seakan-akan tak punya waktu untuk mendiskusikan hal-hal seperti keanekaragaman hayati kita yang kian lama kian berkurang. Padahal, keanekragaman hayati itulah identitas kita, potensi kita, yang membuat kita menjadi bangsa yang makmur, merdeka, berdaulat, menjadi bangsa yang kaya raya.
Kita semakin kesulitan untuk mencerna dan menggelisahkan cadangan batu bara, minyak, emas, besi, nikel kita yang kian lama kian berkurang, Pihak-pihak tertentu terus menerus mengeruk, menghisap kekayaan kita, kekayaan yang diwariskan dari leluhur kita, yang dahulu berdarah-darah merebut kemerdekaan demi kedaulatan anak cucunya.
Sementara rakyat banyak tetap saja menderita, yang dari hari ke hari bekerja keras, hidup untuk hari ini, esok lusa belum tentu. Rakyat banyak masih bergulat dengan hal-hal sederhana, menguras energi seharian untuk menghidup diri dan keluarganya. Agar anak-anaknya dapat gizi yang cukup, dapat bersekolah, dan dirawat di rumah sakit dengan baik ketika terjangkit penyakit.
Rakyat berjuang dalam hidup, mengandalkan tenaganya, kekuatan fisik dan pikirannya. Dan banyak di antara mereka yang berjuang sendiri atau bersama komunitasnya. Banyak diantara mereka yang tidak tersentuh oleh program-program pemerintah, program-program pemberdayaan masyarakat LSM, oleh program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa, banyak di antara mereka yang bertanya-tanya dan mencari jawab, bagaimana mana mengatasi hidup yang ganas ini, dimana lahannya tempatnya menggarap sehari-hari sudah kritis akibat kerusakan lingkungan, hingga akhirnya mereka makin frustasi dan memutuskan untuk menjual lahannya. Ada pula yang termakan bujukan kaum berpunya untuk menjual lahan-lahannya, karena ketidaktahuan akan gambaran besar modal dan proyek pembangunan. Membuat mereka kehilangan ladang, dan akhirnya menjual tenaganya sebagai buruh pabrik, dengan harga yang sangat murah.
Banyak pula di antara mereka yang telah memperoleh program pemerintah, program LSM, program KKN mahasiswa, tapi senyata-nyatanya, mereka masih tidak sanggup mendefenisikan metode apa yang harus ditempuh agar hidup bisa dijalani dengan agak ringan. Entah, hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang salah dari setiap program itu?
Bincang-bincang lain, yang mungkin kita seriusi adalah bahwa banyak hal berguna di alam dan di masyarakat kita yang belum diseriusi dengan baik. Rakyat kita sejatinya mampu memproduksi beras hingga kita mampu mengekspor beras ke bangsa-bangsa lain, rakyat kita sejatinya mampu memproduksi garam sehingga kita tak perlu membeli garam dari pantai negara lain, rakyat kita mampu mengolah buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, yang secara logika tidak perlu lagi kita meminta-minta apel, jeruk dari negara lain. Rakyat kita mampu memproduksi ikan hasil laut yang luasnya tiada tandingan, sehingga kita tak perlu khawatir dengan gizi protein Indonesia.
Tapi, itu semua jika kita serius membicangkan hal-hal ini, sedetail-detailnya, sedalam-dalamnya. Agar kita menemukan jalan keluar dari kerumitan persoalan-persoalan hidup ini, entah persoalan makan, persoalan makna, ketakutan, kesenian, budaya, stabilitas sosial, dan tentang eksistensi diri kita.
Saya hampir lupa bahwa tulisan kita tentang bincang. meluber-luber hingga jauh. Maklum, tulisan kali ini bukan bermaksud untuk membuat tulisan yang berisi gagasan yang runut, tapi sekadar ingin berbincang-bincang dengan handai touladan sekalian.

Selamat malam, selamat menanti bulan ramadhan.

Selasa, 16 Juni 2015
Idham Malik

Read more...

Sabtu, 30 Mei 2015

Resiko Tambak Supra Intensif Terhadap Lingkungan Perairan

Udang Vannamei merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis dan merupakan bahan makanan yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia dan luar negeri. Udang vannamei secara resmi diizinkan masuk ke Indonesia melalui SK Menteri Kelautan dan Perikanan RI. No. 41/2001, sebagai respon dari menurunnya produksi udang windu akibat serangan penyakit dan kualitas lingkungan yang buruk. Kepadatan umum budidaya udang vannamei di Indonesia berkisar 80 – 100 ind./m2, di beberapa tempat juga ada yang menebar 25 – 50 ind./m2. 

Perkembangan metode budidaya udang vannamei cukup pesat. Dalam tiga tahun belakangan ini mencuat dengan sistem supra intensif. Namun metode baru ini menimbulkan kontraversi di kalangan pemangku kepentingan budidaya di Indonesia. Di satu sisi tambak berukuran minimalis yaitu sekitar 1000 – 3000 m2  dengan kapasitas kepadatan permeter sebesar 500 – 1000 ekor/m2  itu mampu menghasilkan produksi hingga 15 ton persiklus dan membantu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam peningkatan target produksi. Namun di sisi lain, praktek budidaya udang sistem supra intensif ini tidak mengindahkan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan karena ekses berupa limbah budidaya yang massif.


                       Foto tambak supra intensif di Kupa, Barru

Tambak jenis supra intensif diperkenalkan oleh Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, MP, Kepala Dinas Kelautan Perikanan Sulawesi Tengah dan Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) wilayah Sulawesi. Launching tambak supraintensif dilakukan pada 19 Oktober 2013 di Kuppa, Kab. Barru, yang dimana saat itu dihadiri beragam pemangku kebijakan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan dari pusat. Hasanuddin Atjo mendaku merancang sistem supra intensif secara integratif antar subsistem, 1) penggunaan benih berkualitas, 2) pengendalian kesehatan dan lingkungan, 3) standarisasi sarana dan prasarana, 4) aplikasi teknologi yang akurat dan tepat, serta manajemen usaha yang berkelanjutan.  

Meski secara internal sistem supra intensif diakui karena berhasil panen dengan kepadatan tinggi dengan kelulusan hidup yaitu 94 persen, namun konsep kesehatan lingkungan dan berkelanjutan masih bersifat internal, seperti meminimalkan bahan organik dalam tambak agar tidak meracuni udang dan menjadi pathogen untuk berkembang, tapi belum memperhatikan pengaruh bahan organik yang dibuang ke luar. Hal ini akan berakibat buruk bagi ekosistem perairan, dimana pembuangan limbah padat menurut Atjo sendiri sekitar 30 persen atau 4.500 kg dari jumlah pakan yang ditebar dalam satu siklus untuk satu tambak yang kita perkirakan sebanyak 15.000 kg, dengan FCR (Feed Conversion Ratio) minimal 1 : 18. Sedangkan tambak Atjo terdiri atas dua tambak, yang berarti limbahnya dapat mencapai 9000 kg dalam satu siklus, dan untuk satu tahun operasional tambak sebanyak 2 siklus. Belum lagi jika kita menghitung limbah cair yang dihasilkan, dimana pembuangan air dilakukan di pertengahan siklus, setiap hari sekitar 10 – 30 persen.

Hal in cukup mengkhawatirkan penggiat budidaya di Sulawesi Selatan, sebab semenjak peluncurannya pada 2013 itu, telah bermunculan tambak-tambak supra intensif lain di Kab. Barru, yaitu tambak milik PT. Esa Putli sebanyak tiga tambak di Desa Kupa, dan sebuah tambak milik H. Maming di Desa Lawellu serta tambak supra intensif milik PT. BOSOWA di Desa Wiring tasi Kec. Suppa Kab. Pinrang yang baru dibuka Maret 2015. Tambak supra intensif milik H. Maming cukup mengkhawatirkan, karena letaknya di daerah teluk, sehingga menyulitkan pergerakan limbah ke laut lepas, dan akan mengganggu kualitas air tambak-tambak semi intensif dan tradisional di sekitarnya. Tambak milik BOSOWA di Kec. Suppa Kab. Pinrang sangat mengkhawatirkan, karena letaknya tak jauh dari tambak tradisional dan kawasan hatchery udang. Tambak jenis ini tidak boleh berdekatan dengan hatchery karena dengan mudah merusak kualitas air dan tentu akan berpengaruh terhadap kualitas benur yang akan dihasilkan hatchery.

                  Tambak di Lawellu Kab. Barru


               Tambak Supra intensif di Kec. Suppa, Kab. Pinrang

Pada 19 Mei lalu, terdapat rumput liar (alga) yang cukup banyak terlihat perairan sekitar tambak supra intensif di Kab. Barru. Rumput-rumput liar ini menunjukkan kesuburan perairan dan tentunya mengurangi kualitas air, yang akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem serta menurunnya produksi udang pada hatchery dan udang yang dikelola oleh petambak kecil dan menengah.  


                Perairan yang ditumbuhi alga liar, menunjukkan bahan organik yang banyak di perairan Kab. Barru.

Tambak supra intensif tersebut mestinya terlebih dahulu melakukan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) sebelum melakukan usaha yang kemungkinan merusak lingkungannya tinggi. Seperti ditunjukkan oleh poin Pasal 16 UU Lingkungan Hidup Nomor 4 tahun 1982 berbunyi, “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis dampak lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah”. AMDAL berfungsi untuk mengantisipasi pencemaran yang akan dilakukan oleh pengusaha, seperti tertuang dalam poin lain pada UU Lingkungan Hidup tersebut, “Apabila penilaian AMDAL menyimpulkan bahwa kegiatan yang direncanakan menimbulkan dampak penting negatif yang tidak dapat ditanggulangi lebih besar dibanding dengan dampak positifnya, maka rencana kegiatan yang bersangkutan ditolak disertai alasan-alasan penolakannya”.

Ini sesuai dengan pernyataan Prof. Dr. Ir. F. Gunarwan Suratmo dari Pusat Studi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 1985, bahwa teknologi dan pengetahuan yang ada belum mampu meniadakan dampak negatif yang akan terjadi atau menurunkan sampai batas yang dapat ditoleransi, terpaksa proyek tersebut ditunda dahulu pembangunannya sampai ditemukan cara pencegahannya.

Tentang prinsip mengedepankan daya dukung lingkungan dalam setiap usaha budidaya perairan juga dikuatkan dalam Pasal demi Pasal UU No. 24 tentang Penataan Ruang, tahun 1992, yaitu dalam pasal 1 Angka 8 berbunyi “Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi”. Dalam pasal 2, “penataan ruang harus dapat menjamin seluruh kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan ekonomi lemah. Serta Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi”.

Namun, pemerintah belum mengambil sikap untuk menindak pelaksanaan tambak supra intensif ini yang tidak dilengkapi AMDAL dan fasilitas pengelolaan limbah yang efektif, serta tanpa mempertimbangkan lokasi agar tidak bertabrakan dengan pihak berkepentingan lainya. Langkah yang sedang diambil baru sebatas penelitian oleh Balai Penelitian Perikanan Budidaya Air Payau (BPPB Maros) yang sedang berlangsung di Desa Punaga, Takalar. Penelitian tersebut direncanakan bertahap dari tahun ke tahun, yang dimulai dari sekadar optimalisasi padat tebaran pada 2013, penelitian sistem aerasi, rekayasa automatic feeder dan kincir, Rekayasa alat panen udang dan aplikasi IPAL (Instalasi Pengelolaan Limbah) pada 2014, penelitian dampak tambak supra intensif terhadap lingkungan dan rekayasa alat penduga populasi udang pada 2015, dan penelitian pengembangan supra intensif berbasis IMTA (Integrited Multi Thropic Aquaculture), Rekayasa alat monitoring kualitas air, dan pemanfaatan solar cell dan energi bayu (tenaga angin) pada 2016.

Selain itu, peneliti BPPBAP Maros juga sementara meneliti kawasan di Sulawesi Selatan yang cocok sebagai lokasi tambak supra intensif. Kawasan tambak yang akan dipilih sebaiknya bukan merupakan kawasan hatchery atau perbenihan udang, dimana terdapat tiga Kabupaten di Sulawesi Selatan yang merupakan daerah pemasok benih, yaitu Takalar, Barru, dan Pinrang. Lokasi tambak supra intensif sebaiknya berada di kawasan yang tidak ada petambak tradisional lain di sekitarnya serta terletak di daerah tanjung dan bukan daerah teluk, yang airnya bisa segera terhempas ke laut lepas.

Tujuan penelitian tersebut adalah untuk menetapkan standar dalam pengelolaan tambak supra intensif dan untuk menguji apakah tambak jenis ini tidak menghasilkan dampak buruk bagi lingkungan. Sehingga ke depannya tambak-tambak supra intensif yang akan beroperasi harus mempunyai sistem IPAL, terbukti tidak merusak lingkungan dan lokasinya sesuai dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan oleh BPPBAP Maros. Namun, penelitian ini pun masih berbicara jangka panjang dan belum dapat mengambil keputusan yang cepat untuk mengatasi persoalan lingkungan tambak supra intensif, dimana tambak supra intensif terus berlangsung dan pencemaran lingkungan terus terjadi.


Jika tambak supra intensif ini tidak dimanajemen dengan baik, pristiwa kegagalan panen secara beruntun yang dialami oleh tambak intensif udang windu tahun 1990-an silam dapat terulang kembali. Dan hal itu akan berdampak buruk bagi petambak sekitarnya dan akhirnya menurunkan produktivitas udang dan menurunkan pendapatan petambak secara umum. 

30 Mei 2015

Read more...

Rabu, 27 Mei 2015

Nonton Tivi Pagi Hari

Dua hari ini, tiap pagi saya menonton tivi. Sebelum-sebelumnya saya sangat jarang menonton tivi, karena memang tidak ada tivi dan tak tertarik menonton. Jadilah saya menyaksikan ceramah agama tiap pagi, yang dilanjutkan dengan menonton informasi seputar artis.
Saya mendengar ceramah mereka, namun tidak menarik, justru yang menyiksa batin saya adalah pakaiannya. Pakaian para ustad - ustadzah itu jauh berbeda dengan pakaian para tamunya, yang biasanya ibu-ibu, yang dengan sopan mendengar ceramah, disertai sedu sedannya. Pakaian ustad - ustadzah itu lebih cemerlang, lebih kinclong, dengan balutan-balutan yang rumit, busana itu pun disponsori oleh desainer ternama. Sedangkan pakaian para tamu biasanya normal berupa kebaya, homogen, dan tampak sederhana.
Begitu halnya dengan liputan artis, sorotan tentang artis itu memperlihatkan gaya hidup mereka yang memerlukan ongkos tinggi, yang ditunjukkan dengan pakaian yang berbahan mahal, potongan yang rapi dan halus, serta sentuhan desainer khusus. Membuat kita terpesona dan hasrat kita memancar. Kita pun terpaku, kemewahan itu meresap ke alam sadar kita, bahwa ada sebuah dunia yang bernama dunia elit, dunia atas, yang bagi kebanyakan masyarakat umum akan kewalahan menggapainya. Kita pun akhirnya menyerah dan menikmati saja kemewahan itu melalui visual kita, lalu turut-nurut meresapkan diri dalam problematika mereka yang remeh temeh.
Hal-hal yang tampak sepele ini menimbulkan pertanyaan yang mungkin juga remeh. Untuk apa sebenarnya perbedaan-perbedaan seperti itu? Lantas, kenapa harus diumbar di televisi-televisi kita, bahkan televisi-televisi seluruh dunia? Kenapa harus ada artis? Menjawab pertanyaan ini, kita memerlukan analisa khusus, dan analisa kita itu berbasis pada keberpihakan kita pada suatu ide, suatu pemikiran.
Artis hadir di hadapan kita saban pagi, siang, sore, malam, bahkan subuh jika ramadhan berlangsung, tak lain hanyalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa di dunia ini, ada perbedaan mencolok antara orang kaya dan orang yang biasa-biasa saja (yang modalnya cekak dan hidupnya hanya mengandalkan gaji upahan). Kehadiran artis-artis itu pun akhirnya melegitimasi kekuasaan orang-orang kaya, bahwa hanya orang-orang kaya-lah yang boleh tampil, hanya orang-orang pintar-lah yang bisa bercas-cis-cus di televisi, massa rakyat yang kebanyakan, dan dianggap buas dan tolol itu sebaiknya jadi penonton sahaja, mereka harus dikendalikan oleh segelintir orang yang punya modal, punya pengetahuan, punya kekuasaan atas kebudayaan.
Selain itu, gaya hidup tinggi ini menunjukkan suatu sikap tertentu pada kita, yaitu sikap melayani diri sendiri, memperkaya diri sendiri, hidup mewah, dan tidak menunjukkan sama sekali sebuah budaya yang mengidamkan sebuah integrasi sosial yang tinggi. Dan lagi-lagi, hal ini pelan-pelan meresap ke alam bawah sadar kita, semakin mengukuhkan bahwa dalam hidup ini, yang harus kita kejar adalah akumulasi, menghimpun modal sebanyak-banyaknya, Kita tak pusing lagi dengan persoalan-persoalan sosial, budaya, pengetahuan yang tak menunjang kemampuan kita dalam akumulasi modal. Kita pun lupa bahwa, tujuan dari kemanusiaan kita itu adalah terciptanya hubungan antar manusia yang merdeka dalam kesetaraan, dalam kebersamaan dan kerjasama, turut berpartisipasi secara setara untuk mencapai tujuan-tujuan bersama yang telah disepakati secara demokratis.



Adam Smith, yang didaku sebagai penggagas ekonomi modern, yang memikirkan bagaimana sebuah bangsa mencapai kemakmuran secara optimis, juga mengecam prilaku tersebut sebagai "prinsip jahat dari penguasa-penguasanya manusia, yaitu semua untuk diri kami sendiri, dan tak ada buat orang lain". Namun, apa mau dikata, hal itulah prinsip yang berlaku saat ini, dan saat-saat yang lalu sejak Revolusi Industri di Inggris dikobarkan. Prinsip yang menjadi semangat baru zaman ini tersebut diproklamirkan di segala lini, mulai dari pendidikan kita, melalui media, melalui mulut-mulut intelektual kita.
Begitu halnya dengan ceramah-ceramah pada pagi-pagi itu, warga yang datang ke sana untuk mendengar dan bertanya, adalah warga yang dianggap polos, yang perlu ditegur, ditekan, dijawab dengan suara tinggi. Mereka tak dibiarkan untuk berdebat sedikit pun dengan sang pemilik pengetahuan (ustad - ustadzah), setelah mereka bertanya dengan segala kekuatan dan kegelisahan mereka, akhirnya mendapat jawaban seadanya, yang bersifat moralis, namun tidak dapat memecahkan persoalan yang mungkin saja bersifat struktural, material, ataupun relasional, mereka pun terpaksa puas dengan jawaban, menunduk, senyum dan berterimakasih. Sang pemilik pengetahuan itu, tak mencoba menelisik, kira-kira penyebab kebejatan moral masyarakat itu berasal dari mana, apakah kebejatan moral atau kriminalitas itu lantaran murni dari pelaku, ataukah ada faktor-faktor lain yang memaksa mereka untuk bertindak bejat atau kriminal.
Yah, begitulah adanya kehidupan kita, disergap dengan segala cara, dari segala arah, pada setiap kala, di mana-mana. Kita tak dapat lari, kita tak dapat menghindar, yang dapat kita lakukan, dengan seminim-minimnya usaha adalah dengan melihatnya dengan sadar, hal-hal apa saja yang membelenggu kita.
Tulisan ini tak menganjurkan kepada Anda untuk tidak menonton tivi, tapi sebaiknya bijak-bijaklah menonton tivi, jagalah pikiran Anda, nurani Anda, dari para perampok pikiran, para pemerkosa batin. Yang bisa saja datang menculik pikiran Anda di pagi hari.
Renon, Denpasar,
27 Mei 2015

Read more...

Minggu, 17 Mei 2015

Hari Buku Nasional

Hari ini ternyata hari buku nasional, saya baru tahu. Saya tahu setelah melihat-lihat dinding facebook, yang tampaknya ramai diumbar, seperti halnya iklan mobil, iklan obat, iklan madu, iklan lipstik, iklan jilbab yang berjibaku mencari perhatian. Facebook pun menjadi jajanan untuk mengingatkan kita banyak hal, tentang peristiwa-peristiwa yang teman-teman alami, yang teman-teman pikirkan, termasuk pikiran-pikiran tentang Hari Buku Nasional. Meski facebook-lah saat ini yang mesti diwaspadai demi menjaga intensi kita pada sebuah buku, karena era facebook turut berkontribusi dalam membuka era ketakseriusan, era kedangkalan.
Tentu, sebagai seorang pengumpul buku dan termasuk dalam ordo pemamah biak buku, dan kadang-kadang kebingungan dalam banyak hal juga merasakan bahagia dengan adanya hari buku ini. Sebab, telah mengingatkan saya, tentang bagaimana pemerintah orde baru mengatur bacaan-bacaan kita, mengatur selera kita tentang apa yang disebut bacaan yang baik, sastra yang bermutu, dan bagaimana karya jurnalistik yang bebas itu harus pula bertanggungjawab. Bagaimana Orde Baru dengan keras melarang pencetakan karya-karya Pramodya Ananta Toer. Bagaimana Orde Baru menjauhkan kita pada bacaan-bacaan bermutu, termasuk hasil kajian Cornell University tentang siapa dalang di balik peristiwa 1965. Bagaimana Orde Baru, dengan sistematiknya melenyapkan Sastrawan Wiji Tukul dari peredaran wacana, setelah puisi "Jika Kami Bunga, Engkau adalah tembok itu" menggetarkan para aktivis kala itu.

                       Foto : istimewa

Hari Buku Nasional ditetapkan pada 17 Mei oleh Malik Fajar pada 2010 lalu, kenapa tanggal 17 Mei?Karena bertepatan dengan berdirinya perpustakaan nasional (Perpunas) pada 17 Mei 1980. Tahun antiklimaks gejolak perjuangan mahasiswa pada satu dasawarsa sebelumnya. Dimulai pada 1970, dimana mahasiswa membentuk Komite Anti Korupsi (KAK), sebagai respon terhadap tidak becusnya tim-tim yang dibentuk pemerintah Oder Baru, dilanjutkan pada Mei 1971, dimana mahasiswa mendorong munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) menentang model politik praktis yang memenangkan Golkar pada pemilu 1972. Pada tahun 1972, mahasiswa menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang telah menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut. Aksi-aksi penentangan ini memuncak pada 1974, tepatnya pada 15 Januari 1974, dimana mahasiswa menentang kehadiran PM Jepang Kakue Tanaka, menentang dominasi modal Jepang terhadap pembangunan di Indonesia.
Akibat dari peristiwa-peristiwa itu, tahun 1975 - 1976, aksi-aksi mahasiswa meredup, lantaran kehidupan kemahasiswaan disibukkan oleh kegiatan rutin mahasiswa, yang dimulai dari Ospek-penerimaan mahasiswa baru, bakti sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, dan wisuda sarjana. Energi mahasiswa banyak disibukkan dengan kegiatan internal kampus. Tahun 1977, mahasiswa kembali bergejolak menjelang Pemilu 1977, namun aksi-aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan sistem pengelolaan negara, mengecam ketidakbecusan pengelolaan pemilu, menggugat strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional, yang berbuntut pendudukan militer atas kampus dan sebagian raib di terali besi.
Pangkal dari itu semua adalah dicanangkannya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK)/Badan Koordinasi Kemahsiswaan (BKK) secara sepihak oleh pemerintah berdasarkan SK No.0156/U/1978. Pada 1979, Menteri Daoed Yusuf kebijakan tersebut mulai dijalankan dengan mengarahkan mahasiswa untuk fokus pada kegiatan-kegiatan akademik dan mulai menjauhkan mahasiswa dari aktivitas politik. Bersama dengan itu, Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan terhadap Lembaga Dewan Mahasiswa, yang digantinya dengan struktur baru yang disebutnya Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK), berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979.
Berbarengan dengan upaya penormalan kegiatan kampus, Perpustakaan Nasional dibangun pada 17 Mei 1980, para pelajar diajak untuk duduk-duduk di perpustakaan nasional yang senyap dan nyaman, membaca sajak suasana, sajak pesona, membaca cerpen-cerpen yang meninabobokkan kita pada keindahan alam, atau keindahan sosok manusia, namun menjauhkan kita pada riuh politik dan penegakan keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Meski begitu, alasan Menteri Pendidikan Malik Fajar mencanangkan Hari Buku Nasional, pertimbangannya rasional. Dengan adanya hari buku, akan memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku.

Sumber : sejarah pergerakan mahasiswa dari wikipedia.

Makassar, 17 Mei 2015

Read more...

Jumat, 08 Mei 2015

Membedah Alam, Membedah Kehidupan

Beragam cara untuk membuat kita hanyut dalam ketidakpahaman terhadap alam. Meski kitalah yang sedang gembor-gembornya menyebut diri kita hero dalam hal tersebut. Ya, kita memang tahu banyak hal tentang alam, tentang spesies-spesies yang mungil dan menakutkan. Tapi, kita tak benar-benar tahu atau sengaja mengelak untuk tahu bahwa yang kita lakukan itu barangkali hanyalah kamuflase, hanyalah bayang-bayang yang dikejar semakin jauh dan tak akan pernah kita temukan.

Kita mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan teknis kita. Membicarakan alam berdasarkan kalkulasi, hitung-hitungan, persentase, target, tanpa sedikit pun sentuhan batin. Kita dapat dengan santai mengurai alam dengan angka-angka sambil bergurau, merasakan kenikmatan melihat orang-orang sekitar kita kebingungan dan mengantuk dengan angka-angka itu.



Segala sesuatu yang berasal dari luar pengetahuan teknis dan di luar pengalaman ilmiah kita, ditolak. Entah karena tidak dapat diukur, buang-buang waktu, atau tidak menunjukkan progress yang konkrit. Misalnya, berurusan dengan manusia, orang lokal, komunitas adalah tindakan yang mengulur-ulur waktu dan membuang tenaga. Hal tersebut pun menjadi urusan pihak lain, misalnya diperuntukkan bagi mereka yang tertarik dengan ilmu sosial, itu pun dengan harapan bahwa ilmu sosial juga dapat dikalkulasi.

Pengetahuan itu kita peroleh dengan susah payah di bangku sekolah dan kuliah, pengetahuan itu ibarat martil yang kita bentuk jauh dini hari, yang tujuannya untuk memukul paku pada dinding-dinding. Pengetahuan itu kita peroleh dengan dana yang besar, dengan sponsor yang tak tanggung-tanggung. Kita pun dengan tekun mempelajarinya, dengan harapan yang sangat besar bahwa dengan modal pengetahuan itu, kita dapat hidup sejahtera dan nyaman. Meski sebenarnya dengan pengetahuan itu, justru dapat menimbulkan ketidaknyaman pada kita. kenapa? Karena dengan pengetahuan itu kita melihat persoalan yang demikian besar, yang harus segera ditangani agar kerusakan alam tidak semakin meluas dan membesar. Pengetahuan mestinya membuat kita bersedih, bukan membuat kita tertawa terbahak-bahak.      

Pengetahuan itu merasuk dalam diri kita sebagai metode untuk membedah permasalahan, menganalisa, dan mencari solusinya. Pemecahan yang kita tawarkan adalah pemecahan teknis, karena kita menganggap diri kita adalah orang teknis. Sejauh kita telah menawarkan solusi teknis, sejauh itulah perjuangan kita. Kita merasa bebas ketika kita telah mengerjakan tugas ilmiah, dan mulai mengerjakan tugas ilmiah yang baru lagi. Ketika terjadi kerusakan lingkungan di sekitar kita, kita tutup mata, karena menganggap itu bukan tugas kita, bukan keahlian kita. Kita memikirkan suatu persoalan ketika kita ditugaskan untuk memikirkan hal itu, bukan karena keinginan kita sendiri untuk tahu, untuk berbuat mengatasi persoalan tersebut. 

Lantas, persoalan lingkungan yang mungkin kita temui di keseharian itu tidak merasuk ke sanubari, lagi-lagi karena bukan tugas kita. Kita merasa tidak terlibat, kita merasa jauh, kita tidak dekat dengan orang-orang yang berurusan langsung dengan persoalan tersebut. Pun, jika kita dengan terpaksa harus terlibat pada persoalan tersebut, kemampuan kita hanya dengan membedahnya, menganalisanya, seperti anak kecil yang belajar biologi membedah reptil, memotong-motong organ tubuh reptil tersebut dengan dingin.

Kita pun secara tidak sadar menyetujui ketidakinginan kita untuk memahami keterkaitan dalam totalitas, memikirkan lingkungan dengan mencoba melampaui batas horizon kita, melewati cabang-cabang keilmuan kita. Padahal, permasalahan selalu melampaui kemampuan keilmuwan kita untuk memecahkannya. Permasalahan lebih kompleks, disebabkan oleh banyak faktor, yang tidak terduga, dan kadang-kadang disebabkan bukan oleh faktor teknis, tapi non teknis yang selalu saja sulit kita kendalikan, misalnya karena faktor politik, sosial, budaya, dan ekonomi (eksploitasi Sumberdaya Alam). Jika berkenaan dengan itu, kita pun mulai menghindar, lagi-lagi karena merasa hal itu bukan dunia yang kita kenal dan kita kuasai. Kita pun mengidentifkasi diri kita berdasarkan kemampuan kita bekerja dengan menggunakan alat, metode (ilmu pengetahuan), bukan berdasarkan ideologi atau pun nilai-nilai yang kita anut. Bukan karena dorongan hati yang kuat untuk melawan penindasan terhadap alam. Kita sejatinya adalah intelektual pekerja atau Intelektual worker.

Kita adalah pekerja yang patuh mengikuti prosedur yang telah digariskan oleh perusahaan. Logika perusahaan pun singkron dengan logika saintifik kita, yaitu berbasis rencana, terukur, kalkulasi, hitung menghitung. Selain itu, perusahaan pun memandang kita sebagai objek, dengan cara memanjakan kita dengan beragam fasilitas, dengan beragam agenda liburan, perusahaan pun memberi reward/penghargaan bagi mereka yang berhasil mencapai target. Perusahaan memberi makan rohani kita dengan fasilitas-fasilitas mewah dengan harapan kita dapat produktif. Padahal, kemewahan adalah awal dari bencana, gaya hidup adalah bencana terbesar jika berbicara tentang lingkungan. Kerusakan lingkungan dimotori oleh semangat kita-manusia untuk memproduksi, lantaran nafsu konsumsi kita yang semakin besar. Semakin banyak produksi dan konsumsi berarti semakin banyak sampah, semakin banyak sumberdaya alam yang dikeruk.     

Kita menikmati kemewahan tersebut, tanpa bertanya-tanya sedikit pun tentang apa tujuan dari kemewahan itu. Kita makan sepuasnya, kita berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat yang indah dan memamerkan ke orang lain bahwa kita pintar dan bisa kemana-mana. Karena saking seringnya bersenang-senang, kita pun mulai malas memikirkan hal-hal yang mungkin akan menggugah kita, misalnya perusakan lingkungan oleh perusahaan, hilangnya akses masayarakat akan hutan, menghilangnya keanekaragaman hayati, dan lain-lain. Kita menguar-nguar perbincangan-perbincangan yang sepele, seakan-akan tidak ada lagi perbincangan yang serius, yang butuh diperhatikan. Kita pun mulai memisahkan bahwa perbincangan serius, tentang kemiskinan, tentang kejahatan, tentang penegakan keadilan, tentang nasib hewan-hewan, adalah urusan pekerjaan, sementara sehari-hari kita hanya berbincang tentang tingkah laku teman-teman, tentang makanan, dan tentang tempat-tempat yang indah.

Kita mengandaikan diri kita seperti sekrup, yang dimana kita hanya menjadi bagian untuk menghidupkan mesin secara keseluruhan. Kita menjadi sangat hebat sebagai sekrup, sebagai sekrup yang baik, patuh, dan lucu. Namun, untuk mencoba menginisiasi diri kita untuk sekadar peduli organ lain, kita emoh. Kita tak mau bersusah-susah payah untuk belajar ulang, minimal mengerti baik-baik persoalan dengan beragam sudut pandang.  Parahnya lagi, jika kita bergerak, kita berbicara, kita hidup hanya jika ada materi. Kita berjalan dan bernafas bukan lagi karena kita ingin bergerak untuk melakukan sesuatu, kita berlari tidak lagi seperti jawaban Forest Gump, bahwa saya berlari karena ingin berlari saja. Simple. Sederhana.

Kita pun selalu mengklaim bahwa pengetahuan adalah netral, tugas kita hanya menghasilkannya, entah pengetahuan itu tujuannya digunakan untuk apa? kita masa bodoh tentang hal itu. Ilmu Pengetahuan itu tidaklah netral, ilmuwan pun tidak pernah netral, ketika seorang ilmuwan diam-diam saja melihat penyelewengan di depan matanya, berarti ilmuwan itu telah membiarkan penindasan terjadi, dan secara tidak langsung  ilmuwan itu mendukung penindasan tersebut.

Akhirnya, kita hanya membesarkan diri kita sendiri, membesarkan kemampuan kita untuk membedah alam, mengkoyak-koyak mereka dengan kata-kata cerdas kita. Alam tak mengerti, orang umum tak mengerti, dan kita pun berada di atas angin, seperti sampah yang terapung oleh angin beliung.

**

Saya pun membayangkan diri saya ikut terpenjara, justru karena rasa ingin tahu saya tentang yang lain. Pengetahuan tentang penggalian pertanyaan kenapa? Kita selalu berbicara tentang “bagaimana”, tentang strategi, tentang metode untuk menguasai, untuk mengajak, untuk bertempur. Kita seperti berada di medan tempur yang harus bisa bernegosiasi dengan pedagang, dengan tuan-tuan, dengan gaya yang ‘eye cathing’. Kita pun akhirnya kembali mengapung-apung dalam ruang tanpa eksistensi, kita hanya bergerak berdasarkan akal pikiran kita yang instrumental.

Saya menduga, ini terjadi karena ada sesuatu yang luar biasa besar menimpa kita, sesuatu yang tak dapat kita hindari, dan kita juga hidup dan turut menghisap dan terhisap dari situ. Kekuatan ini telah menyetir kita sejak dahulu kala, yang ditanamkan di sekolah-sekolah kita, dan juga dalam iklan-iklan di televisi, dan media massa. Kekuatan ini membentuk cara berfikir kita sejak dahulu, yaitu cara berfikir hitung-menghitung, cara berfikir kalkulasi.  

Kekuatan itu adalah modal, gaya gravitasinya demikian kuat, membuat kita manut-manut, dan akhirnya menyerahkan diri kita, serta segala kemampuan teknis kita untuk dikendalikan oleh modal. Modal itu buta, dan menggilas kita tanpa perlawanan sedikit pun. Modal menguasai kita hingga lubang-lubang terpencil kita. Barangkali, kalau kita mencoba untuk mengelak dari modal, kita akan segera terpental, dan previlese yang kita nikmati sejauh ini akan menghilang tiba-tiba.

Modal-lah yang mengontrol kita dan menentukan cara berfikir kita tentang bagaimana menyikapi alam ini. Modal pula lah yang menuntut kita untuk tidak pusing dengan modal, karena dengan modal kita dapat hidup layak dan melimpah.       

Meski begitu, kita dapat mengantisipasi modal ini, karena manusia secara kodrati punya kebebasan untuk bertindak. Manusia bisa saja dituntut oleh modal, tapi kenyataannya dia bisa melakukan hal-hal yang menurutnya baik, dengan mengakomodir modal di satu sisi, tapi tidak menafikan nilai-nilai yang telah ia pegang. Manusia adalah mahluk yang bebas untuk bergerak sesuai tuntutan nilai-nilai yang dia yakini. Manusia adalah mahluk berbudaya, yang mendasari hakikatnya pada kesadaran, pada cinta kasih, moralitas, etika, dan kebersamaan. Ada yang mengatakan bahwa keunggulan seseorang dinilai dari kebaikan nilai-nilainya, keberpihakannya pada yang lemah, setelah itu adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Dapatkah kita membebaskan dari kuasa modal ini? Tentu akan sangat sulit untuk melepaskan jerat modal, sebab dalam hidup kita selalu membutuhkan modal. Tapi, kita dapat mengendalikan gaya hidup kita, dengan gaya hidup sederhana dan tidak menggantungkan diri kita pada materi. Hidup kita menjadi berharga bukan karena kita memiliki modal yang banyak, tapi karena nilai-nilai kita yang melimpah, nilai-nilai yang menuntun kita untuk saling menghormati, menghargai sesama manusia dan sesama mahluk di alam ini. Dengan hidup sederhana, kita pun dapat bersahabat dengan alam. Sebab alam akan memenuhi kebutuhan kita yang sederhana itu, tapi tidak dapat memenuhi keinginan atau keserakahan manusia, begitu pendakuan murni dari Mahatma Gandi. Kita pun dapat paham tentang nilai-nilai ini dengan membuka diri kita pada ajaran-ajaran agama, budaya, sejarah, serta dengan rajin membaca sastra serta filsafat, agar kita dapat menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang prihatin terhadap sesamanya dan terhadap alam.

Saya tidak tahu tulisan ini harus saya selesaikan dengan cara apa, tapi saya sadar bahwa bisa saja saya keliru dalam menuangkan pikiran, bisa saja pikiran sayalah yang jahat. Tapi, setidaknya saya sudah berani berfikir, seperti kata Immanuel Kant, Sapere  aude, beranilah berfikir mandiri.


Warkop Daeng Boss, Makassar
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    6 Mei 2015

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP