Sabtu, 21 April 2012

Kayu Rakyat Mekar di Kebun Petani



Sabtu, 25 Februari 2012, Kami bergerak menelusuri desa-desa di pelosok Bulukumba. Ada yang bergerak ke arah timur, dan ada pula yang ke arah barat. Tujuannya yaitu untuk menemukan informasi tentang kayu rakyat yang langsung dari petaninya. Ada beberapa desa yang dikunjungi, antara lain Desa Karassing Kecamatan Herlang, Desa Bukit harapan Kec. Gantarang, dan Desa Kindang Kecamatan Kindang.

Karassing
Saya memulainya dengan Karassing. Desa ini memiliki hutan rakyat yang cukup luas, tersebar di petak-petak kebun warga. Konon, Karassing dahulu adalah daerah gersang. Kemudian berangsur-angsur rindang sejak digalakkan program penghijauan pada 1990-an. Program ini didukung pula dengan kebijakan desa dalam bentuk Peraturan Desa (Perdes), “Setiap orang yang melahirkan minimal menanam satu buah pohon, setiap anak yang baru masuk sekolah minimal 5 pohon, dan jika ingin menebang satu pohon, harus menggantinya dengan menanam sepuluh pohon,” ungkap A. Darma DN, Kepala Desa Karassing.

Di Karassing terdapat delapan kelompok tani, namun hanya dua yang terlihat aktif melakukan penanaman pohon, yaitu Kelompok Sukamakmur dan Assamaturu’. Anggota masing-masing kelompok ini dikukuhkan oleh kepala desa. “Di Karassing juga sudah ada koperasi, tapi masih butuh bantuan modal. Sementara penyuluh hanya berjumlah satu orang yang sesuai tupoksi-nya,” tambah A. Darma.

Tugas kelompok ini yaitu menggalang dukungan dari berbagai pihak dalam pengadaan bibit pohon, pembinaan teknis pada anggota kelompok tani serta pemberian pemahaman mengenai pasar dan perkembangan informasi mengenai kayu rakyat. Rata-rata anggota kelompok memiliki luas lahan sekitar 1,5 hektar dan rata-rata mereka melakukan penanaman sendiri.

Zainuddin, petani sekaligus pedagang kayu, adalah salah satu anggota kelompok tani Sukamakmur. Di kebunnya, pada 2004 ia menanam sengon, mahoni, jati lokal dan jati super. Pernah ia menanam suren, tapi dihantam babi hutan. Dalam melakukan penanaman, kadang ia melibatkan anggota lain hingga berjumlah 25 orang. “Kalau penanaman dilakukan secara berkelompok, hasilnya dijual keluar desa, dan bagi hasilnya tergantung siapa yang paling besar menanam modal,” ujar Zainuddin. Selain jenis kayu, terdapat pula tanaman sela yang dihidupkan oleh petani, seperti tanaman pisang, cokelat, dan kelapa. Namun, tanaman sela ini kesulitan tumbuh, lantarantanaman kayu seperti Gmelina sangat banyak menyerap air.

Pemeliharaan dilakukan hingga umur 2-3 tahun, biasanya dilakukan penggemburan dengan menggunakan pupuk kompos. Untuk menghilangkan hama rumput cukup menggunakan racun. Pupuk dan racun ini biayanya ditanggung sendiri. Dalam pemeliharaan ini, terdapat aturan kelompok, dimana anggota tidak diperkenankan berternak di dalam kebun, jika kepergok memelihara ternak akan diberi sangsi Rp. 25.000/ekor dan jika lahan dirusak, maka ganti rugi seharga tanaman yang dirusak.

Mengenai tata niaganya, masih terkesan rumit. Perizinan diserahkan sepenuhnya pada para pedagang dan petani sepertinya tak tahu menahu mengenai hal ini. Sebelum menebang, petani yang diwakili pedangang mengurus izin berupa surat pengantar dari desa. “Administrasinya adalah uang sekitar Rp. 25.000, kadang juga rokok. Izin tebang berlaku satu kali dengan volume 150 kubik, sedangkan untuk kelompok 300 kubik,” Ujar Zainuddin. Blangko SKAU (Surat Keterangan Asal Usul) dan Izin penebangan Kayu Rakyat (IPKR) pun tidak ada di desa, tapi harus diambil di kabupaten.

Bukit Harapan
Hari kedua saya bergerak Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang, dengan ditemani seorang polisi hutan. Perjalanan kami sekitar 45 menit dari kota Bulukumba. Bukit Harapan terletak di kaki gunung dan merupakan daerah dataran tinggi. Tak lama setelah tiba di rumah Thamrin HT, Ketua Kelompok Tani Ujung Lali, anggota kelompok berdatangan satu-satu, sehingga ruang tamu dipenuhi petani yang siap diwawancarai.

Anggota kelompok tani ini berjumlah 119 orang, dengan lahan terdapat di dalam kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan juga di luar kawasan atau lahan milik sendiri. HKm sendiri mulai diterapkan pada 2010 dan tahun 2011 telah memperoleh sertifikat. Namun, dalam penerapannya, keberhasilan HKm boleh dibilang rendah. “Kegagalan justru disengaja warga, masyarakat membunuh sendiri bibit yang sudah ditanam. Faktornya, masyarakat belum paham mengenai tujuan penanaman pohon. Masyarakat menganggap, kayu-kayuan ini merusak kebunnya. Mereka menganggap kayu yang diberikan tidak menghasilkan dan tidak bisa dijual,” ujar Ramli, Kepala Desa Bukit Harapan.

Menurut Ramli, banyak warga menginginkan bibit yang diberikan adalah bibit yang kegunaannya multifungsi, seperti Gaharu, Kemiri, Cokelat, dan Karet. “Sudah ratusan petani yang menanam karet dengan swadaya. Ada juga yang mencampurnya dengan tanaman cengkeh, dengan perbandingan pohon bantuan dengan bibit cengkeh antara 30 : 70,” tambah Ramli.

Meski begitu kelompok tani tetap berusaha optimal dalam mengusahakan hutan rakyat. Menurut Thamrin, ketua kelompok, rata-rata anggota memiliki lahan di dalam kawasan seluas 75 are, dan di luar kawasan 50 are. Lahan HKm ditanami kebanyakan ditanami mahoni, jati lokal, kemiri, lica-lica, durian, suren dan aren. Sedangkan pada lahan non HKm biasanya jati putih, rica-rica, mangga, kemiri dan jati lokal. “Pohon Aren tumbuh sendiri, sementara jati lokal sudah ada sejak Zaman Belanda,” ujar Thamrin. Bibit kawasan HKm berupa Mahoni dan Suren, sementara untuk hutan milik, kebanyakan masih swadaya masyarakat. Biasanya memanfaatkan bibit yang jatuh dari pohon.

Izin penebangan untuk hutan milik melalui surat keterangan desa, tapi untuk wilayah kawasan mesti mengurus permohonan dulu di dinas kehutanan. Petani yang menebang pohon tanpa izin dishut sudah ada beberapa yang diproses hukum. Jika ditemukan menebang tanpa permohonan, awalnya diperingati dulu dengan pemberian sangsi berupa menanam beberapa pohon di sekitar lokasi tebang. “Jika ingin menebang, anggota kelompok melapor ke kelompok, kemudian ke kepala desa, lalu kelompok yang fasilitasi ke Dishut,” ungkap Thamrin.

Desa Kindang
Esoknya kami ke Desa Kindang, yang merupakan atap Kabupaten Bulukumba. di desa ini terdapat area hutan lindung, yaitu wilayah yang dirimbuni pepohonan di tebing-tebing pegunungan wilayah Taburakang. Sehingga warga disana diwanti-wanti untuk tidak menebang di kawasan tersebut. Tapi, di luar area hutan lindung, terdapat juga areal lahan milik, yang rata-rata perpetani seluas 1 – 2 hektar.

Di desa Kindang, saya berkenalan dengan Bapak Harun, ketua Kelompok Tani ‘Bawakaraeng’. Lahannya cukup luas, sekitar lima hektar yang terseber di beberapa desa. ia menanami kebunnya dengan tanaman Jati putih, sengon, suren, dan mahoni. Bibit ini banyak ia peroleh dari bantuan program kayu rakyat pada 1999 – 2000.

Tahun 2005, Harun bersama kawan-kawan petani turut serta dalam program reboisasi hutan lindung dalam bentuk Gerakan Nasional (Gernas) yang berlangsung hingga 2009. Berlanjut hingga 2010 sebanyak 50 hektar dan 2011 sebanyak 35 hektar. Saat itu, penanaman juga dilakukan di pinggir sungai dan lereng-lereng. “Dalam reboisasi, hasil kayu tidak bisa ditebang, yang bisa ditebang adalah tanaman sela atau KPTS (kopi). Tapi, kalau sudah ada izin dari dishut dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, boleh menebang dengan jumlah yang sedikit,” Ujar Harun.

Harun kembali menjelaskan bahwa lahan kawasan sudah dikapling-kapling oleh anggota kelompok, mereka menanam sendiri di lahan kaplingnya. Sebenarnya lahan yang dikapling itu sudah banyak yang ditebang pohonnya, kemudian ditanami kembali. Dulu, kalau masyarakat hendak membuat rumah mengambil kayu dari hutan lindung. “Sekarang sudah tidak bisa lagi, tidak ada izin dalam kawasan hutan lindung. Cuma untuk satu dua pohon biasanya ada kebijakan khusus, dengan metode tebang pilih” tutur Harun. Bentuk izin tebang berupa surat keterangan dari pak desa.

Jika ada ijin dari dinas, kayu yang bisa ditebang harus yang umurnya sudah 15 tahun ke atas, dimana dalam sepuluh pohon hanya satu pohon yang bisa ditebang. Selain itu, jika menebang satu pohon harus menanam lima pohon pengganti. Dalam Perdes juga disebutkan denda Rp. 1,5 juta jika menebang di dalam kawasan, namun hingga kini belum diaplikasikan. “Untuk di luar kawasan dikenakan pajak Rp. 10 ribu perpohon yang ditebang. Dilarang menebang di pinggir sungai, di kemiringan 70 persen ke atas, sementara pembuatan pengantar sebanyak Rp. 10.000 perpohon,” jelas Harun.

KTH Bawakaraeng sendiri sudah beranggota 242 orang yang sudah memiliki lahan sendiri. Namun, anggota masih banyak yang menebang di sekitar lereng. Sangsi yang diberikan yaitu chainsaw-nya ditangkap kemudian pemberian arahan. Pelaku lalu membuat surat pernyataan bahwa tidak akan lagi menebang di kawasan. Setelah itu baru dilepaskan. “Mereka pun harus menanam kembali di lokasi tebang. Jika mereka ditemukan menebang untuk kedua kalinya, mereka baru ditangkap,” tegas bapak berumur 58 tahun ini.


Tulisan ini diperuntukkan untuk "Sulawesi Community Foundation"

Read more...

Jumat, 20 April 2012

Warga Bajo’e, Masih Bertaruh Nyawa dengan Laut


Siang itu, kampung Bajo masih terlihat santai. Belum ada aktivitas yang mencolok. Hanya beberapa warga saja yang terlihat merokok, jongkok menekuk lutut di atas bale-bale di bawah kolong rumahnya. Terlihat pula para remaja nongkrong di tepi jalan setapak pavingblok. Sementara kaum perempuannya cuma ber-leyeh-leyeh di dalam rumah, menghabiskan hari dengan berbagi cerita dengan tetangga, bercanda atau malah istirahat siang. Pekerjaan utama kaum perempuan di kampung ini adalah mengurus keperluan dapur.

Kampung Bajo terletak di pesisir teluk Bone, Kelurahan Bajo’e Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone. Dari namanya, kampung Bajo identik dengan suku Bajo, suku yang selama ini dikenal dengan pelaut-pelaut ulungnya, yang jago menari-menari di kedalaman samudera, sama halnya burung elang di udara. Kampung Bajo ini merupakan pusat pemukiman suku Bajo di Kabupaten Sulawesi Selatan, mereka hadir di pesisir yang menjorok ke teluk bone itu sejak ratusan tahun silam.

 Sejarah suku Bajo sendiri masih menyisakan Misteri. Ada argumentasi yang menyebutkan bahwa nenek moyang suku Bajo konon berasal dari kerajaan Johor, Malaysia. Pada zaman dahulu kala mereka dititahkan oleh raja Johor untuk mengejar putrinya yang melarikan diri. Namun, sang putri yang kemudian ditemukan menetap di pulau Sulawesi itu tak mau pulang ke kerajaan Johor, sehingga lambat laun para pencarinya juga turut memilih tinggal di pesisir pantai Sulawesi.

 Cerita lain berasal dari para antropolog, mereka mencatat bahwa suku Bajo adalah penduduk yang lari ke laut untuk menghindari perang dan kericuhan yang terjadi di darat. Sejak itu, bermunculan manusia-manusia perahu yang hidup sepenuhnya di laut. Cerita pun berkembang dan kadang meyerempet stereotipe negatif, sebagian antropolog malah berasumsi bahwa Suku Bajo adalah suku perompak atau bajak laut. Tapi asumsi itu masih diperdebatkan di kalangan antropolog, benang merah yang dapat ditarik hanya berkisar pada asal suku Bajo yang berasal dari suku Sume.

Suku Bajo sendiri sampai sekarang telah menyebar dan beradaptasi ke berbagai belahan pesisir kepulauan nusantara, yaitu di Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

 Konon, keahlian pelaut Bajo menyusuri samudera ini dilirik oleh kerajaan Sriwijaya pada awal-awal abad ketujuh, bergandengan dengan suku Bugis dan Suku Mandar yang juga dikenal lihai mengarungi laut, mereka pun menjadi bagian dari armada laut Sriwijaya, kekuatan maritim yang terbesar di Belahan Samudera Hindia.

Sekilas Kondisi Kampung Bajo’e
Kejayaan pelaut Bajo tentu masih terekam dalam ingatan bangsa ini, namun cerita-cerita ketegaran dan kekuatan mereka itu kadang tak relevan dengan perkembangan zaman. Warga Bajo tetap mempertahankan tradisi nenekmoyangnya untuk mencari peruntungan di laut, sehingga tampak terisolir terhadap arus modernisasi. Belum lagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang diskriminatif terhadap dunia laut yang membuat mereka kian terjebak dalam kubangan kemiskinan.

 Begitu pula dengan kehidupan warga kampung Bajo’e, Kab. Bone. Saat penulis bertandang ke sana, terlihat deretan rumah kayu khas Bajo, rumah kaum pelaut ini tak beda jauh dengan rumah kayu milik suku Bugis. Dindingnya terbuat dari bilah papan, atap dari seng ataupun rumbia, ada pula yang kolong rumahnya dimanfaatkan sebagai ruangan tambahan. Terdapat juga rumah yang sudah miring, namun masih betah didiami.

Berbeda dengan pemukiman Bajo daerah lain, rumah di Kampung Bajo’e ini tidak lagi dikelilingi laut. Menetap di darat dan tidak tinggal di atas perahu Soppe lagi, perahu dengan kendali dayung yang bisa menetap di mana saja. Di sela-sela rumah, mata disibukkan dengan jemuran pakaian yang bergelantungan, aneka warna. Tapi, pada tanah-tanah berpasir, tempat rumah kayu bertengger itu, tampak gersang dan tak terlihat satu pun tumbuhan mekar di atas tanah. Belum lagi tumpukan sampah-sampah rumah tangga, yang dibiarkan bertumpuk dan bertaburan di pinggir-pinggir rumah.

 Kondisi lingkungan yang memperhatinkan tak begitu mengusik kehidupan warga Bajoe. “Sebelumnya, rumah-rumah di kampung Bajoe ini berdiri di atas permukaan air, sekitar tahun 1960-an, tapi kemudian permukaan air laut turun, sehingga rumah-rumah berdiri di darat,” ungkap Rufli, 54 tahun. Ia melanjutkan bahwa setiap bulan pun warga Bajo melakukan kerja bakti untuk membersihkan sampah-sampah di atas tanah.

Ketersediaan air bersih sepertinya masih menyulitkan warga Bajoe. Di kampung itu hanya terdapat dua sumber air yang berupa perpipaan bor dan satu bor pribadi. Sebuah sumber air dapat menanggung 20 rumah. “Warga mengambil air bergantian, ada yang ambil malam dan ada yang ambil pagi. Kadang pula mereka antri,” kata Bayu, warga kampung berumur 23 tahun. Bayu juga merupakan pemilik bor pribadi tersebut, ia kadang menjual air perpipaannya ke warga kampung, biasanya seribu rupiah perenam ember air. “sumber air milik pribadi ini kami banyar perbulannya sebesar 30 ribu sampai 50 ribu rupiah,” lanjut Bayu, yang saat itu duduk istirahat di kolong rumahnya. Sementara Mengenai sanitasi dasar, mereka telah menggunakan jamban standar. Tapi, kebersihannya belumlah sepenuhnya terjamin.

Perekonomian Nelayan Bajoe
Warga kampung Bajoe menggantungkan kehidupan sepenuhnya dari hasil laut. Belum ada hal lain yang menarik dan mampu mengalihkan perhatian orang Bajo terhadap laut. Sederhananya, boleh dikata laut adalah kehidupan mereka.

Kaum laki-laki suku Bajo ini kebanyakan menangkap ikan di teluk Bone dan ada pula hingga ke teluk Sinjai. Waktu yang mereka perlukan untuk sampai ke teluk Bone sekitar empat jam. Mereka biasanya berangkat di subuh hari dan kembali pada petang hari. Ada juga yang baru pulang dua atau tiga hari kemudian. Mereka mengarungi samudera dengan berperahu Soppe bertenaga dayung, perahu mesin berukuran kecil dengan dua cadik di sisi kiri kanannya, sebagian yang lain menggunakan perahu sedang dan ada pula menggunakan perahu besar berawak enam sampai tujuh orang.

Rata-rata menangkap ikan menggunakan jaring atau pukat, biasa juga menggunakan pancing. Ikan hasil tangkapan pun beragam, ada katombong, sinrilik, cakalang, kerapu, baronang, dan pula yang menangkap gurita dan cumi-cumi. “Hasil penjualan ikan dalam sehari biasa seratus ribu sampai 300 ribu rupiah. Kalau untuk nelayan sawi yang ikut sama juragan menangkap ikan kadang mendapat upah 50 ribu rupiah sementara juragan sebesar 100 ribu rupiah,” ungkap Bayu.

Bukan hanya kaum pria yang turun ke laut, terdapat pula nelayan perempuan, tapi hanya bisa dihitung jari. Salah satunya adalah Ibu Temma, nelayan teripang yang sudah beranjak tua, kini berumur 65 tahun. Ibu ini sehari-hari memungut teripang ketika air laut surut hingga lima kilometer ke arah laut. Dalam sehari, ibu yang tak mahir berbahasa Indonesia ini dapat memeroleh 20 ribu rupiah, dengan penjualan satu ember teripang. Pendapatannya dalam sehari itu pun dikurangi lantaran keperluan membeli solar sebanyak Rp. 5000, dan untuk kebutuhan sehari-hari, seperti beras, gula, kadang juga membeli ikan.

Nelayan yang menggunakan perahu kecil biasa memeroleh sepuluh kilo ikan, sedang perahu berukuran sedang menampung tiga sampai lima ton ikan, sementara untuk perahu besar mampu memeroleh dan menampung hingga sepuluh ton ikan. Tapi, kebanyakan nelayan kampung Bajo di sini hanya menggunakan perahu kecil untuk menangkap ikan, dimana mengarungi samudera hanya dalam jangka waktu satu dua hari saja.

Pendapatan mereka itu kemudian dikelola oleh istri para nelayan masing-masing. Dipakai untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, keperluan mendadak dan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. “Warga di sini tetap menyekolahkan anak-anak mereka, hingga ke sekolah lanjutan, tapi kebanyakan berhenti di tengah jalan karena persoalan biaya,” ujar Akbar, salah seorang Nelayan Bajo.

Risna, seorang istri nelayan berumur 28 tahun mengaku kadang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam dua hari saja, ia mengeluarkan anggaran sebesar 50 ribu rupiah untuk konsumsi keluarga, sementara suaminya yang bernama Ilham hanya biasa memeroleh hasil penjualan ikan sebanyak seratus ribu rupiah dalam tiga hari. Ia pun tak sanggup membantu suami mencari tambahan dana, lantaran tak ada modal untuk usaha. “Belum lagi di daerah sini sangat sulit untuk cari kerja,” ujar ibu muda itu.

Hal serupa diutarakan Harmiati, 47 tahun. Hasil dari penjualan gurita suaminya hanya untuk keperluan sehari-hari. Rasyid, suaminya, hanya memeroleh hasil penjualan sebanyak Rp. 30 ribu sampai Rp. 50 ribu perhari. Sedangkan untuk keperluan sehari-hari rata-rata mencapai Rp 30 ribu, dengan rincian membeli kue pada pagi hari, pisang, nasi kuning, air bersih, dan beras lima liter per dua hari. “Dua anak saya sekolah di tsanawiyah, tapi satu berhenti sekolah saat kelas tiga Sekolah dasar karena tidak ada biaya,” ungkap Harmiati yang saat itu anaknya lagi sakit demam.

Pendapatan yang tak seberapa itu sepertinya cukup memengaruhi tingkat partisipasi sekolah pada anak-anak suku Bajo. Penulis pun sempat mengintip di ruang dapur rumah kayu Ibu Harmiati, kedua anaknya sementara mencicipi nasi disertai sedikit kerang laut. Makannya cukup lahap. Di ujung dapur itu, tampak pula tempat pembuangan air kecil, dimana pembuangannya langsung jatuh ke tanah di bawah rumah, sehingga bau amis kadang menghampiri.

Lumrah tampaknya, tapi, seketika muncul rasa haru dalam hati ini. Setidaknya, untuk memutus mata rantai kegelisahan itu, perlu ada riset khusus mengenai penanganan masalah kemiskinan nelayan. Dengan mengacu pada bukan sekadar penanganan teknis, seperti pemberian bantuan dana dan jaminan sosial, tapi juga menelisik akar budaya dan mitos-mitosnya. Hal itu dilakukan untuk mengetahui pola pikir, merubah paradigma dan kerangka strategi kebudayaan. Tentunya, bukan hanya warga yang mesti dimengerti, jajaran birokrasi pun terkait erat dengan mata rantai itu. Tentunya, paradigma mereka pun harus sejalan.

Tulisan ini pernah dimuat dalam buku MDGs Kabupaten Bone, Kerjasama antar UNICEF Makassar dan Pemda Bone

Read more...

Kamis, 19 April 2012

Tentang Negeri yang Tak Ada Lagi (9)

Sudah sebulan aku di negeri hutan ini. Hari-hari kian boyak lantaran terus diawasi oleh si Gogol, abdi Raja Limbu yang taat. Ini pula yang membuat pikiran kian penasaran, seakan ingin mengetahui lebih jauh seluk beluk negeri yang diliputi misteri ini. Tapi itu tak membuatku kehilangan akal. Dengan alasan mempelajari spesies serangga dan tanaman hutan, saya meminta ditemani oleh para ksatria untuk berkeliling di Negeri Koro saban hari.

Aku berjalan menembus embun. Menggunakan parang yang memudahkan untuk memotong ranting-ranting yang menghalangi. Pohon di sini sangat beragam, begitu pula dengan tetumbuhan perdunya. Saat itu saya menggandeng keranjang anyaman bambu, mengumpul aneka dedaunan yang bisa jadi ramuan obat. Sesekali saya memohon bantuan budak Gogol untuk memanjat pohon. Mengambil beberapa helai daun anggrek hitam yang menggantung di batang pohon ek.

Saat kami berada di sisi sungai, tempat bermukim kaum gurun, berlangsung pertengkaran seru. Beberapa penduduk tanpa busana, hanya sebatang koteka yang menempel di kelamin mereka, mendapat perlakuan tak sewajarnya dari warga sungai yang badannya sudah terbungkus kain. Penduduk pribumi itu nampaknya ingin memperotes prilaku sebagian warga sungai yang dengan semena-mena mencemari sungai dengan limbah minyaknya serta menebangi pohon di bawah umur. Protes mereka pun berujung perkelahian.

Pertengkaran mereka terdengar samar karena terhalangi oleh aliran sungai yang riaknya menderu-deru. Seorang yang paling depan berteriak dari seberang sungai.

”Hei warga sungai dari suku gurun. Walaupun kalian mendapat perlindungan Raja Limbu, kalian jangan semena-mena membuang limbah ke sungai. Akibat dari perlakuan kalian, banyak anak-anak kami yang menderita penyakit kulit saat bermain air di sekitar hilir. Tolong, pedulikan kami warga pribumi!!”

Dari pihak warga sungai, yang berteriak adalah pemuda berambut gimbal, serta berjanggut lebat.
”hahaha..., ini bukan urusan kalian, manusia dungu!! Kalian tak tahu apa-apa tentang apa yang kami kerjakan. Pergi sana atau kalian akan kami musnahkan!!” bentak pemuda itu sambil mengacungkan parang di lengannya.

”Kami sekadar memperingati untuk kebaikan kita bersama. Kalau sungai tercemar. Ikan sebagai makanan pokok kalian juga akan teracuni. Bisa jadi kalian akan teracuni pula setelah memakan hewan air itu,” balas si pribumi dengan menurunkan volume suaranya.

”Kami tak akan teracuni. Kami dengan mudah mengenali gejala-gejala ikan yang tercemar. Kalian jangan banyak bacot, atau...”

”Kalian betul-betul keras kepala. Beginikah watak orang yang sering makan ikan itu, yang katanya otak mereka jadi lebih cerdas? Saya kira omong kosong belaka,” tambah si pribumi yang kian meningkatkan emosi warga sungai.

Suasana kian memanas. Tanpa sepengetahuan warga pribumi, suku gurun sudah mempersiapkan busur mereka. Setelah percakapan dingin itu, sontak beberapa pemuda negeri gurun menghujani warga pribumi dengan anak panah. Dalam sekejap, anak panah itu menembus badan beberapa warga pribumi. Insting mereka menyuruhnya untuk melarikan diri. Meski begitu, setelah menyeberangi sungai. Warga gurun mengejar mereka. Membacok leher mereka hingga putus. Membiarkan sungai berwarna merah oleh darah mereka.

Pemandangan itu, sangat memiriskan hati. Aku yang kebetulan berdiri agak jauh, pada sebuah lahan yang agak tinggi cuma dapat melihat. Dan kian penasaran dengan situasi di hutan ini. Setelahnya saya berbalik dengan mengendap-endap. Takut kalau kedengaran mereka. Anak panah akan menancap pula di punggungku.

Read more...

Tentang Negeri yang Tak Ada Lagi (8)

Menurut selentingan yang sepotong-sepotong saya dengar di warung-warung air tebu, jangan sekali-kali memperlihatkan anak gadismu pada Raja Limbu. Jika ia sesekali berkeliling hutan dan sempat melihat anak gadismu, yang berkulit sawo dan sedikit berambut, mata teduh dan takut, air liur Raja Limbu yang berwarna merah muda sontak meleleh, matanya yang coklat memerah, dan bulu-bulu kuduknya merinding bagai duri. Raja limbu pun langsung meminta ke kesatria perak untuk merebut paksa gadismu dan menyimpannya ke dalam kelambu di atas kreta. Yang saya dengar, sehabis berkeliling, Raja Limbu biasanya memboyong gadis sebanyak lima hingga tujuh.

Ia paling suka anak gadis kaum indo yang kulitnya jernih dan bentuk tubuhnya sempurna. Yang paling menarik matanya adalah kaum indo yang berasal dari koloni-koloni di pinggir sungai. Kaum yang berasal dari pegunungan Kaukasia karena kulitnya putih, matanya seperti bola pimpong, hidungnya bangir. Keturunan lain yang jadi kegemarannya pula adalah yang berasal dari pesisir sungai Tiang Ze, sungai kuning daratan Cina. Yang para pendahulunya merupakan tabib yang sering terperangkap dalam hutan hujan karena keintimannya mencari daun-daun tanaman obat yang memang hanya terdapat di hutan Kora ini.  

Raja Limbu jarang melirik jika berkeliling di tengah hutan, yang berisi kaum pribumi. Soalnya para gadisnya tak beda jauh dengan nenek moyang manusia versi Charles Darwin. Jika berkeliling di sana. Raja Limbu harus melengkapi wajahnya dengan kain pengharum, karena tak tahan terhadap bau kringat kaum pribumi. Bau yang merupakan campuran aroma bensin dan bangkai babi.

Setelah sampai di kediamannya, ia menempatkan mereka dalam kamar khusus yang besar. Di dalamnya telah siap ramuan beraroma melati. Ruangan itu terdiri dari ranjang besar dengan bunga beraneka warna di atasnya. Lilin-lilin dalam gelas kaca yang cahayanya tak pernah redup melingkari ranjang itu. Para perawan baru itu pun lantas di suruh mandi dalam kolam bundar raksasa. Airnya berwarna putih kelabu, seperti susu kelebihan air. Di permukaan air itu melayang lembaran-lembaran bunga dan dedaunan, yang berbau surga.  

Ketujuh gadis itu pun mandi beramai-ramai. Mereka mengusap lehernya yang berkeringat, lingkar dadanya yang tampak kebiruan. Rambut-rambut mereka yang hitam kelabu. Air kolam itu sedikit berubah warna lantaran telah bercampur dengan lumpur yang ada di kaki-kaki para gadis, ketombe-ketombe pada rambutnya atau daki-daki pada kulitnya. Pun sontak kulit-kulit mereka bercahaya, dalam ruangan itu timbul semacam pelita-pelita baru yang terpantul dari kulit mereka.

Setelah membenamkan diri di kolam itu, pada gadis itu disediakan sehelai kain halus aneka warna. Dengan sehelai kain itulah mereka lilit-lilitkan di badan mereka. Dan meski telah mereka lilitkan, masih tampak samar buah dadanya yang memancar bak rembulan kala purnama.

Pada saat itulah aroma kemenyan menusuk hidung mereka, hingga  membuat mereka tergelepar-gelepar di ranjang atau di lantai Kayu Ramin. Mata berkedip-kedip, nafas berdesah-desah. Mereka berhalusinasi, seperti merasakan nikmatnya surga bersama sekawan kesatria berwajah tampan. Mereka bergembira.       

Setelah mengetahui para gadis telah membersihkan diri. Raja Limbu pun masuk dengan menggetarkan pintu. Ia sendirilah yang dapat masuk ke kamar itu. Kamar tempat melepaskan hasratnya setiap bulan purnama. Atau pada waktu-waktu khusus sesuai dengan ketetapan dewi kepercayaannya. Dewi Keperkasaan.

Sontak suara-suara lengkingan pun bergema di ruangan itu. 

Read more...

Rabu, 18 April 2012

Mengapa Penanaman Mangrove Sering Mengalami Kegagalan?


(Kajian Mangrove Action Project/MAP, Canadian International Development Agency, Oxfam) (Tim Penyusun : Woro Yuniati dan Ben Brown: MAP 2011)

Latar Belakang
          Kesadaran berbagai kalangan akan pentingnya ekosistem mangrove semakin meningkat. Selain pemanfaatan sumberdayanya, ekosistem tersebut juga menyediakan jasa lingkungan yang sangat penting bagi keberlangsungan ekosistem pesisir dan laut. Pelestarian ekosistem mangrove yang masih sehat dan utuh merupakan upaya paling penting karena nilai ekonomi dan ekologinya sangat tinggi. Saat ini terdapat 2 juta hektar kawasan hutan mangrove yang rusak di Indonesia dan sangat membutuhkan upaya restorasi.

       Sudah banyak program restorasi mangrove yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat atau LSM. Metode yang umum diterapkan adalah dengan penanaman bibit atau propagule (buah, biji, atau benih) secara langsung. Namun penanaman tersebut tidak diawali dengan kajian faktor pendukung utama keberhasilan restorasi mangrove, yaitu kajian ekologi mangrove, hidrologi dan gangguan, sehingga upaya tersebut banyak mengalami kegagalan.

1. Bagaimana sejarah dari lokasi tersebut?
       Dalam merencanakan restorasi, perlu diketahui apakah lahan yang akan direstorasi tersebut sebelumnya merupakan habitat mangrove. Penanaman yang dilakukan pada kawasan yang sebelumnya bukan merupakan habitat mangrove sering mengalami kegagalan karena tidak adanya unsur-unsur pendukung untuk tumbuhnya mangrove.

     Penanaman pada kawasan yang sebelumnya tidak ditumbuhi mangrove, pada dasarnya bertentangan dengan prinsip ekologi karena mengalih fungsi sebuah habitat. Penelusuran sejarah dapat dilakukan dengan 2 cara, penggalian informasi partisipatif yang melibatkan masyarakat setempat, dan menganalisis citra satelit masa lalu dengan pendekatan GIS.

2. Jenis mangrove apa yang dulu tumbuh ?
    Setiap jenis mangrove mempunyai sifat ekologi yang spesifik (otekologi) berkaitan dengan pola reproduksi, pola penyebaran benih dan keberhasilan pertumbuhan bibit. Upaya restorasi bertujuan untuk mengembalikan kawasan mangrove yang terdegradasi kembali seperti kondisi alami sebelumnya. Dengan mengetahui spesies mangrove apa saja yang pernah tumbuh di suatu habitat dapat menjadi referensi bagi perencana restorasi untuk menentukan jenis mangrove apa yang akan ditanam.

    Sayangnya, hampir semua program penanaman mangrove hanya merujuk pada satu atau dua jenis mangrove saja. misalnya, hanya spesies Rhizophora sp yang dianggap spesies yang paling berharga. Pemahaman tersebut keliru, karena penanaman monospesies berdampak pada terbatasnya keragaman hayati ekosistem. Semakin beragam spesies mangrove, semakin kompleks pula rantai makanannya.

3. Dimana mereka tumbuh?
      Sifat ekologi dari setiap spesies mangrove menyebabkan terbentuknya zonasi di dalam kawasan hutan mangrove. Hal ini terjadi karena masing-masing spesies membutuhkan kondisi yang berbeda untuk tumbuh dengan baik. Beberapa spesies hidup dekat pantai, dekat daratan, di mulut muara yang dipengaruhi arus pasang surut, di tepi pulau, atau diteluk yang terlindungi. Penanaman mangrove yang dilakukan sepanjang pantai terbuka yang berombak besar, pada lokasi yang dalam merupakan faktor penyebab kegagalan.

      Suatu ekosistem mangrove terdiri dari berbagai komunitas yang berbeda. Dalam ilmu reboisasi sangat penting untuk mengetahui tentang jenis atau komunitas mangrove yang ada di hutan mangrove yang masih sehat, di sekitar lokasi rehabilitas atau disebut hutan referensi/analog. Jika tidak terdapat hutan referensi yang dimaksud, maka kita dapat merekonstruksinya dari data-data sekunder. Hutan referensi menjadi acuan dalam menentukan struktur dan komposisi vegetasi yang akan diupayakan di lokasi rehabilitasi.

4. Faktor penyebab kerusakan
        Faktor apa yang menyebabkan terjadinya kerusakan/degradasi hutan mangrove? Hutan mangrove yang terdegradasi dapat pulih tanpa upaya restorasi aktif dengan cara menyelidiki sumber gangguan yang dihadapi oleh mangrove dan kemudian menghilangkan sumber gangguan tersebut. Jika faktor yang mengganggu sistem hidrologi sudah normal, setelahnya cukip mengamati apakah perekrutan benih alami terjadi. Penanaman dilakukan hana jika rekruitment benih secara alami tidak terjadi.

      Program penanaman mangrove umumnya tidak melalui proses penilaian tentang sumber gangguan hidrologi kawasan restorasi. Pematang tambakk dan jalan yang membelah kawasan mangrove menghalangi pergantian arus pasang surut dan input air tawar sehingga bibit air mangrove biasanya akan mati dalam beberapa bulan setelah ditanam. Pun, jika tidak ada pasang surut dalam waktu lama maka tanah akan kering dan komunitas mangrove akan berkompetisi dengan tumbuhan darat lainnya.

5. Syarat hidrologi mangrove
       Hutan mangrove memiliki syarat hidrologi dan iklim yang bervariasi di seluruh dunia yang menyebabkan variasi jenis komunitas mangrovenya. Banyak anggapan bahwa mangrove merupakan tumbuhan yang hidup di air asin. Faktanya mangrove merupakan tumbuhan yang hanya toleran terhadap air asin.

     Selain dengan mekanisme beradaptasi terhadap kondisi ektrem tersebut, sistem hidrologi merupakan faktor yang paling penting yang mendukung keseimbangan dan keberlangsungan ekosistem mangrove. Aliran air tawar dari daerah hulu membantu mengurangi kadar garam dan mengandung nutrisi yang dibutuhkan hutan mangrove.

    Arus pasang surut yang lancar membantu penyebaran benih secara alami dan membersihkan atau mengurangi kadar garam berlebih dan zat racun yang mengendap di lapisan atas tanah. Penyebaran mangrove setempat dan dominasi suatu spesies pada hutan mangrove dipengaruhi oleh ketinggian, durasi dan frekuensi genangan baik oleh air pasang maupun oleh air tawar. Mangrove akan mudah mati jika tergenang atau terendam air terus menerus.

     Mangrove dapat tumbuh dengan baik jika tergenang air pasang kurang 30% (untuk jenis bruguiera spp. Dan Lumnitzera spp.) dan 30 – 35% (Rhizophora stylosa, sonneratia spp dan Avicennia spp) dari keseluruhan waktu siklus pasang surut. Perencanaan rehabilitasi umumnya tidak memperhatikan ketinggian, durasi dan frekuensi genangan air pasang. Sering terjadi bahwa sebagian besar atau semua bibit yang ditanam akan mati atau tumbuh kerdil karena disebabkan terlalu sering tergenang/terendam dan stress karena kejenuhan tanah dalam waktu lama.

6. Ketinggian substrat tempat tumbuh mangrove
     Sebagian besar mangrove tumbuh pada tanah yang berlumpur. Juga dapat tumbuh di pasir, tanah gambut, bahkan batu karang. Aragones et al (1998) dalam Giesen et al (2006), mengamati bahwa Rhizhopora spp, Bruguiera spp, Sonneratia spp dan Ceriops spp, tumbuh baik di pantai berkarang dan kawasan sepanjang dan dekat sungai pasang surut. Sedangkan Sonneratia umumnya tumbuh di teluk terbuka, Xylocarpus spp, Lumnitzera spp dan Aegiceras spp. Tumbuh baik di zona yang berbatasan dengan daratan. Masing-masing spesies mangrove tumbuh pada ketinggian substrat yang berbeda dan pada bagian tertentu. Tergantung pada besarnya paparan mangrove terhadap genangan air pasang.

     Praktek penanaman terkadang dilakukan pada kawasan daratan lumpur fluvial (tidak mudflat) yang tidak cocok untuk mangrove. Daerah ini umumnya memiliki kejenuhan air (kadar air) yang tinggi, substrat yang rendah oksigen dan kadar H2S (hidrogen sulfat) yang tinggi yang dapat menyerang akar serabut pohon mangrove. Sering juga penanaman dilakukan jauh ke arah laut (di luar zona surut terendah) dengan asumsi bahwa mangrove dapat menambah daratan jika ditanam pada zona tersebut. Mangrove tidak dapat menambah daratan, justru sebaliknya mangrove tumbuh pada daerah yang sudah tersedimentasi.

     Wolters et al (2005) melaporkan bahwa upaya restorasi di lahan yang belum lama rusak, lebih sering mengalami keberhasilan karena substrat relatif lebih tinggi (belum terkena erosi dalam jangka waktu lama). Untuk kasus Asia Tenggara, restorasi mangrove umumnya dilakukan pada dataran lumpur yang berketinggian rendah, dimana mangrove yang tidak pernah tumbuh di sana atau bukan jenis pionir namun merupakan spesies yang bernilai komersil (contoh Rhizhopora).

7. Input Air Tawar pada Kawasan Mangrove
       Jenis hutan mangrove terbesar dan tersehat di dunia adalah riverine mangrove, yaitu mangrove yang tumbuh di sepanjang aliran sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis hutan mangrove ini membutuhkan suplai air tawar untuk keberhasilan pertumbuhannya. Aliran air tawar dari arah hulu membantu mengurangi kadar garam dan membawa nutrisi yang dibutuhkan mangrove. Air tawar mengalir ke hutan mangrove melalui saluran permukaan maupun saluran bawah tanah. Pematang tambak, pembangunan jalan dan pemukiman dapat menghambat suplai air tawar ke dalam kawasan restorasi mangrove.

8. Letak pertukaran pasang surut air laut
          Kawasan mangrove terkait dengan pasang surut air laut. Arus pasang surut mengalir melalui sungai-sungai yang menghubungkan laut dan daratan. Dengan melakukan penelusuran sejarah atau menganalisis citra satelit masa lalu tentang sungai pasang surut alami, kita dapat memperbaiki atau membuat kembali saluran hidrologi normal yang dibutuhkan hutan mangrove dengan mencontoh pola sungai pasang surut alami yang pernah ada di masa lampau. Penanaman yang dilakukan di kawasan bekasa tambak hasil alih fungsi hutan mangrove dilakukan dengan membongkar beberapa titik pematang untuk menciptakan pintu air dengan mencontoh pola sungai alami, sehingga arus pasang surut dapat kembali dengan normal. 

Read more...

Minggu, 01 April 2012

Tentang Negeri yang Tak Ada Lagi (7)

Aku melihat tubuh orang tua itu mengapung di tengah sungai, mulutnya megap-megap, matanya merah, kotekanya terlepas sehingga kelaminnya yang tergantung-gantung diantara selangkangannya itu tampak menciut. Kulitnya yang hitam pekat tampak pucat dan memutih. Ia mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga, memaksa kedua kakinya tetap bergerak agar tidak tenggelam, meski sebentar lagi akan keram.

Mataku melirik ke atas pohon, Aku khawatir apakah kesatria perak itu masih bercokol di atas sana? Pikiran berkecamuk, apakah aku harus menolong segera orang tua itu dengan resiko otak berhamburan dan jantung menyentuh tanah, atau tetap bersembunyi dan menyaksikan orang tua yang sumber informasi itu lenyap ditelan sungai. Saat kondisi genting seperti ini, pikiranku bekerja keras dan akhirnya aku menemukan ide. Ulir pohon yang bergantungan di dekatku aku potong, kemudian aku lemparkan ke hingga menyentuh tangan orang tua itu. Pribumi itu pun mengerti maksudku dan dengan cepat merebut ujung ulir itu. Aku menariknya pelan-pelan hingga ke tepi sungai. Sesampai di situ, ia tampak kelelahan dan pingsan.

Setelah melirik ke sekeliling, dengan hati-hati aku menggotong tubuh orang tua itu. Membawa dan mendudukkannya di bawah pohon ek. Aku memeriksa denyut nadi di lengan kirinya. Aku pun memprediksi laju jantungnya dengan mendekatkan telingaku ke dadanya. Dada berbulu lebat yang dagingnya hanya secuil, dimana tulangnya menonjol dan dibaluti kulitnya yang legam. Nyawanya sebentar lagi putus, darahnya terus mengalir, anak panah masih tertancap di lengannya, sedalam jari tengahku. Tanpa berpikir panjang, aku mencabutnya dengan segera. Membiarkannya sedikit tersentak siuman dari pinsangnya. Tak tahu bagaimana rasa sakitnya, dan kemeja putihku yang sudah kelabu kubalutkan tepat di lubang luka.

Ulir yang berada di atas batok kepalaku aku tarik hingga putus, air pun mengalir dari akar pohon itu. Air murni yang bergizi itu menyirami wajahnya. Sesekali aku masukkan ke mulutnya sampai ia muntah dan siuman. Aku sepertinya termasuk amatiran menghadapi orang sekarat, menyelamatkan dan membunuh beda tipis. Tapi, aku tak berpikir jauh, yang jelasnya aku melakukan sesuatu dengan cepat. Entah mau mati atau tetap hidup.

Dengan badan gemetar ia tiba-tiba berucap..

”Nak, tolong kabarkan ke Putri Yana, gerakan revolusi bocor. Katakan jangan dulu ada pertemuan, karena kita bisa tumpas semua. Hati-hati terhadap orang baru dan penyusup..”

Darah keluar dari mulutnya, nyawanya pun terbang seperti layang-layang putus. Ia mati dengan tersenyum.

***

Aku balik ke pondok dengan gemuruh khawatir, memotong jalan dengan menumpangi sampan hingga tiba di jalan setapak menuju lapangan dekat rumah panjang. Rumah yang penuh misteri. Aku mengamati jendela-jendela yang tak pernah terbuka. Rumah yang bergetar oleh suara tangis, derap langkah raksasa berdegup dan terasa di atas tanah. Rumah itu dikelilingi para prajurit perak yang bergelantungan di pohon kastanye, dengan peralatan panah dan tombak bambu. Rumah yang tak pernah jauh dari bolak balik orang asing. Orang yang jika keluar dari pintu utama akan tersenyum simpul, atau malah berlinang air mata, atau sudah berputih mata. Itu pula yang membutku kian penasaran.

”Kamu mau kemana?!! gertak prajurit penjaga pintu gerbang.

”Mau menemui Gogol, lelaki yang menemukanku saat tersesat di hutan,” kataku.

”kamu dari negeri mana? Dan buat apa kamu di hutan ini? Tanyanya lagi..

Badanku keder, gagu berhadapan dengan tombaknya. Tiba-tiba gogol datang.

”Eh.. itu silahkan masuk, saya mau memperkenalkannya dengan tuan Limbu..”

”Oh.. iya maaf, silakan masuk tuan..”

”Dari mana saja kamu, hati-hati di sini banyak kesatria perak, kalau kamu diidentifikasi sebagai pemberontak, nyawamu pasti melayang,” tegur Gogol.

”Tadi dari lihat-lihat kebun dan percobaan sawah padi,” jawabku kaku..

”Lain kali bilang ya kalau mau keluar, nanti saya temani..”,

Saya cuma mengangguk, pintu gerbang terbuka, kami langsung disuguhi senyum oleh perempuan berambut merah yang berdiri di pinggir pintu rumah. Menapak tangga setinggi semeter, memandang ke dalam mataku sontak bertemu pandang dengan raja itu. Perawakannya menarik, hidung tinggi, badan berisi dan kekar, dan matanya yang tajam. Gigi-gigi babi bercampur emas melingkar di lehernya, turun ke dada yang tak ditumbuhi bulu.

Mataku kalah oleh sergapan tatapannya, tapi kemudian bibirnya tersungging, jarak antar persona pun itu mulai terbuka.

Read more...

Apa yang Kucari

Kantor sudah sepi, satu persatu staff balik ke kediaman. Mereka terpaksa menerobos hujan, ada yang bilang sudah ngantuk, mau istirahat. Dalam keluasan ini, saya mencari-cari sesuatu, ekstase, luapan, buncah emosi. Tiba-tiba saya merasa ada yang lenyap di kehidupan. Saya sudah bergerak, kesana, kesitu, ketemu teman, ketemu kawan kantor, ketemu adik-adik. Tapi, yang saya cari tak ada di situ.

Mungkinkah itu waktu? Saya tak tahu. Waktu adalah konsep abstrak yang justru membuat kita bingung. Ia hanya dapat dipahami manusia dalam proses tanda menandai. Ada kumis yang tumbuh, ada daun yang menguning, ada gigi yang kropos, dan ada orang yang tumbang. Tapi, apakah yang kita cari, apa yang saya cari? saya merasa tak ada di waktu.

Mungkinkah itu momen? Saya tak tahu. Momen adalah hal terindah, yang selalu membuat kita merasa ada. Sudah banyak hal yang terjadi, sudah terlihat jejak, sudah tampak perkembangan. Momen selalu membuat kita ingin kembali pada sebuah tempat, suasana, mengingat-ingat hal lucu, pahit, atau mungkin sia-sia. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kenangan itu dihapus? Kadang pula kita ingin melupakan beberapa kenangan, yang menghalangi tapak kita ke depan. Tapi, setelah kutelusuri, bukan ini yang kucari-cari.

Mungkinkah sebuah pristiwa? Yang membuat kita dirubungi kesibukan tak jeda. Sibuk dengan urusan yang tidak habis-habis, ekspektasi dunia yang begitu jauh, sementara langkah kita Cuma secuil. Pristiwa mengembalikan diri kita dari masa depan, yang selalu kita impikan. Misteri yang mungkin kita sudah susun dalam secarik kertas, dalam file komputer, dalam strategi taktis yang datar. Kita ingin menang dan mengalahkan. Kita ingin dipuji dengan capaian kita menempuh waktu. Tapi, apakah ini yang kita cari dan saya cari? Saya lagi-lagi tak tahu.

Sudah terlalu panjang tulisan ini, dan aku sudah mulai lelah. Saya teringat, ini hari Minggu, yang artinya Do Minggo (Hari tuhan). Hari biasa orang ke gereja. Para anak-anak liburan sekolah. Para pegawai bersantai ria baca koran di beranda rumah.

Dan saya hanya mencari diriku di hari minggu.. namun tak menemukan sesuatu..

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion

Baris Video

Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP