Senin, 30 Maret 2015

Gravitasi Kata-Kata Aslan Abidin

Aslan Abidin, penyair angkatan abad 21, kembali mempesona peserta Sekolah Menulis Kreatif, membuatnya termangu-mangu di halaman belakang Kantor Sulawesi Community Foundation (SCF), Sabtu, 28 Maret 2015. Penyair yang selalu menggunakan langgam tubuh sebagai mediasi kritik politik maupun sekadar berliris-liris ria dengan wawasan dunia, memulai materi “Trik Menggoda Pembaca” dengan lugas sore itu, meski diakhir materi lebih banyak bercanda dengan nada ironi yang khas.

                           Foto : Irmawati-imhe

Bagaimana menggoda pembaca atau menjadikan karya kita dapat dilahap hingga tuntas oleh pembaca? Inilah pokok permasalahan yang dibahas Aslan di hadapan sepuluh peserta yang semuanya masih berstatus mahasiswa itu. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah target dari tulisan kita atau kita menginginkan tulisan kita dibaca oleh siapa dan tujuannya apa? Namun, hal ini kembali menimbulkan soal, ketika tulisan kita diperhadapkan oleh pertanyaan lanjutan, “Untuk apa Saya membaca tulisan Anda? Apa untungnya Saya menghabiskan waktu untuk membaca tulisan Anda?   

Pertanyaan ini tentu sangat mengusik pikiran, karena sebuah tulisan tidak hanya permainan kata dengan kata saja, tapi juga memuat gagasan, nah, apakah gagasan yang termuat dalam tulisan itu betul-betul bernas, ataukah hanya berupa gagasan-gagasan dengan daya pikat yang rendah atau tidak menambah rasa kita, wawasan kita, dan tidak membuat kita yang membacanya menjadi lebih manusiawi, misalnya. “Sebuah tulisan adalah teknologi gagasan, yaitu kemampuan kita menuangkan gagasan yang kita temukan, lalu kita olah untuk menjawab beragam persoalan-persoalan yang ada di hadapan kita,” kata Aslan.

Untuk itu, tulisan yang baik berangkat dari temuan yang baik. Tentang temuan ini menimbulkan lagi persoalan, bagaimana kita mampu menemukan sesuatu yang tersebar di alam raya ini, untuk kita susun dan akhirnya dapat menjadi magnet, atau pusat perhatian, yang kemudian menjadi perhatian bersama, untuk segera diambil tindakan bersama. Sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki efek-dampak dalam dunia nyata.

Gagasan yang baik menurut Aslan selalu bersifat realistis, yaitu menemukan jawaban antara gap Das sein dan Das solen, antara sesuatu yang kongkrit atau sedang terjadi dan yang semestinya atau normatif. Tentang Das solen, tentu masing-masing penulis memiliki nilai-nilai ideal tersendiri terhadap suatu peristiwa atau fenomena. Meski begitu, setiap penulis sebaiknya mengasah kemampuannya untuk menemukan das solen yang tepat, yang kontekstual, yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Salah satu kriteria untuk menilai kualitas suatu tulisan, yaitu dengan melihat relevansi das solen yang ia pilih untuk menjawab das sein yang ia persoalkan. Relevansi das solen juga Aslan sebut sebagai perspektif, dimana terdapat begitu banyak perspektif terhadap suatu fenomena.

Hal ini Aslan contohkan dengan pertanyaan : Kenapa mahasiswa saat ini kesulitan dalam menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan? Jawaban pertanyaan ini bisa beragam, seperti; 1) Pengaruh budaya televisi terhadap kemampuan daya pikir mahasiswa, 2) Mahasiswa mengalami kesulitan secara kognitif sejak dari sekolah dasar, 3) mahasiswa mengalami lompatan dari budaya lisan menuju konsumtif informasi, dan melewati budaya tulisan, 4) mahasiswa ditakdirkan bodoh oleh tuhan karena malas membaca buku, dll. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah gagasan utama untuk menjawab persoalan. Sejauh mana seorang penulis untuk meyakinkan pembaca terhadap gagasannya, dimana pembaca tidak mengalami kebosanan untuk membaca dari judul hingga akhir tulisan.      

Lalu, bagaimanakah tulisan yang memuat temuan, yang terdiri atas temuan utama yang dirangkai dengan temuan-temuan pendukung itu dapat dinikmati oleh pembaca? Ini membutuhkan strategi, yang disebut strategi menyusun kata, karena tulisan bukanlah mesin yang otomatis dan statis, tapi tulisan adalah hasil olah jiwa yang memiliki unsur keindahan atau seni. Tulisan haruslah indah, yang dapat pula dibahasakan sebagai sesuatu yang kreatif. Kreatif selalu melibatkan imajinasi, yang penuh dengan lompatan-lompatan kata yang dahsyat, kata-kata kreatif itu ditemukan oleh seorang penulis tentu sangat tergantung dari daya imajinatif seorang penulis, yang bahan bakunya diperoleh dari seberapa banyak bacaan bermutu yang ia lahap, bacaan-bacaan tersebut akan memasok variasi-variasi kata, variasi-variasi pemikiran, variasi-variasi bentuk dan pola, variasi-variasi metode dalam menyusun kalimat. Serta didukung oleh sensitivitas ia dalam melihat peristiwa lalu membahasakan ulang peristiwa itu dengan gaya dan ciri khasnya sendiri. Gaya yang ia temukan setelah berjuang keras dengan mencontoh penulis-penulis andalannya, dan akhirnya menemukan gayanya tersendiri.

Tentang hal ini, Aslan pernah berkata, “Memang betul tulisan Anda dipengaruhi oleh penulis tertentu, tapi coba Anda membaca banyak buku dengan banyak pemikiran, tentu Anda akan dipengaruh oleh banyak penulis, dan pembaca akan kesulitan lagi melacak jejak penulis lain dalam tulisan Anda. Dan Akhirnya Anda akan menemukan gaya tulisan Anda sendiri”.

                         Foto : Irmawati-Imhe

Untuk itu, kami pun sepakat bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik membutuhkan kerja keras, belajar terus menerus, membaca buku sebanyak-banyaknya yang terkait dengan tema atau kelompok ilmu yang kita minati, menulis terus menerus, berdiskusi dengan orang-orang yang tepat dan punya minat yang sama, serta menemukan iklim atau lingkungan yang mendukung karir kepenulisan kita. Nah, setelah menempuh proses itu, kita pun akan lebih mudah menentukan perspektif, lebih mendalam dalam melihat peristiwa, dan punya tools atau alat yang beragam dalam membedah suatu persoalan. Tulisan kita pun akhirnya memiliki daya magnet atau gravitasi, sehingga, orang yang membaca tulisan kita merasa tidak sia-sia dan tidak membuang waktu.  

***

Materi Aslan pada hari itu disertai contoh-contoh, yaitu contoh tulisannya tentang “geng motor” serta tulisan seorang peserta bernama Al-Fian Dippahatang yang berjudul “Le Bon, Jiwa Bersama, Hukum Kesatuan dan Mental Kerumunan”. Cukup banyak waktu yang digunakan untuk membedah kedua tulisan tersebut. Dengan cara seperti itu, peserta mudah paham bagaimana suatu fenomena dipersoalkan, kemudian sudut pandang apa yang diangkat, dan bagaimana relevansi sudut pandang atau teori yang digunakan.

Misalnya dalam tulisan Geng Motor, Aslan banyak mengangkat data-data sejarah geng motor di dunia, yang disebutnya sebagai salah satu sumber keresahan purba dalam peradaban manusia. Selain itu, Aslan menggunakan data tambahan yang berasal dari sebuah film, yang juga memuat tentang geng motor. Pada tulisan Al Fian, Aslan menjelaskan tentang patahan-patahan informasi dalam paragraf, yang mestinya harus dijelaskan. Menurut Aslan, kekeliruan-kekeliruan seperti itu merupakan hal lumrah dalam tulisan. Karena kadang-kadang seorang penulis mengalami ekstase pasca menulis, sehingga lupa mengkoreksi lantaran menganggap tulisan yang sudah jadi itu sudah bermutu. Untuk itu, dianjurkan untuk dilakukan pembacaan ulang atau meminta pendapat penulis lain dan pembaca untuk mengkoreksi tulisan yang kita buat sebelum diumumkan ke publik.       

***

Materi Aslan Abidin sangat menarik, karena dibawakan dengan santai dan kadang-kadang terselip kata-kata satire tentang banyak hal. Terlepas dari itu, Kata-kata Aslan, baik dalam lisan maupun tulisan adalah jenis kata-kata “Politik Performatif”, yang menurut J.L. Austin, dalam teorinya tentang “tindak-bicara” (speech-act), merupakan tindak-bicara ilokusioner, yang bicaranya adalah juga sebagai tindakan, dimana kata adalah perbuatan, dan perbuatan adalah efek itu sendiri. Kata-kata Aslan Abidin adalah kata-kata yang ia temukan secara kreatif, dari hasil benturan-benturan antara dunia realistis yang ia pahami dengan budaya bugis-makassar, pandangan-pandangan umum, dan tidak luput tentang mistisisme agama, yang menurutnya selalu tidak relevan dalam dunia relistis kita sehari-hari atau biasa ia sebut sebagai ironi.

Salah satu ironi yang ia temukan adalah prilaku guru besar-guru besar di kampus yang tidak relevan dengan gaya dunia akademik yang ia pahami. Prilaku guru besar yang menurutnya rakus tapi malu-malu, seperti saat ujian akhir mahasiswa, yang dimana para guru besar lebih banyak mengomentari bingkisan mahasiswa di banding isi kepala mahasiswa itu sendiri. Begitu halnya mahasiswa, yang pada malam terakhir sebelum ujian, tidak lagi disibukkan untuk menyiapkan bahan ujian, tapi malah menyiapkan makanan dan bingkisan untuk para penguji. Menurut Aslan, dunia akademik kita masih berciri agraris, dimana dalam setiap tindakan atau pemberian, baik itu berupa materi mapun hasil ujian, selalu menuntut balasan, makanya, dalam kosa kata Bugis tidak ditemukan kata terimakasih. Ironi-ironi tentang dunia kampus itu ia tulisan dalam sebuah essai satire berjudul “Kampus Terlucu di Indonesia Timur”.

Itulah ironi Aslan yang tumpah sore itu, yang dimana materi berakhir secara defenitif pada pukul 21.00 Wita. Sebab, pasca materi yang resminya berakhir habis magrib, dilanjutkan lagi dengan diskusi-diskusi lepas yang jika tak diselesaikan secara tegas, tampaknya kita tidak tahu kapan berakhirnya. Hehe..        

Meski begitu, terdapat kesulitan pada kelas kali itu, yaitu kesulitan kita untuk membuatkan framing terhadap wawasan Aslan yang begitu luas, daya cerap dan tangkapan gagasannya yang tajam, atau dalam bahasa ilmiahnya memiliki karunia literasi yang melimpah.

Untuk itu, terimakasih atas materinya, dan mohon maat telah membuat Kak Aslan bersusah payah mencari alamat kelas menulis sore itu. Hehe.. sampai jumpa di kelas selanjutnya.

Idham Malik

Tamalanrea, 30 Maret 2015

Read more...

Senin, 23 Maret 2015

Ironi Politik dalam “Air Mata Darah”

Pada sadarnya, sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Atau kalau diartikan dalam bahasa latin menjadi poetic, suatu kebaruan. Walau pun mungkin hanya bersifat minimal atau semacam pengulangan-pengulangan yang kreatif. Pada sadarnya pula tak ada yang asli di dunia ini, kita selalu meniru, kita selalu menculik, kita selalu meminjam apa-apa yang sudah ada. Tapi, penemuan kita adalah ketika kata-kata yang lazim itu kita formulasi dan membuatnya menjadi bermakna. Tentang makna itu sendiri, dalam puisi tidak ada yang dapat mengklaim makna general, tapi setiap pembaca dapat memaknai sesukanya atau arbiter.

Sebuah puisi dapat memperkaya wawasan atau nurani kita akan makna, yang sumbernya berasal dari hubungan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Ketika kata dengan kata itu menimbulkan efek makna, tanpa kita menghiraukan konteks, di situlah kekuatan sebuah puisi. Yaitu pada interteksnya.



Membaca puisi-puisi dalam buku mungil “air mata darah”, membuat kita untuk mengerti banyak hal. Paham tentang nilai-nilai, yang tampaknya dengan sengaja diselipkan oleh penulis pada sebagian besar sajaknya. Saya menduganya, karena penulis mengawali karirnya sebagai aktivis, lalu menjadi pedagang, kemudian menjadi sastrawan. Jadi, level-level itu, kadang-kadang menyetir pesan yang ingin disampaikan. Ia ingin mengutarakan sesuatu yang kritis, namun dengan cara puitis, begitulah kira-kira.

Coba kita simak puisi di bawah ini :

Bantaeng
Butta Toa julukanmu
Dimasa silam
Adamu sudah 759 tahun
Tapi kemanakah
Kami melacak ketuaanmu?
Sebagai alamat kematangan jiwa?
The New Bantaeng jargonmu
Bantaeng baru sloganmu
Di waktu kiwari
Banyak yang baru
Tapi apa guna kemasan baru
Jikalau insan kerdil yang melata di atasnya?

Saya mencoba membayangkan rasa dari puisi ini, dan saya menemukan rasa prihatin penulis, yang tidak lain adalah warga Bantaeng yang aktif. Pembaca yang bukan warga Bantaeng pun dapat merasakan paradoks-paradoks dari rententan teks puisi itu, yang maknanya dapat ditangkap secara general, bahwa sesuatu yang baru di Bantaeng belum tentu berguna bagi masyarakat kecil. Dan bertambahnya sebuah umur belum tentu membuat sebuah kota menjadi lebih dewasa. Kota diandaikan seperti tubuh yang punya umur, atau seperti kesadaran yang senantiasa berkembang. Selain itu, orang kecil selalu menjadi perhatian penulis, yang dimana mewakili jiwa aktivisnya. Orang kecil diandaikan melata di atasnya, orang kecil seperti semut-semut yang dengan mudah disingkirkan, baik oleh pembangunan atau atas nama perbaikan suatu kota. 

Contoh lainnya ada pada puisi berjudul "Baru" : Apa yang baru di tahun baru, jikalau masih mukim di rumah yang reot? ....... Lalu apa arti rumah, bagi perumah yang tak bahagia di rumahnya, di tahun baru yang selayaknya punya rumah baru? Tidak butuh petuah dari yang berkutat pada kuasa, jikalau pencoleng, pencopet, perampok, pencuri, dan pembakar rumah masih mengintai dengan selaksa ancaman....... Pada puisi ini, kita dihantar untuk mengerti persoalan pada sebuah kota, yang sedang berpesta tahun baru, namun di tahun baru itu, rumah dipersoalkan. Saya tak tahu, apakah rumah ini adalah rumah dalam artian harfiah, ataukah rumah jiwa, ataukah gabungan antara rumah harfiah dan rumah jiwa?  

Hal itu juga terasa dalam puisi "Ironi", meski awalnya kita mengira tentang pelajaran-pelajaran tentang alam, yang dimana peristiwa alam yang menggetarkan dan kita tak tahu lagi bagaimana hubungan sebab akibat di alam karena kian kompleksnya, juga tercium aroma politik. “Benar-benar ironi. Hanya karena engkau melempar sebiji garam ke laut, engkau sudah merasa menggarami laut. Sehingga rasa asin dari laut itu, seakan hasil jerih payahmu. Padahal, sebiji garam itu adalah hasil memungut di ladang petambak garam.” Saya tidak tahu, apakah yang disinggung ini manusia pada umumnya, ataukah manusia khusus, yang punya kuasa di daerahnya, yang mungkin merasa hebat telah berbuat banyak di daerah kekuasaannya.

Puisi-puisi ini menyentil kekuasaan, saya tiba-tiba teringat pada sosok Rendra, yang juga berkeinginan untuk memberi warna baru pada seni, pada kebudayaan, sebuah kesadaran yang lebih progressif. Rendra juga berbicara politik. Dalam puisi-puisi politik Rendra, dan begitu juga ditemukan dalam puisi Sulhan, kesadaran politik diungkapkan dengan plastis dan estetis, meski dengan pengandaian-pengandaian atau metafora. Besar harapan, bahwa puisi-puisi ini mengguliti jiwa untuk sadar akan hak-hak, akan ketimpangan-ketimpangan, akan bagaimana sebuah negeri dikelola, sebuah kota dikelola, sebuah budaya dikelola.  

Penulis dalam hal ini Kak Sulhan adalah seorang aktivis yang menempuh segala cara untuk mewujudkan keinginan-keinginan idealnya. Beliau menginginkan sebuah komunitas masyarakat yang adil, yang damai, yang beradab. Begitulah memang keinginan-keinginan manusia-manusia humanis, yang selalu mendambakan kebebasan plus keadilan. Hal itu dilakukannya dengan membentuk komunitas-komunitas literasi, mendukung para penulis muda untuk terus berkarya, menjadi sosok bijak tempat orang berteduh dan meminta pendapat. Dalam perjalanannya, beliau membangun rumah jiwa itu, sebuah pabrik untuk menghasilkan menu-menu bagi jiwa, agar warga kota jadi seimbang hidupnya, dan dalam perkembangannya, Kak Sulhan justru ikut asyik di dalamnya, bersama anak muda anak muda kreatif. Untuk itu, Kak Sulhan bukan hanya tokoh dibalik membangun rumah, tapi juga berkontribusi membangun nuansa, aroma, keindahan-keindahan dalam rumah itu.



Catatan terakhir, bahwa puisi dapat dimanfaatkan untuk tujuan apa saja, bisa untuk menggoda kaum hawa, bisa untuk mengingatkan manusia, bisa untuk menyentuh sesuatu yang tak mudah disentuh (dalam hal ini jiwa), bisa sebagai refleksi tentang alam dan tuhan atau yang tak dikenali, dan bisa pula untuk menyadarkan pembacanya tentang ketimpangan dalam dunia sosial. Dan puisi-puisi Sulhan mewakili beragam lapisan dunianya, baik itu dunia rohani, dunia sosial, dunia pribadinya, dunia tentang alam, dan dunia politik.

Dan membaca puisinya, kita dapat mengambil apa saja dari dunianya yang begitu kaya.

 Makassar, 23 Maret 2015
Idham Malik

(Terimakasih atas bukunya)

Read more...

Rabu, 18 Maret 2015

Selamat Jalan Kak Zohra A Baso

Semalam, secara kebetulan, sejarah lewat di hadapan ku, tapi sayang, sejarah tadi malam adalah sejarah duka. Duka yang kosong, yang dirasakan manusia-manusia yang saya saksikan di lantai II Rumah Sakit Pendidikan Unhas.

                                        Istimewa

Air muka mereka menyiratkan rasa yang mendalam akan kehilangan sosok Zohra Andi Baso yang mereka kenal sangat baik, yang menjadi penerang, yang menjadi penguat batin dan memotivasi mereka untuk terus berjuang, melawan penindasan, apalagi penindasan terhadap hak-hak perempuan.
Saya tak dapat menghitung jumlah pengunjung RS pukul 22.00 Wita tadi malam, mungkin 50 atau 60 orang. Dan orang-orang yang hadir itu ada yang saya kenal baik, ada yang hanya kenal muka dan nama, dan ada yang tidak saya kenal sama sekali.
Saya merapatkan diri pada anak-anak muda yang saya kenal baik dan pernah sama-sama waktu mahasiswa. Dan kami pun berbagi cerita tentang pemikiran Kak Sohra A Baso, mengenang jasa-jasanya. Saya tidak banyak cerita, karena pengalaman kontak langsung dengan Kak Zohra Andi Baso sangat minim. Mungkin kalau dihitung, pertemuan dengan Kak Zohra hanya dua atau tiga kali, pernah di Gedung Ipteks, pernah di Rumah Makan Shogun waktu merayakan ulang tahun Prof Radi A. Gani. Saya hanya bercerita bahwa Kak Zohra itu salah satu senior kami di identitas Unhas.
Seorang teman mengatakan bahwa dia tak menyangka kalau saya akan datang, baginya suatu yang di luar perkiraan. Saya hanya membatin bahwa pertemuan kita adalah sebuah kebetulan sejarah. Adik saya ada di rawat di lantai 4 RS Pendidikan, lalu tiba-tiba ada kawan yang menelpon dan meminta kunci pagar, lalu mengatakan bahwa Kak Zohra lagi sekarat di RS Pendidikan. Saya pun kaget dan segera turun di lantai dua di depan ruang ICU. Saya telat, isak tangis sudah terdengar, seorang ibu-ibu digotong keluar ruangan, orang ramai berdesakan di pintu dalam, dan saya dengar bahwa sosok Kakak Zohra Andi Baso telah berpulang sepuluh menit sebelumnya.
Saya tak begitu mengenalmu Kak, Saya hanya mengenal kisah-kisah samar tentang ketegaranmu dalam menguatkan hak-hak kaum perempuan dan hak-hak konsumen, hak-hak informasi, hak-hak politik. Semalam, saya pun kaget beberapa pemuda yang saya kenal baik juga datang untuk menjengukmu. Engkau adalah simpul terkuat kami, engkau adalah perekat kami, semangat Kak Zohra telah merasuk dalam sukma kami, meski semalam Kak Zohra sudah tiada.
Selamat jalan Kak Zohra, selamat menempuh perjuangan baru di alam yang tak tahu bentuknya itu, semoga amal ibadah Kakak diterima di Sisi-Nya. Terimakasih telah menginspirasi dan membangkitkan pemuda pemudi generasi kami untuk terus memperjuangkan keadilan dan hak-hak asasi manusia.

Senin, 16 Maret 2015
Warkop Limasatu


Read more...

Kamis, 12 Maret 2015

Gaya Hidup Anak Muda dan Geng Motor

Merebaknya kasus kekerasan yang melibatkan geng motor di Makassar belakangan ini tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, misalnya dari sisi kurangnya penegakan hukum. Tapi juga harus dilihat dari sisi perkembangan kota, teknologi, gaya hidup, dan dari sisi psikologi anak muda, dalam hal ini pelaku kekerasan banyak dilakoni anak usia sekolah. Saya tidak mencoba untuk menuduh individu sebagai faktor utama, bahwa hasrat dan obsesi individu menjadi penyebab kekerasan terhadap manusia lain.

Saya cuma membayangkan bagaimana kira-kira, masa SMP saya jika ditempatkan di ruang dan waktu di lorong-lorong Makassar saat ini? mungkin saya juga akan gabung dengan Geng Motor, apalagi jika kebetulan orang tua saya orang yang tidak mampu. Mengapa demikian? Sebab jaman sekarang berbeda dengan jaman waktu saya SMP dulu.

                                          Istimewa

Waktu saya SMP di Maros 16 - 17 tahun yang lalu, terasa begitu menyenangkan, dimana setiap sore kita berkumpul bersama teman-teman untuk main bola, malam hari kita kadang-kadang bermain bulu tangkis atau menonton sinetron bersama keluarga, pagi hari naik sepeda ke sekolah, dan waktu istirahat belajar digunakan untuk bercanda ria bersama teman atau makan bakwan di kantin sekolah.

Masa SMP saya begitu damai, kita ke sekolah dan pulang sekolah dengan tiga cara, yaitu dengan menumpang mobil sewa anak kompleks yang dibayar perbulan, dengan mengendarai sepeda melewati jalan pintas di pinggir irigasi, dengan berjalan kaki untuk olahraga dan berpetualang. Teman SMP saya yang mempunyai motor bisa dihitung jari, bahkan teman yang orang tuanya terbilang mampu juga menggunakan kendaraan umum, kalau tidak diantar oleh orang tua mereka pulang pergi sekolah.

Nah, dalam suasana seperti itu, kekerasan yang anak SMP lakukan hanya berupa perkelahian di tanah lapang yang kebetulan bergesekan kepentingan terhadap seorang teman perempuan, itu pun dilakukan dengan semangat anak muda untuk menunjukkan keberaniannya. Selain itu, bolos kelas sesekali, atau memakan bakwan satu dua tanpa bayar.

***
Boleh lah kiranya saya mengambil asumsi dengan hayalan saya tentang anak SMP di Makassar saat ini. Minta maaf karena sejauh ini saya tidak punya teman anak SMP, seandainya saya berteman dengan anak SMP, saya akan menggali data sebanyak-banyaknya. jadi tulisan ini sekadar hipotesis saja.

Kehidupan anak SMP saat ini, apalagi di Makassar sangat rentan. Tingkat kebutuhan anak SMP saat ini cukup banyak, mereka bukan lagi anak SMP dengan uang jajan 1000 rupiah perhari, atau anak SMP yang kebutuhannya hanya semangkuk mie bakso saat istirahat siang. Anak SMP sekarang dikepung oleh begitu banyak godaan-godaan, seperti kepemilikan smartphone, tab, motor, agar kehidupan pergaulannya bisa diterima oleh teman sejawat mereka. Tempat nongkrong mereka pun tidak lagi hanya sekadar duduk di lapangan sepak bola atau di bawah pepohonan sembari bermain enggo-enggo, tapi mereka mulai mencoba nonton bioskop, kongkow-kongkow di circle K, cafe-cafe, dan mungkin ikut karouke. Jika mereka kaya, tidak terlalu bermasalah, tapi bagaimana kalau mereka miskin?

Saya membayangkan jika saya anak SMP, yang dimana jiwa saya lagi mekar-mekarnya, keinginan saya untuk mencoba lagi tinggi-tingginya, dan saya tidak punya uang untuk bergaul. Handphone saya cuma nokia standar harga Rp. 200 ribu. Sementara sudah banyak kawan saya yang telah ber-bbm-ria, yang memamerkan status terbarunya di dinding path-nya, atau bermain game online. Atau tiba-tiba ada cewek yang saya taksir, kemudian cewek tersebut meminta nomor pin BB saya? Apa yang saya akan lakukan? Saya meminta uang di orang tua saya dan mereka malah marah-marah.

Atau, saya membayangkan diri saya sebagai anak SMP di Makassar, yang teman-teman saya mengajak nongkrong di Circle K atau pergi nonton bioskop di hari libur, atau ikut bernyanyi di tempat karaoke-an. Saya tidak bisa menghindar dari godaan-godaan itu semua, namun saya tidak punya uang untuk memenuhi hal tersebut. Selain itu, teman-teman saya mulai menghindar, karena saya dianggap menyusahkan, karena tidak bisa memberikan sumbangsih apa-apa, saya pun terkucilkan dan tak dapat bergaul. Padahal, saya juga ingin seperti teman-teman. yang bisa tertawa riang di dalam kelas sembari melihat handphone-nya masing-masing. Ketawa mereka pun begitu menyakitkan dan ketika diajak ngobrol atau bermain, perhatian mereka sering teralihkan ke handphone-nya masing-masing. Betapa menderitanya saya.

Lalu, saya membayangkan ada kawan yang mengajak untuk bergabung dengan geng motor. Kata teman, kita bisa dapatkan semua yang kita inginkan. Dengan bersama-sama merampok orang-orang yang bergaya di jalanan, kita dapat membagi hasilnya. Dengan begitu, saya bisa membeli handphone, ada uang jajan untuk nongkrong dan mentraktir teman, saya pun bisa ke bioskop bersama kawan-kawan saya yang kaya. Saya juga kasihan terhadap korban-korban itu, tapi, apa daya, menjadi anak gaul di Makassar kita harus punya uang. Kami ingin kembali seperti biasa, tapi kami juga butuh uang untuk uang pergaulan. Kami seperti diombang-ambing oleh situasi, tidak ada yang dapat menyelamatkan kami.
****
Kembali ke dunia nyata. Ketika ditanya, apa yang saya akan lakukan jika saya terpaksa bersekolah SMP di Makassar, dalam kondisi seperti itu?

Saya mungkin akan mendekati orang-orang pintar di SMP, membaca buku sebanyak-banyaknya (Saya baru sadar, kenapa saya tidak mengawali membaca banyak buku sejak SMP?), belajar musik, belajar karate, main sepak bola, dan ikut pramuka. Jika saya tak punya uang, saya akan menjalin hubungan akrab dengan teman yang kaya, karena teman yang kaya biasa mentraktir saya mie bakso, apalagi kalau saya membantunya mengerjakan PR (Pekerjaan rumah).

Demikianlah hayalan saya. Tentang anak SMP yang labil, yang mudah terpengaruh, yang sedang mekar-mekarnya mencoba dunia. Saya pun mau membayangkan yang lainnya, tentang hubungan geng motor dengan konteks politik, tapi, ya sudah lah.. Lebih baik menghayalkan anak SMP dengan gaya hidupnya saja.

12 Maret 2015

Tamalanrea, Makassar

Read more...

Senin, 09 Maret 2015

Taksonomi Bertanya ala Alwy Rachman


Dalam suasana sore yang ceria, pemandangan danau yang kemilau, ekspresi pemuda – pemudi yang memanfaatkan lantai dasar Gedung IPTEKS Unhas untuk latihan menari, menyanyi dan diskusi, serta suara-suara gaduh yang asyik, kelas menulis Sekolah Menulis Kreatif pada Sabtu, 7 Maret 2015, kemarin, berlangsung hikmat. Maklum, kali ini kelas yang diikuti 20-an peserta dari beragam kampus di Makassar didampingi oleh Alwy Rachman, yang dengan sihir kata-katanya kembali mengusik pikiran.

“Belajar menulis itu, seperti belajar naik sepeda. Ada jatuh bangun, kita harus latihan terus menerus hingga mahir. Agar ketika berkendara tidak mencelakakan orang lain,” kata Alwy. Pernyataan ini menghentak kita, sebab kita pun sadar bahwa tulisan itu dapat membuat orang lain-pembaca menjadi celaka atau luka. Begitu pentingnya latihan keras dalam menulis.



Sore itu, Alwy menawarkan tools, semacam alat yang dapat memudahkan para penulis untuk mengumpulkan pengetahuan. Tools dasar tersebut bernama “Taksonomi Bertanya”. Jika diurai menjadi Taksa atau susunan dan Nomi berarti tersebar. Untuk memudahkan, beliau meringkasnya dengan kutipan “Tuhan hanya mencipta alam semesta, yang menyusunnya adalah ilmu pengetahuan”. Kenapa harus disusun? Itu untuk memudahkan kerja berfikir kita, yang memang punya potensi untuk mengklasifikasi, mengatur, dan menjelaskan. Katanya, agar tulisan atau karya kita tidak hanya melulu dikendalikan oleh intuisi, tapi juga oleh pikiran yang terstruktur. Lalu, yang rumit dalam kerja-kerja intelektual ini tambahnya lagi adalah bertanya. Lebih mudah memberi jawaban dibandingkan bertanya.

Bertanya pun punya teknik dan tujuan. Dalam taksonomi bertanya, terdapat tiga lapisan, lapisan dasar pada piramida taksonomi yaitu menjawab konteks, dengan pertanyaan siapa, dimana, dan kapan. Lapisan kedua dari piramida yaitu menjawab pengetahuan dan metode-modus, dengan pertanyaan Apa dan Bagaimana. Serta lapisan akhir yang paling puncak piramida dengan sebuah pertanyaan menukik dan menakutkan, yaitu kenapa? Kenapa selalu mensasar nilai dan kepercayaan seseorang. Nilai-nilai yang mendasari tingkah laku seseorang.




Untuk memulai riset, perbanyaklah pertanyaan yang menjawab konteks, yang dalam hal ini tentang pertanyaan : siapa, dimana, dan kapan. Konteks akan menjelaskan peristiwa, menggambarkan permukaan-permukaan dan pola-pola peristiwa. Misalnya kasus geng motor, cobalah mengeksplorasi pertanyaan sebanyak-banyaknya. Siapa-siapa pelakunya, siapa-siapa korbannya, siapa-siapa yang resah, siapa-siapa yang mengambil untuk dari fenomena geng motor, lalu siapa-siapa yang terlibat menangani kasus tersebut? Dimana saja kejadiannya, di mana saja para pelaku berkumpul, di mana saja korbannya, di mana saja hal ini dibicarakan, di mana saja hal ini diatur dan dikendalikan, di mana kira-kira geng motor mendapatkan titik terang dan penyelesaian? Lalu, kapan kejadian-kejadian yang melibatkan geng motor, berdasarkan jam, berdasarkan hari, berdasarkan bulan, berdasarkan tahun, berdasarkan zaman? Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu kemudian dipindahkan ke dalam matriks atau tabel, untuk melihat keragaman jawaban.



Lapisan kedua riset adalah tingkatan pengetahuan, dengan mengeksplorasi pertanyaan apa dan bagaimana. Jawaban-jawaban pertanyaan ini akan mengarahkan kita pada teknik, cara, atau metode, serta pada sejarah, akibat-dampak, dan defenisi. Semua jawabannya membantu kita untuk mengerti apa dan bagaimana kasus atau fenomena terjadi, yang bersifat eksplanasi dan analisis. Misalnya kembali tentang geng motor. Apa itu geng motor, Jenis-jenis geng motor, Apa dampak dari geng motor? Data-data tentang geng motor, misalnya jumlah korban, jumlah pelaku, kelompok umur pelaku, kelompok umur korban, kelompok kelas sosial korban, jumlah tempat operasi, jumlah kejadian, dll. Bagaimana proses rekruitment dalam geng motor, program kerja geng motor, persiapan sebelum geng motor operasi, bagaimana geng motor beroperasi, senjata-senjata apa yang digunakan, bagaimana teknik penggunaan senjata, bagaimana mereka membuat senjata, bagaimana teknik untuk menakut-nakuti korbannya, berapa orang mereka beroperasi, barang-barang apa saja yang mereka rebut, bagaimana setelah operasi, barang-barang hasil curian digunakan untuk apa? bagaimana mereka menjalin hubungan di kehidupan sehari-hari, bagaimana mereka menghindari tindak penangkapan dari polisi? Dll. Eksplorasi pertanyaan tentang apa dan bagaimana ini sebanyak-banyaknya. Jawaban pada setiap jawaban juga dipindahkan ke matriks atau tabel untuk memudahkan klasifikasi dan identifikasi.

Lapisan tertinggi dari lapisan taksonomi bertanya  adalah kenapa. Jawaban atas pertanyaan kenapa ini akan mensasar nilai dari pelaku, komunitas, kelompok masyarakat yang kita sasar. Jawaban atas kenapa akan menggores emosi, karena sifatnya sangat subjektif, menyangkut nilai, kepercayaan dan moral subjek yang kita observasi. Menurut Alwy, pertanyaan ini paling jarang digunakan, atau terlupa digunakan, padahal jawaban dari pertanyaan ini sangat membantu untuk melacak, kira-kira nilai apa yang mendasari sebuah tindakan kejahatan, atau operasional teknis tertentu. Misal untuk pertanyaan ini, Kenapa geng motor menggunakan teknik kekerasan, bukan demonstrasi? Kenapa geng motor terdiri atas anak-anak remaja, bukan orang dewasa? Kenapa geng motor hadir di lorong-lorong, bukan di kompleks-kompleks elit? Kenapa geng motor lebih sering beroperasi di malam hari? kenapa geng motor mensasar kelompok-kelompok ekonomi tertentu? Kenapa geng motor tiba-tiba menyeruak pada saat-saat sekarang dan pada waktu konflik antara Polisi dan KPK? Kenapa geng motor tiba-tiba banyak di berbagai daerah? Kenapa polisi sangat lamban menangani geng motor? Kenapa pemerintah tidak tanggap terhadap geng motor? Dll.

Masing-masing pertanyaan pada setiap lapisan dapat dibuat dalam dua zona, yaitu zona masalah dan zona solusi. Misalnya untuk pertanyaan konteks, Siapa yang bermasalah dan Siapa yang dapat memberikan solusi, kapan terjadi masalah dan kapan bisa diselesaikan, lalu dimana terjadi bermasalah dan dimana masalah tersebut bisa diselesaikan. Begitu halnya dengan pertanyaan apa (apa masalahnya dan apa solusinya) dan bagaimana (bagaimana masalahnya dan bagaimana solusinya), serta kenapa (kenapa dipermasalahkan dan kenapa harus diselesaikan).

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa disusun dalam poin-poin, atau mengambil garis kesimpulan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Misalnya, geng motor adalah para remaja tanggung dari kelompok ekonomi rendah, yang dari kejahatannya, terdapat kelompok-kelompok tertentu yang memperoleh manfaat dari kejahatan mereka atau geng motor adalah tindak sporadis yang terencana dan direncanakan secara matang oleh kelompok-kelompok tertentu untuk pengalihan isu-isu skala besar.

***
 Setelah mengumpulkan begitu banyak pertanyaan pada setiap lapisan taksonomi. Kita pun dituntut untuk melakukan seleksi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang kita ingin ajukan, yang nantinya akan mengarah pada rumusan masalah terhadap tulisan atau riset yang kita lakukan. Atau, dengan begitu banyak pertanyaan, kita dapat membuat beragam tulisan, dengan rumusan masalah atau sudut pandang yang berbeda-beda. Tentu, jawaban-jawaban pada setiap pertanyaan tersebut akan sangat membantu menguatkan argumentasi dan analisa kita dalam melihat peristiwa.

Alwy kembali membantu peserta untuk memindahkan jawaban-jawaban tersebut dalam tulisan. Kita dapat menggunakan susunan gunung es, dimana puncak atau permukaan piramida menggambarkan peristiwa, lalu tengah-tengah piramida menjelaskan pola-pola peristiwa, dan bagian dasar piramida menjelaskan dengan detail struktur atau faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa serta teori-teori yang mendukung.

Hal lain yang Alwy jelaskan adalah teknik semat, dimana kita dapat mengambil kutipan-kutipan yang sesuai atau relevan dengan apa yang kita maksud dalam tulisan, yang di tempatkan di awal tulisan dan pada akhir tulisan. Semat ini lebih pada style tulisan, yang membantu pembaca untuk memahami konten tulisan dari awal hingga akhir. Lalu, ia pun memberi tips dalam memperbaiki tulisan. “Sebaiknya, ketika tulisan telah rampung, tulisan tersebut kita tidurkan dulu barang sehari. Lalu kita lihat kembali dimana patahan argumentasi tulisan kita,” Kata Alwy.

Sesi taksonomi bertanya ditutup dengan refleksi dari para peserta. seorang peserta mengungkapkan, “baru kali ini saya mendengar bahwa pertanyaan ada taksonominya juga, sebelumnya saya hanya tahu tentang taksonomi tumbuhan dan hewan,” kata Ayyub, mahasiswa pertanian. Komentar lain diutarakan William, mahasiswa kedokteran Unhas, “Sebelumnya, saya mengenal taksonomi pada tubuh manusia, kali ini saya baru menyadari bahwa tulisan juga harus punya taksonomi".

Sesi ditutup, Magrib menyambut dan suasana menjadi redup. Tapi, pikiran kami, menjadi terang dengan taksonomi bertanya.

Minggu, 8 Maret 2015
Idham Malik
Kepala Sekolah Menulis Kreatif          

Read more...

Sabtu, 07 Maret 2015

Orang Besar

Dalam setiap zaman, kita merindukan orang besar. Dan setiap zaman pun membentuk orang besarnya sendiri-sendiri. Ya, kita bisa saksikan hal itu dalam sejarah, sejarah selalu mengangkat-angkat orang besar, menguliti-nya dengan detail, mengorek-ngorek kehidupan dan cara berfikirnya. Sejarawan menganggap bahwa dari pikiran orang besar, yang kemudian menjadi tindakan orang besar, perubahan sosial akan tejadi. Walau, sejarawan juga mengatakan bahwa orang besar selalu identik dengan kekejaman, namun tidak selamanya begitu.

Saat-saat ini, bangsa kita juga mencari orang besar. Sebelumnya kita sudah mengidentikkan, merasa-rasa, dan menggali masa lalu orang besar - orang besar. Buku-buku bertebaran tentang orang-orang itu dan kita takjub terhadapnya. Namun, sejarawan pun mengatakan bahwa buku-buku tentang orang besar atau biografi itu selalu jauh dari fakta sejarah dan hanya bercerita tentang masa lalu. Sejarah tidak selalu tentang biografi orang hebat.

Dilema pun muncul ketika kita bicara tentang orang besar. Sebab, orang besar adalah individu yang lahir dari suatu masyarakat, suku, ataupun bangsa. Sejak kecil sebenarnya kita sudah dikondisikan untuk masuk ke dunia sosial, yaitu melalui bahasa. Bahasa dan lingkungan-lah yang membentuk karakter-karakter setiap individu, termasuk orang besar. Gagasan-gagasan kita yang paling awal pun berasal dari gagasan-gagasan orang lain.

Tapi, suatu zaman tetap membutuhkan orang besar. Sebab, kata sejarawan Wedgwood, prilaku manusia sebagai individu sangat berbeda dari prilaku mereka sebagai anggota kelompok atau kelas. Makanya, kajian tentang orang besar tetap perlu, untuk mengetahui motif-motif dari aksi mereka.
Kembali ke kondisi saat-saat ini. Apakah bangsa kita membutuhkan orang besar? Ataukah kita sekadar merindukan orang-orang besar? Seperti Theodor Mommsen (sejarawan Jerman) merindukan sosok Caesar, raja Romawi dan membuat buku "History of Rome" untuk mengembalikan semangat orang Jerman yang kecewa terhadap kekacauan Revolusi Jerman pada 1848-1849.

Mengatasi kebingungan saya terhadap orang besar, saya tertarik untuk mengutip deskripsi Friedrich Hegel, "Orang besar pada zamannya adalah orang yang bisa mengubah kehendak zamannya menjadi kata-kata, mengatakan kepada zamannya apa kehendaknya dan mencapainya. Apa yang ia lakukan adalah inti dan esensi dari zamannya; ia mengaktualisasi zamannya".

Dari deskripsi tersebut, saya tak tahu, apakah orang besar-orang besar yang ada tercetak bukunya di Gramedia saat ini sesuai dengan penggambaran Hegel? Apakah orang nomor satu di negeri kita ini mampu mengangkat zamannya dari kata-kata menjadi tindakan? Apakah bangsa kita, mampu memproduksi orang besar-orang besar kelak ke depan? Apakah pemuda-pemuda ke depan dapat memimpin negeri ini lebih baik dari pemimpin sekarang? ataukah bangsa kita mulai gagal dalam sistem produksi pemimpin dan orang besar? Dan hanya bisa memproduksi pekerja-pekerja dan pegawai rapi berdasi yang loyo?

Saya tak tahu, sejarah kita di masa depan mungkin hanyalah sejarah tentang geng motor yang tak berhasil dibrantas, tentang KPK yang dilucuti, tentang mafia yang bereaksi di mana-mana. Ada baiknya kita mulai menulis sejarah preman dan mafia di negeri ini.



Saya pun berfikir, akan sangat sulit rasanya mengandalkan orang-orang besar di Indonesia. Sebab, orang besar sangat kesulitan untuk membuktikan kata-katanya, untuk menangkal para begal, para mafia, para tukang omong kosong, orang besar tampak kesepian di puncak kuasanya.

Untuk itu, saat ini kita harus mulai mengajak para pemuda untuk berfikir ke depan. Tonggak sejarah selalu dimotori oleh pemuda, dan pemimpin masa depan sangat ditentukan bagaimana kiprah pemuda saat ini. Seperti kata-kata Mahatma Gandhi, Masa depan tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.Nah, para pemuda, apa yang Anda lakukan saat ini? Kalau yang Anda lakukan adalah hal yang biasa-biasa saja, maka tak heran ke depan Indonesia tak akan berbeda dengan masa sekarang. Dan hidup rakyat kita begitu-begitu saja, ketidakadilan akan kekal di Indonesia yang kita cintai ini.

Sekretariat identitas
7 Maret 2015





Read more...

Minggu, 22 Februari 2015

Tarian, Batu-Batu dan Apa yang Ada dalam Diri Manusia?

Manusia bergerak, manusia merasa, manusia berfikir, manusia mencipta. Saya kaget saat mencermati hal-hal itu, dan kekagetan saya juga merupakan sebuah keanehan. Adakah yang menyangsikan pikiran dan perasaan seperti itu?

Kemarin, saya menyaksikan sajian Tari Pa'duppa pada perayaan Ulang Tahun Kab. Pinrang, beberapa anak SMA yang mengenakan pakaian adat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja, bergerak-gerak, mengalun-alun, dan banyak orang yang memotretnya dengan penuh takjub. Saya memotretnya juga satu dua, tapi, lebih dari itu, jiwa saya juga memotretnya, menyimpan dan mengolahnya. Lagi-lagi, jiwa saya seperti diisi, oleh gerak, oleh keindahan. Saya tak dapat mendefenisikan lebih gamblang tentang sesuatu yang mengisi diri saya itu. Yang saya temukan adalah komposisi, ritme, paduan, bagai angin, bagai nyiur yang melambai-lambai, bagai kabut yang menyelimuti deretan pengunungan kars sehabis hujan.



Lalu, saya mendengar seruling, saya mendengar gendang, mendengar suara-suara dari tenggorokan. Suara itu teratur, pemilik pita suara itu betul-betul pintar mengolah pita suara, hingga suara-suaranya yang menyanyikan lagu Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja itu merasuk dan mengaduk-aduk, apa yang diaduk-aduk saya tak tahu.

Tarian, musik dan nyanyian, adalah sajian bagi jiwa. Varian - varian kesenian itu pun merupakan hasil dari daya jipta jiwa, sesuatu yang kreatif dan lahir dari pesona kebudayaan, ekpresi dan komunikasi jiwa-jiwa. Entah bagaimana kiranya nasib manusia jika hal-hal seperti ini tiba-tiba lenyap? Tapi apakah hal-hal seperti itu dapat lenyap? atau sekadar tergantikan atau dilengkapi oleh sesuatu yang lain, yang ditemukan dalam benda-benda.

Pada HUT Pinrang itu, diadakan pameran untuk memamerkan produk-produk usaha masyarakat Pinrang. Termasuk di dalamnya memamerkan batu-batu, yang lagi trend saat ini. Batu-batu itu nyempil di sudut-sudut stand resmi, ia turut mengambil perhatian pengunjung. Orang ramai tampak asyik masyuk berkumpul, melihat-lihat, memegang-megang, batu-batu yang mirip dengan batu di jari-jari mereka.

Mungkin, batu-batu ini menyihir jiwa mereka, seperti tarian menyihir jiwa saya. Batu-batu ini memperoleh tempat di kedalaman rasa mereka, menjadikannya istimewa dan patut dimiliki. Batu-batu itu menjadi pelengkap, menjadi sajian jiwa, dengan dasar keindahan, dan diselimuti kepercayaan berlatar kisah. Entah kisah itu betul adanya ataukah sekadarnya dibuat-buat. Tapi, manusia memang butuh kisah, mungkinkah manusia modern saat ini, mengalami kehausan kisah, hingga batu-batu berkisah tiba-tiba menghidupkan hasrat purba mereka?

                                               Istimewa

Hasrat-hasrat ini pada dasarnya kita temukan juga ketika kita mendengar suara adzan, mendengar orang mengaji, atau sekalian pada saat kita mendalami spiritualisme pada agama kita masing-masing. Agama menjadi penyejuk, atau istilah yang sudah kita ulang-ulang, sebagai santapan rohani, jika kita yakin apakah rohani itu betul-betul ada? bukan Rohani teman SMA dulu, ya.

Ya, agama, musik, tarian, ekspresi-ekspresi seni lainnya membuat kita hidup lebih hidup. Membuat kita lebih bergairah melanjutkan hidup, sekaligus menemukan diri kita di sana, misalnya dalam tari-tarian itu. Ya, tentu bukan diri yang asal mula, tapi diri kita yang dibentuk oleh budaya.

Dan, saat ini, untuk masyarakat kita yang selalu dihantui nasib buruk, selalu dihantui perasaan tidak aman berkendara di malam hari, rasa takut pada kecelakaan dan kematian, rasa takut akan ketidakpercayaan diri tampil di masyarakat, rasa bingung akan perasaannya sendiri dan tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Mungkin batu menjadi mainan sementara, untuk menjeda sejenak kesibukan-kesibukan berlalu-lintas di bumi. Ya, batu sebagai bahan untuk berbagi kisah, sebab agama, budaya, musik, atau pun tari mulai melempem dan mungkin sudah tak asyik lagi untuk dibicarakan.

Jadi tak bingung kalau ada manusia yang menukar uangnya milyaran rupiah dengan batu-batu. Sebab saya juga menukar mungkin sudah jutaan uang saya untuk buku-buku, apa bedanya. Saya senang melihat buku berjejer di lemari saya, dan orang-orang senang melihat batu-batu di lemari koleksinya. Apalagi buku dan batu sama-sama memiliki kisah, dan manusia adalah mahluk yang rindu kisah, rindu makna, entah kisahnya berasal dari buku atau berasal dari batu, itu terserah Anda.

*Belajar menulis apa adanya dan sudah mulai pikun dengan istilah-istilah keren*
Warkop Terminal, Makassar, 20 Februari 2015.

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP