Sabtu, 25 Oktober 2014

Mengunjungi Senyap

Rasa-rasanya, lama lagi saya tak merasakan senyap. Sebuah melankoli atau prosa liris yang hinggap dan tak disengaja. Ia datang begitu saja dan bermukim begitu nyaman dalam rongga. Menggeruwel, menggerutu, dan pada kondisi tertentu begitu menggores-gores. Saya sudah demikian akrab dengan rasa itu, senyap yang menghantar, senyap yang damai, senyap yang dimana saya selalu mampir padanya. Saya pun tak tahu, apakah senyap yang datang kepada rongga ku ataukah ada bagian pada Aku yang mengunjunginya, masuk ke dalam lorong gua untuk sekadar merasakan keamanan. 

Keadaan terhentak kembali saya rasakan pada siang itu, di lantai satu perpustakaan Unhas, saat diskusi literasi 17 Oktober 2014. Saat itu pertemuan antar penulis begitu hikmat, masing-masing penulis muda dan tua, setengah tua, membicarakan proses – proses kreatif mereka hingga dapat melahirkan karya. Giliran pertama tertuju ke saya, tapi sayangnya saya tampak hanya berbasa-basi, tak ada yang istimewa dalam penjelasan saya. Saya selalu bersembunyi pada keadaan bahwa proses kreatif itu lahir dengan sendirinya, saya tak tahu dari mana ia muncul, bagaimana saya membangkitkannya, saya tak tahu. Saya hanya bilang waktu itu, bahwa menulis lebih pada dorongan dari dalam dan dari luar. Dorongan dari dalam tak dapat saya jelaskan, hanya dorongan dari luarlah yang lebih konkrit, sebab kita menulis karena terdapat masalah di sekitar kita, terdapat gejala-fenomena, dimana kita melihat kekurangan dan kita mencoba untuk menjelaskan kekurangan atau lack itu.

Tapi, dorongan dari dalam, apa gerangan yang dimaksud dari dalam itu? Penjelasan tentang hal ini tentu sulit memperoleh jawaban singkat. Sebab jawabannya tak lepas dari perjalanan diri saya, dan lebih teknisnya adalah perjalanan kesenyapan saya sendiri itu. Dan saya tersentak dengan kata-kata Alwy Rachman, bahwa seorang penulis dapat memperoleh hikmat dan ide itu jika selalu berada dalam kesenyapan. Dari situlah saya memperoleh tambahan bahan renungan, bahwa rata-rata seorang penulis lahir karena terbiasa berdialog dengan dirinya sendiri. Tentang bahan dialog itu terlepas dalam penjelasan ini, karena sangat subjektif. Misalnya mendialogkan tentang posisinya dalam kehidupan keluarga, posisinya dalam kehidupan pertemanan, dalam kehidupan sosial masyarakat, pertentangan-pertentangan batin dalam berinteraksi sosial, dalam pengambilan keputusan, dan dalam menjalankan perintah agama, serta dalam mencerap ide-ide, gagaran-gagaran dari para filsuf, ilmuan dan sastrawan.

Saya ingin kembali terjun ke masa-masa kesenyapan lampau. Dimana terdapat ambivalensi, antara keterpanaan saya terhadap dunia, dimana subjektivitas saya begitu kuat, hingga merasa hanya seorang diri di dunia, di sisi lain, saya menenggelamkan diri saya dalam kehampaan, saya tak dapat ikut tercebur dalam realitas-interaksi dunia. Saya seperti meletakkan diri saya di tengah, tapi hanya sebagai penonton. Kemudian pada saat-saat tertentu diri saya letakkan di pojok, di pinggir, agar saya dapat leluasa mengaktifkan subjektivitas dengan diri sendiri.



Makanya, pada masa bayi dan kanak-kanak dahulu, saya tak begitu merespon dunia, dunia sepertinya baik-baik saja tanpa kehadiran saya, yang ada hanyalah keadaan bingung, bahkan terlampau bingung. Perasaan-perasaan seperti ini tampaknya selalu hadir, bahkan hingga saat ini, saya terkadang sulit untuk melacak peristiwa-peristiwa apa yang dahulu membuat saya tertawa, suasana-suasana apa yang membuat hati saya gembira? Tampaknya, jika ada waktu, saya perlu melakukan korespondensi dengan keluarga, ataukah sahabat waktu kecil, kira-kira hal-hal apa saja yang telah kita perbuat untuk membantu saya memahami gejala-gejala psikologis saya waktu itu.

Saya pun tak hendak membeberkan kekacauan ataukah kegalauan pada masa-masa itu, yang terus terang masih menghantui hingga saat ini. Dimana dampak buruknya tampak ketika saya memasuki suasana baru, pertemanan baru, dan ketika saya bergelut dengan hirarki. Terkait dengan hirarki itu saya sulit menjelaskannya, karena saya merasakan juga terjadi ambivalensi, dimana dalam hubungan itu terdapat rasa takut tapi juga rasa berani. Keduanya campur aduk, dan hal itulah yang membuat saya cukup canggung untuk menampakkan diri dalam sistem dan dalam perebutan wacana hingga kekuasaan.

Apakah saya dapat bebas dari residu-residu psikologik ini? Apakah saya harus merelakan masalah saya ini pada waktu, dimana saya pun selalu menguji keberanian saya ketika mengunjungi tempat-tempat baru, suasana baru, tantangan baru. Saya selalu terpancing untuk menguji sejauh mana lompatan saya. Karena hingga kini pun rasa takut dan hendak menghindar selalu hadir, namun selalu saja teratasi dengan perasaan ingin coba-coba, rasa ingin tahu yang tinggi akibat selalu merasa kurang dalam banyak hal.

Tampaknya, pada tulisan ini saya tak dapat lagi mengontrol alur dan logikanya, tampaknya tulisan ini punya cerita sendiri, dan tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, yaitu sebagai arsitekural tulisan, dimana terdapat batu alas, tiang-tiang, dinding, atap, jendela, teras dan halaman. Saya tak dapat mengendalikan hal-hal yang menjadi pertanyaan dan masalah abadi saya. Lantas apa hubungan semua ini dengan ‘senyap’? dan apa hubungannya dengan tulisan?

Barangkali pertanyaan itu akan membantu menjawab pertanyaan mendasar saya pada awal tulisan, seperti apakah dorongan menulis dari dalam itu? Ya, menulis bagi saya adalah sebuah jalan keluar dari segala hal-hal yang saya takutkan, saya pikirkan, saya rencanakan, saya timbang-timbang, sebab dalam interaksi luar saya sangat bermasalah dan penuh kecanggungan. Selalu ada hambatan ketika mengutarakan kata-kata, argumentasi, kausalitas suatu kasus, sebab ada rasa sakit ketika kata-kata tidak terjelaskan dan orang tidak mengerti poin-poin pembicaraan, kedua, ada rasa sakit pula ketika saya membantah pernyataan orang lain langsung di hadapan orang tersebut. Makanya, jalan satu-satunya yaitu berdialektika dengan diri sendiri saja, mengutarakan pendapat pada diri sendiri saja. Tempat yang menurut saya paling aman adalah gua saya sendiri, berhadapan dengan diri saya, melalui tulisan.

Perasaan-perasaan itu tidak hilang, bahkan setelah saya mengikuti banyak organisasi dengan memegang peran sentral pada organisasi tersebut. Pada SMP saya sudah masuk dalam lingkaran Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Maros Kota. Pada saat – saat itu saya dengan senang hati menjadi peminta sumbangan di rumah-rumah warga, saya datangi satu persatu rumah dalam kompleks perikanan, meminta bantuan dana untuk pelaksanaan training untuk penerimaan anggota baru. Selama SMP kelas 2 hingga SMA kelas 2 peran itu saya pegang.

Pada saat naik ke jenjang SMA, saya langsung dikasih tanggungjawab sebagai Pradana Pramuka SMA 1 Maros, dimana tiap upacara memulai latihan pramuka pada hari Sabtu, saya selalu memimpin upacara. Dan pada saat-saat itu saya mengembangkan mading pramuka dengan begitu intens. Pada kelas 2 SMA, tanggungjawab malah berlipat-lipat, selain ketua kelas, saya juga memegang jabatan sebagai Ketua Mushallah SMA, serta ketua IRM Cabang Maros Kota. Lagi-lagi saya menguji tingkat kecakapan saya, yang mungkin menurut orang lain sudah bagus, tapi bagi saya itu merupakan pelarian dari ketidakmampuan saya berinteraksi dengan orang lain.

Pada saat mahasiswa juga seperti itu, berkali-kali saya mengambil peran penting, seperti sebagai steering committe perkaderan mahasiswa baru untuk himpunan mahasiswa, sebagai konseptor untuk pelatihan-pelatihan, hingga melakukan perjalanan jauh ke kota-kota di Jawa. Jabatan terakhir saya juga cukup sebagai ruang aktualisasi dan pembelajaran, yaitu Pimpinan Redaksi PK. Identitas Unhas, dimana saya mengembannya dengan begitu was-was dan penuh perhatian. Akhirnya masa jabatan saya berakhir dan ada kelegaan dalam jiwa saya. Lagi-lagi saya masih kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain, masih ada rasa takut untuk melontarkan gagasan-gagasan pada medan-medan lain.

Saya justru berfikir, apakah saya gagal dalam membesarkan jiwa setelah melewati proses yang cukup panjang itu? Apakah proses itu tidak memberi bekas, minimal keberanian untuk tampil, untuk berkompetisi. Terus terang saya tak tahu, dan saat ini tanggungjawab saya juga cukup besar, yaitu sebagai staff WWF – INDONESIA, saya pun mengembannya dengan perhatian dan tanggungjawab, namun problem saya kembali berulang.

Saya pun tak tahu, kapan kondisi-kondisi yang mencekam dahulu itu dapat memberi manfaat untuk masa depan saya? Apakah lantaran pengalaman-pengalaman itulah yang membuat saya tidak gampang berhenti, tidak mudah lelah untuk terus mencari, bergerak, menjejak? Apakah karena pengalaman itulah yang tak membuat saya berhenti untuk bertanya? Untuk menemukan jawaban-jawaban? Apakah proses – proses itu yang menyebabkan saya berani memutuskan untuk ke Jakarta selepas kuliah pada 2010, untuk hidup menjadi seorang pencatat yang kesepian di ujung barat Jakarta? Dimana waktu itu saya betul-betul seorang diri di antara para buruh kasar yang sulit untuk bersahabat, dimana pada saat-saat seperti itu menemukan persahabatan justru pada orang-orang kecil, tukang bak mie, tukang pijit dan seorang guru swasta. Pada saat itulah saya menemukan ambivalensi pada orang-orang kecil, bahwa orang kecil juga punya keangkuhan, bahkan penuh curiga terhadap mereka yang mencoba untuk mengusik kerja dan masa depannya. Saat itu saya belum terlalu paham, mungkinkah buruh-buruh itu ingin juga bersahabat, namun selalu melihat dirinya dan diri kita, selalu ada perbandingan-perbandingan, yang justru akhirnya menetapkan batas-batas.

Apakah gerangan semua ini? Tapi dalam proses itu saya pun memahami, bahwa lahir, bercinta, menderita dan mati adalah hal-hal konstan dalam hidup manusia. Begitulah kalimat yang begitu menggugah dari Ignas Kleden dalam komentarnya tentang tulisan-tulisan Umar Kayam.  Bahwa yang membedakan kita dan lainnya yaitu bagaimana kita merespon proses-proses perjalanan itu? Apa yang khas dari kita? Dan tentu, akan sangat menarik jika melihat cara-cara setiap orang untuk menghadapi atau merespon perjalanan itu. Sama halnya dengan cinta, cinta adalah hal yang universal, tapi bagaimanakah kita masing-masing melukis dan menjalankan cinta itu sebagai sesuatu yang khas dan unik? Disitulah letak kemenangan sastra dibanding ilmu-ilmu lainnya. Ah, kenapa lari ke sastra?

Tak tahulah, beruntung pula, karena dalam perjalanan itu, terdapat kisah-kisah spesifik dalam hidup, salah satunya yaitu mengenalmu dan mengenangmu di tempat-tempat yang jauh.

Kalibata, 25 Oktober 2014

Edisi kepengen menulis saja

Read more...

Kamis, 16 Oktober 2014

Media Pecah Belah

Sejak pertarungan Pilpres 2014 ini, terdapat beberapa media yang santer memberitakan isu-isu miring dan menyesatkan. Persepsi tentang kata ‘menyesatkan’ barangkali akan berbeda pada setiap orang, sangat ditentukan oleh wawasan dunianya, tempatnya bergumul-bergaul, dan cita-cita dan harapan masa depannya. Namun, izinkan saya untuk memaparkan dan menjelaskan berdasarkan subjektivitas saya, dengan latar belakang jurnalis kampus, pecinta sastra, dan senang mencicipi karya filsafat.   

Terdapat dua media yang paling jahil dalam memberitakan sosok-sosok tertentu, pihak-pihak tertentu yang dianggap membahayakan, dianggap jahat dan harus dilawan. Yaitu Obor Rakyat dan VOA – Islam. Obor Rakyat telah mendapat reaksi keras dari warga Indonesia dan telah dihentikan, sedangkan VOA – Islam masih aktif dan menebar berita-berita fitnah melalui media sosial kita. Memang, sebagai pembaca, berita-berita tersebut tidak terlalu menganggu, karena kita dapat membaca hal-hal lain yang lebih menarik, yang lebih rasional dan lebih sesuai dengan kebutuhan kita. Tapi, tetap ada kekhawatiran bahwa berita-berita tersebut berpotensi untuk menimbulkan pecah belah warga dengan secara terus menerus menebar kebohongan, imajinasi liar, minim verifikasi, hanya asumsi-asumsi.

Berita-berita VOA-ISLAM mendasarkan produksi beritanya hanya pada pandangan dan asumsi, bukan berdasarkan fakta dan data. Sangat minim mekanisme dan disiplin verifikasi dalam penyajian berita. Jauh dari skeptisisme dan keberimbangan. Yang utama adalah kehebohan dan bumbu-bumbu. Tujuan dari pemberitaan itu adalah untuk membangun opini publik dan menebar kebohongan. Beruntung, karena kebohongan-kebohongan itu hanya diyakini oleh sebagian orang. Bagi orang-orang yang berakal sehat pasti akan mengejar berita itu dan mempertanyakan data-data, fakta-fakta dan sumber informasinya. Namun, jika hal ini dibiarkan terus menerus, seperti prinsip Hitler waktu menghantui Eropa, kebohongan yang disebar seribu kali akan menjadi kebenaran.


                                         Gambar Ulil dalam Situs VOA - Islam

Berita-berita tersebut bermaksud untuk menebar kebencian pada pihak-pihak tertentu. Kebencian menjadi bahan bakar berita, tujuan dari kebencian demi kebencian tersebut tak lain diperuntukkan untuk merekatkan persatuan golongannya dalam Islam. Ketika terdapat musuh bersama diantara kita, secara tidak sadar kita menjadi semakin kuat dan bersatu untuk menghancurkan musuh. Berita-berita media tersebut selalu menampilkan hal-hal buruk kepada lawan, semua yang dilakukan lawan selalu tidak benar, dan menampilkan hal-hal baik tentang golongannya. Segala sesuatu tentang golongannya adalah baik. Sehingga, yang terjadi adalah demarkasi, kita dan mereka, kita yang baik dan mereka yang jahat. Media seperti ini berpotensi menebar permusuhan dan memecah belah masyarakat.

Salah satu strategi media-media seperti ini Menurut Jalaluddin Rachmad dalam kumpulan essai "Reformasi Sufistik" yaitu pemberian atribut-atribut buruk pada pihak yang dianggap musuh. Tindakan tersebut sebagai upaya untuk mendehumanisasi pihak yang disudutkan. Waktu Jokowi mencalonkan diri sebagai presiden, dia berulang kali diberitakan sebagai sosok Cina penghisap darah, Kapitalis, komunis, liberalis, dan lain-lain. Beragam cap buruk disematkan pada Jokowi, dan hal itu hanya bersandar pada asumsi-asumsi kabur dan menyesatkan. Sama halnya dengan berita Mark Zuckerberg yang datang ke Indonesia dan bertemu dengan presiden terpilih Jokowi dalam VOA-Islam terbaru. Dalam berita tersebut digambarkan Mark sebagai Yahudi yang membawa pesan-pesan Yahudi dan maksud Yahudi Internasional menguasai Indonesia. Padahal, VOA-Islam menyebar informasi-informasi buruknya itu pada dinding-dinding facebook. Contoh lainnya pemberian status Sepilis (Sekularis, pluralis, libaralis) pada Ulil Absar Abdalah. Saya tidak membela Ulil, tapi cara-cara VOA-Islam dalam mendehumanisasi Ulil dengan penggambaran Sepilis (imajinasi kita tertancap pada penyakit sipilis-kelamin), sangatlah kejam. 

Pemberian status yang merendahkan itu juga dapat berakibat pada kekerasan simbol dan fisik. Orang yang telah disematkan status buruk padanya, berarti dapat pula diperlakukan buruk, karena orang tersebut tidak lagi dianggap sebagai manusia sebagaimana manusia yang beradab, tapi manusia yang memang harus diluruskan atau dimusnahkan. Dia seperti duri yang harus dicabut untuk menghentikan rasa sakit.

Kekhawatiran lain yaitu tidak adanya tindakan untuk mengantisipasi berita-berita buruk seperti ini, yang sejak kemunculan media sosial terus menerus menghiasi dinding-dinding facebook kita dan kemudian pelan-pelan meracuni pikiran kita. Membuat pandangan kita menjadi sempit dan membuat persaudaraan dan persahabatan menjadi permusuhan dan kebencian, lebih hanya karena perbedaan pendapat, perbedaan golongan dan pandangan dunia. Parahnya lagi, media seperti ini menggunakan atribut-atribut Islam, dimana Islam digambarkan dengan kaku, keras, pembenci, penghasut, dan Islam menjadi agama yang tidak bersahabat. Padahal tujuan dan cita-cita agama Islam yaitu membawa kedamaian di tengah-tengah masyarakat, memenangkan akal dibandingkan nafsu, menegakkan keadilan di muka bumi.


Kamis, 16 Oktober 2014   

Read more...

Senin, 13 Oktober 2014

Diam

Sejauh ini saya merasa berdosa, bukan karena berbuat maksiat, tapi karena diam. Ya, kadang-kadang bahkan seringkali mendiamkan sesuatu yang sebenarnya harus saya ungkit, minimal dengan ungkitan kekesalan, gerutu bahwa ada yang tidak beres di sekitar kita, ada yang ganjil dan mesti diluruskan atau digenapkan segera. Kita selalu bersembunyi dalam diam kita, kita pura-pura tidak mengerti bahwa yang tampak di hadapan kita itu adalah kesewanang-wenangan.

Harus saya akui bahwa kesewenang-wenangan itu hadir dalam keseharian, dan entah karena apa hati atau perasaan itu sudah begitu pejal dan tak mampu lagi untuk sensitif merasa, apalagi tergerak untuk membantu. Saya sudah lupa kapan saya mencucurkan air mata sebagai bukti bahwa saya bersedih terhadap kesewenang-wenangan yang dimana saya diam terhadapnya.


                                         Foto : Nur Ahyani

Mungkin kawan-kawan juga begitu, mungkin saya tidak sendiri, mungkin kita selalu diam. Mungkin kita hanya berbicara ketika kita butuh, ketika kita lapar, nah pada saat kita kenyang kita akan diam dan akhirnya hanya membicarakan hal-hal yang sepele, yang kita senangi dan melupakan hal-hal yang berbau lumpur, berbau besi karat dan daki.

Jangan-jangan kita bersuara seperti suara keledai, hanya bersuara ketika mau makan atau ketika kesakitan? Atau jangan-jangan kita bersuara ketika kita ingin disuap, atau bersuara sekadar untuk permainan saja, permainan wacana agar kita dapat melanjutkan hidup sendiri. Kita memilih-milih objek yang dibicarakan, kita membuat pagar, bahwa suara saya hanya tentang ini, bukan tentang itu. Urusan si miskin hanya milik ilmuan sosial dan tugas wartawan, bukan milik kita yang saintis misalnya. Wartawan dan ilmuan sosial pun memilih-milih objek bicara, hanya bicara terkait kepentingan tertentu, projek tertentu. Ia dan saya pun pada dasarnya sadar bahwa sering terjadi kesewenang-wenangan di hadapan kita.

Saya merasa berdosa karena selama ini saya banyak diam. Diam melihat orang kelaparan, diam melihat orang dijambret, diam melihat anak-anak kecil kesulitan bekerja di jalanan. Saya pun tak tahu hendak bicara sama siapa, dan mungkin itu juga penyebab saya diam. Teman-teman bicara kita kadang orang-orang yang tak pusing dengan debu-debu dan ketimpangan. Kita bicara pun sekadar memenuhi fitrah manusiawi kita, yaitu saling bertukar informasi, bercanda, mengobati jiwa kita untuk mendengar kisah-kisah orang lain. Seperti menurut Witgenstein, bahwa komunikasi pada dasarnya adalah permainan bahasa yang bertujuan untuk menyampaikan informasi dan memudahkan makna diterima oleh subjek yang lain. Komunikasi adalah kebutuhan kita sebagai manusia sosial, manusia simbol, manusia ekonomi, dan manusia-manusia lainnya. Tapi kadang-kadang sebagai manusia simbol, kita pun diam terhadap informasi-informasi tertentu. Kita diam pada informasi yang akan mengancam kita, kita takut membeberkan informasi dan bicara terkait hal-hal yang akan mencelakakan kita, walau ketika informasi itu dikeluarkan justru akan menyelamatkan pihak-pihak lain.

Untuk itu, saya meminta maaf dengan diam saya. Saya baru sadar bahwa diam tidak selamanya berarti emas. Diam bisa berarti setuju, seperti diamnya seorang gadis ketika dilamar seseorang. Berarti dengan diamnya kita, kita secara tidak langsung menyetujui kesewenang-wenangan itu. Ali bin Abi Thalib pun pernah berkata, bahwa kesewenang-wenangan adalah hasil kerjasama antara yang menindas dan yang tertindas. Ketidakadilan tidak akan terjadi, jika yang merasa dirugikan hanya diam-diam saja dan tidak melawan. Ungkapan menantu Rasulullah itu seperti menampar muka kita.

Ke depan saya pun harus belajar untuk bicara, sepahit apa pun hasilnya, saya harus bicara lewat oral maupun lewat tulisan, terhadap setiap keganjilan, kecemasan-kecemasan yang muncul. Tentu, setelah bersuara kita dituntut untuk berbuat. Berbuat semampu kita. Lalu mengorganisir, membagi kegelisahan ke banyak orang, agar orang lain juga bicara, tidak diam. Tidak membiarkan kesewenang-wenangan menampar mukanya dan dia hanya membisu.



Maros, 13 Oktober 2014  

Read more...

Kamis, 04 September 2014

Peran Penyuluh dalam Perbaikan Budidaya Udang Windu

Materi Prof. Hattah Fattah-pada Pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk Penyuluh Perikanan di Pare_Pare, 2 - 3 Juni 2014 - WWF-INDONESIA.

Pada pelatihan tersebut Prof Hattah menggunakan pendekatan “bermain peran” atau simulasi untuk melihat bagaimana peran penyuluh dalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pembudidaya dalam satu klaster pertambakan.



Hattah membagi penyuluh dalam berbagai peran, yaitu sebagai kelompok tani sejahtera 4 orang, kelompok tani mandiri 4 orang, kelompok tani berkelanjutan 4 orang, pembudidaya yang tidak tergabung dalam kelompok 3 orang, penyuluh 3 orang, Dinas Kabupaten 1 orang, Dinas Provinsi 1 orang, penyedia saprodi, cold storage (buyer), lembaga perkreditan, dan lembaga penelitian dan pengembangan, masing-masing 1 orang.

Setelah kelompok terbagi, Hattah menjelaskan kasus yang dihadapi suatu wilayah pertambakan. 1) seluruh petakan sedang dalam proses pemeliharaan, namun terdapat tambak yang tersebar di kawasan yang terjangkit penyakit. 2) Beberapa pembudidaya belum bergabung dalam kelompok tani manapun, 3) Seluruh petakan diperkirakan panen dari Juli hingga September 2014, 4) Pada pertemuan secara terpisah pada tanggal 28 Mei 2014 para anggota Kelompoktani Sejahtera dan Kelompoktani  Mandiri  sepakat  penebaran pada musim tanam berikutnya pada bulan Oktober serta bulan November pada Kelompoktani Berkelanjutan, 5) Benur berkualitas diperkirakan akan mengalami kelangkaan  pada  bulan Oktober  dan November.



Terdapat beberapa poin yang dapat diperoleh pada saat game ini berlangsung :
-        
     Pembentukan kelompok harus berdasarkan hamparan, berguna untuk koordinasi saluran air sehingga penyebaran penyakit dapat segera dicegah. Namun dalam pelaksanaan game, para pengurus kelompok merekrut petambak yang belum bergabung untuk masuk dalam kelompok, namun petambak tersebut tambaknya berjauhan dan tidak sehamparan. Hal ini terjadi karena penyuluh hanya berdiam diri saja dan tidak melakukan penataan keanggotaan kelompok. Absen-nya penyuluh dapat menyebabkan kelompok tani menjadi tidak dinamis, sehingga dapat mengancam keutuhan kelompok.
-      
      Setelah petambak telah tergabung dalam kelompok dan kelompok telah dibuatkan Surat Keputusan (SK). Hal berikutnya yaitu menangani tambak yang terserang penyakit, dengan cara para penyuluh masing-masing kelompok mendiskusikan upaya penanganan penyakit dan meyakinkan pemilik tambak untuk segera mengisolasi tambaknya. Beberapa metode untuk meyakinkan pemilik tambak, seperti membantu obat-obatan serta memberikan tambahan uang untuk kebutuhan isolasi tambak.

-   Ketika ada undangan mengikuti pelatihan, ketua kelompok memilih salah satu anggotanya dan memintanya mempresentasikan hasil pelatihan setelah kembali ke kelompok.
-   
    Setelah panen, sebaiknya petambak melakukan pencatatan produksi dan aktivitas budidayanya, sehingga dapat diterima oleh buyer (prinsip tracebility). Kelompok simulai menjual hasil panen tanpa disertai catatan operasional. Sebaiknya penyuluh turut mengoordinir para pembudidaya untuk melaksanakan panen bersama, jika kapasitas panen sudah 8 ton, pembeli lah yang mendatangi pembudidaya.
-    
    Ketika kelompok tani ingin melakukan penebaran kembali, mereka harus berkoordinasi antar kelompok dan mencari waktu untuk penebaran bersama untuk tambak-tambak yang ada dalam satu kawasan atau satu sistem hidrologi yang dikelola dalam satu sistem.



Dalam penjelasan pasca game, Hatta memberikan masukan dan motivasi kepada para penyuluh dengan membagi uraiannya dalam empat (4) prinsip dan empat (4) peran.
-      
       Prinsip 1. Sistematika Pendekatan pada Penanggulan Permasalahan Budidaya Udang  Windu Berbasis Kawasan.
Terlebih dahulu dilakuan penetapan konteks dan status permasalahan serta identifikasi sistem dalam kawasan. Ada baiknya kelompok membicarakan solusi untuk mencegah sedimentasi saluran air, salah satu solusinya yaitu dengan bergotongroyong melakukan pengerukan saluran. Identifikasi masalah secara umum pada kawasan tambak yaitu, pembinaan petani tidak sesuai dengan program, tidak berfungsinya saluran tambak dengan baik, manajerial petambak yang sangat buruk. Setelah dilakukan pemetaan masalah, dilanjutkan dengan pengajuan soslusi, pengujian efisiensi dan efektivitas solusi, setelah itu segera implementasikan teknologi penanggulangan permasalahan serta menyebarkan pengetahuan tentang teknologi tersebut.
-        
           Prinsip 2. Berkelanjutan
Pada poin ini prinsip ekologi, ekonomi dan sosial saling beririsan dan saling membangun. Mempertahankan eksistensi ekologi, biodiversiti dan daya dukung lingkungan tentunya dapat disinergikan dengan pengembangan identitas kultur masyarakat, keseimbangan, akses dan stabilitas sosial, yang juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.
-        
           Prinsip 3. Sasaran konkrit
Sasaran penyuluhan yaitu bagaimana meningkatkan kapasitas pembudidaya agar dapat sejahtera, mandiri dan berkelanjutan.
-        
           Prinsip 4. Berkarakter
Dibutuhkan kerjakeras penyuluh untuk mendampingi kelompok. Integitas dan dedikasi penyuluh serta kehadirannya pada saat pembudidaya mengalami kondisi-kondisi sulit sangat membantu dan memotivasi pembudidaya untuk berbuat lebih baik lagi. Sebaiknya penyuluh menyatu dengan pembudidaya, jangan mengambil jarak dengan pembudidaya dan membuat penyuluh menjadi ekslusif.

-        Peran 1. Memberdayakan.
Penyuluh sebagai pelaku utama pemberdaya, mengajak masyarakat, mempengaruhi mereka kepraktek-praktek yang lebih baik dengan metode partisipatif.
-        
          Peran 2. Pengembangan SDM dan Modal Sosial
Peran penyuluh untuk mencerdaskan dan mengembangkan SDA dibutuhkan inovasi, networking dan penguasaan teknologi dari para penyuluh serta modal sosial yang kuat. Penyuluh yang baik yaitu penyuluh yang dapat dipercaya, memiliki jaringan sosial, hubungan emosional dengan pembudidaya dan norma yang kuat.
-        
           Peran 3. Dinamisasi Peran Masyarakat Secara Harmonis dan Berkelanjutan
Penyuluh sangat berperan dalam mendinamisasi kelompok dalam bentuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan rutin, pelatihan-pelatihan dan akvitas pengelolaan tambak bersama. Walaupun kelompok tersebut sudah berjalan baik, tapi berhenti dibina maka menurut Prof Hattah kelompok tersebut akan kembali menurun dan bisa jadi bubar.
-        
          Peran 4. Bagian Integral dari Penanggulangan Permasalahan Industri Udang Nasional
Industri udang nasional saat ini menghadapi tiga masalah besar, yaitu penyakit WSSV, daya saing produk yang rendah, ancaman embargo produk perikanan Indonesia oleh Negara Uni Eropa. Misalnya perbedaan harga udang yang mencolok antara Negara Thailand dan Indonesia, di Thailand harga udang hanya Rp. 20.000 sementara di Indonesia sebesar Rp. 40.000, sebaiknya perlu dipikirkan langkah-langkah untuk memangkas ongkos produksi sehingga udang kita dapat bersaing di tingkat global.

Indonesia saat ini beruntung tidak diserang oleh penyakit EMS (Early Mortality Syndromme), penyakit ini menyerang beberapa negara produsen udang, seperti Cina, India, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Tapi kita harus tetap hati-hati terhadap ancaman EMS, dengan menyeleksi induk udang yang masuk lewat prosedur balai karantina, menyeleksi probiotik, obat-obatan yang masuk ke Indonesia. Di tingkat petani pun harus lebih baik lagi manajemennya, menerapkan prosedur pencatatan asal-usul. Menurut Prof. Hattah kunci keberhasilan yaitu meningkatkan kinerja lingkungan, meningkatkan keunggulan kompetitif, meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, minimalisir biaya operasional, meningkatkan kepercayaan konsumen, meningkatkan akses pada sumber pembiayaan, meningkatkan inovasi, teknologi dan kemitraan.

Penguatan kelompok menurut Prof. Hattah berpengaruh terhadap pencegahan penyakit. Dia sudah mencoba-nya di Kab. Barru, Kab. Pinrang, Kab. Polewali Mandar, dan Kab. Takalar. Menurutnya produksi naik hingga lima kali lipat jika kelompok dikelola secara baik, dimana kelompok yang kuat hanya terserang 10% sedangkan tambak lain atau kawasan terserang hingga 80%. Begitu halnya di Kab. Barru, kelompok yang dikelola dengan baik terserang dari 10 – 60%, sedangkan kawasan terserang 70%.


Read more...

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Kec. Suppa, Kab. Pinrang (Bagian II)

Ir. Taufik Sabir (Pengusaha Hatchery Desa Tasiwali’e, Kec. Suppa)

Tufik merupakan salah seorang pengusaha perbenihan yang berdedikasi di Kec. Suppa. Beliau tidak sekedar menjual benurnya, tapi juga melakukan pendampingan terhadap petani dan kelompok tani, mengajak petani berdiskusi di kolong rumahnya untuk membincangkan permasalahan-permasalahan dalam budidaya udang windu. Dengan gudang pengalamannya sebagai teknisi akuakultur, Taufik merasa yakin dapat memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi petambak. Taufik juga aktif berkoordinasi dengan pemerintah, pengusaha dan kalangan akademik, lalu mengajak mereka untuk turut berkontribusi dalam penelitian, pelatihan dan pemberian bantuan kepada pembudidaya-pembudiaya di Kec. Suppa, Kab. Pinrang.

Taufik membawakan materi budidaya udang windu dengan menggunakan pakan alami. Sebelumnya Taufik bersama Prof. Hatta Fattah telah melakukan penelitian pemanfaatan Phronima suppa sebagai pakan alami untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh udang.



Beliau mengantarnya dengan mengatakan bahwa produktivitas budidaya udang windu Kab. Pinrang ditentukan oleh kemampuannya untuk memproduksi benih. Luasan tambak sekitar 15.000 Ha, namun produksi benur di Pinrang tidak mencukupi kebutuhan benur pada setiap tambak yang memerlukan rata-rata 10.000 – 20.000 benur persiklus. Hal ini menyebabkan banyak lahan tidak produktif karena tidak memperoleh benur. Selain itu, kualitas benur juga terkadang memprihatinkan, karena masih ada hatchery yang menjual benurnya pada umur PL 7 – 8, yang jika ditinjau daya tahan tubuhnya masih rentan. Jika PL sudah di atas 10 maka secara morfologi alat-alat tubuh sudah lengkap, dan benur sudah mampu beradaptasi di habitat baru.

Setelah membahas tentang perbenihan, Taufik melangkah untuk menjelaskan tentang Phronima suppa sebagai pakan alami udang. Pemeliharaan udang dengan Phronima suppa tidak berbeda jauh dengan pemeliharaan udang windu pada umumnya, hanya ditambah satu fase setelah penebaran pupuk, yaitu penebaran benih Phronima suppa sebanyak 4 – 5 liter, baru setelah itu dilakukan penebaran benur.

Sebelum penebaran Phronima suppa di tambak pemeliharaan, terlebih dahulu dilakukan kultur Phronima suppa di tambak terpisah. Tahapan-tahapannya, yaitu : (1) Persiapan lahan, (2) Pengapuran, (3) Pupuk dasar > urea, tsp, za, dedak fermentasi, (4) Pengisian air setengah, (5) Saphonin, (6) Pengisian air full, (7) Pupuk susulan > urea, za, tsp, ursal, fores, dedak fermentasi, (8) Penebaran benih phronima suppa 4 – 5 liter, (9) Pupuk susulan, (10) Panen phronima suppa.

Phronima suppa tersebut dapat digunakan secara bersama atau berkelompok. Menurut pengalaman Taufik, dengan pemberian Phronima suppa, petambak dapat panen dengan umur pemeliharaan hanya 1,5 bulan. Kandungan gizi Phronima suppa belum diteliti lebih jauh, tapi menurut Prof. Hattah, pakan ini dapat pula menggantikan posisi artemia sebagai pakan utama dalam pemeliharaan benur di hatchery.

Tampak hasilnya sekitar 107  - 291 kilogram pada tambak 1 ha, terdapat pula hasil 141 – 163 pada lahan 0,5 Ha. Mulanya pakan ini hanya dimanfaatkan oleh satu dua petambak saja, yang kebetulan di tambaknya tiba-tiba berkembang crustacea baru yang belum dikenal, tapi dapat menyebabkan udang cepat tumbuh dan sehat. Kemudian informasi tentang crustacea yang mirip artemia itu bocor dan diketahui oleh petambak-petambak lainnya. Kemudian, Taufik bersama Abdul Salam Atjo yang merupakan penyuluh perikanan di desa tersebut membantu menyebarkan informasi tersebut ke pemerintah setempat serta ke publik pada umumnya melalui reportasi di majalah dan koran.

Selain itu, hasil analisa usaha penggunaan Phronima suppa juga tetap menghasilkan keuntungan sebesar Rp.10.237.850/siklus untuk satu hektar tambak. Walau terdapat biaya untuk kultur Phronima sebesar Rp.2.710.300. Dimana kultur Phronima juga membutuhkan bahan-bahan yang sama dengan pemeliharaan udang windu, tapi dengan kadar yang sedikit berbeda, seperti penggunaan saponin 500 kg, dolomit 50 kg, dedak halus 300 kg, pupuk urea 150 kg, pupuk SP36 : 150 kg, pupuk Za 150 kg, pupuk cair ursal 5 botol, pupuk cair fores 5 botol, ragi sebanyak 68 biji.

Diharapkan dengan penjelasan kembali tentang Phronima suppa ini, petambak yang belum menerapkan metode ini dapat belajar dengan cepat dan turut menerapkan pemanfaatan pakan alami tersebut, agar produksi tambak meningkat dan terjadi peningkatan ekonomi masyarakat petambak.


Prof. Hattah Fattah, MSi (Akademisi Universitas Muslim Indonesia)

Prof. Hatta Fattah sejak 2006 aktif melakukan penelitian dan koordinasi untuk pemberdayaan masyarakat petambak di Kab. Pinrang, khususnya pada kawasan minapolitan Perikanan Lowita (Lotangsalo, Wiringtasi, dan Tasiwali’e). Prof Hattah membantu Pemda Kab. Pinrang untuk merumuskan kebijakan yang terkait perbaikan kawasan perikanan di Pinrang. Bentuk keterlibatannya yaitu dengan menjadi tim perumus Badan Koordinasi Pengelolaan Kawasan Minapolitan Perikanan, koordinator KIMBIS (Klinik Iptek Mina Bisnis) yang telah berkontribusi dalam membantu para petambak untuk mengembangkan minat bisnis di Suppa. Selain itu, Prof. Hatta mengembangkan penelitian terkait morfologi Phronima suppa dan peran Phronima suppa terhadap pertumbuhan dan daya tahan tubuh udang windu.



Pada sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu itu Prof. Hatta membawakan presentasi tentang “Penerapan Kluster Udang Windu Berskala Industri di Kab. Pinrang”. Menurutnya, pembudidaya dalam satu kawasan harus diorganisir dengan baik, baik dari segi bantuan sarana prasarana, bantuan bibit, pakan, dan perlengkapan, maupun sektor pendidikan, kependudukan, dan sosial. Kawasan perikanan budidaya di Pinrang tersebut merupakan sentral produksi udang terbesar, memberi kontribusik ke Kab. Pinrang, dimana Pinrang merupakan salah satu daerah produksi udang terbesar di Indonesia.

Namun, potensi produksi dan sumberdaya di Pinrang yang besar masih belum didukung oleh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dimana Angka Putus Sekolah pada jenjang Sekolah Dasar (SD) pada wilayah pesisir sebesar 22,89% dan mayoritas usia sekolah SD sebesar 51.292 jiwa. Rendahnya tingkat pendidikan penduduk ini berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan jangkauan pemecahan masalah yang mereka hadapi, serta kemungkinan untuk penerimaan gagasan dan ide baru.
Selain itu, menurut Prof. Hatta, persoalan kawasan budidaya antara lain, (1) usaha budidaya udang windu masih dikelola dalam skala kecil atau subsisten tradisional dan parsial. (2) Pola pengembangan berbasis sentra belum berhasil meningkatkan kinerja dan produktivitas kawasan. Ini masih menjadi pertanyaan sulit bagi Prof. Hatta, kira-kira apa yang menyebabkan produktivitas kawasan belum bisa dipacu? Sehingga menurutnya pendekatan yang harus dilakukan pada kawasan budidaya yaitu pendekatan klusterisasi an pendekatan partisipatif. Salah satu hal yang bisa dikembangkan di Suppa yaitu Phronima suppa, terdapat pula cacing laut untuk pakan induk, pakan buatan, kemudian induk lokal di Bianga Karaeng. Kita pun dapat melakukan pengembangan Desa Binaan yang dapat dilakukan oleh universitas, lalu integarsi program-program pemerintah, sepert program KIMBIS dan PNPM.

Prof. Hatta telah merancang kluster pengembangan budidaya udang windu di Suppa, dimana pembenihan hatchery difokuskan di Desa Wiringtasi, usaha pentokolan udang windu ditempatkan di Desa Tasiwali’e, kemudian pembesaran di Wiringtasi dan Tasiwali’e, kemudian akan dilakukan pengembangan pasar baik di dalam Kab. Pinrang, maupun di luar Pinrang.

Target keluaran pada tabel di atas dilakukan secara bertahap, dan dikuatkan dengan pembentukan badan koordinasi dengan berbagai stakeholder yang terkait untuk pengembangan kawasan Minapolitan LOWITA (Lotangsalo, Wiringtasi, Tasiwali’e). Target-target di atas akan dibincangkan secara komprehensif untuk pembagian peran sesuai dengan kemampuan dan kepentingan masing-masing. Pemda Pinrang atas inisiasi Prof. Hattah Fattah telah melakukan pertemuan dengan para stakeholder untuk membincangkan posisi dan peran masing-masing.


Wahju Subachri (Aquaculture Staff WWF-INDONESIA)

Wahju merupakan staff akuakultur yang bertugas di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Wahju telah melakukan beberapa kali pelatihan kepada penyuluh dan petambak di daerah Aceh, serta pendampingan pada kelompok ikan nila di Danau Toba. Beliau datang ke Sulawesi Selatan, khususnya Kab. Pinrang untuk mensosialisasikan BMP Budidaya Udang Windu WWF-INDONESIA.
Pemaparan Wahju berangkat dari aspek-aspek penting dalam budidaya udang, yaitu (1) lingkaran teknis operasional dalam budidaya udang windu : persiapan lahan dan air, pemilihan benur, pemilaharaan kualitas air, pengendalian penyakit dan panen. (2) Pembukaan lahan tambak baru harus berkonsultasi dengan instansi terkait (DKP, Badan Pembangunan dan Perencanaan Daerah, Dinas Lingkungan Hidup). Contoh kasus di Kalimantan Timur, sebagian wilayah tambak berada dalam kawasan hutan produksi atau Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). (3) Memiliki kepemilikan tanah yang jelas (tertulis) serta ijin usaha yang sesuai aturan. (4) Padat tebar rendah, yaitu 3 – 4 ekor/m2 dengan luasan tambak maksimal 1 ha. Bibit berasal dari hatchery atau pendederan yang dikelola dengan baik. (4) Berdasarkan RAMSAR bila lahan di buka sebelum Mei 1999, diwajibkan mengembalikan kawasan mangrove. Sedangkan pembukaan lahandi atas tahun tersebut tidak dapat disertifikasi.



Menurut Wahju, sebagai produk ekspor unggulan, udang Indonesia harus mengikuti persyaratan-persyaratan yang sudah dibangun di tingkat internasional. Diantaranya bahwa produk udang Indonesia harus peduli terhadap lingkungan. Dahulu sempat ada isu larangan untuk mengkonsumsi udang yang berasal dari Indonesia, karena petambak di Indonesia telah menghancurkan mangrove. Dengan mengembalikan mangrove sebesar 50 persen, hal itu sudah menjadi jaminan bahwa petambak Indonesia masih peduli terhadap lingkungan.

BMP Budidaya Udang Windu juga sangat menekankan pembentukan kelompok dalam satu kawasan, dimana berasal dari satu aliran sungai yang sama. Kemudian dalam kelompok tersebut terdapat pertemuan rutin untuk mendiskusikan kegiatan tambak, masalah dan solusinya. Kelompok tersebut juga berguna perencanaan budidaya dan dalam koordinasi penebaran serentak untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang akut.

Wahju kemudian menjelaskan tahapan-tahapan budidaya udang windu yang baik. Tahapan pertama yaitu persiapan tambak, dimana petambak harus memperhatikan konstruksi tambak, bagian pematang dan pintu air, diperbaiki dan ditinggikan serta dijaga agar tidak bocor. Selain itu, kedalaman caren kurang lebih 1 m dan pelataran 0,7 m. Terlalu dangkal akan menyulitkan udang karena meningkatnya suhu, sehingga perlu penggalian untuk penyesuaian kedalaman.  Lalu sebaiknya terdapat saluran inlet dan outlet yang terpisah, untuk mengantisipasi kontaminasi dan penyebaran pencemaran.

Tahap berikutnya, pengeringan tambak. Memastikan dasar tambak tidak tergenang air, sinar matahari langsung dapat mengurangi/mematikan bakteri/virus yang ada di dasar tambak. Menghindari penggunaan tanah sulfat masam. Kemudian, pengapuran dilakukan sesuai dengan prosedur dan nilai pH tanah, sebaiknya menggunakan kapur dolomit, karena dolomit juga dapat menumbuhkan pakan alami. Kemudian dilanjutkan dengan pemupukan dengan menggunakan pupuk organik dan anorganik. Pemupukan organik pada tanah dengan dosis 500 kg/ha dapat memperbaiki tekstur tanah dan membantu dalam proses penyediaan pakan alami dalam tambak. sedangkan pupuk anorganik dengan dosis 20 kg/ha, SP-36 dengan dosis 10 – 15 kg/ha, NPK dengan dosis 15 kg/ha dapat menumbuhkan pakan alami.

Pengisian air melalui pintu air, terdapat saringan air sebanyak dua buah untuk mencegah masuknya ikan-ikan liar. Pemberian saponin pada saat hari cerah untuk memberantas ikan yang masih terdapat dalam tanah. Tidak menggunakan pestida dalam memberantas hama, pestisida dapat membunuh pakan alami udang pada dasar dan kolom air, membunuh mikroba tanah sehingga kualitas tanah memburuk, udang kesulitan tumbuh dan keracunan.



Setelah itu, Wahju menjelaskan tentang asal usul dan ciri-ciri benur yang baik. Benur diperoleh dari hatchery atau gelondongan yang dikelola dengan baik, kemudian memilih benur yang memenuhi kriteria, dan lakukan pencatatan pembelian benur dan dokumen asal-usul induk. Petambak pun harus mengetahui ciri-ciri benur yang baik, yaitu ukuran benur seragam, aktif berenang-bergerak, sensitif terhadap rangsangan, benur berukuran >PL 11/gelondongan, kemudian memastikan hatchery tersebut menerapkan monitoring benur, sehingga benur yang dihasilkan bebas dari virus.  

Dalam melakukan pemanenan benur, sebaiknya dilakukan pagi hari dengan harapan suhu tidak berubah secara signifikan. Kemudian memastikan bahwa jumlah bibit udang dalam kantong sesuai dengan ukuran dan jumlah oksigen untuk menghindari udang stress dalam perjalanan. Lalu usahakan menurunkan suhu air dalam kantong menjadi 24oC jika jarak tempuh bibit lebih dari 3 jam, agar benur tidak aktif. Ketika mengangkut benur, sebaiknya petambak memastikan bahwa alat transportasi bersih dan bebas dari bahan kimia berbahaya, kemudian setelah tiba langsung dilakukan aklimatisasi terhadap benur tersebut. Aklimatisasi dalam penebaran dilakukan dengan hati-hati karena udang mudah stress pada lingkungan baru, kemudian perlu diperhatikan bahwa air tambak sudah ditumbuhi plankton, yang ditandai dengan warna hijau cerah di tambak. benur ditebar di pagi atau sore hari, ketika suhu udara masih dingin. Dan yang terakhir yang penting juga, yaitu dalam setiap proses diharapkan selalu ada catatan, seperti tempat pembelian benur, jumlah benur, umur PL, kadar salinitas, dll.      

Pada sosialisasi tersebut, peserta yang hadir rata-rata adalah petambak tradisional, yang dalam penggunaan pakannya tidak terlalu banyak, dan dikondisikan dengan jumlah benur yang ditebar. Meski demikian, Wahju ikut menjelaskan tentang pakan dan tata cara penggunaannya, agar petambak bertambah pemahamannya tentang pakan. Menurut BMP Budidaya Udang Windu, benur sebaiknya diberi pakan sejak sehari setelah penebaran pakan, sebagai adaptasi dan kelanjutan pemberian pakan sejak di hatchery. Kemudian pakan yang digunakan adalah pakan yang kandungan gizi lengkap, dan sumber proteinnya berasal dari perikanan yang ramah lingkungan.  

Wahju menganjurkan bahwa bila pakan alami cukup dan udang tidak mengkonsumsi pakan di anco, maka pemberian pakan dapat dihentikan atau diberi perhari hanya 1 kg, dengan tetap memantau kondisi ususnya. Bila usus mulai terlihat putus-putus, segera diberi pakan tambahan dengan memperhitungkan biomas dan dikalikan dengan %FR 3-8 persen. Selain itu, petambak tetap memperhatikan kondisi dan warna air, ketika ari telah berubah menjadi kuning, segeralah untuk mengganti air atau diberi pupuk untuk mengembalikan warna air menjadi warna hijau.

Setelah pakan, Wahju menjelaskan isi BMP terkait pengelolaan air selama pemeliharaan. Dalam penggantian air, sebaiknya dilakukan pada saat pasang tertinggi (purnama). Kemudian pada 2 – 3 minggu pertama setelah penebaran, pergantian air dilakukan dalam jumlah kecil, yaitu 10%. Setelah itu, penggantian sudah lebih banyak, dapat 30 – 80% dan disesuaikan dengan periode air pasang tinggi. Pada kawasan yang rawan penyakit, sebaiknya tidak telalu sering menambah air untuk antisipasi tidak tersebarnya penyakit ke perairan tambak. Sedangkan air yang sudah terserang penyakit, dilarang untuk membuang sembarangan, sebaiknya dilakukan perendaman dan strelisasi air untuk membunuh sumber-sumber penyakit. untuk itu, sebaiknya petambak selalu melakukan pengecekan dan pentatan kondisi air secara berkala, serta melibatkan pihak-pihak tertentu, seperti penyuluh untuk membantu uji kualitas air di lapangan maupun di laboratorium. Jika ditemukan permasalahan segera mengambil tindakan, baik dengan membuang air di permukaan, pemberian probiotik, atau pemupukan, selain itu, memastikan ketinggian air tambak minimal 1 m.  

Hal yang penting dalam pemeliharaan tambak yaitu pengendalian penyakit, dimana tidak memasukkan air ke dalam kolam apabila air di pengairan terserang penyakit. begitu halnya ketika udang yang dipelihara terkena virus, petambak dilarang untuk membuang air tambaknya ke perairan terbuka. Air dibiarkan dalam tambak selama sebulan untuk menentralisir air dari penyakit dan pemanenan dilakukan dengan menggunakan jala.   

Bagian terakhir dalam penjelasan Wahju Subachri yaitu panen dan pascapanen. Dimana panen dilakukan pada pagi hingga selasai, baik dilakukan pada saat kondisi hari yang teduh. Mempersiapkan tenaga (tim panen), peralatan dan bahan seperti air dan es yang cukup. Melakukan pemanenan dengan hati-hati, agar tidak tidak ada udang yang lepas, dapat menggunakan jala untuk menjaring udang dalam tambak dan memasang jaring di pintu air untuk menampung udang yang terbawa air. Setelah panen, dilakukan pencucian dan pemberian es untuk mempertahankan kualitas udang dan langsung dibawa ke pengepul atau pengepul yang mengambil langsung ke petambak dengan membawa kontainer atau mobil truk yang bersih dan terdapat cool box di dalamnya.

Hal berikutnya yang harus petambak perhatikan yaitu pencatatan dan pemeliharaan lingkungan. Pencatatan dilakukan sebagai bukti dan bahan pembelajaran (lesson learning) petambak untuk melakukan perbaikan pada siklus-siklus berikutnya. Sedangkan pemeliharaan lingkungan, dilakukan dengan memelihara ekosistem mangrove yang masih ada di lokasi sekitar tambak serta pinggiran sungai dan pantai. Petambak juga diharapkan untuk memastikan bahwa hutan mangrove di pantai memiliki lebar minimal 150 meter dan di sepanjang sungai minimal 50 meter dari lokasi tambak. kemudian ada upaya petambak untuk menanam mangrove di pematang dan saluran iar tambak.

Pembelajaran
Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Desa Wiringtasi, Kec. Suppa tersebut tak dapat terlaksana dengan baik jika WWF-ID tidak memperoleh dukungan dari tokoh-tokoh dan masyarakat lokal, serta keterlibatan aktif penyuluh dan staff DKP Kab. Pinrang. Selain itu, melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan ternyata cukup efektif untuk meningkatkan semangat mereka untuk terlibat pada saat pelatihan.   



Penutup
Sosialisasi pun berakhir pada pukul 16.30 Wita, setelah Wahju Subachri memaparkan penjelasan tentang isi dari BMP Budidaya Udang Windu. Semoga sosialisasi ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman petambak dan penyuluh perikanan tentang cara budidaya udang windu yang baik. Setelah sosialisasi ini akan dilanjutkan dengan pelatihan budidaya udang windu dengan melibatkan beberapa petambak terpilih, yang diharapkan para peserta pelatihan tersebut dapat menerapkan BMP Budidaya Udang Windu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Seafood Saver Officer for Aquaculture
WWF-INDONESIA
Idham Malik

Read more...

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu di Kec. Suppa, Kab. Pinrang (Bagian I)

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu pada tanggal 18 Maret 2014 berjalan lancar. Dengan dihadiri sekitar 60 peserta yang terdiri atas 40-an petambak dan 15 staff DKP Pinrang. Daftar Hadir : 43 (Petambak), 12 Penyuluh Perikanan, 3 Staff DKP, 1 akademisi (Prof Hatta Fattah), 1 (Pengusaha hatchery). Total sebesar 60 orang. Kegiatan dilaksanakan di halaman rumah Puang Raja (Ketua Kelompok Tani) yang dapat menampung peserta hingga 60 orang lebih.

Besar harapan bahwa materi-materi yang disajikan oleh para pemateri dapat dipahami oleh para peserta. Pemateri terdiri dari WWF-INDONESIA, perwakilan pemerintah, perwakilan pengusaha dan pemberdaya masyarakat, serta perwakilan akademisi. Materi-materi dipaparkan dengan bahasa sederhana dan ada pemateri yang menggunakan istilah-istilah lokal. Sedangkan materi dari dari WWF-INDONESIA banyak berangkat dari pengalaman-pengalaman WWF-INDONESIA di wilayah dampingan di Tarakan, Kalimantan Timur dan Blangmangat, Lhokseumawe, Prov. NAD (Nangroeh Aceh Darussalam).    


Candhika Yusuf (Koordinator Aquaculture WWF-INDONESIA)

Sosialisasi BMP Budidaya Udang Windu dimulai dengan sambutan Candhika Yusuf, Koordinator Akuakultur WWF-INDONESIA. Candhika menjelaskan tentang sejarah WWF di Indonesia, program dan strategi Bidang Akuakultur WWF-INDONESIA untuk budidaya perairan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan. Aktivitas budidaya perairan itu sendiri masih menyisahkan beragam persoalan, diantaranya penebangan mangrove, pencemaran perairan, penggunaan bahan-bahan berbahaya, biosecurity, pencemaran genetik, dan persoalan sosial/konflik. 



Candhika menjelaskan bahwa pada tahun 1960 dan 1961, WWF Internasional memulai program konservasinya untuk penyelamatan Panda di China, yang jumlahnya semakin berkurang akibat penangkapan. Kemudian pada 1961, WWF mulai masuk ke Indonesia dengan bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon untuk misi penyelamatan badak cula 1 di Ujung Kulon, Provinsi Banten. Berkat kerjasama tersebut, populasi badak meningkat, perburuan badak mulai dihentikan dan badak dapat normal kembali beranak pinak.

Candhika menguraikan kerangka perbaikan lingkungan, yang dimulai dengan pembuatan panduan BMP(Better Management Practice) yang melibatkan banyak pihak di berberapa daerah di Indonesia. Panduan tersebut mengacu pada standar operasional budidaya berskala internasional, yaitu Aquaculture Stewardship Council (ASC), yang mempunyai misi untuk mendorong tersedianya produk perikanan budidaya yang bertanggungjawab melalui mekanisme sertifikasi pihak ketiga. ASC mengakomodir empat aspek dalam pengelolaan perikanan, yaitu aspek legalitas dan rancangan tata wilayah, pengelolaan lingkungan, teknis, dan sosial. Standar ASC diperoleh dari hasil Aquaculture Dialogue yang diprakarsai oleh jejaring kerja WWF, melibatkan ribuan kalangan, baik dari kalangan pembudidaya, industri, LSM, pemerintah, pasar, dan akademisi dari seluruh dunia. Pada saat ini telah ada panduan BMP WWF Indonesia untuk budidaya Udang Windu Sistem Tradisional, Penyakit Udang, budidaya Ikan Nila, Budidaya Ikan Kerapu, serta yang akan dicetak yaitu BMP Budidaya Udang Vannamei, Budidaya Ikan Bandeng, Budidaya Rumput laut Cottoni dan Gracillaria, BMP Budidaya Kakap Putih, dan Budidaya Kerang Hijau.

BMP menjadi alat atau panduan pembudidaya dalam perbaikan tambaknya, sehingga memenuhi kriteria legalitas, pengelolaan lingkungan, teknis dan sosial tersebut. Pemenuhan poin-poin dalam BMP tersebut akan dapat tercapai jika setiap stakeholder mengambil peran di dalamnya, DKP mengambil peran dalam perbaikan sarana-sarana irigasi dan pemantauan, penyuluh memberikan masukan-masukan dan mengajak pembudidaya untuk mendiskusikan bersama permasalahan dan memecahkannya secara bersama pula melalui mekanisme kelompok. Perusahaan dan industri membantu untuk menyediakan bibit udang yang berkualitas, pakan, pupuk, kapur, pestisida alami, serta segala kebutuhan petambak dengan mempertimbangkan kualitas barang tersebut. Sedangkan LSM dan kelompok masyarakat membantu untuk pendampingan, konsultasi dan menghubungkan para pembudidaya dengan pihak-pihak yang dapat membantu pembenahan usaha perikanannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa untuk mencapai budidaya perairan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan tersebut, dibutuhkan kerjasama dengan semua stakeholder yang terkait.


Ir. Nurdin (Kepala Bidang Budidaya DKP Kab. Pinrang)

Ir. Nurdin dalam sosialisasi BMP membawakan materi tentang CBIB. Sengaja kita ajak DKP dalam hal ini Ir. Nurdin untuk mengulang kembali materi CBIB kepada petambak, agar petambak lebih paham tentang poin-poin yang harus dipenuhi untuk memperoleh sertifikat CBIB, yang sebenarnya bertujuan untuk perbaikan usaha budidaya perairan pada tambak tersebut. Program Kementerian Kelautan dan Perikanan termasuk di dalamnya pengembangan CBIB dan CPIB sudah berjalan selama empat (4) tahun. Saat ini sudah 190 tambak yang telah memperoleh status CBIB.    

Nurdin memulai dengan menurunnya produksi udang windu Kab. Pinrang dalam beberapa tahun terakhir, dimana usaha budidaya udang windu berkembang pada 1980-an dan maju pada 1990-an. Sehingga CBIB bertujuan membantu untuk mengembalikan kejayaan udang windu serta mewujudkan jaminan mutu dan keamanan pangan. Sertifikasi CBIB hendak melakukan pengendalian kegiatan budidaya sejak dari persiapan, pengelolaan air, proses produksi hingga pasca panen. Hal ini pada dasarnya sudah diketahui oleh para petambak, namun petambak perlu didampingi, untuk itu CBIB sebagai panduan strategis para penyuluh untuk mendampingi, memantau, dan mengevaluasi proses budidaya yang diterapkan para petambak.


Ir. Nurdin memaparkan prinsip-prinsip yang mendasari sertifikasi CBIB. (1) Biosecurity (keamanan biologi), yaitu mengurangi peluang masuknya sumber penyakit ke sistem budidaya serta mencegah penyebarannya dari satu tempat ke tempat lain. Tentang penyebaran penyakit, Ir. Nurdin masih menyesalkan karena petambak masih sulit mengkomunikasikan ke petambak lain bahwa tambak miliknya terserang penyakit. Sehingga upaya pencegahan penyakit untuk masuk ke sistem budidaya biasanya terlambat ditangani. (2) Food Safety (Keamanan pangan), lebih pada adanya jaminan bahwa produk pangan aman dikonsumsi. (3) Ramah terhadap lingkungan, pengelolaan lingkungan sekitar dan antisipasi terhadap pencemaran.

Pembudidaya pun diharuskan melindungi produk budidaya dari bahan-bahan pencemar, dalam aktivitas budidaya, pemanenan, dan pengangkutan. Diantara kontaminan yang membahayakan keamanan pangan, yaitu logam berat (Hg, Cd, Pb), organochlorin (pestisida), antibiotika (Chlorampenicol, Nitrofuran, dll), biologi-mikroorganisme berupa Salmonella, Cholera, dll. Dan fisik seperti serpihan kayu, logam dan rambut.

Beberapa poin-poin yang ditetapkan dalam CBIB, seperti lokasi yang bebas dari pencemaran air dan udara, suplai air tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan pangan. Upaya untuk membenahi sistem irigasi pernah digagas Pemda Pinrang pada 1990-an, namun karena tidak adanya kemauan dari petambak untuk menyisihkan sebahagian tanahnya untuk pembuatan irigasi pembuangan, sehingga rencana kawasan tambak yang terdiri atas atas dua saluran air (irigasi) tidak terwujud. Kemudian tentang tempat penyimpanan pakan, obat-obatan dan perlengkapan budidaya ditempatkan pada lokasi yang bersih dan tidak tercemar. Persiapan tambak dilakukan untuk menjamin keamanan pangan dari organisme-organisme penyebar penyakit dan bahan-bahan yang membayakan. Persiapan wadah yang baik akan meminimalisir penggunaan obat-obatan dan efisiensi biaya. Pengelolaan air dilakukan untuk menjamin kualitas air yang baik untuk pertumbuhan organisme budidaya. Sebaiknya juga dalam pemasukan air menggunakan sistem dua saringan untuk mencegah masuknya organisme pembawa patogen.

Benih terbebas dari penggunaan obat kimia yang membahayakan konsumen. Sedangkan obat antibakteri pada saat dewasa harus diminimalisir, CBIB menekankan pada tindakan preventif dengan memperbaiki kualitas lahan dan air pada saat persiapan dan pengelolaan air. Begitu halnya dengan pakan, bahan bakunya tidak menggunakan pestisida, bahan kimia, logam berat dan kontaminan lain yang dilarang.  

Pada saat panen, menggunakan air bersih untuk membersihkan udang. begitu halnya dalam penggunaan es saat panen. Es berasal dari pabrik yang diakui sebagai penyalur es dan memenuhi tandar seperti air minum. Pada saat panen juga diupayakan dengan memerhatikan suhu, sebab kenaikan suhu dapat menyebabkan penurunan suhu produk. Serta memperhatikan teknik panen untuk mencegah terjadinya luka pada tubuh udang. Luka dapat menyebabkan kontaminasi yang dapat menurunkan kualitas udang. peralatan yang digunakan dalam panen juga harus bebas dari kontaminasi bakteri dan mudah dibersihkan. Kegiatan setelan panen, seperti sortasi, penimbangan, pencucian, pengeringan, harus dilakukan dengan cepat, higienis dan tanpa merusak produk. Demikian juga dalam pengangkutan produk, diusahakan agar segala peralatan terjaga kebersihannya, seperti boks dan wadah. Limbah setelah panen sebaiknya dibersihkan, udang yang mati dikubur dan tidak ada tumpahan minyak, dll.

Hal utama dalam poin CBIB yaitu mekanisme pencatatan, sehingga petani diharapkan dapat mencatat proses produksi sejak persiapan lahan, pemasukan air, pengukuran kualitas air, penebaran benih, pemberian pakan, panen dan pasca panen. Hal ini bertujuan untuk melacak titik-titik kelemahan saat proses produksi dan juga sebagai bahan pelajaran untuk memperbaiki kualitas lahan dan budidaya pada siklus berikutnya.


Untuk para pekerja, dalam CBIB, para pekerja menerima pelatihan tentang sanitasi dan keamanan pangan serta mengajak pekerja dan pembudidaya untuk memperhatikan kebersihan dan kesehatan pembudidaya, untuk mencegah penularan penyakit pada udang.Prosedur penerbitan: Unit usaha pembesaran ikan mengajukan permohonan sertifikat CBIB ke Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dengan rekomendasi DKP Provinsi dan dilengkapi dokumen: (1) Foto Copy izin usaha perikanan (IUP) bagi unit usaha berbadan hukum atau surat keterangan budidaya bagi  kelompok pembudidaya ikan. (2) Data umum unit usaha pembesaran ikan. (3) Daftar fasilitas dan standar prosedur operasional unit pembesaran ikan. (4) Jumlah dan pendidikan tenaga kerja  unit pembesaran ikan. (5) Pencatatan/rekaman unit pembesaran ikan. (6) Struktur organisasi dan uraian tugas. (7) Gambar layout bangunan dan petakan unit pembesaran ikan. Berdasarkan pengalaman Ir. Nurdin, prosedur di atas biasanya tidak dijalankan. Hal tersebut medorong pihak dinas untuk berinisiatif mendatangi pembudidaya yang sudah memenuhi syarat-syarat sertifikasi, kemudian diusulkan ke provinsi hingga ke kementerian. Kementerian nantinya yang akan menurunkan tim ahli untuk melakukan pengujian.

Read more...

Selasa, 26 Agustus 2014

Ke Rammang – Rammang

Tebing dan deretan bukit itu, dengan hamparan sawah menghijau itu, sebenarnya sudah lama terdengar kemahsyurannya. Ya, Rammang – rammang pun merupakan tempat suaka yang cukup diminati oleh kawan-kawan saya, kawan yang saya kenal berwatak bebas, tak senang otoritas, sukanya hal baru dan jalan-jalan. Informasi dan bisik-bisik tentang Rammang-rammang seperti berlalu lintas, beberapa kali saya diajak, tapi saya tidak sempat dan kadang juga saya tidak mau. Saya berfikir, Rammang-Rammang sama saja dengan pemandangan yang hampir tiap hari saya lihat di Maros, yaitu bukit-bukit, deretean tebing.

Pada Sabtu, 23 Agustus 2014, saya kembali diajak oleh junior-junior di koran kampus-identitas Unhas untuk mengunjungi Rammang-Rammang. Pada hari itu, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya kerjakan atau ingin saya pelajari, tapi karena seliweran informasi sebelumnya yang menggiur, maka saya pun dengan sedikit enggan mengiyakan. Tapi, motivasi mendasar saya adalah untuk memperlebar penghayatan saya terhadap alam, yang sebelumnya telah saya pupuk pelan-pelan ketika berjalan-jalan di kampus Unhas, saban pagi.

Berangkatlah kami bertujuh, saya, Ria, Fadli, Heri, Latif, Diana, dan menyusul Eca yang berangkat dari rumahnya di Sudiang. Kami menempuh sekitar lebih dari 30 kilometer dari Tamalanrea ke Maros Utara, tepatnya pada jalur masuk ke lokasi eksplorasi Semen Bosowa. Tak jauh dari jalur masuk Bosowa, kami berhenti di dekat jembatan dan melihat sungai dangkal yang terdapat batu besar. Batu itu bukanlah batu sungai, tapi merupakan bagian dari batu tebing, yang mungkin dahulu terlempar oleh letusan gunung, ataukah terderet arus kencang pada saat sebagian besar daratan Maros terendam air pada masa pencairan es (glasial), ataukah batu-batu itu telah terkikis oleh masa dan air, dan yang tersisa hanya potongan-potongan kecil, yang jika dibandingkan dengan tebing-tebing kars itu.



Kami bertujuh sepakat untuk menyewa perahu jolloro, untuk mengantar kami menuju lebih dekat ke deretan tebing. Kami pun dengan girang masuk dan duduk di atas perahu, ponsel kami lebih sibuk dibandingkan kami-nya sendiri, hahaha.. Latif mengabadikan-merekam perjalanan dari depan, ria sibuk meminta Heri untuk memotret dirinya yang lagi duduk manis di pangkal perahu, Eca yang badannya agak bongsor itu bergerak-gerak sesuai arah kameranya dan membuat perahu bergoyang, pada perjalanan itu, saya pun sesekali berdiri di atas perahu, melihat lebih tinggi pada tebing-tebing itu, gua-gua yang hitam dan misterius, serta deretan nipa dan bakau di sisi kiri-kanan sungai.



Saya membayangkan sungai itu, bagaimanakah dahulu sungai ini, sejak kapan sungai ini terbentuk? Dari yang saya dengar dari pakar kars, mengatakan bahwa gunung kars yang strukturnya berupa batu kapur itu punya kemampuan untuk menyimpan air. Sehingga, saat hujan turun di atas pegunungan kars, bulir-bulir airnya meresap masuk melalui pori-pori gunung, entah itu telah dilapisi tanah atau masih berupa padatan batu keras nan berlubang. Air bergerak melalui cela-cela dalam gunung, hingga tiba di telaga ataukah tertampung pada suatu tempat di dalam gunung itu sendiri, yang mungkin kita akan temukan ketika kita mencoba menelusuri gua-guanya. Saya yakin, sungai ini, yang airnya tampak abadi ini, juga bersumber dari mata air yang keluar dari gunung.

Air yang kami lalui itu, eh, kumpulan H­2O yang kami melaju di atasnya itu, saya jilati dan terasa asin. Tingkat keasinannya sedang atau payau. Berarti cukup kuat air laut masuk ke sungai kecil itu, dan saat itu air sedang surut, jika air pasang dapat dipastikan bahwa kadar garam akan meninggi seiring bertambahnya NaCl yang bergumul dari laut. tapi, orang-orang kimia yang tiba-tiba mereduksi air menjadi H2O itu apakah memikirkan bagaimana kaitan antara struktur dasar air itu, warnanya yang hijau, airnya yang asin, ikan-ikan yang menangkap oksigen atau kita yang awam sebut sebagai udara itu di dalam air? Terus bagaimana perahu kita dapat begitu gampang mengapung dan kita berdelapan dapat dengan aman duduk-duduk di atasnya?

Pertautan-pertautan itu menimbulkan ‘tremendum et fascinosum’, yaitu rasa getar pada misteri, menakutkan dan memesona. Tapi saya tak yakin, kita manusia modern terlalu sibuk mengurus-urusi hal-hal yang partikular. Kita mulai melakukan penyelidikan hingga ke dasar dan misteri itupun tersingkap. Kita pun akhirnya kagum dan puas, setelah itu rasa pesona memudar. Kita tak lagi menaruh rasa hormat pada air sebagai sesuatu yang suci. Kita sejak kecil mulai diperkenalkan oleh guru-guru kimia kita, bahwa air itu adalah H2O.



Dengan jiwa anak-anak saya, dengan jiwa hewaniah saya, mulai mengamat-amati tanah-tanah basah di antara pepohonan nipah (Nypa), mulai melihat-lihat tumbuhan bakau (Rhizophora sp) yang beradaptasi dengan air dan lumpur, dengan akar yang melengkung dan seperti mengangkat tumit, akarnya yang naik itu memiliki kemampuan untuk mengeluarkan garam. Nipa dan bakau, serta sesekali saya melihat pohon api-api (Avicennia) merupakan tumbuhan mangrove sejati, yang relatif terisolasi secara taksonomi dari komunitas daratan. Keberadaan mangrove di sisi-sisi sungai itu, tentunya berperan penting untuk keberlangsungan ekosistem di kawasan estuari tersebut, mangrove menjadi salah satu bagian yang menghidup-hidupi keseluruhan sistem. Pada mangrove-lah hewan-hewan biasa berteduh dan mencari makan, di sini siklus hidup berlangsung, ikan besar memakan ikan kecil, kepiting mencari ikan dan udang, udang mencari plankton, tiram-tiram mencari unsur hara, zooplankton mencari phitoplankton. Dan akar-akar mangrove menstabilkan kualitas air, menetralisir atau menstabilkan bahan-bahan yang berlebihan seperti nitrogen dan phospat, menghasilkan udara yang segar karena mangrove juga bernafas dan mengeluarkan oksigen, menahan lumpur agar tak jauh ke dalam.

Ah, saya tampaknya telah membahas terlalu jauh, tapi saya senang melihat buah bakau yang panjang dan mirip kacang panjang itu bergelantungan di ranting-ranting bakau. Saya pun senang menikmati dan memikirkan kompleksitas ini, kompelksitas antara bebatuan, air, tumbuhan dan hewan-hewan, yang diramu oleh kesadaran manusia yang melihatnya. Manusia yang dalam paradigma ilmu pengetahuan empirik dianggap juga sebagai hewan, hewan yang berfikir, Homo rationale. Tapi bagaimana kah kaitan antar ini semua? Kaitan antar entitas-entitas yang berbeda tingkatan, kualitas atau eksistensinya.

Batu, air, tanah, serta unsur-unsur di dalamnya adalah benda mati atau pelikan, ia sepenuhnya dipengaruhi oleh dunia luar-eksternal. Sehingga sangat determinan atau sesuai dengan hukum kausalitas ilmiah. Batu tak punya daya untuk berkembang, air tak punya daya untuk tumbuh, bergerak sesuai keinginan dari dalam, serta tanah hanyalah kumpulan dan rangkaian unsur-unsur yang saling bertaut, tempat nutrien tempat tumbuhan memperoleh makanan. Sementara tumbuhan, dari dalam dirinya terdapat potensi untuk tumbuh, hingga berbuah, dan buah itu kembali menebar benih baru. Pada tumbuhan terhadap unsur hidup yang tak terjelaskan. Reaksi-reaksi kimia dan fisika tak cukup menjelaskan fenomena pergerakan dan pertambahan ukuran pada tumbuhan. Dimana tumbuhan selalu bergerak mengikuti matahari, walau pergerakannya sangat perlahan dan tentu, metabolisme dalam tubuhnya sangat perlahan.

Bagaimana pula dengan hewan, umur hewan tak selama tumbuhan-tumbuhan kayu itu. Sebab proses-proses dalam tubuh hewan (metabolisme) bergerak demikian cepat. Tapi, pada diri hewan, telah dikaruniai kemampuan untuk bergerak sesuai kehendak dan selera, tapi masih dibatasi oleh naluri memangsa atau menghindari pemangsa. Hewan telah memiliki kesadaran atau kognisi, tapi masih demikian kabur. Mereka sadar bahwa ada organisme atau entitas lain di sekitarnya, melalui persepsinya, perasaan, intuisi dan panca indranya. Namun, hanya sebatas itu saja kesadarannya. Hewan tak pernah berfikir untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan-kebuntuan dan mengatasi problem-problem alam dengan lebih kreatif. Mereka seperti dikaruniai alam untuk mengambil apa saja yang ada di alam. Nah, ketika makanannya sudah tidak ada di alam, atau mereka kesulitan mengikuti tradisi atau kesadaran nalurinya, mereka pun tersingkir dan punah.

Lantas, manusia, menurut E. F. Schumacher, filsuf kontemporer Inggris, manusia adalah kesatuan antara itu semua, di dalam diri manusia, terdapat unsur mati (fisika, kimia-eter), sifat tumbuhan (astral-biologi), sifat hewan (jiwa-cognition), dan kesadaran (ruh-conciousness). Pada manusia terdapat kesadaran akan dirinya, akan potensi dirinya, akan kecemasan-ketakutannya, akan rasa, gairah dan bahagianya. Kesadaran akan sejarah (makna), masa kini (nilai), dan masa depan (maksud). Betul, manusia menempati posisi yang tinggi diantara susunan hirarkit, pelikan, tumbuhan, hewan, manusia. tapi justru karena itulah, maka manusia harus menghormati entitas-entitas lainnya. Manusia harus bersyukur diberkahi oleh sesuatu yang paling halus dari entitas-entitas yang lain (kekuatan di dalam-batin), dan manusia memiliki kemampuan untuk memperkuat potensi batin itu melalui proses belajar (pendidikan), melalui tradisi, budaya, ajaran moral dan agama. Dengan kesadarannya itu, semestinya manusia dapat lebih sadar terhadap lingkungan, sadar bahwa pada masing-masing spesies dan alam memiliki nilai intrinsik dalam dirinya dan diperlakukan dengan sebaik mungkin. Dalam kelembutan manusia, mampu melihat dan menghayati hal-hal yang abstrak dan kasar pada mahluk lain. Sementara mahluk lain hanya dapat mengetahui, tapi tak mampu menghayalkan kita sejauh kita menghayalkan mereka.  

Tampaknya sudah terlalu jauh, pada perjalanan itu, kami singgah dan mendaki - menurun hingga tiba di telaga bidadari. Air jernih dan segar terkumpul pada telaga itu. Peluh kami pun terlepas dan teroksidasi oleh angin. Ada rasa bebas yang kami rasakan. Begitu halnya ketika kami tiba di Desa Berue’, kami dikelilingi bukit, dengan hamparan sawah yang telah panen, dan kolam-kolam yang sedang istirahat memelihara ikan. Tak lama kami di sana, hanya berjalan-jalan di pematang, menghirup udara segar, mengambil gambar dan foto bareng, lalu kami kembali ke perahu.



Di perahu kami berdiam diri, kami tampak merenung-renung, menghayal, sebagian teman tertidur. Dan dalam benak saya terlintas senyumannya. Dan membayangkan dia ada di sampingku, menemaniku ke desa itu, ke telaga itu.

Poncol, Jakarta Selatan
26 Agustus 2014

Idham Malik 

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP