Minggu, 17 Mei 2015

Hari Buku Nasional

Hari ini ternyata hari buku nasional, saya baru tahu. Saya tahu setelah melihat-lihat dinding facebook, yang tampaknya ramai diumbar, seperti halnya iklan mobil, iklan obat, iklan madu, iklan lipstik, iklan jilbab yang berjibaku mencari perhatian. Facebook pun menjadi jajanan untuk mengingatkan kita banyak hal, tentang peristiwa-peristiwa yang teman-teman alami, yang teman-teman pikirkan, termasuk pikiran-pikiran tentang Hari Buku Nasional. Meski facebook-lah saat ini yang mesti diwaspadai demi menjaga intensi kita pada sebuah buku, karena era facebook turut berkontribusi dalam membuka era ketakseriusan, era kedangkalan.
Tentu, sebagai seorang pengumpul buku dan termasuk dalam ordo pemamah biak buku, dan kadang-kadang kebingungan dalam banyak hal juga merasakan bahagia dengan adanya hari buku ini. Sebab, telah mengingatkan saya, tentang bagaimana pemerintah orde baru mengatur bacaan-bacaan kita, mengatur selera kita tentang apa yang disebut bacaan yang baik, sastra yang bermutu, dan bagaimana karya jurnalistik yang bebas itu harus pula bertanggungjawab. Bagaimana Orde Baru dengan keras melarang pencetakan karya-karya Pramodya Ananta Toer. Bagaimana Orde Baru menjauhkan kita pada bacaan-bacaan bermutu, termasuk hasil kajian Cornell University tentang siapa dalang di balik peristiwa 1965. Bagaimana Orde Baru, dengan sistematiknya melenyapkan Sastrawan Wiji Tukul dari peredaran wacana, setelah puisi "Jika Kami Bunga, Engkau adalah tembok itu" menggetarkan para aktivis kala itu.

                       Foto : istimewa

Hari Buku Nasional ditetapkan pada 17 Mei oleh Malik Fajar pada 2010 lalu, kenapa tanggal 17 Mei?Karena bertepatan dengan berdirinya perpustakaan nasional (Perpunas) pada 17 Mei 1980. Tahun antiklimaks gejolak perjuangan mahasiswa pada satu dasawarsa sebelumnya. Dimulai pada 1970, dimana mahasiswa membentuk Komite Anti Korupsi (KAK), sebagai respon terhadap tidak becusnya tim-tim yang dibentuk pemerintah Oder Baru, dilanjutkan pada Mei 1971, dimana mahasiswa mendorong munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) menentang model politik praktis yang memenangkan Golkar pada pemilu 1972. Pada tahun 1972, mahasiswa menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang telah menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut. Aksi-aksi penentangan ini memuncak pada 1974, tepatnya pada 15 Januari 1974, dimana mahasiswa menentang kehadiran PM Jepang Kakue Tanaka, menentang dominasi modal Jepang terhadap pembangunan di Indonesia.
Akibat dari peristiwa-peristiwa itu, tahun 1975 - 1976, aksi-aksi mahasiswa meredup, lantaran kehidupan kemahasiswaan disibukkan oleh kegiatan rutin mahasiswa, yang dimulai dari Ospek-penerimaan mahasiswa baru, bakti sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, dan wisuda sarjana. Energi mahasiswa banyak disibukkan dengan kegiatan internal kampus. Tahun 1977, mahasiswa kembali bergejolak menjelang Pemilu 1977, namun aksi-aksi mahasiswa yang menuntut perbaikan sistem pengelolaan negara, mengecam ketidakbecusan pengelolaan pemilu, menggugat strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional, yang berbuntut pendudukan militer atas kampus dan sebagian raib di terali besi.
Pangkal dari itu semua adalah dicanangkannya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK)/Badan Koordinasi Kemahsiswaan (BKK) secara sepihak oleh pemerintah berdasarkan SK No.0156/U/1978. Pada 1979, Menteri Daoed Yusuf kebijakan tersebut mulai dijalankan dengan mengarahkan mahasiswa untuk fokus pada kegiatan-kegiatan akademik dan mulai menjauhkan mahasiswa dari aktivitas politik. Bersama dengan itu, Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan terhadap Lembaga Dewan Mahasiswa, yang digantinya dengan struktur baru yang disebutnya Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK), berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979.
Berbarengan dengan upaya penormalan kegiatan kampus, Perpustakaan Nasional dibangun pada 17 Mei 1980, para pelajar diajak untuk duduk-duduk di perpustakaan nasional yang senyap dan nyaman, membaca sajak suasana, sajak pesona, membaca cerpen-cerpen yang meninabobokkan kita pada keindahan alam, atau keindahan sosok manusia, namun menjauhkan kita pada riuh politik dan penegakan keadilan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Meski begitu, alasan Menteri Pendidikan Malik Fajar mencanangkan Hari Buku Nasional, pertimbangannya rasional. Dengan adanya hari buku, akan memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku.

Sumber : sejarah pergerakan mahasiswa dari wikipedia.

Makassar, 17 Mei 2015

Read more...

Jumat, 08 Mei 2015

Membedah Alam, Membedah Kehidupan

Beragam cara untuk membuat kita hanyut dalam ketidakpahaman terhadap alam. Meski kitalah yang sedang gembor-gembornya menyebut diri kita hero dalam hal tersebut. Ya, kita memang tahu banyak hal tentang alam, tentang spesies-spesies yang mungil dan menakutkan. Tapi, kita tak benar-benar tahu atau sengaja mengelak untuk tahu bahwa yang kita lakukan itu barangkali hanyalah kamuflase, hanyalah bayang-bayang yang dikejar semakin jauh dan tak akan pernah kita temukan.

Kita mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan teknis kita. Membicarakan alam berdasarkan kalkulasi, hitung-hitungan, persentase, target, tanpa sedikit pun sentuhan batin. Kita dapat dengan santai mengurai alam dengan angka-angka sambil bergurau, merasakan kenikmatan melihat orang-orang sekitar kita kebingungan dan mengantuk dengan angka-angka itu.



Segala sesuatu yang berasal dari luar pengetahuan teknis dan di luar pengalaman ilmiah kita, ditolak. Entah karena tidak dapat diukur, buang-buang waktu, atau tidak menunjukkan progress yang konkrit. Misalnya, berurusan dengan manusia, orang lokal, komunitas adalah tindakan yang mengulur-ulur waktu dan membuang tenaga. Hal tersebut pun menjadi urusan pihak lain, misalnya diperuntukkan bagi mereka yang tertarik dengan ilmu sosial, itu pun dengan harapan bahwa ilmu sosial juga dapat dikalkulasi.

Pengetahuan itu kita peroleh dengan susah payah di bangku sekolah dan kuliah, pengetahuan itu ibarat martil yang kita bentuk jauh dini hari, yang tujuannya untuk memukul paku pada dinding-dinding. Pengetahuan itu kita peroleh dengan dana yang besar, dengan sponsor yang tak tanggung-tanggung. Kita pun dengan tekun mempelajarinya, dengan harapan yang sangat besar bahwa dengan modal pengetahuan itu, kita dapat hidup sejahtera dan nyaman. Meski sebenarnya dengan pengetahuan itu, justru dapat menimbulkan ketidaknyaman pada kita. kenapa? Karena dengan pengetahuan itu kita melihat persoalan yang demikian besar, yang harus segera ditangani agar kerusakan alam tidak semakin meluas dan membesar. Pengetahuan mestinya membuat kita bersedih, bukan membuat kita tertawa terbahak-bahak.      

Pengetahuan itu merasuk dalam diri kita sebagai metode untuk membedah permasalahan, menganalisa, dan mencari solusinya. Pemecahan yang kita tawarkan adalah pemecahan teknis, karena kita menganggap diri kita adalah orang teknis. Sejauh kita telah menawarkan solusi teknis, sejauh itulah perjuangan kita. Kita merasa bebas ketika kita telah mengerjakan tugas ilmiah, dan mulai mengerjakan tugas ilmiah yang baru lagi. Ketika terjadi kerusakan lingkungan di sekitar kita, kita tutup mata, karena menganggap itu bukan tugas kita, bukan keahlian kita. Kita memikirkan suatu persoalan ketika kita ditugaskan untuk memikirkan hal itu, bukan karena keinginan kita sendiri untuk tahu, untuk berbuat mengatasi persoalan tersebut. 

Lantas, persoalan lingkungan yang mungkin kita temui di keseharian itu tidak merasuk ke sanubari, lagi-lagi karena bukan tugas kita. Kita merasa tidak terlibat, kita merasa jauh, kita tidak dekat dengan orang-orang yang berurusan langsung dengan persoalan tersebut. Pun, jika kita dengan terpaksa harus terlibat pada persoalan tersebut, kemampuan kita hanya dengan membedahnya, menganalisanya, seperti anak kecil yang belajar biologi membedah reptil, memotong-motong organ tubuh reptil tersebut dengan dingin.

Kita pun secara tidak sadar menyetujui ketidakinginan kita untuk memahami keterkaitan dalam totalitas, memikirkan lingkungan dengan mencoba melampaui batas horizon kita, melewati cabang-cabang keilmuan kita. Padahal, permasalahan selalu melampaui kemampuan keilmuwan kita untuk memecahkannya. Permasalahan lebih kompleks, disebabkan oleh banyak faktor, yang tidak terduga, dan kadang-kadang disebabkan bukan oleh faktor teknis, tapi non teknis yang selalu saja sulit kita kendalikan, misalnya karena faktor politik, sosial, budaya, dan ekonomi (eksploitasi Sumberdaya Alam). Jika berkenaan dengan itu, kita pun mulai menghindar, lagi-lagi karena merasa hal itu bukan dunia yang kita kenal dan kita kuasai. Kita pun mengidentifkasi diri kita berdasarkan kemampuan kita bekerja dengan menggunakan alat, metode (ilmu pengetahuan), bukan berdasarkan ideologi atau pun nilai-nilai yang kita anut. Bukan karena dorongan hati yang kuat untuk melawan penindasan terhadap alam. Kita sejatinya adalah intelektual pekerja atau Intelektual worker.

Kita adalah pekerja yang patuh mengikuti prosedur yang telah digariskan oleh perusahaan. Logika perusahaan pun singkron dengan logika saintifik kita, yaitu berbasis rencana, terukur, kalkulasi, hitung menghitung. Selain itu, perusahaan pun memandang kita sebagai objek, dengan cara memanjakan kita dengan beragam fasilitas, dengan beragam agenda liburan, perusahaan pun memberi reward/penghargaan bagi mereka yang berhasil mencapai target. Perusahaan memberi makan rohani kita dengan fasilitas-fasilitas mewah dengan harapan kita dapat produktif. Padahal, kemewahan adalah awal dari bencana, gaya hidup adalah bencana terbesar jika berbicara tentang lingkungan. Kerusakan lingkungan dimotori oleh semangat kita-manusia untuk memproduksi, lantaran nafsu konsumsi kita yang semakin besar. Semakin banyak produksi dan konsumsi berarti semakin banyak sampah, semakin banyak sumberdaya alam yang dikeruk.     

Kita menikmati kemewahan tersebut, tanpa bertanya-tanya sedikit pun tentang apa tujuan dari kemewahan itu. Kita makan sepuasnya, kita berkeliling dunia, mengunjungi tempat-tempat yang indah dan memamerkan ke orang lain bahwa kita pintar dan bisa kemana-mana. Karena saking seringnya bersenang-senang, kita pun mulai malas memikirkan hal-hal yang mungkin akan menggugah kita, misalnya perusakan lingkungan oleh perusahaan, hilangnya akses masayarakat akan hutan, menghilangnya keanekaragaman hayati, dan lain-lain. Kita menguar-nguar perbincangan-perbincangan yang sepele, seakan-akan tidak ada lagi perbincangan yang serius, yang butuh diperhatikan. Kita pun mulai memisahkan bahwa perbincangan serius, tentang kemiskinan, tentang kejahatan, tentang penegakan keadilan, tentang nasib hewan-hewan, adalah urusan pekerjaan, sementara sehari-hari kita hanya berbincang tentang tingkah laku teman-teman, tentang makanan, dan tentang tempat-tempat yang indah.

Kita mengandaikan diri kita seperti sekrup, yang dimana kita hanya menjadi bagian untuk menghidupkan mesin secara keseluruhan. Kita menjadi sangat hebat sebagai sekrup, sebagai sekrup yang baik, patuh, dan lucu. Namun, untuk mencoba menginisiasi diri kita untuk sekadar peduli organ lain, kita emoh. Kita tak mau bersusah-susah payah untuk belajar ulang, minimal mengerti baik-baik persoalan dengan beragam sudut pandang.  Parahnya lagi, jika kita bergerak, kita berbicara, kita hidup hanya jika ada materi. Kita berjalan dan bernafas bukan lagi karena kita ingin bergerak untuk melakukan sesuatu, kita berlari tidak lagi seperti jawaban Forest Gump, bahwa saya berlari karena ingin berlari saja. Simple. Sederhana.

Kita pun selalu mengklaim bahwa pengetahuan adalah netral, tugas kita hanya menghasilkannya, entah pengetahuan itu tujuannya digunakan untuk apa? kita masa bodoh tentang hal itu. Ilmu Pengetahuan itu tidaklah netral, ilmuwan pun tidak pernah netral, ketika seorang ilmuwan diam-diam saja melihat penyelewengan di depan matanya, berarti ilmuwan itu telah membiarkan penindasan terjadi, dan secara tidak langsung  ilmuwan itu mendukung penindasan tersebut.

Akhirnya, kita hanya membesarkan diri kita sendiri, membesarkan kemampuan kita untuk membedah alam, mengkoyak-koyak mereka dengan kata-kata cerdas kita. Alam tak mengerti, orang umum tak mengerti, dan kita pun berada di atas angin, seperti sampah yang terapung oleh angin beliung.

**

Saya pun membayangkan diri saya ikut terpenjara, justru karena rasa ingin tahu saya tentang yang lain. Pengetahuan tentang penggalian pertanyaan kenapa? Kita selalu berbicara tentang “bagaimana”, tentang strategi, tentang metode untuk menguasai, untuk mengajak, untuk bertempur. Kita seperti berada di medan tempur yang harus bisa bernegosiasi dengan pedagang, dengan tuan-tuan, dengan gaya yang ‘eye cathing’. Kita pun akhirnya kembali mengapung-apung dalam ruang tanpa eksistensi, kita hanya bergerak berdasarkan akal pikiran kita yang instrumental.

Saya menduga, ini terjadi karena ada sesuatu yang luar biasa besar menimpa kita, sesuatu yang tak dapat kita hindari, dan kita juga hidup dan turut menghisap dan terhisap dari situ. Kekuatan ini telah menyetir kita sejak dahulu kala, yang ditanamkan di sekolah-sekolah kita, dan juga dalam iklan-iklan di televisi, dan media massa. Kekuatan ini membentuk cara berfikir kita sejak dahulu, yaitu cara berfikir hitung-menghitung, cara berfikir kalkulasi.  

Kekuatan itu adalah modal, gaya gravitasinya demikian kuat, membuat kita manut-manut, dan akhirnya menyerahkan diri kita, serta segala kemampuan teknis kita untuk dikendalikan oleh modal. Modal itu buta, dan menggilas kita tanpa perlawanan sedikit pun. Modal menguasai kita hingga lubang-lubang terpencil kita. Barangkali, kalau kita mencoba untuk mengelak dari modal, kita akan segera terpental, dan previlese yang kita nikmati sejauh ini akan menghilang tiba-tiba.

Modal-lah yang mengontrol kita dan menentukan cara berfikir kita tentang bagaimana menyikapi alam ini. Modal pula lah yang menuntut kita untuk tidak pusing dengan modal, karena dengan modal kita dapat hidup layak dan melimpah.       

Meski begitu, kita dapat mengantisipasi modal ini, karena manusia secara kodrati punya kebebasan untuk bertindak. Manusia bisa saja dituntut oleh modal, tapi kenyataannya dia bisa melakukan hal-hal yang menurutnya baik, dengan mengakomodir modal di satu sisi, tapi tidak menafikan nilai-nilai yang telah ia pegang. Manusia adalah mahluk yang bebas untuk bergerak sesuai tuntutan nilai-nilai yang dia yakini. Manusia adalah mahluk berbudaya, yang mendasari hakikatnya pada kesadaran, pada cinta kasih, moralitas, etika, dan kebersamaan. Ada yang mengatakan bahwa keunggulan seseorang dinilai dari kebaikan nilai-nilainya, keberpihakannya pada yang lemah, setelah itu adalah kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Dapatkah kita membebaskan dari kuasa modal ini? Tentu akan sangat sulit untuk melepaskan jerat modal, sebab dalam hidup kita selalu membutuhkan modal. Tapi, kita dapat mengendalikan gaya hidup kita, dengan gaya hidup sederhana dan tidak menggantungkan diri kita pada materi. Hidup kita menjadi berharga bukan karena kita memiliki modal yang banyak, tapi karena nilai-nilai kita yang melimpah, nilai-nilai yang menuntun kita untuk saling menghormati, menghargai sesama manusia dan sesama mahluk di alam ini. Dengan hidup sederhana, kita pun dapat bersahabat dengan alam. Sebab alam akan memenuhi kebutuhan kita yang sederhana itu, tapi tidak dapat memenuhi keinginan atau keserakahan manusia, begitu pendakuan murni dari Mahatma Gandi. Kita pun dapat paham tentang nilai-nilai ini dengan membuka diri kita pada ajaran-ajaran agama, budaya, sejarah, serta dengan rajin membaca sastra serta filsafat, agar kita dapat menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang prihatin terhadap sesamanya dan terhadap alam.

Saya tidak tahu tulisan ini harus saya selesaikan dengan cara apa, tapi saya sadar bahwa bisa saja saya keliru dalam menuangkan pikiran, bisa saja pikiran sayalah yang jahat. Tapi, setidaknya saya sudah berani berfikir, seperti kata Immanuel Kant, Sapere  aude, beranilah berfikir mandiri.


Warkop Daeng Boss, Makassar
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                    6 Mei 2015

Read more...

Rabu, 22 April 2015

Hari Bumi

Tak usah terlalu serius tentang hari bumi. Hari bumi yang dicanangkan oleh seorang pengajar lingkungan hidup asal Amerika Serikat yang bernama Gaylord Nelson pada 1970 itu memang menggugah, tapi tak cukup dahsyat untuk memperbaiki bumi. Hari bumi pun hanya dirayakan sporadis, menjadi ocehan singkat dan kemudian terlupakan.



Hari bumi pun kadang hanya menjadi etalase, arena para perusak bumi untuk sesekali berbaik hati dengan membagikan bibit pohon, namun pada hari-hari yang lain menebang pohon dewasa, membakar lahan, mengatur kawasan hutan menjadikannya berhak atas pengelolaan hutan, merampas tanah para warga yang sejauh ini kurang memperoleh perlindungan hukum atas tanah mereka sendiri.
Hari bumi pun menjadi alasan sekelompok orang untuk bersimpati, meski dasarnya mereka hanya linglung menghadapi kemerosotan bumi, yang selama ini mereka sedot madunya hingga ludes. Hari bumi adalah kompromi, hari bumi adalah hari peringatan bagi mereka sendiri untuk dapat bertahan di tengah berkurangnya sumberdaya alam yang dapat mereka keruk untuk mempertahankan gaya hidup modern mereka.
Kita tak perlu terlalu serius memperingati hari bumi, karena dari kecil sebenarnya kita sudah mencintainya dengan sangat. Kita sudah merasakan bau tanahnya sejak kita dengan girang bermain orang-orangan dari tanah, manjat-manjat pohon, bermain air di sungai, menjelajah bukit, berlari-larian di sawah, menanam ubi kayu, menangkap ikan, dan sebagainya.
Lalu, sejak kapan kah kita mulai jauh dari bumi? Apakah sejak kita mempelajari ilmu biologi, kita meringkas bumi dengan defenisi-defenisi, kita meringkusnya dengan istilah-istilah. Kita mulai belajar membedah hewan-hewan, dengan senyum lebar dan tanpa takut. Tubuh kita kian besar, kita pun mulai menangkap hewan-hewan yang besar juga, hewan yang kita anggap lucu dan menyeramkan, seperti memelihara ular, biawak, dan mungkin buaya. Kita menganggap itu sebagai penghormatan terhadap ular, padahal itulah bentuk penindasan dalam bentuknya yang paling halus.
Apalagi ketika kita mulai mengenal nikmatnya uang, rasa cinta kita terhadap bumi memudar dan lebih mencintai uang. Dengan uang kita dapat melakukan banyak hal, termasuk membeli ular, membeli kelinci, dan mungkin memainkan ular-ular kita dalam gua orang tanpa takut. Uang menjadi yang utama, bumi pun hanya menjadi urusan masa lalu, urusan masa kecil kita.
bumi nampak dalam hati kita, hanya untuk menghibur hati kita yang galau, karena bisnis kita terhambat, lantaran nasib kita yang kurang beruntung dalam pergaulan dunia, dengan begitu kita melampiaskannya dengan pergi melihat-lihat alam. Meskipun kadang-kadang alam yang kita datangi itu adalah bumi yang telah dipermak, dengan beragam gaya arsitektural, dengan begitu banyak kamuflase, dengan batu-batu yang palsu, pohon-pohon kerdil, air-air yang telah ditaburi kaporit.
Untuk itu, sebaiknya hari bumi kita lupakan saja, mending kita merayakan hari uang, idaman kita semua. Sepakat?

Read more...

Senin, 30 Maret 2015

Gravitasi Kata-Kata Aslan Abidin

Aslan Abidin, penyair angkatan abad 21, kembali mempesona peserta Sekolah Menulis Kreatif, membuatnya termangu-mangu di halaman belakang Kantor Sulawesi Community Foundation (SCF), Sabtu, 28 Maret 2015. Penyair yang selalu menggunakan langgam tubuh sebagai mediasi kritik politik maupun sekadar berliris-liris ria dengan wawasan dunia, memulai materi “Trik Menggoda Pembaca” dengan lugas sore itu, meski diakhir materi lebih banyak bercanda dengan nada ironi yang khas.

                           Foto : Irmawati-imhe

Bagaimana menggoda pembaca atau menjadikan karya kita dapat dilahap hingga tuntas oleh pembaca? Inilah pokok permasalahan yang dibahas Aslan di hadapan sepuluh peserta yang semuanya masih berstatus mahasiswa itu. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah target dari tulisan kita atau kita menginginkan tulisan kita dibaca oleh siapa dan tujuannya apa? Namun, hal ini kembali menimbulkan soal, ketika tulisan kita diperhadapkan oleh pertanyaan lanjutan, “Untuk apa Saya membaca tulisan Anda? Apa untungnya Saya menghabiskan waktu untuk membaca tulisan Anda?   

Pertanyaan ini tentu sangat mengusik pikiran, karena sebuah tulisan tidak hanya permainan kata dengan kata saja, tapi juga memuat gagasan, nah, apakah gagasan yang termuat dalam tulisan itu betul-betul bernas, ataukah hanya berupa gagasan-gagasan dengan daya pikat yang rendah atau tidak menambah rasa kita, wawasan kita, dan tidak membuat kita yang membacanya menjadi lebih manusiawi, misalnya. “Sebuah tulisan adalah teknologi gagasan, yaitu kemampuan kita menuangkan gagasan yang kita temukan, lalu kita olah untuk menjawab beragam persoalan-persoalan yang ada di hadapan kita,” kata Aslan.

Untuk itu, tulisan yang baik berangkat dari temuan yang baik. Tentang temuan ini menimbulkan lagi persoalan, bagaimana kita mampu menemukan sesuatu yang tersebar di alam raya ini, untuk kita susun dan akhirnya dapat menjadi magnet, atau pusat perhatian, yang kemudian menjadi perhatian bersama, untuk segera diambil tindakan bersama. Sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki efek-dampak dalam dunia nyata.

Gagasan yang baik menurut Aslan selalu bersifat realistis, yaitu menemukan jawaban antara gap Das sein dan Das solen, antara sesuatu yang kongkrit atau sedang terjadi dan yang semestinya atau normatif. Tentang Das solen, tentu masing-masing penulis memiliki nilai-nilai ideal tersendiri terhadap suatu peristiwa atau fenomena. Meski begitu, setiap penulis sebaiknya mengasah kemampuannya untuk menemukan das solen yang tepat, yang kontekstual, yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Salah satu kriteria untuk menilai kualitas suatu tulisan, yaitu dengan melihat relevansi das solen yang ia pilih untuk menjawab das sein yang ia persoalkan. Relevansi das solen juga Aslan sebut sebagai perspektif, dimana terdapat begitu banyak perspektif terhadap suatu fenomena.

Hal ini Aslan contohkan dengan pertanyaan : Kenapa mahasiswa saat ini kesulitan dalam menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan? Jawaban pertanyaan ini bisa beragam, seperti; 1) Pengaruh budaya televisi terhadap kemampuan daya pikir mahasiswa, 2) Mahasiswa mengalami kesulitan secara kognitif sejak dari sekolah dasar, 3) mahasiswa mengalami lompatan dari budaya lisan menuju konsumtif informasi, dan melewati budaya tulisan, 4) mahasiswa ditakdirkan bodoh oleh tuhan karena malas membaca buku, dll. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah gagasan utama untuk menjawab persoalan. Sejauh mana seorang penulis untuk meyakinkan pembaca terhadap gagasannya, dimana pembaca tidak mengalami kebosanan untuk membaca dari judul hingga akhir tulisan.      

Lalu, bagaimanakah tulisan yang memuat temuan, yang terdiri atas temuan utama yang dirangkai dengan temuan-temuan pendukung itu dapat dinikmati oleh pembaca? Ini membutuhkan strategi, yang disebut strategi menyusun kata, karena tulisan bukanlah mesin yang otomatis dan statis, tapi tulisan adalah hasil olah jiwa yang memiliki unsur keindahan atau seni. Tulisan haruslah indah, yang dapat pula dibahasakan sebagai sesuatu yang kreatif. Kreatif selalu melibatkan imajinasi, yang penuh dengan lompatan-lompatan kata yang dahsyat, kata-kata kreatif itu ditemukan oleh seorang penulis tentu sangat tergantung dari daya imajinatif seorang penulis, yang bahan bakunya diperoleh dari seberapa banyak bacaan bermutu yang ia lahap, bacaan-bacaan tersebut akan memasok variasi-variasi kata, variasi-variasi pemikiran, variasi-variasi bentuk dan pola, variasi-variasi metode dalam menyusun kalimat. Serta didukung oleh sensitivitas ia dalam melihat peristiwa lalu membahasakan ulang peristiwa itu dengan gaya dan ciri khasnya sendiri. Gaya yang ia temukan setelah berjuang keras dengan mencontoh penulis-penulis andalannya, dan akhirnya menemukan gayanya tersendiri.

Tentang hal ini, Aslan pernah berkata, “Memang betul tulisan Anda dipengaruhi oleh penulis tertentu, tapi coba Anda membaca banyak buku dengan banyak pemikiran, tentu Anda akan dipengaruh oleh banyak penulis, dan pembaca akan kesulitan lagi melacak jejak penulis lain dalam tulisan Anda. Dan Akhirnya Anda akan menemukan gaya tulisan Anda sendiri”.

                         Foto : Irmawati-Imhe

Untuk itu, kami pun sepakat bahwa untuk menghasilkan tulisan yang baik membutuhkan kerja keras, belajar terus menerus, membaca buku sebanyak-banyaknya yang terkait dengan tema atau kelompok ilmu yang kita minati, menulis terus menerus, berdiskusi dengan orang-orang yang tepat dan punya minat yang sama, serta menemukan iklim atau lingkungan yang mendukung karir kepenulisan kita. Nah, setelah menempuh proses itu, kita pun akan lebih mudah menentukan perspektif, lebih mendalam dalam melihat peristiwa, dan punya tools atau alat yang beragam dalam membedah suatu persoalan. Tulisan kita pun akhirnya memiliki daya magnet atau gravitasi, sehingga, orang yang membaca tulisan kita merasa tidak sia-sia dan tidak membuang waktu.  

***

Materi Aslan pada hari itu disertai contoh-contoh, yaitu contoh tulisannya tentang “geng motor” serta tulisan seorang peserta bernama Al-Fian Dippahatang yang berjudul “Le Bon, Jiwa Bersama, Hukum Kesatuan dan Mental Kerumunan”. Cukup banyak waktu yang digunakan untuk membedah kedua tulisan tersebut. Dengan cara seperti itu, peserta mudah paham bagaimana suatu fenomena dipersoalkan, kemudian sudut pandang apa yang diangkat, dan bagaimana relevansi sudut pandang atau teori yang digunakan.

Misalnya dalam tulisan Geng Motor, Aslan banyak mengangkat data-data sejarah geng motor di dunia, yang disebutnya sebagai salah satu sumber keresahan purba dalam peradaban manusia. Selain itu, Aslan menggunakan data tambahan yang berasal dari sebuah film, yang juga memuat tentang geng motor. Pada tulisan Al Fian, Aslan menjelaskan tentang patahan-patahan informasi dalam paragraf, yang mestinya harus dijelaskan. Menurut Aslan, kekeliruan-kekeliruan seperti itu merupakan hal lumrah dalam tulisan. Karena kadang-kadang seorang penulis mengalami ekstase pasca menulis, sehingga lupa mengkoreksi lantaran menganggap tulisan yang sudah jadi itu sudah bermutu. Untuk itu, dianjurkan untuk dilakukan pembacaan ulang atau meminta pendapat penulis lain dan pembaca untuk mengkoreksi tulisan yang kita buat sebelum diumumkan ke publik.       

***

Materi Aslan Abidin sangat menarik, karena dibawakan dengan santai dan kadang-kadang terselip kata-kata satire tentang banyak hal. Terlepas dari itu, Kata-kata Aslan, baik dalam lisan maupun tulisan adalah jenis kata-kata “Politik Performatif”, yang menurut J.L. Austin, dalam teorinya tentang “tindak-bicara” (speech-act), merupakan tindak-bicara ilokusioner, yang bicaranya adalah juga sebagai tindakan, dimana kata adalah perbuatan, dan perbuatan adalah efek itu sendiri. Kata-kata Aslan Abidin adalah kata-kata yang ia temukan secara kreatif, dari hasil benturan-benturan antara dunia realistis yang ia pahami dengan budaya bugis-makassar, pandangan-pandangan umum, dan tidak luput tentang mistisisme agama, yang menurutnya selalu tidak relevan dalam dunia relistis kita sehari-hari atau biasa ia sebut sebagai ironi.

Salah satu ironi yang ia temukan adalah prilaku guru besar-guru besar di kampus yang tidak relevan dengan gaya dunia akademik yang ia pahami. Prilaku guru besar yang menurutnya rakus tapi malu-malu, seperti saat ujian akhir mahasiswa, yang dimana para guru besar lebih banyak mengomentari bingkisan mahasiswa di banding isi kepala mahasiswa itu sendiri. Begitu halnya mahasiswa, yang pada malam terakhir sebelum ujian, tidak lagi disibukkan untuk menyiapkan bahan ujian, tapi malah menyiapkan makanan dan bingkisan untuk para penguji. Menurut Aslan, dunia akademik kita masih berciri agraris, dimana dalam setiap tindakan atau pemberian, baik itu berupa materi mapun hasil ujian, selalu menuntut balasan, makanya, dalam kosa kata Bugis tidak ditemukan kata terimakasih. Ironi-ironi tentang dunia kampus itu ia tulisan dalam sebuah essai satire berjudul “Kampus Terlucu di Indonesia Timur”.

Itulah ironi Aslan yang tumpah sore itu, yang dimana materi berakhir secara defenitif pada pukul 21.00 Wita. Sebab, pasca materi yang resminya berakhir habis magrib, dilanjutkan lagi dengan diskusi-diskusi lepas yang jika tak diselesaikan secara tegas, tampaknya kita tidak tahu kapan berakhirnya. Hehe..        

Meski begitu, terdapat kesulitan pada kelas kali itu, yaitu kesulitan kita untuk membuatkan framing terhadap wawasan Aslan yang begitu luas, daya cerap dan tangkapan gagasannya yang tajam, atau dalam bahasa ilmiahnya memiliki karunia literasi yang melimpah.

Untuk itu, terimakasih atas materinya, dan mohon maat telah membuat Kak Aslan bersusah payah mencari alamat kelas menulis sore itu. Hehe.. sampai jumpa di kelas selanjutnya.

Idham Malik

Tamalanrea, 30 Maret 2015

Read more...

Senin, 23 Maret 2015

Ironi Politik dalam “Air Mata Darah”

Pada sadarnya, sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Atau kalau diartikan dalam bahasa latin menjadi poetic, suatu kebaruan. Walau pun mungkin hanya bersifat minimal atau semacam pengulangan-pengulangan yang kreatif. Pada sadarnya pula tak ada yang asli di dunia ini, kita selalu meniru, kita selalu menculik, kita selalu meminjam apa-apa yang sudah ada. Tapi, penemuan kita adalah ketika kata-kata yang lazim itu kita formulasi dan membuatnya menjadi bermakna. Tentang makna itu sendiri, dalam puisi tidak ada yang dapat mengklaim makna general, tapi setiap pembaca dapat memaknai sesukanya atau arbiter.

Sebuah puisi dapat memperkaya wawasan atau nurani kita akan makna, yang sumbernya berasal dari hubungan kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Ketika kata dengan kata itu menimbulkan efek makna, tanpa kita menghiraukan konteks, di situlah kekuatan sebuah puisi. Yaitu pada interteksnya.



Membaca puisi-puisi dalam buku mungil “air mata darah”, membuat kita untuk mengerti banyak hal. Paham tentang nilai-nilai, yang tampaknya dengan sengaja diselipkan oleh penulis pada sebagian besar sajaknya. Saya menduganya, karena penulis mengawali karirnya sebagai aktivis, lalu menjadi pedagang, kemudian menjadi sastrawan. Jadi, level-level itu, kadang-kadang menyetir pesan yang ingin disampaikan. Ia ingin mengutarakan sesuatu yang kritis, namun dengan cara puitis, begitulah kira-kira.

Coba kita simak puisi di bawah ini :

Bantaeng
Butta Toa julukanmu
Dimasa silam
Adamu sudah 759 tahun
Tapi kemanakah
Kami melacak ketuaanmu?
Sebagai alamat kematangan jiwa?
The New Bantaeng jargonmu
Bantaeng baru sloganmu
Di waktu kiwari
Banyak yang baru
Tapi apa guna kemasan baru
Jikalau insan kerdil yang melata di atasnya?

Saya mencoba membayangkan rasa dari puisi ini, dan saya menemukan rasa prihatin penulis, yang tidak lain adalah warga Bantaeng yang aktif. Pembaca yang bukan warga Bantaeng pun dapat merasakan paradoks-paradoks dari rententan teks puisi itu, yang maknanya dapat ditangkap secara general, bahwa sesuatu yang baru di Bantaeng belum tentu berguna bagi masyarakat kecil. Dan bertambahnya sebuah umur belum tentu membuat sebuah kota menjadi lebih dewasa. Kota diandaikan seperti tubuh yang punya umur, atau seperti kesadaran yang senantiasa berkembang. Selain itu, orang kecil selalu menjadi perhatian penulis, yang dimana mewakili jiwa aktivisnya. Orang kecil diandaikan melata di atasnya, orang kecil seperti semut-semut yang dengan mudah disingkirkan, baik oleh pembangunan atau atas nama perbaikan suatu kota. 

Contoh lainnya ada pada puisi berjudul "Baru" : Apa yang baru di tahun baru, jikalau masih mukim di rumah yang reot? ....... Lalu apa arti rumah, bagi perumah yang tak bahagia di rumahnya, di tahun baru yang selayaknya punya rumah baru? Tidak butuh petuah dari yang berkutat pada kuasa, jikalau pencoleng, pencopet, perampok, pencuri, dan pembakar rumah masih mengintai dengan selaksa ancaman....... Pada puisi ini, kita dihantar untuk mengerti persoalan pada sebuah kota, yang sedang berpesta tahun baru, namun di tahun baru itu, rumah dipersoalkan. Saya tak tahu, apakah rumah ini adalah rumah dalam artian harfiah, ataukah rumah jiwa, ataukah gabungan antara rumah harfiah dan rumah jiwa?  

Hal itu juga terasa dalam puisi "Ironi", meski awalnya kita mengira tentang pelajaran-pelajaran tentang alam, yang dimana peristiwa alam yang menggetarkan dan kita tak tahu lagi bagaimana hubungan sebab akibat di alam karena kian kompleksnya, juga tercium aroma politik. “Benar-benar ironi. Hanya karena engkau melempar sebiji garam ke laut, engkau sudah merasa menggarami laut. Sehingga rasa asin dari laut itu, seakan hasil jerih payahmu. Padahal, sebiji garam itu adalah hasil memungut di ladang petambak garam.” Saya tidak tahu, apakah yang disinggung ini manusia pada umumnya, ataukah manusia khusus, yang punya kuasa di daerahnya, yang mungkin merasa hebat telah berbuat banyak di daerah kekuasaannya.

Puisi-puisi ini menyentil kekuasaan, saya tiba-tiba teringat pada sosok Rendra, yang juga berkeinginan untuk memberi warna baru pada seni, pada kebudayaan, sebuah kesadaran yang lebih progressif. Rendra juga berbicara politik. Dalam puisi-puisi politik Rendra, dan begitu juga ditemukan dalam puisi Sulhan, kesadaran politik diungkapkan dengan plastis dan estetis, meski dengan pengandaian-pengandaian atau metafora. Besar harapan, bahwa puisi-puisi ini mengguliti jiwa untuk sadar akan hak-hak, akan ketimpangan-ketimpangan, akan bagaimana sebuah negeri dikelola, sebuah kota dikelola, sebuah budaya dikelola.  

Penulis dalam hal ini Kak Sulhan adalah seorang aktivis yang menempuh segala cara untuk mewujudkan keinginan-keinginan idealnya. Beliau menginginkan sebuah komunitas masyarakat yang adil, yang damai, yang beradab. Begitulah memang keinginan-keinginan manusia-manusia humanis, yang selalu mendambakan kebebasan plus keadilan. Hal itu dilakukannya dengan membentuk komunitas-komunitas literasi, mendukung para penulis muda untuk terus berkarya, menjadi sosok bijak tempat orang berteduh dan meminta pendapat. Dalam perjalanannya, beliau membangun rumah jiwa itu, sebuah pabrik untuk menghasilkan menu-menu bagi jiwa, agar warga kota jadi seimbang hidupnya, dan dalam perkembangannya, Kak Sulhan justru ikut asyik di dalamnya, bersama anak muda anak muda kreatif. Untuk itu, Kak Sulhan bukan hanya tokoh dibalik membangun rumah, tapi juga berkontribusi membangun nuansa, aroma, keindahan-keindahan dalam rumah itu.



Catatan terakhir, bahwa puisi dapat dimanfaatkan untuk tujuan apa saja, bisa untuk menggoda kaum hawa, bisa untuk mengingatkan manusia, bisa untuk menyentuh sesuatu yang tak mudah disentuh (dalam hal ini jiwa), bisa sebagai refleksi tentang alam dan tuhan atau yang tak dikenali, dan bisa pula untuk menyadarkan pembacanya tentang ketimpangan dalam dunia sosial. Dan puisi-puisi Sulhan mewakili beragam lapisan dunianya, baik itu dunia rohani, dunia sosial, dunia pribadinya, dunia tentang alam, dan dunia politik.

Dan membaca puisinya, kita dapat mengambil apa saja dari dunianya yang begitu kaya.

 Makassar, 23 Maret 2015
Idham Malik

(Terimakasih atas bukunya)

Read more...

Rabu, 18 Maret 2015

Selamat Jalan Kak Zohra A Baso

Semalam, secara kebetulan, sejarah lewat di hadapan ku, tapi sayang, sejarah tadi malam adalah sejarah duka. Duka yang kosong, yang dirasakan manusia-manusia yang saya saksikan di lantai II Rumah Sakit Pendidikan Unhas.

                                        Istimewa

Air muka mereka menyiratkan rasa yang mendalam akan kehilangan sosok Zohra Andi Baso yang mereka kenal sangat baik, yang menjadi penerang, yang menjadi penguat batin dan memotivasi mereka untuk terus berjuang, melawan penindasan, apalagi penindasan terhadap hak-hak perempuan.
Saya tak dapat menghitung jumlah pengunjung RS pukul 22.00 Wita tadi malam, mungkin 50 atau 60 orang. Dan orang-orang yang hadir itu ada yang saya kenal baik, ada yang hanya kenal muka dan nama, dan ada yang tidak saya kenal sama sekali.
Saya merapatkan diri pada anak-anak muda yang saya kenal baik dan pernah sama-sama waktu mahasiswa. Dan kami pun berbagi cerita tentang pemikiran Kak Sohra A Baso, mengenang jasa-jasanya. Saya tidak banyak cerita, karena pengalaman kontak langsung dengan Kak Zohra Andi Baso sangat minim. Mungkin kalau dihitung, pertemuan dengan Kak Zohra hanya dua atau tiga kali, pernah di Gedung Ipteks, pernah di Rumah Makan Shogun waktu merayakan ulang tahun Prof Radi A. Gani. Saya hanya bercerita bahwa Kak Zohra itu salah satu senior kami di identitas Unhas.
Seorang teman mengatakan bahwa dia tak menyangka kalau saya akan datang, baginya suatu yang di luar perkiraan. Saya hanya membatin bahwa pertemuan kita adalah sebuah kebetulan sejarah. Adik saya ada di rawat di lantai 4 RS Pendidikan, lalu tiba-tiba ada kawan yang menelpon dan meminta kunci pagar, lalu mengatakan bahwa Kak Zohra lagi sekarat di RS Pendidikan. Saya pun kaget dan segera turun di lantai dua di depan ruang ICU. Saya telat, isak tangis sudah terdengar, seorang ibu-ibu digotong keluar ruangan, orang ramai berdesakan di pintu dalam, dan saya dengar bahwa sosok Kakak Zohra Andi Baso telah berpulang sepuluh menit sebelumnya.
Saya tak begitu mengenalmu Kak, Saya hanya mengenal kisah-kisah samar tentang ketegaranmu dalam menguatkan hak-hak kaum perempuan dan hak-hak konsumen, hak-hak informasi, hak-hak politik. Semalam, saya pun kaget beberapa pemuda yang saya kenal baik juga datang untuk menjengukmu. Engkau adalah simpul terkuat kami, engkau adalah perekat kami, semangat Kak Zohra telah merasuk dalam sukma kami, meski semalam Kak Zohra sudah tiada.
Selamat jalan Kak Zohra, selamat menempuh perjuangan baru di alam yang tak tahu bentuknya itu, semoga amal ibadah Kakak diterima di Sisi-Nya. Terimakasih telah menginspirasi dan membangkitkan pemuda pemudi generasi kami untuk terus memperjuangkan keadilan dan hak-hak asasi manusia.

Senin, 16 Maret 2015
Warkop Limasatu


Read more...

Kamis, 12 Maret 2015

Gaya Hidup Anak Muda dan Geng Motor

Merebaknya kasus kekerasan yang melibatkan geng motor di Makassar belakangan ini tidak dapat dilihat dari satu sisi saja, misalnya dari sisi kurangnya penegakan hukum. Tapi juga harus dilihat dari sisi perkembangan kota, teknologi, gaya hidup, dan dari sisi psikologi anak muda, dalam hal ini pelaku kekerasan banyak dilakoni anak usia sekolah. Saya tidak mencoba untuk menuduh individu sebagai faktor utama, bahwa hasrat dan obsesi individu menjadi penyebab kekerasan terhadap manusia lain.

Saya cuma membayangkan bagaimana kira-kira, masa SMP saya jika ditempatkan di ruang dan waktu di lorong-lorong Makassar saat ini? mungkin saya juga akan gabung dengan Geng Motor, apalagi jika kebetulan orang tua saya orang yang tidak mampu. Mengapa demikian? Sebab jaman sekarang berbeda dengan jaman waktu saya SMP dulu.

                                          Istimewa

Waktu saya SMP di Maros 16 - 17 tahun yang lalu, terasa begitu menyenangkan, dimana setiap sore kita berkumpul bersama teman-teman untuk main bola, malam hari kita kadang-kadang bermain bulu tangkis atau menonton sinetron bersama keluarga, pagi hari naik sepeda ke sekolah, dan waktu istirahat belajar digunakan untuk bercanda ria bersama teman atau makan bakwan di kantin sekolah.

Masa SMP saya begitu damai, kita ke sekolah dan pulang sekolah dengan tiga cara, yaitu dengan menumpang mobil sewa anak kompleks yang dibayar perbulan, dengan mengendarai sepeda melewati jalan pintas di pinggir irigasi, dengan berjalan kaki untuk olahraga dan berpetualang. Teman SMP saya yang mempunyai motor bisa dihitung jari, bahkan teman yang orang tuanya terbilang mampu juga menggunakan kendaraan umum, kalau tidak diantar oleh orang tua mereka pulang pergi sekolah.

Nah, dalam suasana seperti itu, kekerasan yang anak SMP lakukan hanya berupa perkelahian di tanah lapang yang kebetulan bergesekan kepentingan terhadap seorang teman perempuan, itu pun dilakukan dengan semangat anak muda untuk menunjukkan keberaniannya. Selain itu, bolos kelas sesekali, atau memakan bakwan satu dua tanpa bayar.

***
Boleh lah kiranya saya mengambil asumsi dengan hayalan saya tentang anak SMP di Makassar saat ini. Minta maaf karena sejauh ini saya tidak punya teman anak SMP, seandainya saya berteman dengan anak SMP, saya akan menggali data sebanyak-banyaknya. jadi tulisan ini sekadar hipotesis saja.

Kehidupan anak SMP saat ini, apalagi di Makassar sangat rentan. Tingkat kebutuhan anak SMP saat ini cukup banyak, mereka bukan lagi anak SMP dengan uang jajan 1000 rupiah perhari, atau anak SMP yang kebutuhannya hanya semangkuk mie bakso saat istirahat siang. Anak SMP sekarang dikepung oleh begitu banyak godaan-godaan, seperti kepemilikan smartphone, tab, motor, agar kehidupan pergaulannya bisa diterima oleh teman sejawat mereka. Tempat nongkrong mereka pun tidak lagi hanya sekadar duduk di lapangan sepak bola atau di bawah pepohonan sembari bermain enggo-enggo, tapi mereka mulai mencoba nonton bioskop, kongkow-kongkow di circle K, cafe-cafe, dan mungkin ikut karouke. Jika mereka kaya, tidak terlalu bermasalah, tapi bagaimana kalau mereka miskin?

Saya membayangkan jika saya anak SMP, yang dimana jiwa saya lagi mekar-mekarnya, keinginan saya untuk mencoba lagi tinggi-tingginya, dan saya tidak punya uang untuk bergaul. Handphone saya cuma nokia standar harga Rp. 200 ribu. Sementara sudah banyak kawan saya yang telah ber-bbm-ria, yang memamerkan status terbarunya di dinding path-nya, atau bermain game online. Atau tiba-tiba ada cewek yang saya taksir, kemudian cewek tersebut meminta nomor pin BB saya? Apa yang saya akan lakukan? Saya meminta uang di orang tua saya dan mereka malah marah-marah.

Atau, saya membayangkan diri saya sebagai anak SMP di Makassar, yang teman-teman saya mengajak nongkrong di Circle K atau pergi nonton bioskop di hari libur, atau ikut bernyanyi di tempat karaoke-an. Saya tidak bisa menghindar dari godaan-godaan itu semua, namun saya tidak punya uang untuk memenuhi hal tersebut. Selain itu, teman-teman saya mulai menghindar, karena saya dianggap menyusahkan, karena tidak bisa memberikan sumbangsih apa-apa, saya pun terkucilkan dan tak dapat bergaul. Padahal, saya juga ingin seperti teman-teman. yang bisa tertawa riang di dalam kelas sembari melihat handphone-nya masing-masing. Ketawa mereka pun begitu menyakitkan dan ketika diajak ngobrol atau bermain, perhatian mereka sering teralihkan ke handphone-nya masing-masing. Betapa menderitanya saya.

Lalu, saya membayangkan ada kawan yang mengajak untuk bergabung dengan geng motor. Kata teman, kita bisa dapatkan semua yang kita inginkan. Dengan bersama-sama merampok orang-orang yang bergaya di jalanan, kita dapat membagi hasilnya. Dengan begitu, saya bisa membeli handphone, ada uang jajan untuk nongkrong dan mentraktir teman, saya pun bisa ke bioskop bersama kawan-kawan saya yang kaya. Saya juga kasihan terhadap korban-korban itu, tapi, apa daya, menjadi anak gaul di Makassar kita harus punya uang. Kami ingin kembali seperti biasa, tapi kami juga butuh uang untuk uang pergaulan. Kami seperti diombang-ambing oleh situasi, tidak ada yang dapat menyelamatkan kami.
****
Kembali ke dunia nyata. Ketika ditanya, apa yang saya akan lakukan jika saya terpaksa bersekolah SMP di Makassar, dalam kondisi seperti itu?

Saya mungkin akan mendekati orang-orang pintar di SMP, membaca buku sebanyak-banyaknya (Saya baru sadar, kenapa saya tidak mengawali membaca banyak buku sejak SMP?), belajar musik, belajar karate, main sepak bola, dan ikut pramuka. Jika saya tak punya uang, saya akan menjalin hubungan akrab dengan teman yang kaya, karena teman yang kaya biasa mentraktir saya mie bakso, apalagi kalau saya membantunya mengerjakan PR (Pekerjaan rumah).

Demikianlah hayalan saya. Tentang anak SMP yang labil, yang mudah terpengaruh, yang sedang mekar-mekarnya mencoba dunia. Saya pun mau membayangkan yang lainnya, tentang hubungan geng motor dengan konteks politik, tapi, ya sudah lah.. Lebih baik menghayalkan anak SMP dengan gaya hidupnya saja.

12 Maret 2015

Tamalanrea, Makassar

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP