Kamis, 20 November 2014

Refleksi atas Tambak Supra Intensif Dewi Windu


Dunia perikanan Indonesia, sempat heboh pada 20 Oktober2013 lalu. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di lokasi hatchery  CV. Dewi Windu dan tambak Bapak Hasanuddin Atjo di daerah Kuppa, Kab. Barru, berlangsung launching tambak udang vaname sistem Supra Intensif. Peserta yang hadir sekitar lebih dari 100 orang, yang terdiri atas para stakeholder perikanan sulsel, tamu-tamu dari Sulawesi Tengah dan dari Jakarta, diantaranya Prof. Dr. Ir. Rochmin Dahuri, Ketua MAI dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Dr. Sudirman Saad, Mhum (Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil), Dr. Ir. H. Agung Sudaryono, M.Sc (sekjen MAI), Drs. H. Longki Djonggala, MSi (Gubernur Sulawesi Tengah), Bapak Sugeng (Kepala Balai Budidaya Air Payau Takalar), Dr. A. Parenrengi (Kepala Balai Riset Budidaya Air Payau Maros), Dr. Sulkap (Kabid Budidaya Sulsel), Burhanuddin (Balai Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Maros), Dr. Ir. A. Tamsil (Koordinator Shrimp Club Indonesia/SCI cabang Makassar), dan para peneliti dan staff DKP Kab. Barru dan Pinrang.

                                                                                                                                      
Sistem yang dirancang oleh Hasanuddin Atjo ini mendaku menerapkan upaya integratif antar subsistem ; 1) penggunaan benih berkualitas; 2) pengendalian kesehatan dan lingkungan; 3) standarisasi sarana dan prasarana; 4) aplikasi teknologi yang akurat dan tepat; dan 5) Manajemen usaha yang berkelanjutan.

Waktu itu, dalam suasana penuh suka cita, para pembesar naik satu persatu untuk memberi sambutan dan ucapan selamat. Para peserta pun ramai-ramai bertepuk tangan pada setiap kalimat-kalimat yang menggugah. Setidaknya, mereka merayakan kesuksesan Hasanuddin Atjo dalam memproduksi udang dengan hasil ‘wah’ dalam 4 siklus sebelumnya, dan saat itu akan disaksikan panen pada siklus ke lima (Tambak supraintensif sudah diujicoba sejak 2011 di area hatchery Dewi Windu dan terus meningkat produksinya hingga Oktober 2013. Pada saat itu juga telah dipersiapkan lahan baru seluas 1200 m2, lahan ini telah digunakan pada siklus berikutnya. Pelaksanaan tambak supraintensif masih berlangsung hingga kini). Hasanuddin Atjo mengaku telah mengeluarkan dana investasi dan modal kerja secara independen sekitar Rp. 817 juta (hingga Oktober 2013), dan memperoleh nilai produksi hingga siklus keempat sebesar Rp. 710 juta. Yang berarti pada November 2014, diperkirakan telah memproduksi udang sebanyak 7 siklus dengan luas lahan dua tambak 2200 m2, tentu nilai produksi tersebut telah jauh melewati ongkos produksi.      

Kepadatan pada siklus kelima mencapai 1000 ekor/m2, yang kepadatan siklus sebelumnya juga tinggi, yaitu 700 ekor/m2. Dengan model panen parsial, siklus kelima memperoleh hasil panen 18.000 kg/0,1 ha, dengan Food Conversion Ratio (FCR) 1,18 yang sebelumnya 1,57, kelulusan hidup 94 persen dan kapasitas produksi dari 4.069 kg/0,1 ha menjadi 15.300 kg/0,1 ha. Panen sebelumnya, tambak supra intensif mendaku memproduksi 15,3 ton, atau produksi terbesar di dunia saat itu, dimana pernah dicapai Meksiko 11,1 ton untuk tambak 1000 m2. Atjo sendiri telah memperidiksi bahwa daya dukung lingkungan tambak supra intensif dengan penerapan pond engineering adalah 9 ton per 1000 m2. Tapi mungkinkah itu sekadar pendakuan saja?    

Namun, dalam penerapan metode budidaya sistem supra intensif, setelah jalan-jalan ke Barru dan Pinrang, menuai beberapa pertanyaan ?

1.     Apakah bahan – bahan organik yang menjadi ekses budidaya, seperti sisa pakan, feces, dan biomass dapat betul-betul terurai dengan bantuan oksigen optimal di tambak, seperti yang dikatakan oleh Hasanuddin Atjo dahulu? Bagaimana dengan klaim beliau terkait dengan kesehatan lingkungan?

= Hasanuddin menganggap, oksigen dibantu dengan probiotik dapat merombak bahan organik, seperti merombak NH3 menjadi NH4 menjadi NO2 lalu menjadi NO3 yang dianggap tidak berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, H2S pada lapisan dasar, dengan bantuan oksigen, dapat dirombak menjadi SO4, apakah betul demikian?

Hal tersebut memang betul, tapi perombakan membutuhkan waktu, membutuhkan proses, tidak ujub-ujub. Apalagi jika bahan organik tersebut langsung dibuang lewat central drain, saluran pembuangan dan tidak ada upaya treatment, semacam kolam perombakan bahan organik. Mungkin, bahan organik itu akan diurai di laut, tapi penguraiannya pun butuh proses dan sesuai daya dukung lingkungan. Jika bahan yang hendak dirombak lebih banyak, laut pun tak sanggup dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengurainya. Penguraian pun membutuhkan bakteri yang sangat banyak, sementara air laut dibutuhkan dan dengan segera dimanfaatkan oleh petambak-petambak lainnya.   

Kalau pun menggunakan kolam perombakan, seberapa efisien kolam tersebut? Sebab pergantian air dilakukan secara massif sekitar 10 – 30% perhari. Apakah kolam mampu mereduksi bahan organik hanya dalam sehari? Belum lagi pengeluaran air dilakukan tiap hari, sehingga akan sangat rumit proses perombakan bahan organik ini jika hanya mengandalkan satu tambak, apalagi tambak pemeliharaan sudah 2200 m2. Jika pun tambak IPAL (Jika sudah ada) diberi kaporit untuk membasmi bahan organik (kotoran), apakah residu kaporit tidak berpengaruh terhadap kualitas air di perairan laut? sebab kaporit dapat menjernihkan air dan mematikan organisme dalam perairan  

Terkait dengan klaim Atjo tentang kesehatan lingkungan. Apa dasarnya? Tambak tersebut sangat lambat menyediakan tandon pengelolaan limbah (IPAL). Tak ada bakau yang beliau tanam, tak ada usaha perbaikan lingkungan sekitar. Selain itu, mangrove di sekitar lokasi tambak beliau sangat kurang, begitu halnya dengan keberadaan karang di laut sekitar lokasi. Yang tumbuh hanya sejenis rumput laut liar, yang pertumbuhannya begitu massif dan menjadi indikator melimpahnya bahan organik di perairan lepas pantai dekat tambak supraintensif.

 Perlu pula penelitian, bagaimana pengaruh limbah tersebut terhadap produktivitas mangrove dan karang dan keanekaragaman hayati di sekitar mangrove. Serta bagaimana dengan daya mangrove dalam mendekomposisi/netralisir bahan organik (limbah) dengan kapasitas mangrove yang sedikit itu? Bagaimana kandungan bakteri dalam air laut? Melimpahnya bakteri menjadi sumber utama penyakit pada udang, dan bakteri vibrio yang berlebihan dapat memicu munculnya whitespot (virus) pada udang-udang yang dipelihara di tambak-tambak tradisional, udang-udang yang dipelihara di hatchery di mana air laut dan limbah tambak supraintensif masih terpengaruh.     

Langkah yang harus ditempuh dengan melakukan investigasi terhadap manajemen limbah tambak Hasanuddin Atjo. Berapa kilo pakan dia tebar perhari? Berapa kilo probiotik? Berapa persen dia ganti air? Bagaimana kondisi air sebelum di buang dan kondisi air di sekitar tambak?

2.       Kenapa Hasanuddin Atjo tidak dengan gamblang menjelaskan proses penguraian bahan organik di luar tambak, yang jumlahnya jumlahnya sekitar 60 - 70 persen dari jumlah pakan yang diberikan dalam satu siklus, dimana produksi udang berjumlah sekitar 15 – 17 ton, yang berarti 8 – 10 ton persiklus sebagai limbah?

Setiap hari tambak tersebut mengganti air, dimana limbah dibuang melalui central drain ataupun melalui pintu air. Menurut sumber terpercaya, limbah itu dibuang subuh hari, agar tak ada yang lihat, dengan warna yang tak mengenakkan (hitam). Waktu saya berkunjung ke sana, 20 Oktober 2013, ketika launching tambak supra intensif, warna air yang dibuang sudah hijau kecoklatan dan berbusa. Parahnya, waktu saya berkunjung pada Jumat (21 Februari 2014), saya sembunyi-sembunyi memotret kondisi perairan di laut di dekat tambak supra intensif. astaga, banyak sekali lumut/alga-rumput laut mengapung.


                             Keterangan : limbah buangan di saluran buangan. (20 Oktober 2013)


                           Keterangan : limbah melalui pintu air menuju saluran air. (20 Oktober 2013)

Bagaimana penjelasan ilmiah penguraian bahan organik yang banyak itu? Efek negatif bahan organik tersebut berapa lama? Hal-hal yang ditimbulkan bahan organik berupa kesuburan perairan, dan munculnya organisme-organisme penyebab penyakit. ini butuh penelitian lebih lanjut. Sebab kegagalan budidaya udang windu dahulu juga disebabkan oleh limpahan limbah bahan organik yang mencemari perairan yang berasal dari tambak intensif.  pengaruh limbah tambak intensif windu masih dirasakan hingga saat ini, berupa kesulitan tumbuh udang. Baik berdampak pada kualitas induk udang di alam (masih banyak induk udang di alam sulawesi Selatan), maupun kualitas benur yang dihasilkan di hatchery, sebab kualitas air untuk pemeliharaan benur sudah kurang baik. 

Usaha tambak ini sudah berjalan lebih dari 6 siklus. Selain itu sudah ada lebih dari satu tambak. dengan hasil konsisten 15 ton persiklus, pada siklus kelima hasil panen mencapai 18 ton dengan petak 0,1 hektar (Oktober 2013). Perlu diingat, bahwa tambak jenis ini sudah diperaktekkan pula di Sulawesi Tengah. Waktu itu Gubernur Sulawesi Tengah, Longki, turut hadir waktu launching tambak supra intensif.

Jika hasil 15 ton, dengan FCR 1, berarti jumlah pakan yang digunakan juga 15 ton, dimana sisa pakan diperkirakan 50 – 60 persen, yang berarti 7 – 8 ton persiklus bahan organik, limbah yang dibuang ke perairan umum. Jika dikali dengan dua siklus dalam setahun, berarti 16 ton pertahun. Ini sebanding dengan limbah pakan 10 – 15 tambak petak intensif 1 hektar yang produksi persiklus 2 – 5 ton, yang berarti 1-2 ton limbah persiklus.


Keterangan : foto diambil di dekat tambak supra intensif, sepanjang perairan di dekat tambak terdapat rumput laut liar atau semacamnya. Yang kemungkinan besar tumbuh subur akibat limbah tambak supra intensif. (foto : 20 Februari 2014)


3.       Kenapa Hasanuddin Atjo tidak membuat treatment terhadap limbah buangan? Apalagi dia adalah doktor perikanan dan mengerti dampak buruk dioperasikannya tambak super intensif untuk wilayah perairan perikanan?

Hal ini yang mengejutkan. Bapak Hasanuddin Atjo seakan-akan ingin menang sendiri dengan tidak memperhatikan masa depan tambak-tambak kecil lainnya. Nasib tambak di sulsel saat ini ada di tangan Pak Atjo, jika beliau tetap melanjutkan proyek tanpa perhitungan lingkungan ini, kita tinggal menunggu sejarah hebat perikanan sulsel yang dulu pernah ada. Maaf kalau terlalu membesar-besarkan.

Karena perasaan mau menang sendiri itu, saya beranggapan bahwa Hasanuddin Atjo lebih menekankan naluri bisnisnya, dan menafikan nalurinya sebagai sarjana perikanan, yang harus menilai usaha-usahanya itu dengan pertimbangan lingkungan, hukum, serta sosial masyarakat. Sejauh ini, Hasanuddin Atjo masih bersembunyi di balik dukungan MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia), SCI (Shrimp Club Indonesia), kolega-kolega-nya di pemerintahan dan balai riset. Sementara para peneliti dari MAI, SCI, maupun balai riset tidak berbuat banyak untuk mengangkat isu ini, mungkin karena hubungan dekatnya dengan sosok Atjo.

Bagaimana tidak, doktor lulusan IPB ini tidak kepikiran untuk membuat standar operasional untuk pengolahan limbah. Minimal limbah itu paling kasarnya harus di sterilisasi terlebih dahulu (jalan pintas), dengan kaporit sebelum dibuang ke laut (misalnya). Atau dengan alternatif lain, misalnya dengan kolam IPAL, yang di dalamnya ada organisme penyerap bahan organik, seperti rumput laut (gracillaria), bandeng, kakap dll. Anjuran tandon macam tersebut pernah diutarakan oleh Bapak Rochmin Dahuri waktu penyelenggaraan launching. Tapi Bapak Rochmin sayangnya tak terlalu mempermasalahkan persoalan limbah tersebut, dan hanya memberi sentilan-sentilan kecil, sepenuhnya beliau mendukung untuk memenuhi produksi udang nasional, dan katanya untuk menambah penyerapan tenaga kerja, serta untuk menumbuhkan sektor ekonomi pada bisnis pakan, pupuk, kapur, probiotik, dll.   

Namun, keberadaan tandon dengan hewan-hewan penyerap itu, tampaknya hanya untuk mengurangi dampak limbah sebelum dibuang. Sebaiknya jenis tambak seperti ini tidak perlu ada. Atau ada pada wilayah-wilayah tertentu yang jauh lokasinya dengan tambak lainnya (tak memberi pengaruh pada tambak lain dan hatchery lain).

Pernyataan terakhir dari Hasanuddin Atjo, yaitu tentang pengelolaan dampak lingkungan ini sebaiknya dibantu oleh negara. Karena menurut Atjo, dia telah berusaha sekuat tenaga untuk menghasilkan teknologi internal, dan tugas eksternal dibantu negara. Ini adalah usaha swasta dan seharusnyalah pihak swasta itu pula yang memberikan energi dan investasi-nya bagi perbaikan lingkungan.   

4.       Pengaruh negatif limbah akan dirasakan oleh warga budidaya dalam jangka waktu yang sangat lama, dan akan merugikan begitu banyak pihak. Khususnya para petambak tradisional yang jumlahnya banyak. Bagaimana Hasanuddin Atjo mempertanggungjawabkan tindakannya?

Menjawab pertanyaan ini butuh analisis tertentu. Dan mestinya kampus ataupun lembaga riset melakukan penelitian mendalam tentang dampak jangka panjang dari sebuah limbah (kelimpahan bahan organik), atau sudah ada penelitian seperti itu tapi belum saya peroleh dokumennya.

Pengaruh negatif itu santer terdengar sudah terasa di beberapa hatchery di sekitar Barru dan pinrang. Hatchery –hatchery dekat tambak supra intensif terdengar sudah kurang baik produksinya dalam setahun ini. Sedangkan hatchery bapak hasanuddin Atjo sendiri, hatchery CV. Dewi Windu sudah kurang beroperasi, sebab benur udang diperoleh di perbenihan lain. Apakah ada hubungan antara ketidakberlanjutan CV. Dewi Windu dengan aktivitas pertambakan supra intensif di kawasan hatchery? Pada November 2014, sebuah hatchery di Kec. Suppa, Kab. Pinrang, sudah beberapa kali terserang bakteri vibrio, kasus terakhir bak pemeliharaan nauplinya terserang vibrio yang membuat dia merelakan 400.000 benur udang windu.

Hal-hal yang perlu dilakukan, yaitu dengan melakukan penelusuran mendalam pada para petambak di sekitar hatchery yang sumber airnya berasal dari air laut. untuk tambak-tambak tertentu dipastikan tidak memperoleh masalah, karena mengambil air dari dalam tanah (sumur bor). Penelusuran mendalam juga pada para pelaku hatchery untuk membuktikan kerugian akibat kualitas air yang buruk, mengingat daya sensitifitas benur untuk hidup di air dan terdapatnya bakteri-bakteri negatif yang ditimbulkan oleh banyaknya limbah.      

5.       Kenapa sampai sekarang, warga perikanan kurang yang menuntut?
Ini pertanyaan yang menggelitik. 1) Pandangan sebagian besar warga perikanan hanya berkonsentrasi pada kemampuan produksi dan nilai produksi yang dihasilkan. Hampir semua media yang meliput tambak supraintensif menilai positif tambak supraintensif karena dapat menghasilkan devisa negara yang besar dan mempercepat target produksi pemerintah, tanpa memperhatikan dampak lingkungan. 2) Bisa saja mereka sekadar menggerutu dan masih bingung dengan penyebab utama kerusakan air di lingkungannya. Kerusakan itu sulit dideteksi dengan mata, tapi dari hasil produksi atau munculnya penyakit-penyakit. 3) untuk mereka yang mengerti, bisa saja takut menghadapi superioritas Hasanuddin Atjo, yang punya backing-an yang kuat.

6.       Kenapa pihak pemerintah membiarkan tindakan sewenang-wenang ini?
Saya mendengar, beberapa pekan lalu telah diadakan pertemuan antar pengusaha hatchery, dimana Hasanuddin Atjo dan SUlkap turut hadir. Pada pertemuan itu beberapa pihak telah mengajukan protes terhadap tambak supra intensif untuk segera merefleksi ulang pelaksanaannya hingga saat ini. Saya juga telah melihat di media sosial rapat antara DKP Provinsi dan Peneliti Perikanan tentang kemungkinan tata wilayah untuk implementasi tambak supra intensif di Sulawesi Selatan.  

Namun, sejauh ini belum ada nampak diskusi atau semacam pertemuan stakeholder yang membahas secara detail, setidaknya pengaruh dan perkembangan tambak supra intensif di Sulawesi Selatan. Misalnya dengan melibatkan akademisi, peneliti, mahasiswa, pengusaha lain (termasuk hatchery), serta para petambak tradisional.

Sebaiknya pemerintah juga melakukan kajian analisis tata ruang wilayah, untuk posisi wilayah yang cocok untuk budidaya udang sistem supra intensif. Penerapan model budidaya massif ini sebaiknya dilakukan di tempat yang jauh dari aktivitas usaha perbenihan (hatchery) dan lokasi mangrove dan karang di sekitar tambak masih banyak.

Selain itu, pemerintah harus menekankan aspek sosial pengusahaan tambak tersebut, atau biasa disebut CSR (Corporate Social Responsible). Dimana pengusaha harus menanam bakau dan memberi anggaran bagi usaha kecil penduduk di sekitar tambak. dapat pula diterapkan skema lain, jika kemungkinan tambak jenis ini tidak jadi dihentikan.  

7.       Kenapa Balai riset tidak melakukan riset jangka panjang terhadap dampak buruk limbah tambak supra intensif?

Balai Riset Budidaya Air Paya, Maros, saat ini telah melakukan penelitian dengan model tambak udang sistem supra intensif yang dipimpin oleh Prof. Dr. Rachmansyah di Desa Punaga, Kab. Takalar. Tambahan rekayasa tambak yaitu dengan penerapan IPAL untuk pengolahan limbah. Namun, ini tidak menjadi solusi bagi lingkungan, karena semakin banyak tambak jenis ini akan semakin banyak limbah yang dihasilkan, apalagi kita belum mengetahui kapasitas daya dukung lingkungan (IPAL) dalam mereduksi limbah organik. Saat ini sudah ada beberapa pengusaha yang mencontoh penerapan tambak supraintensif, seperti yang dilakukan oleh PT. Esa Putli (Benur Kita) dan tambak H. Maming di Desa Lawellu, walau dengan kapasitas produksi yang lebih rendah. Semakin banyak pengusaha yang meniru, maka semakin rusaklah kualitas perairan kita.

Sangat diharapkan keterlibatan lembaga riset untuk meneliti pengaruh pencemaran tambak supra intensif terhadap ekosistem serta terhadap tambak tradisional dan hatchery di sekitarnya. Agar pemanfaatan sumberdaya alam ini dapat dimanfaatkan secara bersama untuk meningkatkan perekonomian bersama, tidak hanya dinikmati segelintir orang dan tuahnya dirasakan oleh para warga kecil dengan usaha yang sudah kecil.

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan saya di bidang perikanan. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk perbaikan budidaya perairan di Sulawesi Selatan. Tulisan ini sebagai bentuk gerutu terhadap tindakan yang lamban dan tumpulnya hati seorang pengusaha terhadap dampak usahanya. 

Jumat, 21 Februari 2014
Direvisi 20 November 2014
Idham Malik

Read more...

Selasa, 11 November 2014

Penyakit Udang Windu di Tambak dan Perbaikan Lingkungan dengan Aplikasi Probiotik RICA

Hasil perbaikan notulensi materi dari Dr. Ir. MUHARIJADI ATMOMARSONO, MSc (Peneliti BPPBAP Maros).



Dr. Ir. Muharijadi Atmomarsono dalam pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk penyuluh ini menyajikan materi tentang perbaikan lingkungan yang dikaitkan dengan penanggulangan penyakit udang windu. sebagai pembukaan, Muharijadi mengantar kita dengan mengatakan bahwa budidaya yang berkelanjutan itu harus menguntungkan secara ekonomis, ramah lingkungan secara ekologis, aman dan tidak menimbulkan gejolak secara sosiologis.

Berbicara lingkungan, terkait pula di dalamnya tentang mempertahankan eksistensi mangrove di wilayah pasang surut, yaitu berdasarkan Kepres 32 pasal 27 Tahun 1990 mengatakan bahwa kawasan mangrove seluas 130 kali pasang surut. Muhari pada awal materi juga menyinggung tentang banyaknya limbah pakan, limbah pakan kering sekitar 30% sedangkan limbah pakan cair hingga lima kalilipat limbah kering.     



Penyakit Udang

Penyakit udang terbagi atas penyakit infeksi dan penyakit non infeksi. Penyakit infeksi termasuk di dalamnya jamur (Legenidium, Fusarium, Agmasoma), Parasit (Zoothamnium, Epistylis, Acineta, Vorticella), Bakteri (Vibrio harveyi-kunang kunang), virus (IHHNV, MBV, YHV, WSSV, TSV, IMNV). Sedangkan penyakit noninfeksi yaitu terkait dengan lingkungan seperti cemaran pestisida dan TSM, serta dari nutrisi misalnya aflatoksin atau pakan berjamur.

Muhari menjelaskan bahwa penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit (udang lumutan karena kelebihan bahan organik) dan bakteri dapat dibrantas dengan menggunakan antibiotik, tapi tidak semua antibiotik diperbolehkan. Saat ini penanggulangan penyakit menggunakan probiotik dan lebih ramah lingkungan. Penyakit yang disebabkan oleh virus-lah yang belum dapat ditanggulangi, karena virus bersarang dalam jaringan serta usus udang dan biasanya menyerang pancreas udang. Kita hanya bisa melakukan tindakan pencegahan atau pengendalian virus.

Lebih jauh Muhari menjelaskan sedikit tentang jenis-jenis virus, seperti YHV (Yellow Head Virus), virus yang ditandai dengan warna kekuningan pada kepala udang ini pertama kali ditemukan di Pinrang. TSV ditandai dengan ekor memerah. Yang paling kuat serangannya yaitu EMS yang penularannya melalui vibrio spesies tertentu.

Terdapat pula virus Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV), yang ditandai dengan udang tiba-tiba memutih dan kemerahan (udang rebus). Kemudian deteksi dengan histopatologi melalui nekrosis jaringan otot, infiltrasi hemosit, fibrosis.  

Selain itu terdapat virus Infectious Hypodermal and Hematopoietic Necrosis Virus (IHHNV), ciri utama IHHNV yaitu udang kecil-kuntet dan hepatopankreas bengkak, otot mengecil, rostrum bengkok, dan pada udang windu Monodon Slow Growth Syndrome.

Virus yang paling sering menyerang yaitu WSSV, ditandai dengan udang berenang tidak seimbang di pinggir pematang, pertumbuhan tidak terkontrol atau terlalu cepat, terdapat bintik putih pada karapaks. Terdapat tiga pola penularan virus WSSV, yaitu pola vertical, horizontal dan kanibalisme. Secara horizontal terjadi melalui lingkungan (udang liar, kepiting, crustacea) dan rantai makanan atau virion yang terbatas ke lingkungan dan masuk ke tubuh udang yang sehat, serta melalui air, dimana virus dapat bertahan 3 sampai 4 hari dalam air. Secara vertikal terjadi dengan cara induk yang menjadi karier virus akan menularkan melalui kotoran yang setelah bebas di air akan menginfeksi larva. Infeksi pada umumnya terjadi melalui 3 rute utama yaitu kulit, insang, dan saluran pencernaan. Serta melalui dinding telur melalui disinfeksi telur. Pola kanibalisme yaitu ketika udang memakan udang yang terserang virus, biasanya satu udang mati dan dimakan maka yang akan mati berarti sepuluh udang.

Secara umum udang terkena penyakit, karena daya tahan tubuh udang yang lemah serta serangan pathogen yang kuat. Sehingga penanggulangan penyakit dengan menguatkan inang, mencegah pathogen dan memperbaiki kualitas lingkungan. Tentang lingkungan bisa diakibatkan karena melimpahnya bahan organik dan karena tambak sulfat masam. 

Penyakit yang berasal dari lingkungan, contohnya udang menurun daya tahan tubuhnya akibat pH rendah atau udang tiba-tiba berwarna merah akibat kekurangan oksigen dan terlalu padat. Selain itu ada  udang yang berwarna biru akibat terdapat plankton tertentu dalam tambak.

Penyakit akibat gizi atau aflatoksin disebabkan oleh petambak sendiri yang memberikan pakan berjamur. Penggunaan pakan berjamur dapat mematikan semua udang ditambak kurang dari 24 jam. penggunaan pestisida juga dapat menyebabkan udang keracunan.

Lantaran massifnya akibat serangan penyakit ini, Muhari menekankan agar para penyuluh konsentrasi terhadap pencegahan penyakit, yaitu dengan memelihara air dengan baik dan penggunaan probiotik untuk membantu memperbaiki kualitas air. Jika air sehat maka udang juga ikut sehat.

Namun jika udang sudah terlanjur sakit, menurut Muhari hal pertama yang harus dilakukan yaitu dengan mengetahui udang hidup di mana, udang windu di dasar tambak dan udang vannamei di kolom air. Kemudian kita mendeteksi airnya yang dikaitkan dengan morfologi udang windu. Udang windu lembar insangnya halus, berbeda dengan ikan yang lembar insangnya kuat, sehingga udang windu tidak cocok dipelihara dengan sistem biofloc atau pemeliharaan air yang efisien.

Setelah itu harus diketahui penyebab sakit, apakah disebabkan oleh bakteri, parasit atau jamur. Jika diketahui penyebabnya adalah virus, maka tidak ada obat yang dapat menyembuhkan. Meski begitu, Muhari pernah menganjurkan pada petambak di Selayar yang udangnya terjangkit WSSV untuk memberi dolomite pada tambak dan akhirnya udang dapat selamat hingga panen.

Ada juga petambak yang tidak mengetahui penyebab kematian udangnya. Seperti kasus di Selayar bahwa petambak tidak mengetahui bahwa udangnya mengalami moulting dan biasanya istirahat selama 36 jam dan tidak makan dan ketika makan biasanya memakan kulitnya sendiri yang mengandung CaMg, kemudian petambak memberikan pakan 600 kg perhari dan akhirnya udang tiba-tiba mati. Kelebihan pakan juga dapat mematikan udang. hal penting yang harus diketahui juga yaitu pada suhu 25oC udang malas makan, sehingga harus diperbaiki suhunya baru setelah itu diberi pakan secara normal.

Muhari juga sedikit menjelaskan tentang perbaikan inang/udang. Peneliti ini mengatakan bahwa penggunaan benur SPF (Species Pathogen Free) tidak menjadi jaminan di lapangan karena banyaknya faktor lain yang menyebabkan penyakit. sehingga dibutuhkan perlakukan dan manajemen khusus pada benur, seperti menambah kekebalan non spesifik melalui aplikasi vaksin, bakterin, dan immunostimulan, serta senantiasa melakukan skrining benur dengan memanfaatkan air tawar atau formalin, dimana jika benur yang mati lebih dari 20% maka kualitas benur kurang bagus. Sedangkan kelebihan benur di hatchery sebaiknya dipindahkan untuk pentokolan.

Berbicara tentang induk udang, dibutuhkan waktu minimal 20 bulan untuk menghasilkan anakan yang bagus. Jika belum sampai 20 bulan maka udang tersebut belum bisa menjadi induk. Calon induk sebaiknya diperkaya gizinya dengan pakan alami dan dan probiotik alami.     

Pencegahan Pathogen

Pathogen dapat dicegah dengan menerapkan biosecurity untuk menghalangi orang lain masuk ke kawasan, alat yang dapat menyebarkan penyakit, penjegahan semua carrier berupa pagar miring untuk biawak dan kepiting, serta tali plastik dan senar untuk menghalau burung dan bangau.  Menerapkan pengeringan total di tambak dan penggunaan kapur bakar. Untuk benur, melakukan deteksi virus menggunakan PCR untuk semua benur/tokolan yang akan digunakan, menggunakan KIT WSSV dan vibrio yang praktis dan murah.

Penggunaan tandon dan biofilter, tapi kendalanya lahan bisa berkurang. Selain itu penggunaan tandon yang tujuannya untuk memberantas Vibrio harvey cukup air didiamkan selama 72 jam di tandon sebelum air dipindahkan ke dalam tambak.


Penggunaan saponin dan kaporit berupa bestacide. Untuk memberantas ikan kecil dapat menggunakan saponin, tapi penggunaan saponin kadang hanya mematikan ikan saja, tapi telur ikan tidak mati dan akan menetas pada saat terkena sinar matahari. Sebaiknya dilakukan pemberian saponin ulang setelah 2 – 3 hari setelah diperkirakan telur menetas.         

No
Nama tanaman
Fraksi aktif 
 Nama bahan aktif
Penghambat bakteri
1
2
3
4
5
6
7
8
Acanthus ilicifolius
Avicenia alba
Carbera manghas
Clerodendron inerme
Euphatorium inulifolium
Exoecaria agalocha
Osbornia octodonta
Soneratia caseolaris
Fraksi air
EtOacasam
Fraksi air
Fraksi air
EtOac Netral
EtOac asam
EtOac asam
Fraksi air
2-methyl piperazin
Cyclopentasiloxan
Furanon g-crotonolacton
 -
n-decane/isodecane
Cyclohexasiloxane
2 heptanamin-6 methyl-amino-6 methylen
Galactopyranosida
V. harveyi
V. leiognathii
V. splendidus
V. leiognathii
V. splendidus
V. mimicus
V. harveyi
V. harveyi


















Perbaikan Lingkungan

Hal pertama yang dilakukan yaitu dengan mengecek kelayakan lahan, apakah lahan tersebut merupakan lahan normal atau termasuk lahan tanah sulfat masam (TSM). Untuk tambak TSM, dapat dilakukan reklamasi lahan, pelapisan kapur pada pematang, penggunaan beton-plastik atau mengganti tanah dasar.

Perbaikan lingkungan dapat pula dengan sistem multitropik dengan memelihara bandeng, nila dan rumput laut. Lendir ikan nila dapat menahan serangan vibrio, ikan bandeng berfungsi untuk oksigenasi, sedangkan rumput laut untuk menyerap bahan-bahan organik dalam tandon atau dalam tambak. Dapat pula dengan penggunaan probiotik untuk perbaikan kualitas air sekaligus untuk mencegah penyakit. Untuk kepadatan udang di atas 10 ekor/m2, sebaiknya menggunakan penambah oksigen untuk perbaikan kualitas air dapat menggunakan kincir air, blower dan oksigen murni. Dan untuk perbaikan lingkungan yang cukup penting yaitu penanaman mangrove di sekitar tambak dan saluran air. Penanaman mangrove atau biofilter mangrove sebesar 40% dari total hamparan, jarak tanam 0,5 x 0,5 m, jenis Rhizophora sp. Penanaman mangrove penting karena berperan juga sebagai penghasil bakterisida. 

Tabel . Jenis tanaman mangrove dan kemampuan untuk menghambat bakteri.

Menurut Muhari, karang juga mengandung zat antibakteri, tabel di bawah menggambarkan peran karang untuk menjaga kualitas air dan menekan bakteri negatif di perairan.

NAMA
FRAKSI AKTIF
EFEKTIF TERHADAP

Sponge
Callyspongia sp
Halichondria sp
Jaspis sp
Clathria sp
Steroid
Asam fenolat
Peptida
Asam fenolat
Bakteri dan jamur
Bakteri dan jamur
Jamur dan biofoling
Jamur dan biofoling
Hydrozoan
Lytocarpus sp
Plumularia sp
Stylaster sp
Aglaophenia sp

N-cyclohexil-3beta-methoxy-4 methyliden)
Steroid
Kolesterol
Benzenamin-4-methoxy-
N-Phosporanyliden)

Bakteri
Bakteri
Bakteri
Bakteri
Karang lunak (Soft coral)
Nephtea sp

Nephtenol

Biofoling


Ramah Lingkungan (Sesuai dengan CBIB)

Tambak ramah lingkungan tidak menggunakan bahan kimia, pestisida, antibiotik. Pestisida seperti brestan, thiodan, trithion, aquadyne  dapat mengikat fosfat di tanah dan bertahan atau residunya dapat bertahan hingga 20 tahun. Tanda bahwa suatu perairan telah diberi pestisida yaitu dengan mengamati warna air, jika warnanya bening berarti air tambak telah diberi pestisida. Cara terbaik untuk memperbaiki tanah yang sudah terlanjur diberi pestisida dengan cara mengganti tanahnya atau dengan memberi jerami, sekam dan dedak.      

Penggunaan antibiotik sebagai obat pembunuh bakteri seperti Chloramphenicol, nitrofuran, tetrasiklin, Oxsitetracicline (OTC), sulfadiazine, tidak diperbolehkan lagi digunakan di tambak. Tapi menurut hasil penelitian Muhari, OTC masih aman digunakan pada kadar-kadar tertentu. Efek dari antibiotik salah satunya yaitu dapat mengkerdil benur, apalagi penggunaan antibiotik di hatchery dapat menyebabkan pertumbuhan udang lambat.

Untuk penggunaan benur yang ramah lingkungan dan sehat, yaitu bebas pathogen, berasal dari hatchery terpercaya, menggunakan PL20-PL40 lebih baik dibandingkan benur dengan kurang dari PL12. Padat tebar 10.000 – 20.000 ekor untuk tambak tradisional dan di sekitar mangrove, padat 40.000 – 60.000 ekor/Ha untuk tanah liat berpasir.

Penggunaan pakan yang ramah lingkungan dengan cara pemberian pakan sesuai kebutuhan udang, untuk mengantisipasi banyaknya sisa pakan yang dapat menurunkan kualitas air dan apat menyebabkan udang menjadi stress. Selain itu, memperhatikan kualitas air, jika kualitas air menurun segera lakukan penggantian air dan pada saat penggantian air jangan memasukkan air pada awal pasang, karena mengandung konsentrasi bakteri vibrio yang tinggi. Jika ada tandon, memasukkan air ke dalam tandon terlebih dahulu itu lebih baik. Selain itu, tetaplah memperhatikan warna air.

Tabel kualitas air

KUALITAS AIR
OPTIMUM
KETERANGAN
Suhu air (oC)
pH
Salinitas (ppt)
Oksigen (ppm)
Alkalinitas (ppm)
Kedalaman air cm
Kecerahan air cm
Rasio C:N:P
Warna air
27 – 30
7,2-8,5
10 – 25
> 4,0
> 100
80 – 120
30 – 40
106:16:1
Hijau coklat
Fluktuasi < 3
Fluktuasi < 0,5
Fluktuasi < 5
Kondisi alami
Penstabil pH & plankton
Tergantung teknologi
Penunjuk fitoplankton
Penentu kebuthn pupuk
Plankton bagus

Persiapan Tambak
Poin-poin yang dipertegas oleh Muhari pada persiapan tambak yaitu pada tambak terdapat banyak gundukan dan lumpur, namun terkadang jarang dikeringkan oleh petambak, sehingga seringkali meningkatkan kemasaman air.

Muhari menambahkan tentang penggunaan pupuk. Tambak bekas tanaman nipa memerlukan pupuk SP36 susulan untuk memperbaiki kualitas air dalam tambak. Dilakukan dengan pemberian pupuk susulan SP36 sebesar 2 kg setiap lima hari. Berbeda dengan tambak bekas mangrove percuma menggunakan banyak fosfat. Begitu halnya tambak lempung berliat juga tidak membutuhkan SP36. Sedangkan penggunaan pupuk urea makin massif dibandingkan penggunakan fosfat jika tambak makin dekat ke laut. penggunaan urea dilakukan pada saat air dalam tambak tersedia dan penebaran lebih tinggi pada musim kemarau. Sementara untuk tambak berpasir membutuhkan pemberian pupuk organik. Pupuk yang mengandung kalium seperti NPK dan Phoska tidak diperlukan di tambak, karena sudah banyak kalium dari laut. Secara umum penggunaan pupuk di tambak mengacu pada kebutuhan fithoplankton dan alga yaitu C : N : P = 106 : 16 : 1.

Untuk pengapuran di tambak menggunakan Kapur Pertanian (100%), dolomite (108%), kapur bangunan (136%) dan kapur bakar (170%). Petambak harus membedakan antara kapur bakar dengan kapur bangunan, kapur bakar jika disiram air maka akan bergelumbung. Diantara beberapa jenis kapur, yang paling efektif adalah kapur dolomit karena tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan pH, tapi juga membantu untuk pembentukan kalsium, magnesium, dan bikarbonat dalam air yang dibutuhkan oleh udang karena kulit udang ternyata mengandung Ca2 dan Mg.

Dalam pengisian air, Muhari hanya mengingatkan bahwa banyak kejadian di lapangan, pengisian air mengikuti pola budidaya bandeng, sehingga menghasilkan klekap dan biasanya kelekap naik ke permukaan air. Jika ini diikuti dan dipelihara udang, maka akan membahayakan udang yang dipelihara. Makanya jika tumbuh klekap di tambak, sebaiknya diisi bandeng dulu sebelum menebar udang. selain itu tidak melakukan pengisian air pada awal pasang, karena banyak mengandung bakteri patogen (vibrio harveyi = kunang-kunang)

Muhari mengingat bahwa di Kab. Pangkep masih banyak tambak yang dibuat dengan model seri, sehingga pola pengisian airnya antara tambak dengan tambak lainnya saling terhubung untuk pengisian airnya. Menurut Muhari, sebaiknya model pengisian air menerapkan model paralel, karena model seri berisiko terhadap penularan penyakit lebih cepat. Selain itu, seperti dijelaskan sebelumnya, yaitu tersedianya petak pengendapan, tandon dan tratment, memiliki saluran pasok dan buang yang terpisah, memiliki jalur hijau (Green belt), sistem seri yang diperbolehkan yaitu : tandon (Mangrove + tiram -à bandeng à rumput laut -à udang). Tiram berfungsi sebagai filter feeder dimana filter air 10 L/jam, filter air plankton, bakteri, flagellata, logam berat. Bandeng berfungsi untuk mengurangi Bahan Organik Total di tambak dan mengurangi kepadatan klekap. Rumput laut menyerap kelebihan amoniak (nitrat, nitrit, posfat, Fe).

Muhari sedikit menyinggung tentang penggunaan probiotik dalam tambak yang berfungsi mengurangi koloni patogen dan bersifat nonpatogen, menghambat pertumbuhan patogen, mengurai BOT, NH3, NO2,­ membantu proses pencernaan, menurutnya probiotik yang aman itu yang jenisnya Baccilus (subtilis, mega, lich), kalau jenisnya Lactobacillus itu biasanya untuk hewan darat dan untuk ibu-ibu yang menyusui. Sementara probiotik yang berasal dari Aeromonas itu tidak baik karena Aeromonas merupakan penyebab penyakit pada ikan mas. Muhari pernah melakukan pengecekan terhadap jumlah bakteri dalam kemasan, tertulis jumlah bakteri 1042, tapi ternyata setelah diuji hanya berisi 106. Petambak pun harus memperhatikan beberapa hal dalam pemberian probiotik, seperti tepat jenis (species), tepat waktu (frekuensi aplikasi), tepat cara pembiakan (kultur), tepat media (suhu, salinitas, pH air), tepat substrat tanahnya, tepat dosis.

Beberapa tahun terakhir BPPBAP telah mengembangkan bakteri probiotik lokal atau biasa disebut probiotik RICA (Research Institute for Coastal Aquaculture). Telah dipetakan jenis probiotik yang telah diambil pada masing-masing habitat, seperti Pseudoalteromonas SP berasal dari laut, Brevibacillus berasal dari tambak, Bacillus Sp berasal dari tambak, Staphylococcus Sp berasal dari mangrove, Serratia SP berasal dari mangrove, Peseudomonas Sp berasal dari mangrove. BPPBAP telah melakukan seleksi sebanyak 3.976 isolat. 

Probiotik tersebut telah diujicobakan di beberapa tempat, yaitu di Kab. Barru sebanyak 2 petambak pada 2009, di Kab. Pinrang sebanyak 6 petambak pada 2010, dan 36 orang pada 2012, serta Kab. Pangkep sebanyak 71 orang pada 2011, 18 orang pada 2012 dan 20 orang pada 2013. Pada 3 Mei lalu, hari kedua pelatihan para peserta mendatangi panen udang tambak Puang Erna, yang merupakan tambak penelitian probiotik RICA yang dipimpin oleh Dr. Muharijadi. 

Idham Malik
Hasil pelatihan BMP Budidaya Udang Windu untuk Penyuluh Perikanan, WWF-Indonesia.


Read more...

Sabtu, 01 November 2014

Jakarta Disorder


Pada Rabu, 28 Oktober 2014, pekan lalu, saya diajak seorang kawan yang bernama Subhan Uya Usman untuk menonton film di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta. Saya ikut-ikut saja, sekalian saya merenung-renung ulang hal-hal yang pernah saya saksikan di tempat itu. Katanya sebentar kita akan bertemu Wardah Hafidz, nama yang terdengar begitu populer.

Sesampai di TIM, kami tak langsung masuk ke beranda, kami memilih duduk-duduk di luar sembari membicarakan hal-hal lain. Saya tak mengenal seseorang pun, tapi kawan saya mengenal banyak. Katanya sebentar saja kita masuk, supaya kita tidak ditanya-tanya. Sekilas bahwa peserta pemutaran film ini ekslusif atau hanya untuk undangan-undangan tertentu, yang merupakan pihak-pihak yang bersentuhan dan tertarik pada isu-isu kemiskinan dan marginalisasi kelompok masyarakat bawah. Posisi ruangan untuk pemutaran film pun agak tersembunyi, dan hanya dapat kita temui setelah bertanya dua tiga kali. Spanduknya pun terletak di lorong dalam, dan cenderung tersembunyi. Apalagi bagi orang luar seperti kami, yang belum mengenal betul tata letak TIM.



Akhirnya kami berdua memberanikan diri masuk, tandatangan di buku tamu dan duduk menghadap layar. Kami menonton film dokumentar tentang sisi lain Kota Jakarta, yang kita selalu lihat tapi jarang kita pikirkan. Tentang orang-orang yang tak dianggap, orang-orang yang dianggap benalu kota. Yah, begitulah gambaran besar film Jakarta Disorder besutan Ascan Breuer dan VIktor Jaschke, sutradara berkebangsaan Jerman.

Cerita dimulai dari perjuangan suatu organisasi yang bernama Urban Poor Consortium (UPC) dalam meyakinkan dan membantu warga miskin kota untuk paham kondisi keterpurukan dan ketidakadilan yang mereka peroleh. Dalam film yang cukup panjang itu, sekitar 40 menit, tampak Wardah Hafidz, Pimpinan UPC saat itu, aktif berdialog dengan warga pinggiran Jakarta Utara (Muara Baru dan sekitarnya), melemparkan pertanyaan-pertanyaan dan mencoba mengubah cara pandang warga miskin kota, bahwa mereka harus berjuang, mereka harus bertahan, mereka harus bersatu untuk melawan dan mencegah penggusuran yang akan dilakukan oleh pemerintah kota yang bekerjasama dengan pengusaha property.


                            Foto : Subhan Usman

Dari film itu, saya mengerti bahwa warga miskin kota masih banyak yang buta informasi dan sangat rentan dipermainkan oleh pengusaha dan makelar tanah. Mereka diminta tandatangan dokumen yang berisi persetujuan untuk pembebasan tanah, atau minggat dari rumah mereka. Wardah pun berdialog dan mengingatkan mereka bahwa dokumen itu berbahaya, bahwa mereka harus menolak. Ada pula warga miskin kota yang sepakat saja untuk pindah ke tempat baru, walau dia tidak tahu aturan tempat baru yang tak lain apartemen itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang punya modal ekonomi untuk membayar sewa kamar.

Dari film itu juga saya melihat kesewenang-wenangan pemerintah kota yang direpresentasikan oleh Satpo PP, dengan tanpa ampun menghancurkan rumah-rumah yang dindingnya papan dan beratap seng itu, Menghajar warga, membuat goresan dan memar pada wajah-wajah warga yang melawan. Warga tak berdaya, mereka lalu menuntut ke DPR, Mereka dilarang melintasi pintu gerbang, Wardah mendampingi dan akhirnya mereka berhasil masuk ke ruang sidang, untuk menuntut hak mereka di hadapan para wakil rakyat.

Satu persatu dari mereka berbicara, ada yang tak dapat menahan air mata, ada yang kesulitan berkata-kata, ada yang dengan lugas menuntut bahwa Wakil Rakyat harus berpihak pada mereka, wakil rakyat harus menegakkan keadilan. Tapi, apa daya, wakil rakyat hanya sekadar wakil rakyat, di film itu tampak bahwa wakil rakyat hanya mewakili sebagian rakyat saja, yaitu rakyat yang impersonal, rakyat yang sunyi, rakyat yang kaku dihadapan buku peraturan dan undang-undang. Wakil rakyat hanya mendengarkan dan tidak mampu memberikan jaminan perbaikan. Meski begitu, berdialog dengan wakil rakyat di ruangannya merupakan suatu capaian bagi rakyat miskin kota, "mereka sudah mendengarkan, mereka sudah tersentuh hatinya, minimal kita telah memberi mereka shok mental". Begitu kira-kira komentar Wardah. Saya tiba-tiba teringat oleh kata-kata Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramodya Ananta Toer, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya". Dimana tampak keteguhan manusia melawan determinisme sejarah, walah sang manusia kalah, tapi menang secara kemanusiaan.

Lalu, dari pengalaman kekalahan dan penggusuran, warga miskin kota bersatu dengan dampingan UPC. Relawan UPC yang terdiri atas warga miskin yang sadar dan tergerak untuk menyadarkan warga lemah lainnya, lemah secara ekonomi dan politik, untuk bersatu mengumpulkan tandatangan untuk kontrak politik kepada calon pemimpin Indonesia, pada Pemilu 2009 lalu. Setelah terkumpul tandatangan lebih dari 500 ribu tandatangan, mereka menegosiasikan hal itu kepada Soesilo Bambang Yudoyono dan Boediono, namun calon presiden yang akhirnya berhasil terpilih sebagai presiden tersebut menolak untuk menerima kontrak politik. Maka sia-sia-lah perjuangan Wardah dan UPC kala itu. "Tapi kami mendapat pelajaran, untung SBY tidak tandatangan, jika dia menerima kontrak politik, maka UPC akan turut terjerat dengan pemerintahan yang begitu buruk," begitulah kira-kira ungkapan Wardah.

Warga kembali berharap waktu Pemilihan Gubernur Jakarta pada 2012, UPC dan warga membangun kontrak politik dengan Pasangan Joko WIdodo - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Jokowi menerima kontrak politik dan mendapat sambutan hangat warga. Kontrak politik kembali dibangun waktu pemilihan presiden Juni 2014 lalu, dimana Wardah dan kawan-kawan meminta kontrak politik untuk warga miskin kota di Porong Sidoarjo.

Begitulah akhir film Ascan Breuer, peranakan Cina Jawa Tengah - Jerman, ibunya adalah orang Indonesia yang merantau ke Jerman setelah peristiwa 65. Ibunya keluar dari Indonesia, lebih karena buruknya suasana dan ketidaknyaman saat-saat itu. Film ini pun tak lain merupakan persembahan Ascan untuk leluhurnya, sebuah kerinduan akan identitas. Indonesia merupakan negeri dalam dongeng-dongeng ibunya kala ia hendak tidur, Indonesia adalah suatu negeri dimana ada jutaan nuansa di sana, ada jutaan hikayat dan makna.

Terakhir saya ingin mengutip komentar Wardah terhadap warga miskin kota ini, "Kita harus melihat warga miskin kota sebagai bagian integral dari kota". Warga miskin bukanlah benalu, mereka adalah sama dengan kita, yaitu manusia-manusia yang mencari hidup, mereka hidup demikian karena kurang beruntung lantaran perbedaan akses informasi, akses pendidikan, akses modal.

Setelah menonton film ini, saya tiba-tiba merasa tak nyaman lagi memasang status pamer kemewahan, semisal tempat tongkrongan apa apa saja terkait simbol-simbol atau status sosial. Itu sama saja dengan membatasi kita hanya pada kenyamanan-kenyamanan kelas menengah. Walau pun mungkin saat ini adalah fase dimana saya secara pribadi sangat menikmati akses pengetahuan, akses modal dan kenyamanan-kenyamanan kelas menengah.

Lantas, apa yang harus kita perbuat, sehabis nonton film itu, kami semua mendapat amplop yang berisi komitmen untuk membantu ala kadarnya. Saya tak menyerahkan amplop tersebut, saya hanya berkomentar bahwa saya akan membantu dengan cara lain, mungkin, inilah cara saya membantu dan akan berkomitment terus membantu.

1 November 2014
Kalibata, Jaksel

Read more...

Selasa, 28 Oktober 2014

Surat untuk Menteri Kelautan dan Perikanan

Dear Ibu Susi Pudjiastuti,

Saya tidak terlalu mengenal Ibu, saya hanya pernah mendengar nama ibu sebagai pengusaha perikanan yang sukses, dan pemilik perusahaan jasa penerbangan Susi Air. Kabar terakhir yang saya dengar, yaitu tentang pesawat Susi Air yang jatuh di Maluku Tenggara pada sekitar Maret 2014 lalu. Saya was-was, sebab saya hendak  berangkat ke Maluku Tenggara (Malra) waktu itu. Alhamdulillah, selamat di Malra, saya bahkan sangat menikmati lima hari di sana, sembari mempelajari budaya masyarakat Kei dan Tual, serta menambah pengetahuan tentang cara hidup nelayan dan petani rumput laut di Malra.

Tiba-tiba, sehari sebelum pengumuman Kabinet Kerja, 25 Oktober 2014, Ibu Susi terdengar kuat digadang-gadang sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Saya santai saja, karena saya percaya pada cara-cara pemimpin Jokowi - JK, bahwa beliau akan memilih anggota kabinet yang dapat bekerja dengan baik, memiliki target yang jelas, tidak terbebani oleh jerat - jerat politis, profesional dan mengerti persoalan yang dihadapi. Kehadiran Ibu Susi di kabinet kerja Jokowi - JK bukan hal yang mengagetkan bagi saya. Sebab cara-cara menilai kinerja seseorang dalam pandang Jokowi bukan dilihat dari deretan gelar akademik, bukan dilihat dari kemampuan omong dan pesona penampilan.



Saya pun percaya, seseorang selalu mencari partner yang sesuai atau cocok dengan karakter dirinya. Saya pun melihat pantulan sinar Jokowi pada Ibu Susi, dimana Ibu ini tidak terlalu pusing dengan tata krama umum, dengan hal-hal yang berbau citra, unggah ungguh, artifisial. Yang penting adalah bagaimana pesawat dapat sampai dengan selamat, bagaimana ikan dan udang tiba di negara ekspor dengan kualitas baik.

Untuk urusan manajemen, urusan komunikasi, urusan kerja, saya yakin pada Ibu Susi. Dan hal itu telah dibuktikan dengan mekarnya bisnis dalam dunia perikanan yang Ibu Susi Kelola, dimana persaingan dalam bisnis perikanan saya akui luar biasa rumit. Dan hanya sebagian kecil saja pribumi yang berhasil bertahan di bisnis perikanan. Dalam bisnis tersebut, dibutuhkan disiplin yang tinggi, kemampuan analisa pasar, kemampuan untuk mempertahankan kualitas ikan dan menjaga kepercayaan kepada para nelayan dan pembeli. 

Saya pun pernah mencoba untuk berbisnis di bidang pengiriman hasil perikanan, tapi percobaan pertama saya gagal karena kepiting yang saya kirim untuk pertama kalinya banyak yang mati dalam perjalanan dan berakhir rugi. Padahal, sebelum-sebelumnya saya sudah bekerja sebagai peneliti pemeliharaan kepiting sistem indoor  di perusahaan eksportir kepiting di Jakarta. Ternyata bekal sebagai peneliti tidak menjamin keberhasilan dalam dunia usaha. Dari situ saya tahu, bahwa sekolah tinggi sebagai sarjana perikanan dan sebagai peneliti sebuah perusahaan tidak menjamin bahwa orang tersebut akan sukses pula jika mengelola bisnisnya sendiri. Sebab, dalam bisnis ada jatuh bangun, ada ujicoba-eksperimen, ada resiko besar di hadapan. Bisnis tidak hanya berurusan dengan rasa ingin tahu yang hendak dipuaskan.

Di samping itu, Ibu tidak hanya berpaku pada satu bidang bisnis, tapi merambah hal lain, yaitu transportasi untuk medan-medan sulit. Ibu melihat itu sebagai peluang, yaitu peluang untuk saling membantu, saling menutupi, win - win solution. Saya percaya, orang-orang berfikir di luar kotak, selalu saja menemukan solusi dalam kondisi-kondisi sulit. Orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan untuk mengatasi problem yang sedemikian kompleks.

Ibu Susi pantas memimpin Perikanan dan Kelautan, sebab problem Perikanan Kelautan bukan hanya tentang perikanan dan kelautannya, tapi segala hal yang terkait dengan eksploitasi dan konservasi sumberdaya alam tersebut. Perikanan - kelautan jangan hanya dilihat dengan kacamata ilmu perikanan dan kelautan, dimana orang-orang yang berurusan dengan kelautan dan perikanan hanya alumni kelautan dan perikanan saja. Sebab, dalam perikanan dan kelautan ada ekonomi yang mendorong nelayan menangkap ikan, mendorong pengusaha mengirim ikan, mendorong industri mengembangkan produk-produk olahan perikanan, di sana ada hukum yang mencoba untuk menetapkan batas-batas pengelolaan perikanan, ada tata ruang wilayah atau zonasi, ada hukum laut, ada undang-undang yang memandu para pengusaha dalam melakukan bisnis yang memerhatikan aspek sosial dan lingkungan, di sana ada juga tentang masyarakat-antropologi, bagaimana masyarakat nelayan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, bagaimana masyarakat dapat bertahan hidup di laut, bagaimana konflik penguasaan lahan di pesisir dan laut, serta di sana juga ada masalah lingkungan, apakah praktek-praktek perikanan dapat menjamin kelangsungan spesies dan ekosistem? apakah praktek-praktek perikanan tidak menyebabkan kerusakan lingkungan sekitarnya?

Ikan dan laut harus dilihat dari beragam perspektif, apakah Ibu Susi mampu mengakomodir dan mencari jalan keluar terhadap permasalahan-permasalahan tersebut? Apakah Ibu Susi mampu mengangkat derajat nelayan, seperti cara dia mengangkat dirinya dari keterpurukan-keterpurukan ekonomi waktu masih belia? Apakah Ibu Susi mampu membantu masyarakat pulau-pulau kecil, seperti dia membantu jasa transportasi bencana Tsunami Aceh? Apakah Ibu Susi dapat membenahi kerusakan karang, berkurangnya sumberdaya perikanan, penebangan mangrove? apakah ekowisata dapat lebih dikembangkan dengan konsep bisnis dan ekologi? Apakah? Apakah? Apakah?

Untuk itu, marilah kita sama-sama menunggu gebrakan-gebrakan Kabinet Kerja, termasuk Ibu Susi. Ibu yang saat ini sedang dikeluhkan karena gayanya yang nyentrik, merokok, tidak pakai bh, dan bertato ini. Lantas, ada apa dengan rokok, tidak pakai bh dan bertato? Apakah dengan tidak merokok, memakai bh, bertato dapat memimpin perusahaan maskapai penerbangan, dapat melakukan kegiatan ekspor impor perikanan yang secara langsung turut membantu ekonomi nelayan?

Untuk Ibu Susi, saya ucapkan selamat bekerja. Kami siap mendukung segala kebijakan-kebijakanmu yang berpihak pada perbaikan masyarakat perikanan dan perbaikan lingkungan perikanan dan laut. 

Idham Malik, 
Pemerhati Perikanan - Kelautan

Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP