Rabu, 28 Januari 2015

Patung, Timur dan Barat

Dua hari ini saya terheran-heran dengan beberapa patung yang saya temui di Renon, Bali. Patung monyet, patung dewi Saraswati, patung Gajah Mada, dan patung-patung dewa lainnya. Setiap rumah ada patung, setiap kantor ada patung, hingga di hadapan saya menulis saat ini terdapat patung. Patung seorang gadis sedang menuangkan air ke dalam kolam.
Setiap saya melihat patung-patung ini, ada ser-ser dalam diri saya, rasa-rasanya patung-patung ini punya sesuatu di dalam bentuknya. Ketika memandanginya lebih lama lagi, saya pun tiba-tiba menjadi patung. Jantung saya melambat, saya merasa seperti jatuh pada ruang tak terbatas, terus melayang-layang dan tampaknya membuat otak saya mengeluarkan zat-zat kimia, seperti saya memandangi kekasih saya, barangkali.
Ketika saya menyadari bahwa patung ini hanya terbuat dari batu, dan merupakan hasil pahatan manusia, dan biasanya sekitar 2 - 3 menit memandangi patung, saya kembali normal atau normatif. Tiba-tiba suasana batin saya berubah, saya melewati patung itu dengan enteng dan menganggapnya angin lalu. Tapi, ketika bertemu dengan patung baru lagi, saya kembali memandanginya dan timbul lagi perasaan ser-ser itu.
Tampaknya batin saya betul-betul dipermainkan di Pulau Dewata ini, bukan hanya oleh patung, tapi juga oleh kemenyan, oleh bunga-bunga, oleh janur kuning yang melengkung tinggi di atas, dan oleh musik - musik Bali yang membuat saya serupa mengapung - apung di lautan.
Saya mencoba melacak, kira-kira dari mana muncul perasaan-perasaan seperti itu? perasaan gairah, ekstase, kadang-kadang lenyap dari bumi dan mungkin magis. Ya, saya betul-betul merasakan nuansa magis di tempat ini, saya seperti ditemani banyak ruh-ruh, dan hati saya berdialog dengan ruh-ruh itu, entahlah. Mungkin, karena saya juga merupakan bagian dari dunia timur, hanya timur saya adalah timur yang lain, yaitu timur Bugis, yang suasana magisnya lebih pada ritual-ritual Islam, ya, saya merasa ada kesamaan antar timur saya yang bugis dan timur di sini yang Bali.
Lalu, saya pun melacak kenapa saya kadang-kadang tidak acuh lagi pada patung, ketika memendanginya begitu lama dan sadar bahwa ia hanya dari batu dan dipahat oleh manusia. Ya, ternyata pikiran saya ini tidak hanya diproduksi oleh kultur timur, tapi juga kultur barat. Dimana barat, selalu melihat objeknya dengan terma estetika barat, yang cenderung normatif. Tapi, tetap saja, Timur saya lebih kuat dari Barat saya. Karena saya merasa seperti itu. Seandainya saya memikirkan seperti itu, tentu barat saya lah yang lebih kuat.
Ah, saya ini kan orang timur, maka saya pun berfikir untuk menikmati rasa timur saya. Eh, kok berfikir lagi, berfikir kan barat. emm. Ya sudah, timur dan barat itu hanya sudut pandang semata. Saat ini saya cenderung menggunakan atau menerapkan apa-apa yang membuat saya lebih bergairah, lebih nyaman, dan mungkin akan berpengaruh pada produktivitas saya.
Sama halnya dengan Islam, beberapa tahun ini saya merasa jauh dari Islam, dan ternyata itu sangat menyiksa saya yang sejak kecil begitu dekat dengan Islam serta ritual-ritualnya. Dan tiba-tiba saya berfikir untuk kembali lagi mendekati Islam, mencoba lagi merasa-rasainya, memperoleh kenikmatan di dalamnya.
Ya, pagi ini air mancur terdengar damai, bau kemenyan pun begitu menghipnotis. Belum lagi bunyi-bunyi seruling menghantui ruang, ah, Saya merasa dan berfikir, lebih baik kita nikmati saja.
Renon, 28 Januari 2015.

Read more...

Jumat, 02 Januari 2015

Win - Win Solution

Sejak Rabu, 17 Desember hingga 22 Desember hari ini, saya menyewa mobil untuk beragam keperluan kerja. Dalam sehari, waktu saya habis di jalanan cukup banyak, mulai dari jemput teman di bandara, keluar untuk cari tempat makan, dan untuk keperluan lain-lain, seperti tarik uang di atm. Sejak 17 Desember itu, saya agak sensitif terhadap orang yang lalu lalang di jalan raya. Saya tiba-tiba berfikir, kenapa begitu banyak orang berjualan di pinggir jalan, dengan beragam kebutuhan, mulai dari pulsa, pulpen, sikat gigi, atau jual ban. Banyak yang menjual berarti banyak juga yang membeli. Hidup ini seperti diatur oleh aktivitas-aktivitas itu, membeli dan menjual. Saya kemudian berfikir, apa yang telah saya jual? terus, apa yang telah saya beli? Ah, pikiran seperti itu tampak tidak ada gunanya, sebab sejak jaman dahulu orang hidup dengan aktivitas-aktivitas seperti itu.

Lantas, saya melihat anak-anak kurang kerjaan di pinggir jalan, melihat tukang becak, melihat tukang bakso. Saya membayangkan, apa kira-kira kesenangan orang-orang ini? Apa hobby mereka? Hal-hal apakah yang membuat gairah mereka bertambah? dan jika saya bandingkan dengan diri saya, yang mengisi waktu dengan banyak membaca buku, kira-kira bagaimanakah rasa hidup mereka yang kurang baca buku? yang hidup sehari-hari sudah susah begitu? Bagaimana mereka memaknai hidup dengan informasi, impian-impian yang terbatas, lantaran terbatasnya akses pada sastra, pada musik, pada lukisan, pada filsafat, pada ilmu pengetahuan?

Saya tiba-tiba ngeri membayangkan hal itu. Dan saya bersyukur dengan hidup saya yang dilimpahi kebebasan - kebebasan. Dari sini saya berfikir lagi, bagaimana jika setiap orang mampu mengakses informasi dengan gampang, jurang kelas semakin sempit, orang-orang mampu membeli apa yang ia inginkan, bagaimanakah hidup kita jika seperti itu? Saya juga tak mau membayangkannya. Sebab, di satu sisi kita ingin mengangkat harkat martabat manusia agar dapat mengikuti selera dan gaya hidup kelas menengah yang mewah, di sisi lain terdapat juga ketakutan, jika semua orang mampu untuk mengakses dan mengelola alam, bagaimanakah nasib alam itu sendiri? Dimana faktor terbesar kerusakan alam karena gaya hidup manusia yang boros, mewah, membuang-buang energi, atau lain kata adalah jejak ekologisnya kian panjang dan dalam.

Lantas, yang mana lebih kita dahulukan, pertumbuhan ekonomi meningkat hingga bisa mengangkat begitu banyak orang miskin menanjak menjadi kelas menengah? Yang pada akhirnya kelas menengah ini menambah begitu banyak mobil, ac, televisi, jejak perjalanan (pariwisata), sampah, dll, ataukah tetap dengan pertumbuhan rendah, demi resiko jejak ekologis yang juga rendah.

Di sinilah dilemanya, kita selalu ingin manusiawi, dengan standar manusiawi yang lebih tinggi, yaitu dengan mempunyai rumah dengan fasilitas lengkap, punya kendaraan, punya waktu luang yang banyak. Tapi, di sisi lain, kita selalu lupa akan jejak yang ditimbulkan akibat gaya hidup mewah yang menjadi penanda status kita.

Untuk menyelesaikan dilema ini, mengontrol hasrat adalah salah satu langkah, dan semangat volunterisme-sedekah untuk membantu kaum lemah juga harus tetap dikobarkan. Selain itu, prinsip win-win solution juga harus kita pegang, bahwa hidup itu jangan hanya mau menang sendiri, mari kita merancang, agar menang-menang, sama-sama menang, begitu halnya dengan lingkungan dan hewan-hewan yang hidup di bumi. Manusia, hewan, tumbuhan harus didesain sama-sama menang, kerjasama, biosentrisme, ekosentrisme.

Read more...

Kamis, 01 Januari 2015

Kos-Kos-an dan Orang Kaya

Dalam beberapa kali perjalanan, yang singkat dan dekat, seperti mengunjungi laundry di area kos-kos-an dekat kampus, saya sebenarnya beberapa kali memperoleh "insight", tapi tak sempat saya tulis. Hal-hal yang biasa kita lihat, dan berulang - ulang, yaitu pertumbuhan sebuah kawasan, bertambahnya toko-toko, bangunan-bangunan yang bertingkat, manusia-manusia yang lalu lalang. Saya terus terang saja khawatir, tentang pertambahan orang-orang. Entah kenapa saya pesimis terhadap jumlah orang yang semakin banyak membanjiri kota, padahal hal itu sesuatu yang niscaya.

Saya sadar bahwa hal itu tak dapat kita tampik, dengan bertambahnya orang-orang, berarti semakin melimpah orang yang butuh banyak hal, dan semakin meningkat pula pihak yang dapat menyajikan dan memenuhi kebutuhan orang-orang, hingga yang menyajikan itu juga menjadi sentosa hidupnya. Dalam kehidupan kos-kos-an, hal itu kemungkinan menciptakan pola yang baik, karena yang menyalurkan terdiri atas banyak orang. Berarti dapat terjadi apa yang disebut pertumbuhan ekonomi, orang yang belanja semakin banyak, dan uang yang beredar semakin melimpah. Apalagi barang-barang yang diedarkan adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari, bukan barang-barang mewah yang sekali belanja dapat menguras modal untuk konsumsi setengah bulan.

Hal itu berlaku bagi orang yang mengerti pasar, orang yang dapat melihat kemungkinan atau peluang pasar. Kasihan lah bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan itu, dan memang dari awal tidak diberi bekal untuk sensitif pada hal-hal seperti itu, dan akhirnya membuat mereka sekadar menjadi penonton. Selain menjadi penonton, lantaran tuntutan hidup, mereka juga dengan terpaksa menjual tenaga-nya, karena hanya tenaganya saja yang dapat diperjual-belikan. Mungkin, dengan pendidikan yang baik dan meluas, orang-orang yang menjual tenaganya kelak akan menipis. Tapi, saya tidak dapat memastikan kapan itu terjadi, soalnya di negara yang kaya sumberdaya ini, orang-orang kaya yang jumlahnya 20 persen itu, menguasai sekitar 50 persen pendapatan nasional, sementara orang miskin yang jumlahnya 40 persen hanya menguasai 16 persen pendapatan nasional. Dan dalam orang miskin itu, masih banyak dari mereka yang menjual tenaga dengan harga yang sangat murah. Akibat ketimpangan sejati ini, orang miskin bertambah miskin, dan yang kaya semakin kaya.

Seperti kita-kita ini, yang berhasil mencicipi pendidikan, akan dengan mudah menjadi kaya. Tapi, apa yang salah ketika kita menjadi kaya? Menurut saya, tidak salah menjadi kaya, yang salah adalah ketika kita menjadi kaya, tapi kemudian dengan mudah melupakan mereka yang lemah secara ekonomi. Padahal dalam harta seorang yang kaya, terdapat bagian bagi mereka yang miskin. Wajar kiranya jika revolusi terjadi, jika orang-orang kaya semakin pelit dan orang miskin marah lalu meminta hak-haknya melalui tetesan darah. Menurut Islam dan pedoman Nabi Muhammad pun, menganjurkan agar kekayaan tidak boleh ditimbun dan ditumpuk, kekayaan harus diputar, eksploitasi ekonomi dan segala bentuknya harus dihilangkan. Itulah sebabnya, ada konsep zakat, sadaqah, dan infaq, mekanisme itu mengharuskan orang-orang kaya mendistribusikan kekayaannya kepada orang miskin, agar jurang kemiskinan menyempit, dan stabilitas sosial terbangun.

Namun, hal itu hanya ada dalam kisah - kisah perjuangan nabi, yang berupaya menciptakan masyarakat madani di Madinah. Tapi, dalam kenyataan sehari-hari hal itu jarang terjadi.

Semalam, saya menyempatkan diri merayakan jelang tahun baru di salah satu cafe mewah di Jalan Pettarani Makassar, bersama orang yang kasihi. Suasananya menghibur, dengan lantunan musik jazz, cahaya api dengan lilin mungil berwarna hijau, arsitektur bangunan bergaya kolonial Belanda, dan pengunjung yang dominan bermata sipit dan kulit terang. Saya hanya menemukan satu atau dua pengunjung yang berkulit sama dengan saya, yang banyak adalah penyaji dan pelayan.

Tak dapat dipungkiri, bahwa yang menguasai ekonomi makassar adalah mereka yang matanya sedikit sipit, dan raut wajahnya agak mirip dengan artis-artis korea yang sering ditonton oleh anak muda saat ini. Dan saya tak dapat menyangkal hal itu, karena mereka memang memiliki semangat juang dalam bekerja, semangat tolong-menolong antar sesama mereka. Tapi, apakah distribusi kekayaan dapat diharapkan pada mereka? saya tak yakin. Itu harus kita periksa pada cara-cara mereka memperlakukan karyawan, gaji yang diberikan ke karyawannya, apakah sudah layak? Serta pada cara-cara mereka memanfaatkan hasil usahanya, apakah ada cost untuk orang kecil? Ini membutuhkan pengamatan yang jeli. Sebab, banyak juga penguasa berkulit cokelat yang memperlakukan karyawannya dengan semena-mena.

Hal ini saya tanyakan ke kekasih saya, apakah kita sama dengan mereka? apakah hati dan pikiran kita sama? Dia menjawabnya, ya. Pada dasarnya hati dan pikiran kita sama, yang membedakan hanya kulit dan ukuran mata. Nah, kalau begitu, apa yang harus kita lakukan untuk distribusi sosial, agar mereka-mereka yang kaya memperhatikan yang miskin? Saya rasa kita butuh dialog, kita juga butuh pengertian, mereka juga butuh pengertian, kadang-kadang kita harus merendah sedikit dan mengajak orang-orang kaya berdialog, dimana saat ini orang-orang miskin berdialog sesamanya dan orang-orang kaya hanya berdialog sesamanya pula.

Ketika dialog tak mampu membuat mereka melakukan distribusi sosial? Apa gerangan yang harus kita lakukan? saya tak tahu. Mungkin rakyat yang lebih tahu, mungkin rakyat yang ekonominya lemah itu, yang sedari dulu menderita akan melakukan hal-hal yang sebenarnya tak kita inginkan, yaitu meneteskan darah.

Saya keluar dari cafe sejam sebelum pergantian tahun. Saya pun sadar, kalau hanya saya saja yang menggunakan sepeda motor. Tapi, saya juga menyadari, kalau mobil belum menjadi solusi yang baik untuk kota yang sering dihinggapi macet ini. Kota yang dikerumuni mobil-mobil orang kaya, yang kadang-kadang menjengkelkan. Saya pun tak tahu, mungkin kelak saya juga punya mobil dan pada akhirnya juga menjengkelkan.

Makassar, 1 Januari 2015

Read more...

Kamis, 11 Desember 2014

Semangat Pencerah

Siang-siang sebelumnya, matahari tertutup awan, jalanan basah, orang-orang menjadi ragu untuk keluar berjejalan. Selain takut basah dan macet, juga takut hidung tersumbat, takut masuk angin dan tak ingin meminum tolak angin. Karena ketika masuk angin, sakitnya tuh di sini.
Ah, untuk mengatasi keisengan pada siang yang cerah ini, saya ingin bercerita tentang semangat pencerahan sajah. Semangat yang biasanya dikobarkan oleh para cendekia, akademisi, peneliti, aktivis, mahasiswa, yang selalu mengulang-ulang istilah pencerahan-aufklarung.
Tapi, sejauh manakah kata itu diaktualisasikan? sesampai dimanakah semangat itu? Apakah hanya tiba di ruang pikir mahasiswa-mahasiswa, yang jika ditanya, untuk apakah pengetahuan tentang semangat pencerahan itu? Bingung dan barangkali hanya menjawab untuk hal-hal yang tak jauh dari kepentingan dirinya sendiri. Dan sejangkau pendengaran saya, yang merah-merah itu, tidak lagi nyaring terdengar kata pencerahan.


Kata pencerahan lebih menjadi lips service, kata itu hanya ada dalam kamus untuk menjelaskan sejarah yang beku tentang perjuangan rakyat Prancis dalam menumbangkan monarki, atau itu adalah omong kosong Thomas Paine misalnya tentang republiken, tentang liberalisme, tentang hak-hak asasi manusia yang dia gelorakan di Amerika Utara, hingga ke Inggris Raya. Pencerahan hanyalah cahaya redup yang dinyalakan oleh para apostel awal Indonesus, para anak muda dan orang tua, yang bersama-sama mencita-citakan, mengimajinasikan sebuah bangsa sendiri, yang dikelola sendiri, yang mana tidak menghamba pada Bangsa yang jauhnya melintasi samudera. Ataukah pencerahan yang tiba-tiba menyala kembali, pasca ambruknya rezim otoritarian Soeharto, yang menambah gairah-gairah akan perbaikan nasib rakyat.
Namun, semangat-semangat itu dengan cepat sayup, seiring waktu, dan seiring stabilnya politik oleh negara. Iya seperti cahaya yang cerah yang dengan pelan menjadi redup tertutup awan. Lantas, dimanakah para apostel pembawa api semangat itu? yang memiliki gambaran lengkap akan yang semestinya, yang sebenarnya, yang kadang-kadang utopis.
Pertanyaan tentang 'dimana' posisi para pencerah itu, cukup penting untuk dibahas. Letak dan aktivitas para pencerah itu menandakan efektifitasnya dalam mencerahkan. Menurut Andrew Goss, dalam Buku Belenggu Ilmuwan dan Ilmu Pengetahuan, posisi para pencerah itu selalu dikanalisasi dan diserap oleh pemerintah, dan banyak oleh pemerintah otoriter. Pemerintah selalu tahu bahwa ketika terdapat beberapa kaum tercerahkan berkumpul, mereka dengan sedikit banyak tekanan merekrut mereka, mengendalikan hasrat intelektual mereka, memanjakan mereka dengan kenaikan gaji, asalkan para pencerah itu turut mendukung ideologi pemerintah, ikut terlibat dalam melakukan penelitian-penelitian yang mendukung program pemerintah, program pasar, program internasional. Para apostel itu tiba-tiba menjadi penjaja produk penelitian, dan dengan senang hati membantu mereka yang mampu membeli hasil temuan mereka.
Barangkali, mereka, para pencerah itu, yang punya gagasan brilian itu, yang punya perhatian terhadap nasib rakyat itu, ingin juga terlibat langsung dalam mensejahterahkan rakyat. Namun, ketika mereka bersentuhan dengan yang maha kuasa di Bumi, yaitu negara ataukah perusahaan, niat mereka menjadi lempem dan kemudian menjadi konformis, lalu dengan asyik melupakan persoalan besar itu, lebih memilih memecahkan problem-problem sederhana, seperti program swasembada beras, bibit unggul, pestisida kimiawi, revolusi hijau, atau mengkaji tanah. Tapi, tentang nasib rakyat yang tanahnya semakin lama semakin berkurang, kualitas tanahnya semakin lama semakin menipis, pendapatannya semakin lama semakin cekak, dan kesehatannya, pendidikannya, semua itu jauh dari perhatian para pencerah kita.
Para pencerah asik duduk manis di ruang kampus, yang dingin, dengan jok kursi yang empuk. Dengan sedikit bersibuk-sibuk di laptop untuk membuat laporan, sudah dapat lagi talangan dana untuk memperbaiki dan meninggikan pagar rumahnya. Para pencerah itu, terlihat begitu sibuk mengerjakan sesuatu, yaitu pesanan-pesanan, dan membuatnya kehabisan waktu untuk sekadar berkomentar tentang problem-problem masyarakat yang terlihat jelas di depan matanya. Yah, saya tiba-tiba teringat pernyataan Kak Alwy, Peristiwa berada di depan mata, tapi kesadaran jauh merosot ke belakang.
Sementara, bibit-bibit yang tercerahkan, tampak kehilangan orientasi ketika lepas dari kampus. itu sebuah keniscayaan, bahwa mereka harus segera mencari sandaran, kemudian tetap menjalin kontak dengan kawan-kawan yang sesama punya perhatian, lalu sama-sama merawat apa yang hendak diraih dan mengasah terus menerus ide, gagasan dan metode. Jika memang, kita tiba-tiba direkrut, diserap oleh lembaga, oleh negara, hal itu tidak mematikan motivasi kita untuk mengasah diri dan melihat problematika dengan lebih jauh. Bahwa realitas masyarakat masih begitu-begitu saja. Tugas kita lah untuk mengantar mereka, untuk mengajak mereka yang tercerahkan yang lain, untuk turun, untuk ke bawah, untuk bersentuhan dengan rakyat. Saya percaya, bahwa akar kebuntuan kita selama ini, karena kita jarang bersentuhan dan berinteraksi dengan yang tak terlihat, dengan mereka yang tak tersentuh.
Hal berikutnya yang juga prioritas, yaitu, bagaimana para pencerah ini dapat bisa lebih independen, dan bebas dari tekanan negara yang selalu mendiktekan keinginan-keinginannya. Bagaimana para pencerah ini, langsung menjadi agen, wali masyarakat dan menciptakan penemuan-penemuan yang bertujuan untuk kemakmuran rakyat. Saya rasa, sama dengan pemikiran Otto Soemarwoto, bahwa para pencerah tidak sekadar mengusulkan kepada pemerintah ide-idenya, tidak sekadar menjadi tim pemerintah untuk mengotrol masyarakat, dimana negara sebagai polisi dan bukan hukum, tapi turut langsung membuat kegiatan-kegiatan di masyarakat.
Tugas-tugas ini pun diemban oleh lembaga swadaya masyarakat, lembaga sipil, universitas, dan kelompok aktivis, tapi apakah mereka bebas dari kepentingan? apakah mereka betul-betul sepenuhnya memikirkan nasib rakyat kecil? atau nasib lingkungan? atau nasib manusia? ataukah mereka lebih besar memikirkan nasib dan kejayaannya sendiri. Saya tak tahu. Sebab, dalam pengelolaan masyarakat, kadang-kadang dan suatu keniscayaan terjadinya benturan kepentingan. Akan seperti apa masyarakat dibangun? apakah menurut pemerintah, menurut LSM? Menurut masyarakat sendiri? Bagaimana mengatasi hal ini? dan sudah seberapa besarkah korban dan pengorbanan masyarakat dan alam akibat tindakan-tindakan ceroboh para wali masyarakat? Barangkali, kita mendewakan metode ilmiah dan tidak mengindahkan dampak dari rumus-rumus pencerahan kita. Dimana akses masyarakat terhadap hutan yang kian terbatas, dimana negara dengan sewenang-wenang dahulu memberikan konsesi-konsesi pada perusahaan-perusahaan besar, hanya untuk memperoleh laba cepat. Dan hasilnya, raib, semua menjadi abu, menjadi asap. keuntungan hanya berada di kantong-kantong sebagian kecil orang. sementara rakyat banyak hanya memperoleh tuahnya, seperti tuah Lapindo, tuah Newmont, tuah perusahaan-perusahaan sawit yang tidak hanya mematikan gajah, tapi juga dengan sadis menggunakan alat negara (tentara - polisi) membunuhi rakyat-rakyat kecil yang meminta haknya, meminta negara untuk sedikit membagi milik leluhurnya.
Catatan ini merupakan catatan sederahana, hanya membagi-bagi apa yang dirasa bukan hanya di alam pikir, tapi meresap ke alam sadar. Tulisan ini bukan tulisan literasi, bukan tulisan ilmiah, tulisan ini hanya tulisan pamflet. hanya tulisan pamflet. Setidaknya, tulisan ini saya persembahkan kepada kawan-kawanku yang masih punya semangat, untuk bersama-sama lagi kita untuk berkumpul, membicarakan nasib bangsa, membicarakan permasalahan-permasalahan, kemudian kita turun bersama - bersama mereka yang lemah dan terpinggirkan.

Warkop 51, 11 Desember 2014
Makassar
Idham Malik

Read more...

Selasa, 09 Desember 2014

Darwin - Wallace

Dahulu kala, para ilmuan masih terkungkung oleh pandangan mainstream, dalam hal ini pengaruh gereja. Sebut saja Charles Darwin, ilmuwan yang berasal dari golongan berkepunyaan, dimana keluarganya memiliki banyak tabungan dan memberikan kebebasan kepada Darwin untuk melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah. Darwin sendiri berasal dari kelompok gereja, dia adalah pendeta. Saat itu para ilmuwan banyak berasal dari kalangan agamawan, sebab para agamawan hendak membuktikan bahwa kisah-kisah dalam Injil betul berada di kehidupan nyata, dalam hal ini kehidupan biologis-organis. Di masa-masa pertumbuhan pemikirannya, Darwin banyak diasuh oleh ilmuwan berlatar belakang gereja. Justru karena ikut Kapal HMS Beagle itu ke Kepulauan Galapagos, yang bertujuan untuk mencari bukti-bukti kehadiran dan penciptaan Tuhan di muka bumi, Darwin menemukan bukti-bukti akan bentuk-bentuk spesifik paruh burung finch (sejenis burung manyar), bahwa pada setiap pulau di huni oleh komunitas burung yang berbeda, tergantung dengan pola konsumsi-nya.


Gagasan tentang paruh burung itu dia bawa pulang ke Inggris dan hanya dibincangkan dalam lingkaran kecil-nya saja. Sebab gagasan itu bertentangan dengan pikiran mainstream gereja. Gagasan itu ia perkuat dengan bukti-bukti lain selama puluhan tahun, dan dia tidak berani melontarkan gagasannya tentang seleksi alam ke publik, lantaran belum hendak bertentangan secara radikal dengan pikiran kreasi kaum gerejawan.
Baru setelah Alfred Russell Wallace mengirim surat dari Ternate tentang keanekaragaman organisme di Hindia Belanda, yang kemudian mengembangkan teori biogeography dan garis wallacea, Darwin terpincut dan kemudian mendobrak paradigma kreasi dan mengukuhkan pandangan evolusi alam. Lalu Darwin dan Wallace disebut sebagai penemu bersama akan pandangan evolusi.
Namun, pada awal-awalnya, hanya nama Darwin saja yang berkibar, Wallace tenggelam bersama sejarah. Ia jarang disebut-sebut ketika orang berbicara tentang evolusi, meski dari surat Ternate itulah Darwin punya keberanian untuk mempublikasikan gagasannya, karena takut didahului oleh Wallace. Darwin terlanjur terkenal di kalangan ilmuwan, selain kaya serta memiliki pengaruh besar pada kalangan gerejawan. Sementara Wallace adalah pemuda tak begitu dikenal, yang saat itu masih berusia 34 tahun. Pemuda yang dengan senangnya melakukan perjalanan mengelilingi hutan-hutan Hindia Belanda hingga 8 tahun lamanya.
Tidak dapat dipungkiri, nama hutan-hutan dan kepulauan Hindia Belanda, yaitu Jawa, Celebes, Borneo, Ternate, Ambon, juga itu tenggelam dalam rak-rak buku sejarah alam. Yang kita kenal dan ingat hanya Galapagos. Padahal, dari perjalanan seorang ameteur bernama Wallace inilah hukum-hukum alam-organis ditegakkan. Wallace begitu takjub dengan keanekaragaman yang ditawarkan oleh hutan-hutan tropis Hindia Belanda, sehingga sangat cocok sebagai bukti teori seleksi alam. Misalnya tentang komunitas-komunitas monyet yang hidup di pedalaman hutan Hindia Belanda.
Dalam Buku Andre Gross, Belenggu Ilmwan dan Ilmu Pengetahuan, juga dijelaskan bahwa posisi ilmuwan Hindia Belanda saat itu belum masuk hitungan dibandingkan ilmuwan Eropa. Segala hal yang berasal dari Hindia Belanda dianggap jauh kelasnya dibandingkan yang berasal dari Eropa. Baru setelah Kebun Raya Bogor (Buitenzorg) dipublikasikan pada kalangan ilmiah Eropa, Hindia mulai di kenal sebagai laboratorium herbarium untuk hutan tropis.
Terlepas dari itu, Wallace yang berasal dari golongan kelas rendah, masih muda dan tergolong amateur-traveller (bukan spesialis ilmiah), tidak berasal dari kelompok gereja, tidak masuk dalam lingkaran kecil ilmuwan, dan alam hindia belanda yang jauh dari bayangan Eropa, membuat popularitas Wallace jauh di bawah popularitas Darwin.
Saya ingin mengakhirinya dengan mengatakan, bahwa ilmuwan dan penemuan itu tidak berdiri sendiri. Ilmuwan pun kadang-kadang tidak bebas dan sangat dipengaruhi oleh semangat zamannya.
Lantas, bagaimanakah dengan ilmuwan saat ini? seberapa berpengaruh kah kepentingan ideologis, nasionalis, atau pasar terhadap sasaran-capaian seorang ilmuwan? Apakah ilmuwan sudah betul-betul mengerti kondisi realitas dan kebutuhan masyarakat banyak? Bagaimana kah keberpihakan ilmuwan terhadap masyarakat? Bagaimanakah kungkungan pasar dan negara dalam mengontrol dan mengendalikan riset-riset para ilmuwan? dan Apakah para ilmuwan ini dapat mencerahkan masyarakat, demi melahirkan masyarakat madani, adil dan makmur.


Read more...

Kamis, 20 November 2014

Refleksi atas Tambak Supra Intensif Dewi Windu


Dunia perikanan Indonesia, sempat heboh pada 20 Oktober2013 lalu. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di lokasi hatchery  CV. Dewi Windu dan tambak Bapak Hasanuddin Atjo di daerah Kuppa, Kab. Barru, berlangsung launching tambak udang vaname sistem Supra Intensif. Peserta yang hadir sekitar lebih dari 100 orang, yang terdiri atas para stakeholder perikanan sulsel, tamu-tamu dari Sulawesi Tengah dan dari Jakarta, diantaranya Prof. Dr. Ir. Rochmin Dahuri, Ketua MAI dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Dr. Sudirman Saad, Mhum (Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil), Dr. Ir. H. Agung Sudaryono, M.Sc (sekjen MAI), Drs. H. Longki Djonggala, MSi (Gubernur Sulawesi Tengah), Bapak Sugeng (Kepala Balai Budidaya Air Payau Takalar), Dr. A. Parenrengi (Kepala Balai Riset Budidaya Air Payau Maros), Dr. Sulkap (Kabid Budidaya Sulsel), Burhanuddin (Balai Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Maros), Dr. Ir. A. Tamsil (Koordinator Shrimp Club Indonesia/SCI cabang Makassar), dan para peneliti dan staff DKP Kab. Barru dan Pinrang.

                                                                                                                                      
Sistem yang dirancang oleh Hasanuddin Atjo ini mendaku menerapkan upaya integratif antar subsistem ; 1) penggunaan benih berkualitas; 2) pengendalian kesehatan dan lingkungan; 3) standarisasi sarana dan prasarana; 4) aplikasi teknologi yang akurat dan tepat; dan 5) Manajemen usaha yang berkelanjutan.

Waktu itu, dalam suasana penuh suka cita, para pembesar naik satu persatu untuk memberi sambutan dan ucapan selamat. Para peserta pun ramai-ramai bertepuk tangan pada setiap kalimat-kalimat yang menggugah. Setidaknya, mereka merayakan kesuksesan Hasanuddin Atjo dalam memproduksi udang dengan hasil ‘wah’ dalam 4 siklus sebelumnya, dan saat itu akan disaksikan panen pada siklus ke lima (Tambak supraintensif sudah diujicoba sejak 2011 di area hatchery Dewi Windu dan terus meningkat produksinya hingga Oktober 2013. Pada saat itu juga telah dipersiapkan lahan baru seluas 1200 m2, lahan ini telah digunakan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan tambak supraintensif masih berlangsung hingga kini). Hasanuddin Atjo mengaku telah mengeluarkan dana investasi dan modal kerja secara independen sekitar Rp. 817 juta (hingga Oktober 2013), dan memperoleh nilai produksi hingga siklus keempat sebesar Rp. 710 juta. Yang berarti pada November 2014, diperkirakan telah memproduksi udang sebanyak 7 siklus dengan luas lahan dua tambak 2200 m2, tentu nilai produksi tersebut telah jauh melewati ongkos produksi.      

Kepadatan pada siklus kelima mencapai 1000 ekor/m2, yang kepadatan siklus sebelumnya juga tinggi, yaitu 700 ekor/m2. Dengan model panen parsial, siklus kelima memperoleh hasil panen 18.000 kg/0,1 ha, dengan Food Conversion Ratio (FCR) 1,18 yang sebelumnya 1,57, kelulusan hidup 94 persen dan kapasitas produksi dari 4.069 kg/0,1 ha menjadi 15.300 kg/0,1 ha. Panen sebelumnya, tambak supra intensif mendaku memproduksi 15,3 ton, atau produksi terbesar di dunia saat itu, dimana pernah dicapai Meksiko 11,1 ton untuk tambak 1000 m2. Atjo sendiri telah memperidiksi bahwa daya dukung lingkungan tambak supra intensif dengan penerapan pond engineering adalah 9 ton per 1000 m2. Tapi mungkinkah itu sekadar pendakuan saja?    

Namun, dalam penerapan metode budidaya sistem supra intensif, setelah jalan-jalan ke Barru dan Pinrang, menuai beberapa pertanyaan ?

1.     Apakah bahan – bahan organik yang menjadi ekses budidaya, seperti sisa pakan, feces, dan biomass dapat betul-betul terurai dengan bantuan oksigen optimal di tambak, seperti yang dikatakan oleh Hasanuddin Atjo dahulu? Bagaimana dengan klaim beliau terkait dengan kesehatan lingkungan?

= Hasanuddin menganggap, oksigen dibantu dengan probiotik dapat merombak bahan organik, seperti merombak NH3 menjadi NH4 menjadi NO2 lalu menjadi NO3 yang dianggap tidak berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, H2S pada lapisan dasar, dengan bantuan oksigen, dapat dirombak menjadi SO4, apakah betul demikian?

Hal tersebut memang betul, tapi perombakan membutuhkan waktu, membutuhkan proses, tidak ujub-ujub. Apalagi jika bahan organik tersebut langsung dibuang lewat central drain, saluran pembuangan dan tidak ada upaya treatment, semacam kolam perombakan bahan organik. Mungkin, bahan organik itu akan diurai di laut, tapi penguraiannya pun butuh proses dan sesuai daya dukung lingkungan. Jika bahan yang hendak dirombak lebih banyak, laut pun tak sanggup dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengurainya. Penguraian pun membutuhkan bakteri yang sangat banyak, sementara air laut dibutuhkan dan dengan segera dimanfaatkan oleh petambak-petambak lainnya.   

Kalau pun menggunakan kolam perombakan, seberapa efisien kolam tersebut? Sebab pergantian air dilakukan secara massif sekitar 10 – 30% perhari. Apakah kolam mampu mereduksi bahan organik hanya dalam sehari? Belum lagi pengeluaran air dilakukan tiap hari, sehingga akan sangat rumit proses perombakan bahan organik ini jika hanya mengandalkan satu tambak, apalagi tambak pemeliharaan sudah 2200 m2. Jika pun tambak IPAL (Jika sudah ada) diberi kaporit untuk membasmi bahan organik (kotoran), apakah residu kaporit tidak berpengaruh terhadap kualitas air di perairan laut? sebab kaporit dapat menjernihkan air dan mematikan organisme dalam perairan  

Terkait dengan klaim Atjo tentang kesehatan lingkungan. Apa dasarnya? Tambak tersebut sangat lambat menyediakan tandon pengelolaan limbah (IPAL). Tak ada bakau yang beliau tanam, tak ada usaha perbaikan lingkungan sekitar. Selain itu, mangrove di sekitar lokasi tambak beliau sangat kurang, begitu halnya dengan keberadaan karang di laut sekitar lokasi. Yang tumbuh hanya sejenis rumput laut liar, yang pertumbuhannya begitu massif dan menjadi indikator melimpahnya bahan organik di perairan lepas pantai dekat tambak supraintensif.

 Perlu pula penelitian, bagaimana pengaruh limbah tersebut terhadap produktivitas mangrove dan karang dan keanekaragaman hayati di sekitar mangrove. Serta bagaimana dengan daya mangrove dalam mendekomposisi/netralisir bahan organik (limbah) dengan kapasitas mangrove yang sedikit itu? Bagaimana kandungan bakteri dalam air laut? Melimpahnya bakteri menjadi sumber utama penyakit pada udang, dan bakteri vibrio yang berlebihan dapat memicu munculnya whitespot (virus) pada udang-udang yang dipelihara di tambak-tambak tradisional, udang-udang yang dipelihara di hatchery di mana air laut dan limbah tambak supraintensif masih terpengaruh.     

Langkah yang harus ditempuh dengan melakukan investigasi terhadap manajemen limbah tambak Hasanuddin Atjo. Berapa kilo pakan dia tebar perhari? Berapa kilo probiotik? Berapa persen dia ganti air? Bagaimana kondisi air sebelum di buang dan kondisi air di sekitar tambak?

2.       Kenapa Hasanuddin Atjo tidak dengan gamblang menjelaskan proses penguraian bahan organik di luar tambak, yang jumlahnya jumlahnya sekitar 60 - 70 persen dari jumlah pakan yang diberikan dalam satu siklus, dimana produksi udang berjumlah sekitar 15 – 17 ton, yang berarti 8 – 10 ton persiklus sebagai limbah?

Setiap hari tambak tersebut mengganti air, dimana limbah dibuang melalui central drain ataupun melalui pintu air. Menurut sumber terpercaya, limbah itu dibuang subuh hari, agar tak ada yang lihat, dengan warna yang tak mengenakkan (hitam). Waktu saya berkunjung ke sana, 20 Oktober 2013, ketika launching tambak supra intensif, warna air yang dibuang sudah hijau kecoklatan dan berbusa. Parahnya, waktu saya berkunjung pada Jumat (21 Februari 2014), saya sembunyi-sembunyi memotret kondisi perairan di laut di dekat tambak supra intensif. astaga, banyak sekali lumut/alga-rumput laut mengapung.


                             Keterangan : limbah buangan di saluran buangan. (20 Oktober 2013)


                           Keterangan : limbah melalui pintu air menuju saluran air. (20 Oktober 2013)

Bagaimana penjelasan ilmiah penguraian bahan organik yang banyak itu? Efek negatif bahan organik tersebut berapa lama? Hal-hal yang ditimbulkan bahan organik berupa kesuburan perairan, dan munculnya organisme-organisme penyebab penyakit. ini butuh penelitian lebih lanjut. Sebab kegagalan budidaya udang windu dahulu juga disebabkan oleh limpahan limbah bahan organik yang mencemari perairan yang berasal dari tambak intensif.  pengaruh limbah tambak intensif windu masih dirasakan hingga saat ini, berupa kesulitan tumbuh udang. Baik berdampak pada kualitas induk udang di alam (masih banyak induk udang di alam sulawesi Selatan), maupun kualitas benur yang dihasilkan di hatchery, sebab kualitas air untuk pemeliharaan benur sudah kurang baik. 

Usaha tambak ini sudah berjalan lebih dari 6 siklus. Selain itu sudah ada lebih dari satu tambak. dengan hasil konsisten 15 ton persiklus, pada siklus kelima hasil panen mencapai 18 ton dengan petak 0,1 hektar (Oktober 2013). Perlu diingat, bahwa tambak jenis ini sudah diperaktekkan pula di Sulawesi Tengah. Waktu itu Gubernur Sulawesi Tengah, Longki, turut hadir waktu launching tambak supra intensif.

Jika hasil 15 ton, dengan FCR 1, berarti jumlah pakan yang digunakan juga 15 ton, dimana sisa pakan diperkirakan 50 – 60 persen, yang berarti 7 – 8 ton persiklus bahan organik, limbah yang dibuang ke perairan umum. Jika dikali dengan dua siklus dalam setahun, berarti 16 ton pertahun. Ini sebanding dengan limbah pakan 10 – 15 tambak petak intensif 1 hektar yang produksi persiklus 2 – 5 ton, yang berarti 1-2 ton limbah persiklus.


Keterangan : foto diambil di dekat tambak supra intensif, sepanjang perairan di dekat tambak terdapat rumput laut liar atau semacamnya. Yang kemungkinan besar tumbuh subur akibat limbah tambak supra intensif. (foto : 20 Februari 2014)


3.       Kenapa Hasanuddin Atjo tidak membuat treatment terhadap limbah buangan? Apalagi dia adalah doktor perikanan dan mengerti dampak buruk dioperasikannya tambak super intensif untuk wilayah perairan perikanan?

Hal ini yang mengejutkan. Bapak Hasanuddin Atjo seakan-akan ingin menang sendiri dengan tidak memperhatikan masa depan tambak-tambak kecil lainnya. Nasib tambak di sulsel saat ini ada di tangan Pak Atjo, jika beliau tetap melanjutkan proyek tanpa perhitungan lingkungan ini, kita tinggal menunggu sejarah hebat perikanan sulsel yang dulu pernah ada. Maaf kalau terlalu membesar-besarkan.

Karena perasaan mau menang sendiri itu, saya beranggapan bahwa Hasanuddin Atjo lebih menekankan naluri bisnisnya, dan menafikan nalurinya sebagai sarjana perikanan, yang harus menilai usaha-usahanya itu dengan pertimbangan lingkungan, hukum, serta sosial masyarakat. Sejauh ini, Hasanuddin Atjo masih bersembunyi di balik dukungan MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia), SCI (Shrimp Club Indonesia), kolega-kolega-nya di pemerintahan dan balai riset. Sementara para peneliti dari MAI, SCI, maupun balai riset tidak berbuat banyak untuk mengangkat isu ini, mungkin karena hubungan dekatnya dengan sosok Atjo.

Bagaimana tidak, doktor lulusan IPB ini tidak kepikiran untuk membuat standar operasional untuk pengolahan limbah. Minimal limbah itu paling kasarnya harus di sterilisasi terlebih dahulu (jalan pintas), dengan kaporit sebelum dibuang ke laut (misalnya). Atau dengan alternatif lain, misalnya dengan kolam IPAL, yang di dalamnya ada organisme penyerap bahan organik, seperti rumput laut (gracillaria), bandeng, kakap dll. Anjuran tandon macam tersebut pernah diutarakan oleh Bapak Rochmin Dahuri waktu penyelenggaraan launching. Tapi Bapak Rochmin sayangnya tak terlalu mempermasalahkan persoalan limbah tersebut, dan hanya memberi sentilan-sentilan kecil, sepenuhnya beliau mendukung untuk memenuhi produksi udang nasional, dan katanya untuk menambah penyerapan tenaga kerja, serta untuk menumbuhkan sektor ekonomi pada bisnis pakan, pupuk, kapur, probiotik, dll.   

Namun, keberadaan tandon dengan hewan-hewan penyerap itu, tampaknya hanya untuk mengurangi dampak limbah sebelum dibuang. Sebaiknya jenis tambak seperti ini tidak perlu ada. Atau ada pada wilayah-wilayah tertentu yang jauh lokasinya dengan tambak lainnya (tak memberi pengaruh pada tambak lain dan hatchery lain).

Pernyataan terakhir dari Hasanuddin Atjo, yaitu tentang pengelolaan dampak lingkungan ini sebaiknya dibantu oleh negara. Karena menurut Atjo, dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan teknologi internal, dan tugas eksternal dibantu negara. Ini adalah usaha swasta dan seharusnyalah pihak swasta itu pula yang memberikan energi dan investasi-nya bagi perbaikan lingkungan.   

4.       Pengaruh negatif limbah akan dirasakan oleh warga budidaya dalam jangka waktu yang sangat lama, dan akan merugikan begitu banyak pihak. Khususnya para petambak tradisional yang jumlahnya banyak. Bagaimana Hasanuddin Atjo mempertanggungjawabkan tindakannya?

Menjawab pertanyaan ini butuh analisis tertentu. Dan mestinya kampus ataupun lembaga riset melakukan penelitian mendalam tentang dampak jangka panjang dari sebuah limbah (kelimpahan bahan organik), atau sudah ada penelitian seperti itu tapi belum saya peroleh dokumennya.

Pengaruh negatif itu santer terdengar sudah terasa di beberapa hatchery di sekitar Barru dan pinrang. Hatchery –hatchery dekat tambak supra intensif terdengar sudah kurang baik produksinya dalam setahun ini. Sedangkan hatchery bapak hasanuddin Atjo sendiri, hatchery CV. Dewi Windu sudah kurang beroperasi, sebab benur udang diperoleh di perbenihan lain. Apakah ada hubungan antara ketidakberlanjutan CV. Dewi Windu dengan aktivitas pertambakan supra intensif di kawasan hatchery? Pada November 2014, sebuah hatchery di Kec. Suppa, Kab. Pinrang, sudah beberapa kali terserang bakteri vibrio, kasus terakhir bak pemeliharaan nauplinya terserang vibrio yang membuat dia merelakan 400.000 benur udang windu.

Hal-hal yang perlu dilakukan, yaitu dengan melakukan penelusuran mendalam pada para petambak di sekitar hatchery yang sumber airnya berasal dari air laut. untuk tambak-tambak tertentu dipastikan tidak memperoleh masalah, karena mengambil air dari dalam tanah (sumur bor). Penelusuran mendalam juga pada para pelaku hatchery untuk membuktikan kerugian akibat kualitas air yang buruk, mengingat daya sensitifitas benur untuk hidup di air dan terdapatnya bakteri-bakteri negatif yang ditimbulkan oleh banyaknya limbah.      

5.       Kenapa sampai sekarang, warga perikanan kurang yang menuntut?
Ini pertanyaan yang menggelitik. 1) Pandangan sebagian besar warga perikanan hanya berkonsentrasi pada kemampuan produksi dan nilai produksi yang dihasilkan. Hampir semua media yang meliput tambak supraintensif menilai positif tambak supraintensif karena dapat menghasilkan devisa negara yang besar dan mempercepat target produksi pemerintah, tanpa memperhatikan dampak lingkungan. 2) Bisa saja mereka sekadar menggerutu dan masih bingung dengan penyebab utama kerusakan air di lingkungannya. Kerusakan itu sulit dideteksi dengan mata, tapi dari hasil produksi atau munculnya penyakit-penyakit. 3) untuk mereka yang mengerti, bisa saja takut menghadapi superioritas Hasanuddin Atjo, yang punya backing-an yang kuat.

6.       Kenapa pihak pemerintah membiarkan tindakan sewenang-wenang ini?
Saya mendengar, beberapa pekan lalu telah diadakan pertemuan antar pengusaha hatchery, dimana Hasanuddin Atjo dan SUlkap turut hadir. Pada pertemuan itu beberapa pihak telah mengajukan protes terhadap tambak supra intensif untuk segera merefleksi ulang pelaksanaannya hingga saat ini. Saya juga telah melihat di media sosial rapat antara DKP Provinsi dan Peneliti Perikanan tentang kemungkinan tata wilayah untuk implementasi tambak supra intensif di Sulawesi Selatan.  

Namun, sejauh ini belum ada nampak diskusi atau semacam pertemuan stakeholder yang membahas secara detail, setidaknya pengaruh dan perkembangan tambak supra intensif di Sulawesi Selatan. Misalnya dengan melibatkan akademisi, peneliti, mahasiswa, pengusaha lain (termasuk hatchery), serta para petambak tradisional.

Sebaiknya pemerintah juga melakukan kajian analisis tata ruang wilayah, untuk posisi wilayah yang cocok untuk budidaya udang sistem supra intensif. Penerapan model budidaya massif ini sebaiknya dilakukan di tempat yang jauh dari aktivitas usaha perbenihan (hatchery) dan lokasi mangrove dan karang di sekitar tambak masih banyak.

Selain itu, pemerintah harus menekankan aspek sosial pengusahaan tambak tersebut, atau biasa disebut CSR (Corporate Social Responsible). Dimana pengusaha harus menanam bakau dan memberi anggaran bagi usaha kecil penduduk di sekitar tambak. dapat pula diterapkan skema lain, jika kemungkinan tambak jenis ini tidak jadi dihentikan.  

7.       Kenapa Balai riset tidak melakukan riset jangka panjang terhadap dampak buruk limbah tambak supra intensif?

Balai Riset Budidaya Air Paya, Maros, saat ini telah melakukan penelitian dengan model tambak udang sistem supra intensif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Rachmansyah di Desa Punaga, Kab. Takalar. Tambahan rekayasa tambak yaitu dengan penerapan IPAL untuk pengolahan limbah. Namun, ini tidak menjadi solusi bagi lingkungan, karena semakin banyak tambak jenis ini akan semakin banyak limbah yang dihasilkan, apalagi kita belum mengetahui kapasitas daya dukung lingkungan (IPAL) dalam mereduksi limbah organik. Saat ini sudah ada beberapa pengusaha yang mencontoh penerapan tambak supraintensif, seperti yang dilakukan oleh PT. Esa Putli (Benur Kita) dan tambak H. Maming di Desa Lawellu, walau dengan kapasitas produksi yang lebih rendah. Semakin banyak pengusaha yang meniru, maka semakin rusaklah kualitas perairan kita.

Sangat diharapkan keterlibatan lembaga riset untuk meneliti pengaruh pencemaran tambak supra intensif terhadap ekosistem serta terhadap tambak tradisional dan hatchery di sekitarnya. Agar pemanfaatan sumberdaya alam ini dapat dimanfaatkan secara bersama untuk meningkatkan perekonomian bersama, tidak hanya dinikmati segelintir orang dan tuahnya dirasakan oleh para warga kecil dengan usaha yang sudah kecil.

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan saya di bidang perikanan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk perbaikan budidaya perairan di Sulawesi Selatan. Tulisan ini sebagai bentuk gerutu terhadap tindakan yang lamban dan tumpulnya hati seorang pengusaha terhadap dampak usahanya. 

Jumat, 21 Februari 2014
Direvisi 20 November 2014
Idham Malik

Read more...

Selasa, 11 November 2014

Penyakit Udang Windu di Tambak dan Perbaikan Lingkungan dengan Aplikasi Probiotik RICA

Hasil perbaikan notulensi materi dari Dr. Ir. MUHARIJADI ATMOMARSONO, MSc (Peneliti BPPBAP Maros).



Dr. Ir. Muharijadi Atmomarsono dalam pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk penyuluh ini menyajikan materi tentang perbaikan lingkungan yang dikaitkan dengan penanggulangan penyakit udang windu. sebagai pembukaan, Muharijadi mengantar kita dengan mengatakan bahwa budidaya yang berkelanjutan itu harus menguntungkan secara ekonomis, ramah lingkungan secara ekologis, aman dan tidak menimbulkan gejolak secara sosiologis.

Berbicara lingkungan, terkait pula di dalamnya tentang mempertahankan eksistensi mangrove di wilayah pasang surut, yaitu berdasarkan Kepres 32 pasal 27 Tahun 1990 mengatakan bahwa kawasan mangrove seluas 130 kali pasang surut. Muhari pada awal materi juga menyinggung tentang banyaknya limbah pakan, limbah pakan kering sekitar 30% sedangkan limbah pakan cair hingga lima kalilipat limbah kering.     



Penyakit Udang

Penyakit udang terbagi atas penyakit infeksi dan penyakit non infeksi. Penyakit infeksi termasuk di dalamnya jamur (Legenidium, Fusarium, Agmasoma), Parasit (Zoothamnium, Epistylis, Acineta, Vorticella), Bakteri (Vibrio harveyi-kunang kunang), virus (IHHNV, MBV, YHV, WSSV, TSV, IMNV). Sedangkan penyakit noninfeksi yaitu terkait dengan lingkungan seperti cemaran pestisida dan TSM, serta dari nutrisi misalnya aflatoksin atau pakan berjamur.

Muhari menjelaskan bahwa penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (udang lumutan karena kelebihan bahan organik) dan bakteri dapat dibrantas dengan menggunakan antibiotik, tapi tidak semua antibiotik diperbolehkan. Saat ini penanggulangan penyakit menggunakan probiotik dan lebih ramah lingkungan. Penyakit yang disebabkan oleh virus-lah yang belum dapat ditanggulangi, karena virus bersarang dalam jaringan serta usus udang dan biasanya menyerang pancreas udang. Kita hanya bisa melakukan tindakan pencegahan atau pengendalian virus.

Lebih jauh Muhari menjelaskan sedikit tentang jenis-jenis virus, seperti YHV (Yellow Head Virus), virus yang ditandai dengan warna kekuningan pada kepala udang ini pertama kali ditemukan di Pinrang. TSV ditandai dengan ekor memerah. Yang paling kuat serangannya yaitu EMS yang penularannya melalui vibrio spesies tertentu.

Terdapat pula virus Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV), yang ditandai dengan udang tiba-tiba memutih dan kemerahan (udang rebus). Kemudian deteksi dengan histopatologi melalui nekrosis jaringan otot, infiltrasi hemosit, fibrosis.  

Selain itu terdapat virus Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), ciri utama IHHNV yaitu udang kecil-kuntet dan hepatopankreas bengkak, otot mengecil, rostrum bengkok, dan pada udang windu Monodon Slow Growth Syndrome.

Virus yang paling sering menyerang yaitu WSSV, ditandai dengan udang berenang tidak seimbang di pinggir pematang, pertumbuhan tidak terkontrol atau terlalu cepat, terdapat bintik putih pada karapaks. Terdapat tiga pola penularan virus WSSV, yaitu pola vertical, horizontal dan kanibalisme. Secara horizontal terjadi melalui lingkungan (udang liar, kepiting, crustacea) dan rantai makanan atau virion yang terbatas ke lingkungan dan masuk ke tubuh udang yang sehat, serta melalui air, dimana virus dapat bertahan 3 sampai 4 hari dalam air. Secara vertikal terjadi dengan cara induk yang menjadi karier virus akan menularkan melalui kotoran yang setelah bebas di air akan menginfeksi larva. Infeksi pada umumnya terjadi melalui 3 rute utama yaitu kulit, insang, dan saluran pencernaan. Serta melalui dinding telur melalui disinfeksi telur. Pola kanibalisme yaitu ketika udang memakan udang yang terserang virus, biasanya satu udang mati dan dimakan maka yang akan mati berarti sepuluh udang.

Secara umum udang terkena penyakit, karena daya tahan tubuh udang yang lemah serta serangan pathogen yang kuat. Sehingga penanggulangan penyakit dengan menguatkan inang, mencegah pathogen dan memperbaiki kualitas lingkungan. Tentang lingkungan bisa diakibatkan karena melimpahnya bahan organik dan karena tambak sulfat masam. 

Penyakit yang berasal dari lingkungan, contohnya udang menurun daya tahan tubuhnya akibat pH rendah atau udang tiba-tiba berwarna merah akibat kekurangan oksigen dan terlalu padat. Selain itu ada  udang yang berwarna biru akibat terdapat plankton tertentu dalam tambak.

Penyakit akibat gizi atau aflatoksin disebabkan oleh petambak sendiri yang memberikan pakan berjamur. Penggunaan pakan berjamur dapat mematikan semua udang ditambak kurang dari 24 jam. penggunaan pestisida juga dapat menyebabkan udang keracunan.

Lantaran massifnya akibat serangan penyakit ini, Muhari menekankan agar para penyuluh konsentrasi terhadap pencegahan penyakit, yaitu dengan memelihara air dengan baik dan penggunaan probiotik untuk membantu memperbaiki kualitas air. Jika air sehat maka udang juga ikut sehat.

Namun jika udang sudah terlanjur sakit, menurut Muhari hal pertama yang harus dilakukan yaitu dengan mengetahui udang hidup di mana, udang windu di dasar tambak dan udang vannamei di kolom air. Kemudian kita mendeteksi airnya yang dikaitkan dengan morfologi udang windu. Udang windu lembar insangnya halus, berbeda dengan ikan yang lembar insangnya kuat, sehingga udang windu tidak cocok dipelihara dengan sistem biofloc atau pemeliharaan air yang efisien.

Setelah itu harus diketahui penyebab sakit, apakah disebabkan oleh bakteri, parasit atau jamur. Jika diketahui penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Meski begitu, Muhari pernah menganjurkan pada petambak di Selayar yang udangnya terjangkit WSSV untuk memberi dolomite pada tambak dan akhirnya udang dapat selamat hingga panen.

Ada juga petambak yang tidak mengetahui penyebab kematian udangnya. Seperti kasus di Selayar bahwa petambak tidak mengetahui bahwa udangnya mengalami moulting dan biasanya istirahat selama 36 jam dan tidak makan dan ketika makan biasanya memakan kulitnya sendiri yang mengandung CaMg, kemudian petambak memberikan pakan 600 kg perhari dan akhirnya udang tiba-tiba mati. Kelebihan pakan juga dapat mematikan udang. hal penting yang harus diketahui juga yaitu pada suhu 25oC udang malas makan, sehingga harus diperbaiki suhunya baru setelah itu diberi pakan secara normal.

Muhari juga sedikit menjelaskan tentang perbaikan inang/udang. Peneliti ini mengatakan bahwa penggunaan benur SPF (Species Pathogen Free) tidak menjadi jaminan di lapangan karena banyaknya faktor lain yang menyebabkan penyakit. sehingga dibutuhkan perlakukan dan manajemen khusus pada benur, seperti menambah kekebalan non spesifik melalui aplikasi vaksin, bakterin, dan immunostimulan, serta senantiasa melakukan skrining benur dengan memanfaatkan air tawar atau formalin, dimana jika benur yang mati lebih dari 20% maka kualitas benur kurang bagus. Sedangkan kelebihan benur di hatchery sebaiknya dipindahkan untuk pentokolan.

Berbicara tentang induk udang, dibutuhkan waktu minimal 20 bulan untuk menghasilkan anakan yang bagus. Jika belum sampai 20 bulan maka udang tersebut belum bisa menjadi induk. Calon induk sebaiknya diperkaya gizinya dengan pakan alami dan dan probiotik alami.     

Pencegahan Pathogen

Pathogen dapat dicegah dengan menerapkan biosecurity untuk menghalangi orang lain masuk ke kawasan, alat yang dapat menyebarkan penyakit, penjegahan semua carrier berupa pagar miring untuk biawak dan kepiting, serta tali plastik dan senar untuk menghalau burung dan bangau.  Menerapkan pengeringan total di tambak dan penggunaan kapur bakar. Untuk benur, melakukan deteksi virus menggunakan PCR untuk semua benur/tokolan yang akan digunakan, menggunakan KIT WSSV dan vibrio yang praktis dan murah.

Penggunaan tandon dan biofilter, tapi kendalanya lahan bisa berkurang. Selain itu penggunaan tandon yang tujuannya untuk memberantas Vibrio harvey cukup air didiamkan selama 72 jam di tandon sebelum air dipindahkan ke dalam tambak.


Penggunaan saponin dan kaporit berupa bestacide. Untuk memberantas ikan kecil dapat menggunakan saponin, tapi penggunaan saponin kadang hanya mematikan ikan saja, tapi telur ikan tidak mati dan akan menetas pada saat terkena sinar matahari. Sebaiknya dilakukan pemberian saponin ulang setelah 2 – 3 hari setelah diperkirakan telur menetas.         

No
Nama tanaman
Fraksi aktif 
 Nama bahan aktif
Penghambat bakteri
1
2
3
4
5
6
7
8
Acanthus ilicifolius
Avicenia alba
Carbera manghas
Clerodendron inerme
Euphatorium inulifolium
Exoecaria agalocha
Osbornia octodonta
Soneratia caseolaris
Fraksi air
EtOacasam
Fraksi air
Fraksi air
EtOac Netral
EtOac asam
EtOac asam
Fraksi air
2-methyl piperazin
Cyclopentasiloxan
Furanon g-crotonolacton
 -
n-decane/isodecane
Cyclohexasiloxane
2 heptanamin-6 methyl-amino-6 methylen
Galactopyranosida
V. harveyi
V. leiognathii
V. splendidus
V. leiognathii
V. splendidus
V. mimicus
V. harveyi
V. harveyi


















Perbaikan Lingkungan

Hal pertama yang dilakukan yaitu dengan mengecek kelayakan lahan, apakah lahan tersebut merupakan lahan normal atau termasuk lahan tanah sulfat masam (TSM). Untuk tambak TSM, dapat dilakukan reklamasi lahan, pelapisan kapur pada pematang, penggunaan beton-plastik atau mengganti tanah dasar.

Perbaikan lingkungan dapat pula dengan sistem multitropik dengan memelihara bandeng, nila dan rumput laut. Lendir ikan nila dapat menahan serangan vibrio, ikan bandeng berfungsi untuk oksigenasi, sedangkan rumput laut untuk menyerap bahan-bahan organik dalam tandon atau dalam tambak. Dapat pula dengan penggunaan probiotik untuk perbaikan kualitas air sekaligus untuk mencegah penyakit. Untuk kepadatan udang di atas 10 ekor/m2, sebaiknya menggunakan penambah oksigen untuk perbaikan kualitas air dapat menggunakan kincir air, blower dan oksigen murni. Dan untuk perbaikan lingkungan yang cukup penting yaitu penanaman mangrove di sekitar tambak dan saluran air. Penanaman mangrove atau biofilter mangrove sebesar 40% dari total hamparan, jarak tanam 0,5 x 0,5 m, jenis Rhizophora sp. Penanaman mangrove penting karena berperan juga sebagai penghasil bakterisida. 

Tabel . Jenis tanaman mangrove dan kemampuan untuk menghambat bakteri.

Menurut Muhari, karang juga mengandung zat antibakteri, tabel di bawah menggambarkan peran karang untuk menjaga kualitas air dan menekan bakteri negatif di perairan.

NAMA
FRAKSI AKTIF
EFEKTIF TERHADAP

Sponge
Callyspongia sp
Halichondria sp
Jaspis sp
Clathria sp
Steroid
Asam fenolat
Peptida
Asam fenolat
Bakteri dan jamur
Bakteri dan jamur
Jamur dan biofoling
Jamur dan biofoling
Hydrozoan
Lytocarpus sp
Plumularia sp
Stylaster sp
Aglaophenia sp

N-cyclohexil-3beta-methoxy-4 methyliden)
Steroid
Kolesterol
Benzenamin-4-methoxy-
N-Phosporanyliden)

Bakteri
Bakteri
Bakteri
Bakteri
Karang lunak (Soft coral)
Nephtea sp

Nephtenol

Biofoling


Ramah Lingkungan (Sesuai dengan CBIB)

Tambak ramah lingkungan tidak menggunakan bahan kimia, pestisida, antibiotik. Pestisida seperti brestan, thiodan, trithion, aquadyne  dapat mengikat fosfat di tanah dan bertahan atau residunya dapat bertahan hingga 20 tahun. Tanda bahwa suatu perairan telah diberi pestisida yaitu dengan mengamati warna air, jika warnanya bening berarti air tambak telah diberi pestisida. Cara terbaik untuk memperbaiki tanah yang sudah terlanjur diberi pestisida dengan cara mengganti tanahnya atau dengan memberi jerami, sekam dan dedak.      

Penggunaan antibiotik sebagai obat pembunuh bakteri seperti Chloramphenicol, nitrofuran, tetrasiklin, Oxsitetracicline (OTC), sulfadiazine, tidak diperbolehkan lagi digunakan di tambak. Tapi menurut hasil penelitian Muhari, OTC masih aman digunakan pada kadar-kadar tertentu. Efek dari antibiotik salah satunya yaitu dapat mengkerdil benur, apalagi penggunaan antibiotik di hatchery dapat menyebabkan pertumbuhan udang lambat.

Untuk penggunaan benur yang ramah lingkungan dan sehat, yaitu bebas pathogen, berasal dari hatchery terpercaya, menggunakan PL20-PL40 lebih baik dibandingkan benur dengan kurang dari PL12. Padat tebar 10.000 – 20.000 ekor untuk tambak tradisional dan di sekitar mangrove, padat 40.000 – 60.000 ekor/Ha untuk tanah liat berpasir.

Penggunaan pakan yang ramah lingkungan dengan cara pemberian pakan sesuai kebutuhan udang, untuk mengantisipasi banyaknya sisa pakan yang dapat menurunkan kualitas air dan apat menyebabkan udang menjadi stress. Selain itu, memperhatikan kualitas air, jika kualitas air menurun segera lakukan penggantian air dan pada saat penggantian air jangan memasukkan air pada awal pasang, karena mengandung konsentrasi bakteri vibrio yang tinggi. Jika ada tandon, memasukkan air ke dalam tandon terlebih dahulu itu lebih baik. Selain itu, tetaplah memperhatikan warna air.

Tabel kualitas air

KUALITAS AIR
OPTIMUM
KETERANGAN
Suhu air (oC)
pH
Salinitas (ppt)
Oksigen (ppm)
Alkalinitas (ppm)
Kedalaman air cm
Kecerahan air cm
Rasio C:N:P
Warna air
27 – 30
7,2-8,5
10 – 25
> 4,0
> 100
80 – 120
30 – 40
106:16:1
Hijau coklat
Fluktuasi < 3
Fluktuasi < 0,5
Fluktuasi < 5
Kondisi alami
Penstabil pH & plankton
Tergantung teknologi
Penunjuk fitoplankton
Penentu kebuthn pupuk
Plankton bagus

Persiapan Tambak
Poin-poin yang dipertegas oleh Muhari pada persiapan tambak yaitu pada tambak terdapat banyak gundukan dan lumpur, namun terkadang jarang dikeringkan oleh petambak, sehingga seringkali meningkatkan kemasaman air.

Muhari menambahkan tentang penggunaan pupuk. Tambak bekas tanaman nipa memerlukan pupuk SP36 susulan untuk memperbaiki kualitas air dalam tambak. Dilakukan dengan pemberian pupuk susulan SP36 sebesar 2 kg setiap lima hari. Berbeda dengan tambak bekas mangrove percuma menggunakan banyak fosfat. Begitu halnya tambak lempung berliat juga tidak membutuhkan SP36. Sedangkan penggunaan pupuk urea makin massif dibandingkan penggunakan fosfat jika tambak makin dekat ke laut. penggunaan urea dilakukan pada saat air dalam tambak tersedia dan penebaran lebih tinggi pada musim kemarau. Sementara untuk tambak berpasir membutuhkan pemberian pupuk organik. Pupuk yang mengandung kalium seperti NPK dan Phoska tidak diperlukan di tambak, karena sudah banyak kalium dari laut. Secara umum penggunaan pupuk di tambak mengacu pada kebutuhan fithoplankton dan alga yaitu C : N : P = 106 : 16 : 1.

Untuk pengapuran di tambak menggunakan Kapur Pertanian (100%), dolomite (108%), kapur bangunan (136%) dan kapur bakar (170%). Petambak harus membedakan antara kapur bakar dengan kapur bangunan, kapur bakar jika disiram air maka akan bergelumbung. Diantara beberapa jenis kapur, yang paling efektif adalah kapur dolomit karena tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan pH, tapi juga membantu untuk pembentukan kalsium, magnesium, dan bikarbonat dalam air yang dibutuhkan oleh udang karena kulit udang ternyata mengandung Ca2 dan Mg.

Dalam pengisian air, Muhari hanya mengingatkan bahwa banyak kejadian di lapangan, pengisian air mengikuti pola budidaya bandeng, sehingga menghasilkan klekap dan biasanya kelekap naik ke permukaan air. Jika ini diikuti dan dipelihara udang, maka akan membahayakan udang yang dipelihara. Makanya jika tumbuh klekap di tambak, sebaiknya diisi bandeng dulu sebelum menebar udang. selain itu tidak melakukan pengisian air pada awal pasang, karena banyak mengandung bakteri patogen (vibrio harveyi = kunang-kunang)

Muhari mengingat bahwa di Kab. Pangkep masih banyak tambak yang dibuat dengan model seri, sehingga pola pengisian airnya antara tambak dengan tambak lainnya saling terhubung untuk pengisian airnya. Menurut Muhari, sebaiknya model pengisian air menerapkan model paralel, karena model seri berisiko terhadap penularan penyakit lebih cepat. Selain itu, seperti dijelaskan sebelumnya, yaitu tersedianya petak pengendapan, tandon dan tratment, memiliki saluran pasok dan buang yang terpisah, memiliki jalur hijau (Green belt), sistem seri yang diperbolehkan yaitu : tandon (Mangrove + tiram -à bandeng à rumput laut -à udang). Tiram berfungsi sebagai filter feeder dimana filter air 10 L/jam, filter air plankton, bakteri, flagellata, logam berat. Bandeng berfungsi untuk mengurangi Bahan Organik Total di tambak dan mengurangi kepadatan klekap. Rumput laut menyerap kelebihan amoniak (nitrat, nitrit, posfat, Fe).

Muhari sedikit menyinggung tentang penggunaan probiotik dalam tambak yang berfungsi mengurangi koloni patogen dan bersifat nonpatogen, menghambat pertumbuhan patogen, mengurai BOT, NH3, NO2,­ membantu proses pencernaan, menurutnya probiotik yang aman itu yang jenisnya Baccilus (subtilis, mega, lich), kalau jenisnya Lactobacillus itu biasanya untuk hewan darat dan untuk ibu-ibu yang menyusui. Sementara probiotik yang berasal dari Aeromonas itu tidak baik karena Aeromonas merupakan penyebab penyakit pada ikan mas. Muhari pernah melakukan pengecekan terhadap jumlah bakteri dalam kemasan, tertulis jumlah bakteri 1042, tapi ternyata setelah diuji hanya berisi 106. Petambak pun harus memperhatikan beberapa hal dalam pemberian probiotik, seperti tepat jenis (species), tepat waktu (frekuensi aplikasi), tepat cara pembiakan (kultur), tepat media (suhu, salinitas, pH air), tepat substrat tanahnya, tepat dosis.

Beberapa tahun terakhir BPPBAP telah mengembangkan bakteri probiotik lokal atau biasa disebut probiotik RICA (Research Institute for Coastal Aquaculture). Telah dipetakan jenis probiotik yang telah diambil pada masing-masing habitat, seperti Pseudoalteromonas SP berasal dari laut, Brevibacillus berasal dari tambak, Bacillus Sp berasal dari tambak, Staphylococcus Sp berasal dari mangrove, Serratia SP berasal dari mangrove, Peseudomonas Sp berasal dari mangrove. BPPBAP telah melakukan seleksi sebanyak 3.976 isolat. 

Probiotik tersebut telah diujicobakan di beberapa tempat, yaitu di Kab. Barru sebanyak 2 petambak pada 2009, di Kab. Pinrang sebanyak 6 petambak pada 2010, dan 36 orang pada 2012, serta Kab. Pangkep sebanyak 71 orang pada 2011, 18 orang pada 2012 dan 20 orang pada 2013. Pada 3 Mei lalu, hari kedua pelatihan para peserta mendatangi panen udang tambak Puang Erna, yang merupakan tambak penelitian probiotik RICA yang dipimpin oleh Dr. Muharijadi. 

Idham Malik
Hasil pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk Penyuluh Perikanan, WWF-Indonesia.


Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP