Selasa, 26 Agustus 2014

Ke Rammang – Rammang

Tebing dan deretan bukit itu, dengan hamparan sawah menghijau itu, sebenarnya sudah lama terdengar kemahsyurannya. Ya, Rammang – rammang pun merupakan tempat suaka yang cukup diminati oleh kawan-kawan saya, kawan yang saya kenal berwatak bebas, tak senang otoritas, sukanya hal baru dan jalan-jalan. Informasi dan bisik-bisik tentang Rammang-rammang seperti berlalu lintas, beberapa kali saya diajak, tapi saya tidak sempat dan kadang juga saya tidak mau. Saya berfikir, Rammang-Rammang sama saja dengan pemandangan yang hampir tiap hari saya lihat di Maros, yaitu bukit-bukit, deretean tebing.

Pada Sabtu, 23 Agustus 2014, saya kembali diajak oleh junior-junior di koran kampus-identitas Unhas untuk mengunjungi Rammang-Rammang. Pada hari itu, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya kerjakan atau ingin saya pelajari, tapi karena seliweran informasi sebelumnya yang menggiur, maka saya pun dengan sedikit enggan mengiyakan. Tapi, motivasi mendasar saya adalah untuk memperlebar penghayatan saya terhadap alam, yang sebelumnya telah saya pupuk pelan-pelan ketika berjalan-jalan di kampus Unhas, saban pagi.

Berangkatlah kami bertujuh, saya, Ria, Fadli, Heri, Latif, Diana, dan menyusul Eca yang berangkat dari rumahnya di Sudiang. Kami menempuh sekitar lebih dari 30 kilometer dari Tamalanrea ke Maros Utara, tepatnya pada jalur masuk ke lokasi eksplorasi Semen Bosowa. Tak jauh dari jalur masuk Bosowa, kami berhenti di dekat jembatan dan melihat sungai dangkal yang terdapat batu besar. Batu itu bukanlah batu sungai, tapi merupakan bagian dari batu tebing, yang mungkin dahulu terlempar oleh letusan gunung, ataukah terderet arus kencang pada saat sebagian besar daratan Maros terendam air pada masa pencairan es (glasial), ataukah batu-batu itu telah terkikis oleh masa dan air, dan yang tersisa hanya potongan-potongan kecil, yang jika dibandingkan dengan tebing-tebing kars itu.



Kami bertujuh sepakat untuk menyewa perahu jolloro, untuk mengantar kami menuju lebih dekat ke deretan tebing. Kami pun dengan girang masuk dan duduk di atas perahu, ponsel kami lebih sibuk dibandingkan kami-nya sendiri, hahaha.. Latif mengabadikan-merekam perjalanan dari depan, ria sibuk meminta Heri untuk memotret dirinya yang lagi duduk manis di pangkal perahu, Eca yang badannya agak bongsor itu bergerak-gerak sesuai arah kameranya dan membuat perahu bergoyang, pada perjalanan itu, saya pun sesekali berdiri di atas perahu, melihat lebih tinggi pada tebing-tebing itu, gua-gua yang hitam dan misterius, serta deretan nipa dan bakau di sisi kiri-kanan sungai.



Saya membayangkan sungai itu, bagaimanakah dahulu sungai ini, sejak kapan sungai ini terbentuk? Dari yang saya dengar dari pakar kars, mengatakan bahwa gunung kars yang strukturnya berupa batu kapur itu punya kemampuan untuk menyimpan air. Sehingga, saat hujan turun di atas pegunungan kars, bulir-bulir airnya meresap masuk melalui pori-pori gunung, entah itu telah dilapisi tanah atau masih berupa padatan batu keras nan berlubang. Air bergerak melalui cela-cela dalam gunung, hingga tiba di telaga ataukah tertampung pada suatu tempat di dalam gunung itu sendiri, yang mungkin kita akan temukan ketika kita mencoba menelusuri gua-guanya. Saya yakin, sungai ini, yang airnya tampak abadi ini, juga bersumber dari mata air yang keluar dari gunung.

Air yang kami lalui itu, eh, kumpulan H­2O yang kami melaju di atasnya itu, saya jilati dan terasa asin. Tingkat keasinannya sedang atau payau. Berarti cukup kuat air laut masuk ke sungai kecil itu, dan saat itu air sedang surut, jika air pasang dapat dipastikan bahwa kadar garam akan meninggi seiring bertambahnya NaCl yang bergumul dari laut. tapi, orang-orang kimia yang tiba-tiba mereduksi air menjadi H2O itu apakah memikirkan bagaimana kaitan antara struktur dasar air itu, warnanya yang hijau, airnya yang asin, ikan-ikan yang menangkap oksigen atau kita yang awam sebut sebagai udara itu di dalam air? Terus bagaimana perahu kita dapat begitu gampang mengapung dan kita berdelapan dapat dengan aman duduk-duduk di atasnya?

Pertautan-pertautan itu menimbulkan ‘tremendum et fascinosum’, yaitu rasa getar pada misteri, menakutkan dan memesona. Tapi saya tak yakin, kita manusia modern terlalu sibuk mengurus-urusi hal-hal yang partikular. Kita mulai melakukan penyelidikan hingga ke dasar dan misteri itupun tersingkap. Kita pun akhirnya kagum dan puas, setelah itu rasa pesona memudar. Kita tak lagi menaruh rasa hormat pada air sebagai sesuatu yang suci. Kita sejak kecil mulai diperkenalkan oleh guru-guru kimia kita, bahwa air itu adalah H2O.



Dengan jiwa anak-anak saya, dengan jiwa hewaniah saya, mulai mengamat-amati tanah-tanah basah di antara pepohonan nipah (Nypa), mulai melihat-lihat tumbuhan bakau (Rhizophora sp) yang beradaptasi dengan air dan lumpur, dengan akar yang melengkung dan seperti mengangkat tumit, akarnya yang naik itu memiliki kemampuan untuk mengeluarkan garam. Nipa dan bakau, serta sesekali saya melihat pohon api-api (Avicennia) merupakan tumbuhan mangrove sejati, yang relatif terisolasi secara taksonomi dari komunitas daratan. Keberadaan mangrove di sisi-sisi sungai itu, tentunya berperan penting untuk keberlangsungan ekosistem di kawasan estuari tersebut, mangrove menjadi salah satu bagian yang menghidup-hidupi keseluruhan sistem. Pada mangrove-lah hewan-hewan biasa berteduh dan mencari makan, di sini siklus hidup berlangsung, ikan besar memakan ikan kecil, kepiting mencari ikan dan udang, udang mencari plankton, tiram-tiram mencari unsur hara, zooplankton mencari phitoplankton. Dan akar-akar mangrove menstabilkan kualitas air, menetralisir atau menstabilkan bahan-bahan yang berlebihan seperti nitrogen dan phospat, menghasilkan udara yang segar karena mangrove juga bernafas dan mengeluarkan oksigen, menahan lumpur agar tak jauh ke dalam.

Ah, saya tampaknya telah membahas terlalu jauh, tapi saya senang melihat buah bakau yang panjang dan mirip kacang panjang itu bergelantungan di ranting-ranting bakau. Saya pun senang menikmati dan memikirkan kompleksitas ini, kompelksitas antara bebatuan, air, tumbuhan dan hewan-hewan, yang diramu oleh kesadaran manusia yang melihatnya. Manusia yang dalam paradigma ilmu pengetahuan empirik dianggap juga sebagai hewan, hewan yang berfikir, Homo rationale. Tapi bagaimana kah kaitan antar ini semua? Kaitan antar entitas-entitas yang berbeda tingkatan, kualitas atau eksistensinya.

Batu, air, tanah, serta unsur-unsur di dalamnya adalah benda mati atau pelikan, ia sepenuhnya dipengaruhi oleh dunia luar-eksternal. Sehingga sangat determinan atau sesuai dengan hukum kausalitas ilmiah. Batu tak punya daya untuk berkembang, air tak punya daya untuk tumbuh, bergerak sesuai keinginan dari dalam, serta tanah hanyalah kumpulan dan rangkaian unsur-unsur yang saling bertaut, tempat nutrien tempat tumbuhan memperoleh makanan. Sementara tumbuhan, dari dalam dirinya terdapat potensi untuk tumbuh, hingga berbuah, dan buah itu kembali menebar benih baru. Pada tumbuhan terhadap unsur hidup yang tak terjelaskan. Reaksi-reaksi kimia dan fisika tak cukup menjelaskan fenomena pergerakan dan pertambahan ukuran pada tumbuhan. Dimana tumbuhan selalu bergerak mengikuti matahari, walau pergerakannya sangat perlahan dan tentu, metabolisme dalam tubuhnya sangat perlahan.

Bagaimana pula dengan hewan, umur hewan tak selama tumbuhan-tumbuhan kayu itu. Sebab proses-proses dalam tubuh hewan (metabolisme) bergerak demikian cepat. Tapi, pada diri hewan, telah dikaruniai kemampuan untuk bergerak sesuai kehendak dan selera, tapi masih dibatasi oleh naluri memangsa atau menghindari pemangsa. Hewan telah memiliki kesadaran atau kognisi, tapi masih demikian kabur. Mereka sadar bahwa ada organisme atau entitas lain di sekitarnya, melalui persepsinya, perasaan, intuisi dan panca indranya. Namun, hanya sebatas itu saja kesadarannya. Hewan tak pernah berfikir untuk mencari jalan keluar dari kebuntuan-kebuntuan dan mengatasi problem-problem alam dengan lebih kreatif. Mereka seperti dikaruniai alam untuk mengambil apa saja yang ada di alam. Nah, ketika makanannya sudah tidak ada di alam, atau mereka kesulitan mengikuti tradisi atau kesadaran nalurinya, mereka pun tersingkir dan punah.

Lantas, manusia, menurut E. F. Schumacher, filsuf kontemporer Inggris, manusia adalah kesatuan antara itu semua, di dalam diri manusia, terdapat unsur mati (fisika, kimia-eter), sifat tumbuhan (astral-biologi), sifat hewan (jiwa-cognition), dan kesadaran (ruh-conciousness). Pada manusia terdapat kesadaran akan dirinya, akan potensi dirinya, akan kecemasan-ketakutannya, akan rasa, gairah dan bahagianya. Kesadaran akan sejarah (makna), masa kini (nilai), dan masa depan (maksud). Betul, manusia menempati posisi yang tinggi diantara susunan hirarkit, pelikan, tumbuhan, hewan, manusia. tapi justru karena itulah, maka manusia harus menghormati entitas-entitas lainnya. Manusia harus bersyukur diberkahi oleh sesuatu yang paling halus dari entitas-entitas yang lain (kekuatan di dalam-batin), dan manusia memiliki kemampuan untuk memperkuat potensi batin itu melalui proses belajar (pendidikan), melalui tradisi, budaya, ajaran moral dan agama. Dengan kesadarannya itu, semestinya manusia dapat lebih sadar terhadap lingkungan, sadar bahwa pada masing-masing spesies dan alam memiliki nilai intrinsik dalam dirinya dan diperlakukan dengan sebaik mungkin. Dalam kelembutan manusia, mampu melihat dan menghayati hal-hal yang abstrak dan kasar pada mahluk lain. Sementara mahluk lain hanya dapat mengetahui, tapi tak mampu menghayalkan kita sejauh kita menghayalkan mereka.  

Tampaknya sudah terlalu jauh, pada perjalanan itu, kami singgah dan mendaki - menurun hingga tiba di telaga bidadari. Air jernih dan segar terkumpul pada telaga itu. Peluh kami pun terlepas dan teroksidasi oleh angin. Ada rasa bebas yang kami rasakan. Begitu halnya ketika kami tiba di Desa Berue’, kami dikelilingi bukit, dengan hamparan sawah yang telah panen, dan kolam-kolam yang sedang istirahat memelihara ikan. Tak lama kami di sana, hanya berjalan-jalan di pematang, menghirup udara segar, mengambil gambar dan foto bareng, lalu kami kembali ke perahu.



Di perahu kami berdiam diri, kami tampak merenung-renung, menghayal, sebagian teman tertidur. Dan dalam benak saya terlintas senyumannya. Dan membayangkan dia ada di sampingku, menemaniku ke desa itu, ke telaga itu.

Poncol, Jakarta Selatan
26 Agustus 2014

Idham Malik 

Read more...

Jumat, 22 Agustus 2014

Kampus dan Jalan Pagi

Saya membicarakan kampus kali ini bukan sebagai tempat belajar, tapi sebagai tempat berjalan. Melangkahkan kaki di permukaan tanah, menyapu debu, menginjak rumput-rumput. Kaki melangkah pada jalur-jalur yang mungkin sudah ratusan hingga ribuan kali saya lewati, dahulu. Jalur-jalur itu pun sedikit menyimpan kenangan, akan ketergesaan, akan keinginan untuk segera tiba di tujuan. Tapi, pada jalan-jalan belakangan ini, saya tidak ingin cepat-cepat sampai, saya justru ingin sampai pada setiap langkah, pada ketika mata terpesona pada objek daun, bunga, batang pohon, rerumputan, dan ketika telinga sedang asyik mendengar desir-desir, gemericik-gemericik, kicau-kicau burung, dan mungkin, kepakan-kepakan sayap kupu-kupu.   

Saya memulainya bukan pada pagi betul, tapi ketika matahari menghangatkan bumi dengan sudutnya yang lancip. Udara saya hirup dalam dan menghembusnya perlahan, ku lihat juga beberapa manusia kampus dengan baju seragam orange, yang semenjak awal pagi menata dan merapikan tumbuhan, mengangkut-angkut sampah, menggeser-geser daun-daun yang lepas dan terjatuh dari pohon. Saya mengamati mereka dan mereka seakan-akan tak mengamati saya. Mereka mungkin mengamati orang lewat, orang yang sebentar lagi akan berlalu lalang, begitu banyak.

Saya pun terus melangkahkan kaki, mengaktifkan kamera dan mengambil beberapa gambar, gambar rumput, gambar taman dan kebun, gambar pohon-pohon, gambar deretan pohon, gambar bunga, daun-daun merambat. Sehari saja saya konsentrasi mengambil gambar, hari-hari berikutnya, gambar-gambar itu hanya saya rekam di dalam ingatan, dimana ketika saya menghirup nafas, gambar-gambar itu hadir dan menghiasi mata. Sayangnya, pada hari-hariku yang telah lewat itu, saya belum sempat menanyakan pada orang yang tahu, apa nama-nama pohon itu. Saya pun hanya tahu beberapa nama saja, seperti pohon asam, ki hujan, palem, ketapang, beringin, jati, dan mahoni. Tentang hewan, yang saya amati adalah burung-burung di sekitar pepohonan beringin di lapangan dekat fakultas pertanian, jalur-jalur hutan antara kehutanan menuju farmasi, serta di rerumputan dan danau buatan di belakang Asrama Mahasiswa (Ramsis) dan dekat jalan sahabat, di situ saya melihat burung belibis melompat, dan di danau saya melihat ikan gabus dengan tenang berdiam dalam air.



Lalu, apa yang saya peroleh? Pada langkah-langkah itu saya mendapatkan kebahagiaan. Itu jawaban final dan subjektif. Kebahagiaan itu diantar oleh suasana lingkungan-alam yang bebas, membuat pikiran kita pun menjadi bebas. Bersama ayunan tangan dan gerak ritmik kaki dan hirupan udara di alam, kita sebenarnya mencoba untuk menjelajah keluar dari kebisingan, sejenak menghindari dari kotak-kotak tembok persegi, batu-batu yang telah remuk dan dibentuk, kemudian dipoles agar tampak indah. Sisi manusiawi kita telah berususah payah memanusiakan tembok, dengan memberi ornamen, memberi warna agar tampak meriah atau kalem, namun tembok tetaplah benda mati dan kaku, semakin kita amati tembok itu, sisi kemanusiaan kita pun kian guyah. 

Apalagi, kemanusiaan kita secara sengaja maupun tidak sengaja terbatu-kan dan termesin-kan, seiring dengan interaksi kita yang intens dengan jalanan, tembok-tembok, mesin-mesin dan teknologi komunikasi. Sehari-hari mata kita diguyur oleh benda-benda mati, mulai dari kamar tidur, kita bangun melihat tembok-tembok dan mesin handphone, lalu ruang-ruang rumah, kemudian jalanan yang sibuk dan ribut, lalu kantor kerja yang bagai sel-sel tahanan. Telinga kita bergaung-gaung suara mesin kendaraan, suara televisi, suara musik, yang semuanya dari teknologi yang demikian canggih. Kita pun mulai berdiskusi via chatting facebook, teknologi merubungi kita, bahkan mempengaruhi cara berkomunikasi kita. Akibat dari itu semua, tak pelak lagi kita mengalami kemorosotan sensitifitas terhadap riak-riak alam, suar-suar angin, hingga kita tidak lagi merasakan sesuatu yang sublim ketika memandangi pohon, antara melihat pohon dan melihat mesin kita merasakan hal yang sama. Padahal, yang hidup dan yang mati tentulah jauh berbeda. 

   

Dalam sehari-hari ketika jalan pagi, saya baru sadar bahwa hidup kita harus diperbaharui setiap saat. Hidup kita butuh pandangan dan perspektif yang berbeda untuk lebih memahami apa itu hidup? Perjalanan hidup? Apa yang kita ingin capai? Serta bagaimana kita manusia dapat saling memahami, dapat lebih paham habitat kita, spesies lain, bumi tempat kita bernafas. Kita akan kesulitan untuk berinteraksi, kesukaran untuk memahami lingkungan, jikalau kita sehari-hari hanya berkutat dengan perangkat keras, serta pada buku-buku yang mengajarkan kita mencintai pakaian, mencintai benda-benda, mencintai materi dan kekayaan.

Dan dalam hari-hari belakangan ini, dalam pengalaman mengamat-amati  sekitar, saya merasa lebih damai dan lebih dekat dengan alam. Hal itu tiba-tiba menimbulkan rasa cinta, bukan hanya pada alam, pada pepohonan, pada kicau burung, tapi juga pada hal-hal lain yang menyentuh, seperti simpati dan kasih sayang manusia.

Pada jalan-jalan itu, tanpa saya sadari indra saya, baik itu mata, telinga, kulit atau pandangan, pendengaran, perabaan, serta perasaan, kian terasah. Saya tiba-tiba dilatih oleh alam untuk meresapi, untuk menghayati, untuk menggunakan indra sebaik-baiknya. Saya tak tahu, bagaimana membahasakan rasa dan sensitifitas itu. Tampaknya sedikit bersinggungan dengan aspek psikologi- mental, dan mungkin metodogis. Mental yang bebas akan memudahkan kita untuk mencerapi apa-apa yang tampak, gejala-gejala yang muncul atau sensasi-sensasi. Pada Mata dalam kedalaman pengamatannya, menghadirkan gambaran-gambaran baru pada diri kita. Pohon-pohon bukan lagi sekadar pohon yang tumbuh begitu saja atau karena dirawat, tapi pohon telah menjadi mahluk hidup, mahluk yang bernafas dan mengalami perkembangan. Pohon dalam pandangan baru kita adalah sesuatu yang berdegup, sesuatu yang hidup dan punya nilai. Dan akhirnya akan melahirkan kesadaran bahwa pohon pun harus dihargai, harus diperlakukan dengan patut. Pohon itu, saya tak tahu, tapi saya merasa bahwa dia juga merasa, dia juga merasakan kehadiran kita.

Tampaknya, dengan merendah dan mencoba mendengar, mencoba untuk membebaskan diri dari egoisme spesies kita (Homo sapiens-red), maka kita telah masuk ke zona baru, zona kesalinghubungan, zona interaksi dan persahabatan dengan alam, dengan spesies lain. Kita pun kembali ke asal, kembali menjadi manusia abad lalu dimana nenek-nenek kita dengan rutinnya melatih diri meresapi alam. Saya membayangkan nenek kita bangun pagi-pagi, berjalan pagi untuk ke sawah ataukah ke tambak, dengan gesit mengalirkan air ke sawah-sawahnya, ataukah nenek yang lebih jauh yang belajar keras memahami cuaca, untuk menentukan hari baik untuk berburu, belajar keras untuk memahami bebauan daun, untuk mengetahui mana daun yang dapat dimakan dan mana daun yang dapat merobek sel dan meracuni.



Tentunya, dari pengalaman berkenalan dan bersentuhan dengan alam ini, kita dan alam sama-sama membuka diri hingga kita sedemikian sadar akan makna hidup. Bahwa dalam menjalani hidup, yang utama adalah kualitas hidup, kualitas saling menghargai, menghormati antar sesama mahluk hidup. Kita pun merongrong alam hanya untuk kebutuhan vital saja, agar alam tetap dapat meregenerasi diri, menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terlanjur kita sebabkan. Setidaknya, suara Mahatma Gandhi kembali bergaung di sini, bahwa bumi hanya dapat menampung kebutuhan ummat manusia, dan tak sanggup menanggung keserakahan manusia. Juga suara Arne Naess, yang mengatakan bahwa yang kita inginkan dalam hidup adalah kualitas yang bersumber dari nilai-nilai, agama, moralitas, bukan standar hidup yang ditopang oleh kepemilikan materi. Setidaknya Arne Naess menunjukkan bahwa, akar persoalan lingkungan itu pada tingkah laku-etika manusia, pada gaya hidup manusia yang tinggi dan keinginan-keinginan yang absurb dan membosankan.


Idham Malik

                                                                                                                                                               Tamalanrea, 22 Agustus 2014

Read more...

Senin, 18 Agustus 2014

Leang-Gua

Kadang, sesekali kita butuh ke leang, kata lain dari gua. Jauh sebelum kita, para moyang telah bermukim di gua, yang difungsikannya sebagai rumah, tempat berlindung dari para hewan liar, tempat istirahat tanpa diganggu oleh rasa was-was. Gua cukup hangat dan nyaman, tempat moyang kita dengan bebas dan mungkin sedikit malu-malu bersenggama dalam ceruk-ceruk atau relung gua. Mereka berharap, dengan persenggamaan itu, akan lahir manusia-manusia yang tangguh, manusia yang dapat selamat dari berjuta tantangan ketika lahir ke dunia. Tantangan terhadap penyakit, terhadap makanan yang makin sulit dicari, tantangan terhadap semakin kencangnya saingan antar manusia.   



Saya membayangkan moyang kita itu, moyang yang warisannya tersisa tapak tangan dan lukisan babi rusa. Tapak tangan yang agak besar, melebihi tangan normal manusia zaman kita. Ini tampaknya membuktikan bahwa manusia memang mengalami evolusi, tapi terbatas pada evolusi ukuran. Sedangkan evolusi spesies, saya juga belum yakin betul, antara percaya dan tidak percaya. Saya berada di antaranya, yaitu masih tahap ragu-ragu. Saya juga tidak mau menerima mentah-mentah jawaban final kitab-kitab, yang langsung menjelaskan bahwa nenek kita adalah adam dan keturunan-keturunannya. Jika Adam, apakah betul Adam muncul begitu saja, tanpa sejarah, tanpa proses yang jumud, yang tak teratur, yang kacau, yang mungkin atau kebetulan menghasilkan yang teratur itu, yang kompleks itu, yang tiba-tiba hidup, berdegup, bernafas, dan tumbuh.

Adam menurut pemahmanku saat ini dan dapat saja berubah kelak, adalah penjelmaan manusia yang beradab dan telah lengkap piranti-piranti akalnya untuk dapat mencerna, membangun hipotesa dari informasi-informasi yang masuk melalui indra, kemudian diolah dengan mudah pada ranah nalar yang bersifat apriori, adekuat, dan universal. Ini adalah perkembangan paling mutahir dari perjalanan gen-gen kita. Adam pun adalah manusia yang punya kemampuan untuk berternak dan bercocok tanam, itu ditampakkan oleh keturunannya, Habil dan Kabil yang merupakan gembala dan tukang kebun. Kemampuan itu sudah cukup spektakuler, karena secara rasional hanya dapat diperoleh dalam kondisi – kondisi tertentu, misalnya lokasi mereka tinggal terdapat spesies-spesies yang dapat dikultur dan dipelihara, dibiakkan, dibudidayakan, yang penemuan dahsyat itu tanpa diduga, dan berawal dari usaha trial and error. Dalam kisah-kisah pun kita tidak dijelaskan bagaimana sang kambing itu tiba-tiba dapat digembala? Bagaimana pengetahuan itu muncul? Saya rasa kita harus mencermati betul pertanyaan ini.     

Yah, kita hanya percaya tidak percaya pada keduanya, pada kisah simpanse yang gelisah, yang karena persaingan ketat antara monyet, berinisiatif turun dari pohon. Moyet yang cemas itu mencoba mencari makanan di darat dan kemudian melakukan perjalanan jauh. Iya dengan was-was keluar dari habitatnya, melewati padang-padang dan terus waspada terhadap terjangan hewan-hewan buas yang lain. Dari tantangan demi tantangan itu, pikirannya terus terasah hingga generasi ke generasi, dari keturunan moyet ke keturunan monyet yang sedemikian menjauhi sifat-sifat moyangnya. Kemudian, dalam perjalanan antar generasi itu, moyet yang semakin menyerupai manusia tiba-tiba mampu berdiri tegak, walau sedikit membungkuk. Mereka pun sudah bisa mencari makan dengan cara-cara yang lebih cerdas, yaitu dengan memanfaatkan batu-batu yang diruncingkan, dengan menggunakan pentungan. Dan pada akhirnya monyet yang sedemikian cerdas itu melakukan migrasi, mencoba-coba melintasi daratan yang jauh, melintasi lautan pada masa glasial, ataukah menggunakan perahu pada masa es mencair hingga tiba di pulau-pulau lainnya.

Dan akhirnya tiba di Leang, tiba di gua dan bersembunyi. Kemarin, 17 Agustus 2014, bersama seorang wanita yang saya cintai, kami melakukan napak tilas ke Taman Purbakala – Leang-Leang, di Bantimurung, Kab. Maros. Kami melalui batu-batu karang yang dengan cantik bertebaran di hamparan, batu-batu itu tertancap dengan multibentuk, letaknya acak dan mengesankan. Kita bisa bermain-main atau menciptakan banyak permainan di area itu, tempat main pinball (tembak-tembakan), main petak umpet, main sepeda-sepeda, main kejar-kejaran. Kami menduga dan sesuai dengan pernyataan seorang professor di Unhas, bahwa batu-batuan kars itu, sama dengan himpunan tebing kars yang berdempet-dempet, berjejer-jejer itu sebenarnya merupakan batu karang, yang ditandai dengan pori-pori tempat air laut dahulu dapat menyelusup. Kalau seperti itu, dahulu, entah beberapa ribu tahun yang lalu itu, laut begitu tinggi dan menutupi sebagian besar daratan, ketika bumi memasuki fase pasca glasial, ketika air-air dari kutub mencair. Pada masa itu, manusia dan hewan yang bertahan di Nusantara,  wilayah yang merupakan bagian tenggara bumi itu, hanyalah manusia dan hewan yang berada di tebing-tebing, puncak-puncak bukit dan dataran tinggi. Mungkin, manusia dan hewan yang berada di tengah-tengah bumi lah (Asia Tengah dan Afrika) yang cukup lapang wilayah jelajahnya, dan tidak dipengaruhi oleh lalu lintas air laut dan zaman glasial.



Kemudian kami mencoba mendaki, menapak-napaki tangga yang telah dibuat oleh manusia, hingga ke tebing, ke relung yang terdapat lukisan tangan itu. Saya melihat dan mengamat-amatinya dari jauh, dan tak menemukan hal baru di sana secara materil. Tapi secara pemahaman telah lahir hal-hal baru. Bahwa manusia itu selalu mencari akar, hingga penjelasan-penjelasan yang dianggap muskil dan mustahil. Segala hal yang merupakan peninggalan manusia atau menuju manusia harus dihargai, walaupun mungkin hal itu kelak akan terbantah oleh bukti-bukti baru yang lebih ilmiah. Hal itu kita lakukan agar kita sebagai manusia dapat lebih menghargai hidup kita saat ini. Bahwa dahulu, nenek moyang itu mampu bertahan hidup dalam kesulitan-kesulitan alam, dan kita pun harus hidup dalam kesulitan-kesulitan. Bedanya, dahulu manusia dan menuju manusia itu dipusingkan oleh alam, dikendalikan oleh samudera oleh cuaca dan hanya dapat bertahan dalam gua, sementara saat ini alam lebih banyak dikendalikan oleh manusia, manusia merekayasa alam, mengeksploitasi alam, alamlah yang dikendalikan, alam diatur, alam dipaksa untuk memenuhi kerakusan dan hasrat liar manusia. meski kadangkala alam juga turut membuat kaget, dengan gempa-gempa, dengan letusan-letusan gunung, dengan rob dan banjir.

Dan dalam gua itu, moyang kita memperoleh kedamaian, dalam gua nabi-nabi juga memperoleh hikmah. Gua memungkinkan hal-hal abstrak dapat ditangkap dan diresapi. Dalam tempat yang sepi itu, nabi menemukan dirinya dan sabda, berdialog dengan dirinya sendiri dan Tuhan. Pada gua, Plato berhayal-hayal tentang adanya dunia ide, gambar-gambar yang terbayang pada dinding. Mungkin, gambar babi rusa itu hanyalah replikasi dari bayangan yang terpantul ke dinding gua, yang muasalnya dari luar gua, seperti paham Plato, bahwa dalam gua kita hanya melihat bayangan dari lingkungan sebenarnya di luar gua. Tapi, mungkin saja itu terpikir oleh nabi, bahwa bayangan juga seperti cermin. Ia melihat bayangan dirinya dalam kegelapan gua. Melihat dosa-dosanya, melihat masa lalunya dan kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Untuk itu, mari ke gua, mari bersemedi, mari napak tilas, mari selamatkan gua, mari mempelajari sejarah kita, sejarah manusia gua. Dan keluarlah dari gua dengan pandangan baru, bahwa kita telah terlahir kembali ke realitas, dunia yang penuh tantangan.

Kampus Unhas, 18 Agustus 2014

Idham Malik

Read more...

Pertemuan Ringkas dengan Ubud

Ubud – Bali pada suatu siang, Minggu, 22 Juni 2014, desa yang selalu dikerumuni para pencari suaka. Para turis yang berjalan-jalan di trotoar, melihat-lihat cafe, melihat-lihat patung, melihat konstruksi rumah, melihat gestur manusia Bali. Kemudian mereka diterkam misteri, mereka meraba-raba sesuatu yang di negerinya hanya menjadi bualan, hanya ditemukan dalam buku-buku spiritual, yaitu semacam rasa mistik. Ia melihat patung itu, dan patung itu seperti melihat dirinya. Ia mengelus-elus ukiran, terkagum-kagum dengan busana dan corak kain, terkagum-kagum dengan alam hijau, dengan batu berwarna abu-abu. Mungkin, di negerinya, segala hal adalah tiruan, hanya kamuflase, hanya benda-benda mati yang dihidup-hidupkan. Di sini, benda mati dan sesuatu yang hidup itu saling berkelabat.



Pada benda mati itu, patung itu seakan-akan telah ditiupkan ruh, lalu kita dapat merasakan keanehan-keanehan, mungkin saja telah membuat kita tercenung dan diam. Kita pun mencoba merasa-rasa apa yang telah kita peroleh? Kita mencobanya dengan membuka diri kita pada sang patung, membiarkannya masuk dan menguar-nguar batin kita. Kemudian sesuatu itu hadir dan tak mampu kita bahasakan, sesuatu yang sublim, yang meyakinkan diri kita bahwa kita selalu membutuhkan hal-hal baru untuk mengisi jiwa, membutuhkan sesuatu yang mistik, yang mematikan akal kita sejenak. Kita pun akhirnya mengakui, bahwa kita terbatas, kita hanya terpaku untuk memandang dan merasakan keindahannya.  

Saya tak mengerti, hal-hal apa yang membuat Ubud semakin digemari? Barangkali karena ia menyimpan apa yang kita inginkan tapi terkadang kita tak ketahui. Kita selalu mencari-carinya, bepergian kesana – kemari untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam batin,  menghambur-hambur uang untuk sekadar merasakan suasana-suasana, yang sejuk ataukah gemerlap. Kita terus dibayang-bayangi sebuah tempat yang jauh, tempat yang dalam imajinasi orang-orang disebut sebagai surga. Suasana itu mungkin jarang kita rasakan ataukah kita bosan dengan suasana kampung dan tempat kita bekerja. Tapi, apakah hanya suasana yang kita cari?    

Ubud dicari karena ia menyimpan semacam rasa, yang di dalamnya termuat visual-visual alam serta suara-suara jernih manusia yang mewujud pada karya seni, suara manusia yang membetot dan memantul ke dalam batin-batin kita. Di sana pesona manusia terasa penuh, dengan balutan budayanya berhasil mengajak kita melampaui diri kita hingga ke batas-batas. Kita tidak sekadar menjadi amoeba yang dikendalikan, ataukah penonton yang di atur oleh televisi, ataukah pengendara motor yang matanya diserbu oleh banner-banner iklan, atakah pikiran-pikiran kita yang di atur oleh dogma-dogma, prilaku-prilaku kita oleh doksa-doksa, oleh habitus-habitus, oleh pasar. Kita menjadi manusia sebagaimana fitrah manusia, untuk bebas mengembangkan diri, bebas untuk menjadi apa yang dikehendaki atau yang diangan-angankan. Tapi saya tak tahu apakah betul manusia Bali, manusia yang bernyanyi liris itu, manusia yang melukis itu, yang memahat itu, yang menari itu betul telah menempuh dan menggores diri mereka hingga menjadi manusia seutuhnya? Ya, kita tak dapat memverfikasinya seperti ilmu alam, kita hanya dapat merasakan dan paham.

Pada waktu yang singkat itu, saya hanya melintasi Ubud untuk menuju Gunung Kintamani, gunung yang jauh, dimana kita harus turun tangga sekitar 1 kilometer untuk mencapainya. Di sana terdapat suasana yang lebih menggetarkan, yaitu ukiran candi pada tebing, pada tubir. Begitu besarnya hasrat manusia untuk mengukir gambaran-gambaran apa yang dalam batinnya. Agar mereka puas, agar mereka dapat hidup lebih panjang dan mati dengan gembira. Serta merasa telah meninggalkan jejak pada bumi agar manusia lain dapat pula melakukan perjalanan dengan melihat karya mereka, sebuah perjalanan batin menuju rasa bahagia. Pada tangan manusia, pada batas-batas kekuatan manusia itu dapat lahir candi-candi, kemegahan-kemegahan yang tampak mustahil. Tangan dan keterbatasan itu didobrak oleh ketidakterbatasan hasrat.



Yah, kembali pada pertemuan yang ringkas dengan Ubud, kembali ke jalan-jalan yang dikerumuni turis yang kulitnya memerah dan berbintik, ke daun-daun kelapa menguning dan bergelantungan di batang bambu. Saya melihat turis-turis itu berjalan ringan, terdapat pasangan-pasangan yang bergandengan, sekilas saya melihat pasangan berciuman singkat. Pada langkah-langkah pendek mereka, yang kadang juga terlihat was-was lantaran dipenuhi rasa penasaran terhadap rasa kopi dalam jejeran cafe itu, saya merasa dan melihat kebebasan. Yah, mereka mencari suaka, mereka mencari kebebasan dan rasa aman, mungkin kebebasan yang ringkas, sekadar keluar sejenak dari penjara rutinitas, penjara batin.

Tamalanrea, 18 Agustus 2014
Idham Malik

Read more...

Selasa, 24 Juni 2014

Percakapan di Petang Hari



Percakapan di sela-sela waktu itu cukup mengganggu, walau mungkin ada benarnya juga. Yah, tiga hari lalu, ketika petang melingsut jatuh di Sanur, wisatawan melangkah-langkah kecil di tepi jalan, seorang bapak yang saya kenal baik itu membuka pertanyaan, yang aneh dan menghunjam. “Idham mau berapa lama bekerja di sini?” saya menjawab, “tidak lama juga Pak, ada apa Pak?”

Bapak itu menjawab, “Ah, tidak, jangan diambil hati yah, saya melihat Idham itu tidak cocok kerja di sini, tempat tersebut membutuhkan orang yang memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan mampu melakukan inovasi-inovasi,” tukasnya.

Lalu saya menanyakan sama beliau, “terus saya cocoknya jadi apa Pak?”, kemudian beliau menjawab, “Idham cocoknya itu kerja di pemerintahan dan bagian aplikasi. Kalau jadi dosen juga tidak cocok”. Saya hanya menjawab, saya cocoknya itu pak di ilmu sosial dan masyarakat. Teman datang dan perbincangan tersebut terhenti dan kami berangkat bersama ke Denpasar.

Sepanjang perjalanan saya tidak memikirkan hal tersebut, sibuk saja ketawa-ketiwi dengan candaan-candaan kawan-kawan. Tapi kadang-kadang saya kembali teringat dengan pernyataan yang terdengar jujur itu. Untuk menjawab hal tersebut saya mencoba menjelaskannya melalui tulisan ini, walau tidak langsung di hadapan beliau.

Memang, dalam beberapa kali bertemu dengan beliau, saya tidak banyak kata dan tidak hebat dalam percakapan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan teknis saya dalam bidang yang kami bicarakan masih kurang, dan saya menerima semua masukan-masukan beliau. Saya terlihat lemah dalam berargumen karena saya merasa masih kurang tahu terhadap topik, sehingga saya mendengar dan mengiya-kan saja. Tentu, untuk memahami topik tersebut butuh waktu lama, pengalaman di lapangan dan konsentrasi tinggi, sehingga saya mengunyahnya pelan-pelan, learning by doing, tidak gegabah bicara ini itu tapi hanya asal bunyi. Tentu, jika beliau bersabar, saya lama kelamaan akan bisa mengikuti ritme beliau.

Tentang kemampuan komunikatif, saya agak berbeda dengan yang lainnya. Saya lebih pada mencoba untuk bertahan dalam medan komunikasi. Beradaptasi pelan-pelan dan membangun relasi yang harmonis, tidak dengan tiba-tiba akrab dan banyak ngomong. Dalam hal diskusi saya terbuka pada diskusi apa saja. Namun, sayangnya saya kadang terlalu terburu-buru membaca peta lawan bicara. Saya tidak mau menjatuhkan teman bicara dengan komentar-komentar saya. Sehingga, saya selalu terlihat bodoh dan kurang dapat memberikan argumen yang baik. Di sinilah memang letak kelemahan saya, apalagi dengan nada suara yang pelan dan tak bertenaga. Tapi sebenarnya saya memikirkan apa yang dibicarakan, walau tidak bisa langsung pada saat itu.

Nah, jika berbicara tentang konteks lapangan dan teknis operasional, saya biasanya tidak banyak bicara, karena saya merasa belum punya banyak pengalaman dalam bidang itu. Saya selalu ragu atas perkataan yang tidak memiliki dasar, selalu menunda untuk berbicara hingga saya punya gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang sebuah teknik ataupun permasalahan. 

Tapi, permasalahan dalam dunia perikanan bukan sekadar persoalan teknis, tapi juga persoalan sosial, persoalan politik, persoalan etika. Hal-hal tersebut harus disinergikan dan disinambungkan, sehingga kita tidak mencari solusi secara setengah-setengah, tapi langsung memberantas hingga akar-akarnya, yang justru aroma politiknya sangat terasa.

Untunglah saya sedikit terobati dengan kata-kata Sokrates, yang mengatakan bahwa kita harus sadar bahwa kita itu tidak tahu terhadap permasalahan yang kita hadapi. Dari ketidaktahuan itulah sebagai dasar dan modal untuk bertanya dan mencari jawabannya. Dari proses itu filsafat merambah wilayah-wilayah yang belum terjangkau, kemudian dengan mengulang – ulang dan mencoba-coba terus, terbentuklah suatu keyakinan tertentu akan fakta dan relasi antar fakta, yang kemudian kita sebut sebagai ilmu.

Dan saat ini saya baru melakukan upaya perambahan dengan mata, telinga dan langkah kaki saya, dengan catatan-catatan kecil saya yang terus saya tumpuk dan kembangkan. Saya mengaku saya lemah dalam hal teknis, tapi saya yakin itu bisa saya pelajari, sembari mempelajari hal-hal lain, seperti strategi mendekati pemerintah, pengusaha, dan pihak-pihak lain yang kemungkinan dapat membantu kita dalam perbaikan lingkungan.

Saya tidak berharap akan menjadi sesuatu, misalnya menjadi doktor atau memperoleh jabatan penting. Saya hanya berharap bahwa terjadi perubahan untuk lingkungan, dan manusia menjadi lebih bersahabat dengan alam. Kalau pun saya akan dilupakan dan tidak memperoleh tempat, itu bukan hal yang patut dipikirkan. Saya pun berfikir bagaimana mengajak orang-orang untuk lebih cinta pada lingkungan, lebih arif terhadap bumi, lebih dapat menjaga lingkungan sekitarnya. Dengan menampilkan hidup sederhana, tidak boros, berbuat baik, dan menunjukkan contoh kepada generasi muda yang lain. Dan, saya tidak menganggap kerja di tempat tersebut sebagai pekerjaan, tapi sebagai panggilan hati untuk turut berkontribusi dalam perbaikan dunia.

Jika ada pihak yang menganggap saya tidak kompeten pada bidang ini, mungkin perlu dijelaskan lebih detail apa-apa yang saya harus lakukan untuk memperbaiki diri saya. Bukan dengan menanyakan berapa lama saya akan keluar? Yah, secara pribadi, saya tidak masalah. Saya keluar dan banyak hal-hal penting yang dapat saya lakukan. Misalnya dengan membaca ulang buku-buku yang tertumpuk di rumah. Membuat-buat tulisan, berkeliling Indonesia dan dunia untuk menambah khasanah makna dan pengetahuan. Berkenalan dengan orang baik dan membantu tugas orang-orang baik tersebut. Walau dengan ganjaran hidup miskin.   

Saya mungkin salah dan tidak tepat bekerja di tempat tersebut, yang berisi orang-orang cerdas dan komunikatif. Tapi, dalam dunia kerja realitasnya tidak seperti itu, kita yang tiba-tiba terpilih dan pihak yang memilih secara bersama saling membangun, mengisi kekurangan masing-masing, sembari belajar bersama untuk bangkit.

Yah, sepertinya bapak itu terlalu sering berspekulasi, terlalu merasa mampu untuk melihat masa depan orang. Untuk pernyataannya saya ucapkan terimakasih. Dan tentang berapa lama saya di tempat tersebut, saya akan jawab saya tidak tahu. Saya hanya berusaha dan terus berusaha, toh kalau-kalau besok saya dipecat atau dikeluarkan itu adalah keinginan lembaga tersebut. Saya hanya mau bilang bahwa saya yang hari ini tentu berbeda dengan saya pada tahun depan. Dan waktulah yang akan menentukan kapan saya tidak di tempat tersebut. Toh, kalau pun di luar saya tetap mencintai lingkungan, dan juga perikanan.

Salihara, Jakarta Selatan
24 Juni 2014
Idham Malik

Read more...

Kamis, 05 Juni 2014

Budidaya Perairan, Alternatif Pemenuhan Pangan dan Tantangannya



Tulisan ini terbit di Koran Kampus 'identitas' Unhas, 3 Juni 2014

Pada 2010 penduduk dunia telah berjumlah tujuh miliar. Pada 2030 diprediksi menjadi 9,8 miliar, yang berarti penduduk dunia bertambah dua miliar untuk diberi makan. Ketersediaan sumber protein sangat menentukan kemajuan ummat manusia, walaupun sejauh ini terlihat ketimpangan konsumsi pangan di belahan-belahan dunia lain, dimana terdapat belahan dunia yang tingkat konsumsi pangannya sangat tinggi dan terdapat belahan dunia yang konsumsi pangannya sangat rendah, walaupun pada dasarnya memiliki potensi sumberdaya yang tinggi.

Sumber protein sejauh ini diperoleh dari sektor peternakan dan perikanan. National Geografic menunjukkan bahwa saat ini dunia menghasilkan lebih banyak ikan hasil budidaya daripada daging sapi. Pada 2012, produksi ikan global mencapai lebih dari 70 juta ton, melampaui produksi sapi untuk pertama kalinya. Salah satu penyebabnya karena nilai gizi ikan yang tinggi dan memiliki kandungan protein dan lemak yang baik bagi jantung. Diperkirakan permintaan terus meningkat hingga 35 persen dalam 20 tahun ke depan.   

Dalam situasi tersebut, Sekitar 43,5 juta penduduk saat ini menggantungkan hidupnya pada usaha-usaha perikanan dalam pemenuhan asupan protein. Tercatat ada sekitar 170 juta orang yang bekerja pada produksi inti perikanan. Namun sekitar 85 persen stok ikan di dunia dieksploitasi dan ditangkap secara tidak berkelanjutan. Penangkapan yang tidak beretika dan tidak menghargai alam itu terus berlangsung pada setiap bentang pesisir dunia. Bahkan, pelaku eksploitasi yang banyak berasal dari negara maju itu semakin merangsek ke negara-negara menengah dan negara yang pemerintahannya lemah yang memiliki sumberdaya alam melimpah. Mereka menguras ikannya dengan menggunakan teknologi penangkapan yang semakin canggih. Dan sayangnya aktivitas melibatkan pasar global, langsung mengekspor sumber laut utama ke negara-negara maju (Negara Eropa, Amerika Serikat dan Israel). Sedangkan penduduk lokal selalu saja hanya mencicipi sisa-sisa tangkapan yang kandungan proteinnya rendah.      



Itulah sebabnya kegiatan akuakultur perlu didorong sebagai sumber protein alternatif. Saat ini produksi akuakultur telah mencapai 47 persen dari produksi perikanan dunia (FAO, 2012). peningkatan yang hampir 50 persen tersebut kian tumbuh di atas 10% pertahun. Sebagian besar tumbuh di Asia, data menunjukkan bahwa 87 persen produk akuakultur untuk komoditas udang, Indonesia menempati urutan ke empat, setelah Cina, India dan Vietnam. Meski pada 2013 - 2014, produksi udang vannamei di Cina, Thailand, Vietnam dan Malaysia menurun drastis akibat serangan penyakit EMS (Early Mortality Syndrom). Bencana bagi negara-negara tersebut merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk meraup keuntungan di pasaran dunia. Walau secara global telah mengancam ketahanan pangan dan ketersediaan protein berkualitas prima.   

Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi dengan produksi akuakultur terbesar pertama di Indonesia Timur. Dimana produksi budidaya mencapai 2.235.654,8 ton pada tahun 2012 dengan melibatkan 283.915 petani budidaya (udang, rumput laut, bandeng, nila, dll) dan nilai ekonomi sebesar Rp. 5,78 triliun (Data DKP Sulsel, 2012). Namun dalam perjalanannya, aktivitas akuakultur di Sulsel mengalami beragam hambatan, yang paling umum yaitu serangan penyakit pada komoditas unggulan seperti udang windu, udang vaname, dan rumput laut. Gejala kerusakan ini tidak hanya di satu atau dua lokasi, tapi menyebar di hampir setiap lokasi di Sulsel dan menurunkan pendapatan masyarakat. Berlangsung pula konversi ekosistem mangrove yang dimulai sejak 1980-an hingga 2000-an, kemudian dilanjutkan pada dekade belakangan ini sebagai upaya ekstensifikasi pertambakan dimana para petambak terus memperluas lahan budidayanya (mencari lahan baru di daerah-daerah baru, Luwu Timur, Luwu hingga ke Kolaka Sulawesi Tenggara).  

Gejala lain yaitu upaya intensifikasi yang mengerucut pada produksi super tinggi pada lahan sempit untuk komoditas udang. Namun produksi tinggi yang mensyaratkan penggunaan pakan optimal tersebut tidak didukung oleh ketersediaan Instalasi Pengelolaan Limbah (IPAL), yang membuat limbah organik yang berasal dari sisa pakan dan feses udang itu dibuang saja ke laut dan berpotensi menyebabkan kesuburan perairan (eutrofikasi), berefek pada berkurangnya oksigen, munculnya organisme-organisme yang justru merugikan pengguna air untuk tambak lainnya. Di sisi lain, 93% aktivitas budidaya perairan mengandalkan air pasang surut dari muara sungai dan laut lepas, yang tentu saja akan terkena dampak meningkatnya bakteri negatif di laut berupa rusaknya kualitas air dan menurunkan jumlah produksi. 

Penyebab munculnya penyakit dan berbagai permasalahan di atas dideteksi bukan karena lemahnya faktor teknis dan metodis, tapi juga terkait dukungan politik dan legal formal (hukum), pengelolaan kelembagaan sosial, dukungan sarana prasarana dan pendampingan penyuluh, dukungan pasar, serta dukungan politik yang memberikan kewenangan pada masyarakat untuk mengeksplorasi metode-nya sendiri dalam perbaikan perikanan, yang biasa disebut dengan istilah Community Based Management.

Melihat hal tersebut, Pemerintah harus memikirkan perbaikan kualitas penyedia bahan baku, baik itu nelayan, pembudidaya, dan petani secara umum. Bukan lagi dimotivasi oleh kepentingan jangka pendek, yang selalu berbau putaran ekonomi cepat dan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu saja, seperti eksportir. Sebab sungguh ironi bagi petambak kita yang telah bertahun-tahun berproduksi, namun tetap mengalami kendala terkait kualitas produksi dan pemenuhan standar hidup layak. Memang, perlu ada metode pembelajaran dan pendampingan khusus agar mereka dapat memetakan persoalan dan mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.

Lebih dalam dari itu, kerusakan lingkungan akibat aktivitas eksploitatif tersebut lebih berurusan dengan cara berfikir kita terkait sumberdaya alam itu sendiri. Cara pandang yang semena-mena, memandang laut sebagai sumber yang bebas untuk dipreteli, lautdan pesisir sebagai objek pemuasan nafsu manusia, hanya mementingkan spesiesnya sendiri dan telah memusnahkan serta mengurangi jumlah spesies-spesies lain.

Sebelum kita terlalu jauh melangkah. Lebih baik kita bersama-sama memupuk kesadaran bahwa spesies lain itu juga mempunyai hak untuk hidup, hak untuk berkembang dan meneruskan generasi. Itu dapat dimulai dengan cara mengurangi prilaku boros kita dalam mengonsumsi pangan. Mulailah hidup hemat dan penuhi hidup dengan makna, bukan dengan materi yang pada akhirnya akan membuat hidup menjadi membosankan.

Akhir paragraf, kita pun menghimbau kepada pasar-pasar luar untuk tidak selalu memprovokasi nelayan kita untuk menguras ikan-ikan di laut. Apalagi mengeksploitasi dengan cara yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom dan racun, serta penangkapan spesies yang rentan. Mulailah fokus untuk membeli ikan-ikan yang ditangkap secara ramah lingkungan, serta pada usaha-usaha alternatif pemenuhan pangan, yang berasal dari budidaya perairan. Kemudian, distribusi protein tinggi itu diharapkan bisa lebih merata, penduduk Indonesia yang jumlahnya 250 juta ini apat dengan mudah menikmati sumberdaya protein tinggi, ikan-ikan karang, udang, ikan-ikan sungai, agar lebih bervariasi dari yang sebelumnya hanya tempe, tahu dan sebutir telur ayam.  


Read more...

About This Blog

pemimpin yang baik: integritas, tanggungjawab, forgiveness, dan COmpassion
Loading...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP